Istri Pengganti Ustadz

Maduku malaikatku

Hanum kembali pada masa titik terendah di dalam sebuah luka, untuk sekedar duduk di antara suami, mertua dan Nadin pun dia tidak mampu.

 
Dirinya benar-benar tenggelam tanpa pelampung ... untuk bertahan duduk lebih lama pun ia takut, raganya terus gemetar.
 
Dihantui segala ketakutan dan kecemasan yang berlebih, mertuanya datang seolah mengangkat kembali keberanian yang telah Hanum rengkuh. 
 
Hanum menjadi sosok wanita yang sudah terhanyut oleh arusnya luka yang menerjang, walaupun raganya terus mencoba untuk melawan arus ... ternyata semuanya hanya sia-sia, Hanum tetap tenggelam dalam luka yang mengancam jiwa dan raganya yang kini tidak lagi memiliki tujuan.
 
"Nadin, tolong ambilkan Mom dan suamimu nasi ya ...," kata Nyonya Alice sembari tersenyum menatap Nadin.
 
Hanum yang baru saja berdiri ingin mengambilkan nasi untuk suaminya, akhirnya mengalah memberikan centong nasi pada Nadin lalu duduk kembali sambil menunduk.
 
Nadin pun menyiapkan nasi beserta lauk pauk untuk mertua dan suaminya, mereka lahap menyantap hidangan seraya bercanda dengan tawa. Sepasang pengantin baru itu nampak amat bahagia atas kedatangan Nyonya Alice, mereka saling menggoda, mengganggu dan memuji penuh syahdu.
 
"Oh Tuhan ... Nadin, Mom tidak menyangka ternyata jiwa humormu bagus juga. You memang menantu sweety Mommy! Tidak seperti Hanum, hidupnya hanya bisa terdiam sepanjang hari!" ujar Nyonya Alice mengusap keningnya.
 
"Terima kasih, Mom. Aku senang sekali mempunyai ibu seperti Mommy." 
 
"Ouhh ... baby! Sini peluk," jawab Nyonya Alice sembari melebarkan lengannya memeluk Nadin. "Beri aku cucu ya, Sayang ...."
 
Nadin mengangguk tidak yakin, karena dia pun takut jika akan bernasip sama seperti Hanum.  
 
"Pasti, Mom!" sahut Ustadz Riza. "Nanti setiap malam akan kusemai benih-benih yang baik, Mom." 
 
"Mommy yakin, apa lagi tubuh Nadin terlihat segar, bugar dan tidak layu! Tidak seperti Hanum sudah susah hamil. Eh malah sekarang rahimnya diangkat!" 
 
Degh!!
 
Bola mata Nadin membulat mendengar ucapan Nyonya Alice, lalu pandangannya mengarah pada Hanum yang sedari tadi hanya menunduk seperti menahan air mata.
 
"Aku ke toilet sebentar," ucap Hanum bergegas meninggalkan meja makan, ia melangkah gontai masih sambil menunduk.
 
Mata Nadin menyorot kasihan pada setiap langkah Hanum, hingga langkah itu tidak lagi terlihat dia tetap memandang pada arah yang sama.
 
"Nadin?" panggil Nyonya Alice membuat Nadin menoleh padanya. "Jangan fikirkan dia, jika perlu buatlah dia tidak betah di rumah ini dan dia pergi dari kehidupan Riza! Mommy ingin kalian hidup berbahagia tanpa adanya beban," bisik Nyonya Alice sangat pelan.
 
Nadin hanya menatap mertuanya nanar, ia sama sekali tidak menyangka Nyonya Alice mempunyai fikiran sekeji itu. 
 
"Aku ke dapur dulu, Mom." 
 
Nadin bergegas melangkah menyusul keberadaan Hanum. 
 
Langkahnya terburu-buru mencari wanita yang selama ini mengajarkannya dengan ramah. Hingga akhirnya terdengar dari dalam kamar Hanum menangis. 
 
"Ya Allah ...." 
 
"Astaghfirullahalazim."
 
"Aku nggak kuat ya Allah mendengarnya." 
 
Perkataan Hanum sayup terdengar dari balik pintu, isakannya membuat Nadin semakin tidak tega. Ingin sekali ia memeluk wanita yang selama ini Nadin anggap ibu kandungnya sendiri. 
 
"Umi ...."
 
"Tolong buka, Umi ... Nadin mau bicara."
 
 Nadin menyenderkan punggung di pintu kamar sambil menunggu Hanum membukakan pintu untuknya, sedetik kemudian suara tangisan Hanum mulai memudar. Lalu pedal pintu berputar dengan reflek Nadin berbalik badan menghadap ke dalam kamar. 
 
Hanya senyum paksa dan bola mata yang masih basah Hanum tampakkan. 
 
"Ada apa Nadin?" sapa Hanum suaranya masih terisak.
 
Kemudian tanpa aba-aba Nadin berhambur ke dalam pelukan Hanum, "Umi jangan sedih ya ... anggap saja tidak ada orang-orang seperti itu! Maaf ya, Umi ...." 
 
"Apa yang dikatakan Mommy itu benar adanya, Nadin. Umi tidak sedih hanya belum terbiasa saja," jawab Hanum dengan membalas pelukan Nadin. 
 
Ntah mengapa setiap kali Hanum dipeluk oleh Nadin, ia merasa sangat jauh lebih tenang. 
 
Tangan Nadin menyentuh pipi Hanum lalu membersihkan noda air mata yang tersisa, sambil menatap manik mata Hanum yang selama ini Nadin akui itu adalah manik mata terindah yang pernah ia lihat selama hidupnya.
 
"Dulu ... Umi pernah bilang kan? Saat kita merasa takdir begitu kejam, nggak perlu resah dan khawatir. Semua yang menjadi takdir kehidupan kita, itu adalah pilihan yang terbaik." Nadin memandang sendu manik mata Hanum, "Iya kan, Umi?" 
 
Hanum mengangguk lalu memeluk Nadin erat, hanya suara deru napas yang terisak, "Terima kasih, Nadin. Terima kasih." 
 
Nadin masih memandang Hanum, memiliki ibu kandung seperti Hanum sebenarnya adalah impian bagi Nadin. Namun, bisakah Hanum memperlakukannya sebagai anak? Jika terus menerus hatinya hancur disebabkan oleh Nadin? 
 
 
Pelukan yang memberi sejuta kehangatan itu bermuara bak kapal bersandar, menghadirkan kasih yang aneh membuat siapa pun merasa terheran-heran. Mereka madu ... tapi juga bagaikan ibu dan anak, saling ingin mengenali, saling ingin mengasihi dari kekurangan mereka masing-masing.
 
Hanum memang saat ini ketakutan, takut jika cinta dan kasih sayang Ustadz Riza hilang untuknya, seperti yang sering ia baca di kisah novel online yang mempunyai madu itu sangat menyeramkan. Mereka cenderung berharap menyingkirkan istri pertama lalu ingin menjadi istri satu-satunya ....
 
Namun, kali ini ... Hanum bernasip sama dengan apa yang ia baca di novel. Tetapi ... mengapa Nadin berbeda? Dia sama sekali tidak ada niatan untuk menyingkirkan Hanum, melainkan ingin dianggap sebagai anak oleh Hanum sendiri.
 
 
Kedua wanita itu kini menangis berpelukan berperang oleh fikiran mereka sendiri. 
 
"Apa yang kalian lakukan disini?" ujar Nyonya Alice mengejutkan keduanya, mereka menoleh secara bersamaan dengan cepat menghapus air mata mereka. "Mengapa kamu menangis, Nadin?" tanya Nyonya Alice lalu pandangannya mengarah sinis pada Hanum.
 
Nadin diam, hening tanpa suara.
 
"Kamu boleh pergi dulu sayang ... biarkan Mommy berbicara empat mata pada Hanum." 
 
Jantung Nadin berdebar cepat, khawatir dengan keadaan Hanum. Ia menoleh pada Hanum sebentar lalu menggenggam tangannya. "Umi ... Nadin permisi dulu." Nadin berlalu sesekali menoleh ke belakang melihat Hanum iba.
 
"Apa yang kamu katakan pada Nadin, Hanum?" cetus Nyonya Alice.
 
 
Hanum menggeleng, "Maksut Mommy?" jawab Hanum sembari menatap Nyonya Alice sendu.
 
"Sudahlah jangan berkelit! Nggak mungkin Nadin sampai menangis jika bukan karnamu!" ujar Nyonya Alice meninggikan nada suaranya sambil menunjuk.
 
"Sumpah, Mom! Aku nggak ngapa-ngapain Nadin, sungguh ...," suara Hanum menekan.
 
Nyonya Alice membuang wajah lalu mengambil napas besar, "Hanum! Kamu seharusnya sadar diri, rahimmu itu udah nggak ada! Sudah bagus kamu hanya dimadu oleh anakku bukan diceraikan!" suara Nyonya Alice sedikit berteriak membentak Hanum. 
 
"Cukup ...." Nadin berlari memeluk Hanum yang sudah menangis terisak-isak.
 
Nyonya Alice menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar, ternyata sedari tadi Nadin tidak benar-benar pergi, ia hanya menunggu dan memastikan Hanum baik-baik saja di balik pintu.
 
"Kenapa, Mom?" tanya Nadin terisak "Wanita yang Mommy hina itu adalah guruku, Mom. Sudah aku anggap sebagai umiku sendiri." 
 
"Mom, ada apa ini?" tanya Ustadz Riza yang baru saja datang. 
 
Nadin mendekati Ustadz Riza, menatapnya sambil menangis, "Abi ... aku pernah merasakan menjadi seorang anak yang ayahnya memiliki wanita lain selain ibuku. Ibuku hampir gila, Bi!!" teriak Nadin sambil menangis.
 
"Umi ...," ujar Nadin sambil menunjuk Hanum. "Dia wanita kuat! Nggak gampang jadi umi! Aku tahu umi bohong berbicara tentang ikhlas, umi terpaksa, Bi!!" teriak Nadin yang sudah kehilangan kendalinya. 
 
 
Nadin menarik napas dalam lalu menatap tajam suaminya. "Jadi aku mohon, Bi ... cukup! Cukup menghujat umi atas kekurangannya!"
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!