Istri Pengganti Ustadz

Luka yang mendalam

Faktanya tidak ada istri mana pun yang benar-benar rela dan ikhlas saat suami yang ia cintai menikah lagi membagi cintanya untuk wanita lain, selain dirinya ....

 
Walaupun ribuan kali bibir Hanum mengucap ikhlas, tetapi jika Hanum masih mencintai Ustaz Riza ... dia tidak akan pernah ikhlas sampai kapan pun. Terkecuali Allah menghilangkan semua rasa di dalam hati Hanum atau mungkin ia mati membawa semua rasa yang terjebak di dalam jiwanya.
 
Jadi saat ini Hanum atau Hanum Hanum yang lain di luar sana jika ditanya ikhlas atau tidak, mungkin bibirnya bisa melengkung manis suaranya bisa mengucap ikhlas. 
 
Namun, logikanya ... tidak ada satu orang pun yang akan baik-baik saja saat suaminya mulai mengikrar janji pernikahan pada wanita lain. 
 
Hanum dan air matanya, sudah habis tersemai di dalam mukenah yang Hanum pakai sekarang. Ia menghabiskan waktunya bersujud pada sang pencipta, mencurahkan segala rasa sakitnya dan menciptakan kenangan untuk dirinya sendiri.
 
Suara yang sedari tadi mengiris hati Hanum berkeping-keping, sekarang sudah berhenti sunyi kembali. Mungkin Nadin dan Ustadz Riza sudah terlelap karena lelahnya, Tetapi Hanum masih berharap untuk suaminya menengoknya sebentar saja ....
 
Ia pun ingin dirayu ... ditenangkan dari perasaan yang hancur dan diperhatikan seperti malam lalu.
 
***
 
"Abi, apa setelah aku mengandung dan melahirkan anak abi akan meninggalkanku?" tanya Nadin tanpa menoleh pada Ustadz Riza.
 
Ustadz Riza sedikit terhenyak mendengar pertanyaan Nadin, lalu tangannya mengambil bahu Nadin dan mendekatkan pada kepalanya. "Sayang ... kamu istriku, mana mungkin aku sejahat itu ...," jawab Ustadz Riza mencoba meyakinkan keraguan di hati Nadin.
 
"Yang bener? Aku takut ... abi menikahiku hanya karena anak dan meninggalkanku juga karena anak," jawab Nadin dan sukses membuat Ustadz Riza terkekeh. 
 
"Nadin ... coba lihat abi," pinta Ustadz Riza dan Nadin menurutinya, kepalanya mengadah menatap bola mata Ustadz Riza sendu. "Apa abi di matamu sebrengsek itu?" tanya Ustadz Riza serius.
 
Bibir Nadin terkunci dan kepalanya menggeleng perlahan.
 
"Dengar ... abi mencintaimu sampai kapan pun, setelah ini mungkin abi akan selalu ingin di dekatmu sepanjang waktu dan mana mungkin abi bisa membuang ibu dari anak-anak abi nanti."
 
Nadin kembali menunduk ... sebenarnya ada pertanyaan yang mengganjal di hatinya, tapi Nadin takut untuk menanyakan. Takut jika jawaban Ustadz Riza ternyata benar dengan ketakutan Nadin saat ini.
 
"Sayang ... kenapa masih cemberut?" tanya Ustadz Riza mengambil dagu Nadin lembut. 
 
Kini bola mata mereka saling menatap lalu Ustadz Riza menghusap rambut Nadin lembut. "Apa yang dirimu pikirkan lagi, Sayang? Bicaralah ... biar hati Nadin lega." Ustadz Riza menatap dalam bola mata Nadin. 
 
"Kemarilah ...." Ustadz Riza menarik lengan Nadin untuk duduk berhadapan dengannya. 
 
"Nadin, coba lihat dan dengarkan abi sebentar ...," Nadin menatap wajah tampan Ustadz Riza meski lampu tengah padam wajah itu masih terlihat jelas ia masih sangat tampan. Tangan mereka bertaut bak manusia yang tidak akan pernah bisa dipisahkan. 
 
Kemudian Ustadz Riza melanjutkan perkataannya. "Sayang ... abi sudah memilihmu, menyerahkan semua cinta abi hanya untukmu seorang." Ustadz Riza mengatakan itu sangat bersungguh-sungguh. Lalu jarinya menunjuk dada Nadin. "Sayang ... buang semua keraguanmu pada abi di sini," ujar Ustadz Riza dengan tetap menunjuk dada Nadin.
 
Nadin menautkan alisnya, "Hanya untukku? Umi?" tanya Nadin pada suaminya.
 
Ustadz Riza tersenyum lembut dan mengambil tubuh Nadin mendekat ke dadanya.
 
"Jangan tanyakan itu lagi, Nadin ...," ujar Ustadz Riza memberi Nadin kehangatan malam ini dan menenggelamkan kepalanya lebih dalam pada dada bidang suaminya.
 
Dinginnya malam dengan lampu yang meremang, menambah suasana pengantin baru semakin penuh romansa dan menambah keyakinan di hati Ustadz Riza bahwa suatu saat nanti dia pasti memiliki keturunan dari rahim Nadin.
 
***
 
"Pagi, Sayang ...," sapa Ustadz Riza sambil memeluk Hanum yang tengah sibuk memasak.
 
Hanum menoleh tanpa menjawab ia hanya melekungkan bibirnya. 
 
"Masakanmu sungguh harum dan sudah kupastikan ini pasti enak." Ustadz Riza langsung mencicipi nasi goreng kecap yang sedang di masak oleh Hanum.
 
"Nadin mana?" tanya Hanum.
 
Ustadz Riza tersenyum merekah, wajahnya terpancar penuh kebahagiaan hingga bibir itu selalu saja tersenyum sepanjang waktu. 'Sstt ...,' sanggah Ustadz Riza.
 
"Nadin masih lelah, biarkan saja dia tertidur karena sepanjang malam melayani suami kesayanganmu ini." 
 
Lagi-lagi Ustadz Riza terkekeh kecil tanpa memperdulikan perasaan Hanum sedikit pun, dia bak kembali pada masa-masa remaja di mana hatinya masih berbunga-bunga dan perutnya dipenuhi dengan sejuta kupu-kupu.
 
Hanum menoleh ke arah Ustadz Riza lalu menyembunyikan perasaan cemburunya sejenak. "Semoga kau tidak lupa siapa dirimu? Dirimu seorang Ustadz muda yang selalu diagungkan setiap orang di luar sana. Jangan sampai mereka tahu Ustadz yang mereka puja tidak membangunkan istrinya untuk sholat subuh hanya karena cinta!" ujar Hanum sedikit menekan.
 
Ustadz Riza menggigit bibir bawahnya, "Baik, Hanum. Akan mas bangunkan sekarang, terima kasih telah mengingatkan mas! Kamu memang yang terbaik." 
 
Cup! 
 
Ustadz Riza mencium kening Hanum, lalu bergegas ke atas untuk membangunkan Nadin.
 
Setelah Ustadz Riza tidak kelihatan lagi langkahnya, Hanum menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis tersedu-sedu mengingat perkataan suaminya kembali yang tanpa rasa bersalah mengucap kata-kata yang amat sakit. 
 
Dia cemburu .... 
 
Dia sakit ....
 
Dia hancur dan dia mati.
 
Akhirnya terjadi juga hal yang selama ini ia takuti, bahkan berkali-kali Hanum meyakinkan diri jika semua ini akan baik-baik saja. Tetapi ... nyatanya percuma. Luka ini terlalu sakit.
 
Hanum memegang dadanya sesak. "Ya Allah ... mungkin aku tidak beruntung untuk urusan seorang anak, mungkin aku gagal menjadi istri yang sempurna. Tetapi bisakah sedikit saja kau sisakan sepercik kebahagiaan untukku? Mentalku sudah hancur dihujam habis-habissan oleh keadaan. Kumohon ya Allah ...." 
 
Hanum menutup kembali wajahnya dia menangis dan ingin berteriak sekencang mungkin.
 
"Umi ... umi!" 
 
Suara Nadin mengejutkannya, Hanum gelagapan dan berusaha menghapus jejak kesedihan.
 
Nadin melangkah lebih dekat lalu mematikan kompor yang lupa Hanum perhatikan tadi, kini sudah hitam menggosong. 
 
Kemudian dia berhambur memeluk Hanum tanpa aba-aba. "Maafkan Nadin, Umi. Nadin tahu umi menangis karena apa ... tapi sungguh Nadin tidak pernah sedikit saja untuk merebut abi dari umi. Nadin memang pernah menyukai abi tapi hanya sebatas mengagumi karena Nadin tidak tahu jika abi sudah menikah," ujar Nadin sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Hanum.
 
Sontak Hanum melepaskan pelukan itu, memandang Nadin penuh kasihan. Seorang gadis polos yang rela dirinya dijadikan istri ke dua dan mengubur semua cita-citanya hanya karena cinta. "Cukup, Nadin. Ini bukan salahmu." 
 
 
"Umi ...." Raut wajah Nadin nanar menatap Hanum. "Bisakah umi tidak merasakan cemburu padaku? Anggaplah aku anakmu, Umi. Ajarkan Nadin seperti umi mengajar Nadin dulu." 
 
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!