Istri Pengganti Ustadz

Tidak boleh seranjang

Ada satu kata indah dari Ali bin Abi Tholib. "Ketika kamu ikhlas menerima kekecewaan hidup, maka Allah akan membayar tuntas semua kekecewaanmu dengan beribu-ribu kebaikan."

 
Dan sekarang itu terjadi pada Hanum, dikecewakan oleh manusia berulang-ulang kali. Ia hanya berharap semoga Allah segera membawa kabar yang membuat hatinya bahagia.
 
Sepercik bening bola mata Nadin meluluhkan hati Hanum, hatinya jauh lebih baik dibanding tadi. Ia sadar saat ini dia sedang cemburu dan hanya bisa bertahan kuat di atas telapak kakinya sendiri. 
 
Mungkin saat ini dia harus lebih terbiasa, menyayangi tapi tak diprioritaskan lagi, mencintai tapi selalu diabaikan. Hanum sadar rumah tangga mereka bukan hanya berdua melainkan bertiga dengan madu yang sekarang menatapnya polos nan cantik.
 
Hanum semakin yakin, bahwa Nadin adalah madu yang terbaik untuknya. Sekarang mungkin Ustadz Riza masih menikmati sesapan sari-sari yang masih tersisa dari sekuntum bunga yang merekah. 
 
"Kamu masih memanggilku, Umi?" ujar Hanum lirih, lalu matanya terpejam, membayangkan kejadian semalam dan rasanya masih terasa amat sakit. Tetapi ... itu baru awal dari semua rasa luka yang ntah sampai kapan luka itu akan sembuh, sedangkan membagi atap untuk wanita lain saja ia masih berusaha untuk mengikhlaskan.
 
"He,um." Kepala Nadin mengangguk menatap Hanum tersenyum, meski anak polos itu sekarang bingung harus berbuat apa di hadapan Hanum.
 
"Umi ...," panggil Hanum masih menatap wajah wanita yang selama ini banyak mengajarkannya tentang ilmu agama.
 
"Iya ... Nadin," jawab Hanum bibirnya masih tercekat nadanya bergetar.
 
"Umi ... Nadin minta maaf, sebagai murid Umi sebenarnya aku nggak pantas untuk semua ini. Umi udah banyak banget mengajarkan semua hal untuk Nadin, tapi malah Nadin kurang ajar sama Umi!" ujar Nadin sambil menunduk.
 
Hanum mengambil napas panjang lalu membuangnya, ia menyentuh pundak Nadin dan menatapnya dalam.
 
"Nadin ... sudah Umi bilang kamu nggak salah, Umi sendiri kan yang melamarmu ... Umi juga yang mengizinkan Abi menikah lagi," jawab Hanum sembari mengusap air mata yang tidak sengaja menetes di pipinya. 
 
Kemudian Hanum menggenggam jemari Nadin, "Jadi ... Umi mohon, beri Umi waktu untuk mencoba lebih ikhlas ya ... jadilah istri yang bisa mengejar surganya, Nadin ...." 
 
"Sayangi Abi, buatlah dia bahagia ... berilah dia anak-anak yang sholeh dan sholehah," ujar Hanum kembali. 
 
"Umi ...." 
 
"Abi sudah sangat menginginkan kehadiran anak di rumah ini, bahkan dia sudah mencarikan nama-nama anak dari surah-surah Al-qur'an sejak lama." 
 
"Umi ...." Suara Nadin pun kini tercekat, matanya menunduk lalu menangis. 
 
Hanum menyentuh kedua pipi Nadin, "Tenang saja ... Umi akan ajarkan bagaimana cara menjadi istri yang baik untuk Abi."
 
Nadin masih menunduk, dia menangis menyesali diri merasa menjadi wanita paling jahat sedunia. Karena sekarang dirinyalah alasan mengapa guru yang selama ini terlihat tegar, anggun dan ramah itu kini sedih menampakkan kemuraman di wajahnya.
 
Hanum mengusap air mata Nadin, ntah sekarang dia harus merasa bersyukur atau tidak melihat Nadin yang sekarang juga menangisi penyesalannya. 
 
"Mandi gih ... jangan lupa mandi besar," ujar Hanum tiba-tiba menyibukkan dirinya pada barang-barang di dapur. 
 
Sedangkan Nadin, masih berdiri dengan posisi menunduk dan handuk di bahu kanannya.
 
"Nadin ...," panggil Hanum. "Mandilah sekarang, dosa besar bagimu jika menunda mandi yang harusnya segera kau laksanakan."
 
Nadin mengangguk tanpa mendongak melihat umi, ia bergegas berjalan ke arah kamar mandi dapur yang sebenarnya hanya digunakan untuk asisten rumah tangga. Tetapi, di saat Hanum ingin melarang Nadin masuk ia sudah terlanjur menutup pintunya.
 
Sejenak, Hanum menatap lama pintu kamar mandi yang jaraknya hanya beberapa langkah dari letaknya berdiri. Ia melamun seperkian detik hingga akhirnya ia tersadar sekaligus terkejut dengan kedatangan suaminya.
 
"Sayang ...." Ustadz Riza memeluk Hanum dari belakang, "Aku mendengar seluruh percakapan kalian berdua, Hanum. Maafin Mas yaa ...." Ustadz Riza memeluk Hanum erat memejamkan matanya sambil mencium tangan Hanum lembut.
 
Hanum membalas pelukan itu, ia pun menangis di dalam dekapan Ustadz Riza menumpahkan segala kepedihan hatinya dari hati ke hati. Kelopak mata mereka berdua saling menutup meratapi takdir yang begitu kejam. 
 
Ada duka dan kecewa dengan takdir yang Allah tetapkan untuk mereka berdua, tetapi Hanum dan Ustadz Riza sadar jika tidak baik terus menerus menyalahi takdir dunia yang hanya sementara.
 
"Assalammualaikum." Suara wanita khas yang mengejutkan keduanya. 
 
"Walaikumsalam," jawab Ustadz Riza dan Hanum berbarengan saling mengambil posisi menyingkap air mata, mereka gelagapan atas hadirnya ibu kandung Ustadz Riza yang terkenal bergaya sosialita, sangat berbanding terbalik oleh kehidupan anaknya yang sangat agamis. 
 
"Hedeugh ... in the morning already sad, Child!" ujarnya sambil melengos. 
 
Hanum hanya menunduk salah tingkah.
 
"Oh baby, sorry ... mommy tidak sempat menghadiri acara pernikahanmu. Mommy baru pulang dari London subuh tadi, mommy harap kamu tidak marah." 
 
Ustadz Riza tersenyum, sambil menyalami ibunya. "Ndak apa, Mom. Hari ini pun aku speachless Mommy datang ke rumah kami, kukira Mommy akan sibuk di gereja seharian." 
 
"Hello ... meski you melawan Mom, bersikeras untuk berpindah agama, Mom tetap melakukan apa pun demi you! Apa lagi jika sudah di indon!" ujar wanita yang menenteng tas Hermes itu.
 
Wanita keturunan Amerika berdarah biru biasa disapa Nyonya Alice memang berbeda agama dengan anaknya, karena Ustadz Riza memutuskan memeluk agama Islam sejak ia lulus dari sekolah dasar dan yang mengajarkan tentang banyaknya ilmu agama adalah Kyai orang tua dari Hanum sendiri. 
 
Setelah lulus dari pendidikan, Ustadz Riza membuka pondok pesantren dengan fasilitas dan pelajaran yang sangat terjamin. 
 
Hingga kini pondok pesantren itu terus berkembang dibawah naungan Ustadz Riza dan Hanum sendiri. 
 
"Bye the way ... dimana second your wife?" ujar Nyonya Alice sambil terkekeh. "You tau ... papamu marah saat mendengar you akan poligami, tapi apalah daya ajaranmu sendiri membenarkan itu." 
 
Ustadz Riza tersenyum, ia memang sudah tak memiliki hubungan yang bagus dengan sang papa semenjak dirinya memutuskan menjadi seorang muallaf. 
 
"Bukan hanya soal ini saja kan, Mom? Iza hanya berharap semoga kedepannya papa akan paham apa yang sudah Iza lakukan selama ini," ujar Ustadz Riza pasrah.
 
Nyonya Alice menyebikkan bibirnya, "Ouh ... Baby, biarkan saja lelaki tua bangka itu hidup dengan penyakit hatinya. You tidak boleh fikirkan apa pun, nanti you sakit! Oke?" 
 
Ustadz Riza menggeleng, "No, Mom ... aku kangen papa ...," 
 
Nyonya Alice menepuk pundak Ustadz Riza, "Oke ... nanti Mom akan bicara serius pada papa, Mom akan rayu papa untukmu." 
 
"Thanks, Mom." 
 
Di sela seriusnya obrolan ibu dan anak itu, Nadin keluar dari kamar mandi sembari menggosokkan handuk pada rambutnya yang basah. 
 
"Ouh baby, you mungil sekali! Kenalin aku Mommy you punya suami! Jadi kamu harus manggil aku dengan sebutan Mommy, Okey ...," ujar Nyonya Alice berhambur pada Nadin. 
 
Nadin gelagapan hanya diam menoleh pada Hanum lalu Ustadz Riza. 
 
"You punya nama, Nadin? Oh Tuhan cantik sekali namamu ... Riza tidak salah menjadikanmu istri sudah cantik, tubuhmu pun segar sekali pasti subur! Mom yakin sebentar lagi pasti dirimu hamil." 
 
Hanum menelan salivanya berat, mendengar ucapan itu dada Hanum tiba-tiba kembali sesak. 
 
Nyonya Alice melirik pada Hanum sebentar lalu menoleh kembali pada Nadin, "Coba saja dari awal Riza menikahimu, pasti Mommy sekarang sudah menimang cucu dari Riza. Sayangnya ...," ucapan Nyonya Alice terhenti, bola matanya mengarah pada Hanum. 
 
"Hanum, Mommy minta maaf atas tidak datangnya Mommy saat kalian kecelakaan. Karena Mommy sedang berada di London saat itu." 
 
Hanum merebakkan bibirnya dan mengukir kekecewaan yang sulit ia sembunyikan. "Tak apa, Mom." 
 
"Mommy ada satu permintaan untukmu, Mommy minta Riza lebih baik fokus tidur bersama Nadin setidaknya sampai Nadin hamil. Itu untuk kebaikan kalian juga ...," pinta Nyonya Alice seraya merangkul bahu Nadin.
 
Hanum mengrenyit dan menahan sakit. Ia menoleh pada sang suami yang tak sedikit pun membuat penolakan atas permintaan ibunya yang tidak memikirkan perasaan Hanum sama sekali.
 
Bahkan Nyonya Alice pun tidak ada basa-basi sedikit saja menanyakan kabar menantunya yang baru kehilangan rahim?! Dia hanya terfokus pada putranya dan menantu barunya saja.
 
Hanum mengulum senyum, ia berusaha sekuat mungkin agar tidak menangis. "Baiklah ...." Suaranya bergetar.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!