Hujan Tengah Malam
Perjuangan Merebut Hak
Calya dan Firman masih berada di taman, keduanya tengah merenung. Ini kejadian yang sangat aneh, di mana Firman bertemu dengan makhluk tak kasat mata yang ternyata ingin dia menyampaikan pesan penting. Dia bisa menyebutnya ini keberuntungan atau apa, yang pasti Firman merasa senang bisa membantu, hanya saja kalau mengingat kenyataan tentu saja dia juga bergidik ngeri. Bisa-bisanya semalam dia mengobrol dengan hantu.
"Jadi sekarang kita mau bagaimana?"
"Bantu aku cari Pak Lukman, Mas. Apa kamu mau?" tanya Calya yang membuat Firman mengangguk kecil sebagai jawabannya.
Di hari yang sama, Firman dan Calya pun pergi mencari alamat rumah Pak Lukman. Calya masih ingat, karena dulu pernah diajak kedua orangtuanya ke sana. Namun, itu sudah cukup lama dan lagi keadaan kampung sudah banyak berubah. Calya butuh seseorang juga untuk menemaninya. Untungnya sekarang Firman ada waktu dan bisa membantu.
Calya menjadi petunjuk jalan dan Firman yang mengendarai motor. Keduanya kini sudah berada di kampung Pak Lukman, yang mana Calya ingat rumahnya tak jauh dari gang yang sekarang mereka masuki.
Calya dan Firman berjalan kaki, agar mempermudah mereka bertanya pada orang sekitar. Namun, saat itu Calya melihat sebuah bangunan yang dikenalinya. Calya langsung menunjuk dan memberitahu Firman. "Mas, itu rumahnya. Ayo, kita ke sana!" ajaknya.
Saat Calya mendekati rumah tersebut, seseorang tiba-tiba keluar dari sana. Pandangan mereka saling bertemu, membuat keduanya juga membeku di tempat. Tanpa sadar, sosok itu langsung mendekat, dan memanggil nama Calya.
"Non Calya!"
"Pak Lukman, gimana kabarnya, Pak?"
Bukannya menjawab, Pak Lukman malah langsung mengajak Calya untuk masuk ke rumahnya. Dia berderai air mata, beberapa kali juga melirik Calya. "Non Calya apa kabarnya, maafkan saya karena tidak pernah mencari atau berusaha menemui."
"Pak Lukman, saya ke sini untuk—"
"Saya takut disalahkan atas kepergian Ibu sama Bapak. Saya juga bersembunyi karena takut diancam atas kematian orangtuanya Non Calya. Saya benar-benar takut kalau keluarga saya juga dalam bahaya, Non." Pak Lukman memang terlihat ketakutan, tetapi di sini Calya masih belum tahu apa penyebab Pak Lukman seperti ini.
Calya menatap Pak Lukman, menunggu kalimat berikutnya untuk menjelaskan semua kebenaran atas kematian kedua orangtuanya. Pak Lukman bersimpuh di hadapan Calya dan meminta maaf berulangkali. "Saya diminta untuk bungkam Non, saat diminta untuk tidak menceritakan apa penyebab kematian Bapak sama Ibu."
Calya kemudian menghubungi seseorang, dia adalah pengacara teman ayahnya.
"Halo Paman Gatot, ini aku Calya. Apa ada waktu untuk bertemu hari ini juga?" tanya Calya.
Calya dan Pak Gatot sepakat untuk bertemu di suatu tempat, dia juga membawa Pak Lukman dan Firman bersamanya. Hanya untuk menemani dan Calya juga ingin menjadikan Pak Lukman sebagai saksi.
Di rumah Paman Gatot, Calya pun baru tahu kalau ternyata kedua orangtuanya meninggal karena dibunuh oleh salah satu rekan bisnisnya. Yang mana merekalah yang kini menguasai perusahaan milik orang tua Calya.
"Tapi Paman, aku punya semua sertifikat atas aset yang kini di tangan mereka." Calya mengeluarkan semua sertifikat yang didapatnya dari bagasi mobil bekas kecelakaan itu terjadi.
Paman Gatot melihatnya dan mengangguk, mereka akan bisa menggulingkan pemilik sekarang karena mereka menggunakan sertifikat palsu. Namun, mereka juga tidak bisa bertindak gegabah, mereka harus melaporkannya ke pihak berwajib untuk menuntutnya.
"Kita tuntut mereka."
"Apa semuanya akan kembali sama aku, Paman?"
Laki-laki itu mengangguk, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk kembali merebut apa yang seharusnya ada di tangan Calya. Mereka juga pasti akan mendapatkan banyak pasal pelanggaran, termasuk penipuan dan juga pemalsuan sertifikat.
Calya dan Firman sementara waktu tinggal di rumah Pak Gatot, mereka harus terus di sana untuk memantau perkembangan tuntutan mereka juga.
"Paman sudah mengurus semuanya, sisanya kita tunggu saja. Katanya hari ini mereka akan menggeledah pabrik untuk mencari tahu keaslian surat-surat yang ada, lalu tentu saja kita akan melakukan mediasi dalam pengadilan."
"Kemungkinan berapa lama mereka akan dihukum, Paman?"
"Untuk pemalsuan dokumen, maksimal bisa dihukum 6 tahun penjara. Untuk penghilangan nyawa secara berencana, hukuman bisa sampai 20 tahun atau hukuman seumur hidup atau bahkan hukuman mati. Terlebih lagi kerugian perusahaan mungkin akan diperhitungkan juga sebagai denda yang harus mereka bayarkan," jelas Paman Gatot.
Tepat pukul 10 siang, saat Gatot menerima pesan untuk penggeledahan dia pun langsung mengajak Calya dan Firman untuk datang ke perusahaan. "Sudah waktunya, ayo kita pergi sekarang!"
"Mas Firman maaf ya, aku masih ngerepotin."
"Gak apa-apa, ini amanat dari Bapak sama Ibu. Saya juga gak biasa pulang kalau urusan belum selesai, belum berani buat pulang," ucap Firman.
"Mas Firman bukannya kerja ya, terus kerjaannya gimana?" tanya Calya yang membuat Firman tersenyum saja.
Firman sendiri tidak tahu bagaimana dengan pekerjaannya, dia sudah berada di sana cukup lama dan tanpa kabar. Firman tidak berani meminta cuti karena sudah pasti itu akan ditolak. Firman menepuk lengan atas Calya sembari melemparkan senyuman kecil.
Keduanya pun pergi ke perusahaan untuk melihat keadaan di sana. Di mana mereka melihat bagaimana kacaunya keadaan sekarang. Rason ditangkap yang membuat gaduh seisi kantor, yang mana kini mereka tahu kalau bos mereka itu salah seorang pembunuh sekaligus penipu.
Calya dan Firman ikut ke kantor kepolisian untuk melihat Rason diintrogasi. Mereka juga sekalian memberikan bukti dan saksi untuk memberatkan posisi Rason saat ini. Rason langsung dimasukkan ke dalam sel sementara, menunggu sidang dan keputusan keluar. Namun, sudah dipastikan kalau semua aset yang dimilikinya saat ini akan kembali ke tangan orang yang tepat, yakni pemilik sebenarnya yang tak lain adalah Calya.
"Makasih banyak, Paman Gatot!"
"Makasih banyak juga Mas Firman, kalau bukan karena Mas Firman aku gak akan tahu kebenaran ini semua," ucapnya sembari melemparkan senyuman.
Firman mengangguk saja. Dia kemudian pamit pulang, karena tugasnya di sana sudah selesai. Hanya tinggal menunggu sidang dan keputusan saja, maka semua tanggungjawabnya pada Calya selesai.
Calya sendiri tidak tahu harus dengan cara apa dia berterimakasih pada semua orang. Kematian kedua orangtuanya kini terungkap dan itu sudah lebih dari cukup. Untuk urusan aset milik keluarganya, Calya akan berusaha melindunginya agar tak diambil orang lagi.
"Aku mau ketemu sama Pak Rason, Paman."
"Kita akan menemuinya nanti di persidangan, kamu siapkan mental saja agar tidak tersulut emosi. Paman tahu ini tidak mudah bagi kamu, Calya." Calya menatap Gatot, dia mengangguk kecil dan merasa sakit akan kenyataan ini.
Orang sebagai orang tuanya bisa meninggalkan karena keserakahan seseorang. Bahkan mereka dengan teganya menguasai semua harta kekayaan keluarganya, tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Aku ingin mereka dihukum atas semuanya, Paman."
"Itu pasti, sekarang sebaiknya kamu siapkan diri untuk datang ke perusahaan sebagai pemilik sahnya."