Hujan Tengah Malam
Tugasku Sudah Selesai
Firman sudah sampai ke rumah dan langsung disuguhi banyak tanya dari ibunya. Dia hanya pamit sehari, tetapi seminggu lebih dia menghilang tanpa kabar.
“Kamu itu langsung balik ke pabrik apa gimana Nak, kok gak bilang sama Ibu.”
“Firman ada tugas Bu, yang gak bisa ditinggalkan begitu saja. Ini amanat penting dan sekarang tugasnya sudah selesai,” jawab Firman sembari menunjukkan senyum bahagianya.
Dia merasa lega akhirnya bisa membantu Calya dan kedua orangtuanya. Menyampaikan pesan mereka dan sampai terlibat di pengambilan alih aset keluarga, itu benar-benar membuat Firman senang. Dia tidak tahu kalau dirinya akan berguna untuk orang lain.
Firman menatap ibunya dengan sendu, dia juga tahu kalau akan ada masalah besar yang dihadapinya. “Firman harus kembali ke pabrik Bu, nanti malam.”
“Iya, sekarang kamu istirahat dulu saja.”
Malam harinya, Firman kembali ke tempat kerjanya. Dia melewati bangunan tua di mana dia bertemu dengan kedua orangtuanya Calya. Firman seketika tersenyum kecil ke arah rumah itu.
Sampainya di tempat kerja, Firman langsung mendapatkan interogasi dari mandor mengenai kenapa dia tidak masuk bekerja semalam seminggu penuh. “Kamu gila ya, masih punya muka balik ke sini lagi, hah?”
“Pak, saya ada urusan yang—“
“Saya gak peduli dengan urusan kamu itu. Sekarang pergi dan tidak usah kembali lagi ke sini. Mengerti!” teriaknya yang membuat Firman membeku di tempat.
Dia tahu kalau mandornya itu sudah lama tidak menyukainya, jadi kejadian ini menjadi kesempatan emas untuk dia bisa memecat Firman. Mandor segera mengusir Firman, tentunya karena dia tidak mau kalau bos melihatnya. Kalau ada bos mereka, sudah pasti Firman akan diterima kembali dengan banyak pertimbangan, dan mandornya tak ingin semua itu terjadi.
Tak ada pilihan lain selain pulang, dia sudah dipecat. Firman kembali mengendarai motor metiknya itu untuk pulang ke rumah. Dia cukup merasa bersedih, tetapi juga bercampur dengan perasaan syukur karena apa yang sudah dilakukannya tempo hari. Firman hanya kecewa karena kehilangan pekerjaan. Namun, tentunya Firman berusaha untuk ikhlas karena dia tahu rencana Allah lebih indah dari dugaannya.
Saat motornya masuk ke halaman rumah, dia melihat sebuah mobil mewah terparkir di sana. Firman memiringkan kepalanya, kemudian berjalan masuk.
“Maaf, saya tidak memiliki apa-apa untuk disuguhkan. Silakan diminum,” ucap ibunya Firman sembari menyimpan dua gelas air putih di atas meja.
“Tidak apa-apa Bu, kami ke sini hanya untuk bertemu Firman.”
“Firman? Apa dia melakukan kesalahan? Dia sedang berangkat kerja,” ceritanya dengan jujur.
Pak Gatot dan Calya mengangguk mengerti, tetapi kemudian pandangan mereka beralih ke arah Firman yang kini menghampiri mereka sembari bersalaman. Ibunya Firman menyuruhnya untuk duduk dan mereka pun berbincang di ruang tamu.
“Pak Gatot, apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Tidak, saya ke sini hanya mengantar Calya menemui kamu. Saya juga tidak mengizinkannya untuk pergi sendiri, jadi saya ada di sini karena dia,” jelasnya.
Firman pun beralih menatap Calya yang tampak menunduk. Firman kembali mengalihkan pandangannya pada ibunya yang terlihat penasaran. Dia pun langsung memegang tangan ibunya dan berkata, “Ini Calya Bu, orang yang Firman cari kemarin.”
“Kami mau bicara dulu sebentar, ya.”
“Bu, izin pinjam Firman sebentar.” Calya meminta izin pada ibunya Firman yang saat itu mengangguk saja.
Calya dan Firman kini berjalan ke teras, di mana saat itu dia penasaran dengan apa yang mau Calya bicarakan dengannya. Awalnya keduanya hanya saling melirik, tanpa saling berbincang. Sampai akhirnya Calya menanyakan satu pertanyaan yang membuat Firman cukup kebingungan.
“Mas Firman, apa Mas sudah punya calon istri?” tanyanya.
“Calon istri? Ah, saya tidak pernah memikirkannya. Apalagi untuk sekarang ini, saya bahkan dipecat dari pekerjaan. Jadi untuk urusan perempuan, saya belum memikirkannya.” Firman menatap Calya sembari tersenyum.
Kemarin dia memang selalu memikirkan seorang perempuan, yang mana akan dia nikahi. Ibunya pun sama, selalu bertanya mengenai calon istrinya yang sama sekali belum dia miliki itu.
Namun, untuk saat ini rasanya akan semakin sulit mencari istri di kondisinya yang tidak bekerja. Perempuan mana yang mau menikah dengan laki-laki pengangguran sepertinya.
“Syukurlah kalau begitu.” Kalimat Calya tentu saja membuat Firman menatapnya.
Calya tersenyum sangat manis, membuat Firman semakin tidak memahaminya.
“Kamu kenapa tersenyum, Calya?”
“Mas, ini adalah kalung pemberian kedua orangtuaku. Yang aku ingat, mereka membelinya sebelum kecelakaan itu terjadi. Namun, tidak pernah sampai ke tanganku karena mereka keburu meninggal. Dan akhirnya ada di tanganku karena kamu, Mas.”
“Aku pikir, ini sebuah tanda kalau Bapak sama Ibu mau aku ada yang menjaga. Dan mungkin, mereka mempercayakan aku padamu,” ucapnya lagi yang membuat Firman menatap Calya lagi dan lagi.
Melamar Calya tentu saja seusatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Firman merasa tak pantas untuk menikahi Calya, apalagi dengan status sosial mereka yang sangat berbeda. “Calya, saya tidak memiliki apa pun. Bahkan pekerjaan pun tidak, jadi ....”
“Bapak orangnya sangat selektif, dia bahkan tidak pernah mengizinkan aku memiliki teman laki-laki. Namun, entah kenapa dia malah memberikan kalung ini dan menitipkan pesan padamu, Mas. Aku pikir dia memang mempercayai kamu untuk menggantikannya,” ucap Calya lagi.
Firman masih menatap Calya, dia kemudian mengangguk dan meminta waktu untuk membicarakan soal ini dengan ibunya. Menikah bukanlah hal yang sulit, tetapi perjalanan setelah menikah adalah hal yang benar-benar harus dipikirkan dengan matang.
“Menikah itu ibadah paling panjang, saya akan membicarakannya dengan Ibu. Bukan meragukan kamu sebagai calon istri, melainkan saya ragu akan diri saya sendiri. Saya hanya merasa tak pantas untuk kamu, Calya.”
Firman masuk ke dalam rumah lebih dulu dan dia langsung mengajak ibunya bicara, soal melamar Calya. Tepatnya Firman menceritakan semua hal yang menimpanya, dari mulai dia berteduh di bangunan tua, bertemu dengan kedua orangtuanya Calya, sampai akhirnya membantu perempuan itu mengungkap semua rahasia kematian orangtuanya.
“Apa menurut ibu, itu juga sebuah pertanda kalau Firman memang ditunjuk mereka untuk menjaga Calya?”
“Itu sudah takdir dari Allah, Nak. Mungkin ini memang jalannya, supaya kamu segera menikah. Dan Ibu merasa kalau Nak Calya perempuan yang baik, dia juga terlihat sangat menjaga dirinya.” Firman menatap ibunya yang mengangguk setuju.
Firman mengulum senyumnya, kemudian mencium punggung tangan ibunya. Firman dan ibunya keluar dari kamar, kembali menemui Pak Gatot dan Calya.
“Saya akan melamar kamu, Calya. Ibu juga sudah memberi restu dan ridanya.”
“Apa kamu bersedia menikah dengan saya?” tanya Firman untuk memastikannya lagi.
Calya mengangguk kecil yang membuat semua tersenyum.
“Bu, sesegera mungkin Calya akan menjadi menantu Ibu. Tolong bantu Firman siapkan lamaran untuknya ya, Bu.” Anggukan dari Ibu membuat Firman dan Calya tersenyum senang.
Firman benar-benar menepati janjinya, dia dan ibunya datang ke panti asuhan untuk melamar Calya. Di mana di sana juga sudah dibuatkan acara sederhana untuk mereka. “Terimakasih karena sudah menerima saya dengan segala kekurangan saya.”
“Kamu orang baik Mas, aku percaya kamu bisa membahagiakan aku.” Senyuman pun terlukis di wajah keduanya.
... Selesai ....