HIJRAH CINTA SANG PRIMADONA
9. HIDUP ITU TIDAK SEINDAH QUOTE DI LAMAN MEDSOS
“Yang nggak pengen kerja bener itu siapa, Cak? Kalau saja aku punya ijasah SMA, aku pasti bisa mendapatkan kerja yang lebih baik. Tapi kerjaan yang bisa memberiku uang cepat apa? Ada pekerjaan yang bisa memberi uang bahkan sebelum aku bekerja di sana? Ada, Cak?” tanya Numayra setengah berteriak karena kesal.
Ripin yang tidak menyangka reaksi Numayra pun hanya bisa menatap gadis di sampingnya itu dengan bingung.
“Ya nggak gitu, Num. Sabar, jangan emosi begini,” ujar Ripin sambil menepuk bahu Numayra perlahan.
“Apa kamu nggak mikir to, kalau uang yang kamu peroleh bukannya menyembuhkan ibu kamu tapi memperparah penyakitnya?”
Numayra menoleh kesal ke arah Ripin dan bertanya, “Kenapa? Kenapa kamu bisa bilang seperti itu, Cak?”
“Karena uang yang kamu gunakan bukan uang halal, Num,” jawab Ripin. Numayra terdiam seketika. Dia membuka tasnya dan mengambil sebatang rokok mild dari kotaknya.
“Rokok, Cak?” tawarnya. Ripin menggelengkan kepalanya. Dia mengambil rokoknya sendiri dari balik jaket. Sebatang rokok kretek pun disulutnya.
Mereka berdua sama-sama terdiam menikmati hisapan demi hisapan rokok masing-masing. Angin yang mulai kencang membuat Numayra kembali membuka tasnya dan mengambil sebuah karet untuk menguncir rambutnya.
“Kamu tahu, Cak. Meskipun kamu bilang itu uang nggak halal, tetapi pada kenyataannya dengan uang itu ibuku bisa dioperasi,” kata Numayra perlahan. Ripin melirik gadis itu dan mematikan rokoknya.
“Pada kenyataannya uang itulah yang bisa membayar tunggakan SPP sekolah adikku. Yang bisa membeli semua perlengkapan sekolahnya bahkan yang bisa dipakai untuk membeli makanan mereka.”
“Kalau nggak ada uang itu, dari mana mereka bisa menikmati itu semua? Dari mana lagi aku bisa menutup semua biaya itu?”
“Mau tunggu sampai ibuku terkapar parah di rumah sakit? Mau nunggu sampai adikku dibully di sekolah gegara SPP-nya belum lunas?”
“Kamu itu mikir dulu sebelum kasih nasihat ke aku, Cak,” ujar Numayra.
“Oalah Num. Mikirmu itu terlalu pendek,” komentar Ripin sambil menyandarkan punggungnya di kursi yang mereka duduki.
“Terserah kamu, Cak. Aku toh nggak ngelakuin semua yang biasa dilakuin teman-temanku lainnya. Aku ini masih milih-milih lho, Cak. Beda aku ini,” tandas Numayra. Ripin hanya tersenyum tipis.
“Meskipun beda jauh, dosanya tetap sama, Num,” sela Ripin.
DEG
Numayra bagai tertampar mendengar selaan Ripin itu. Dalam hati dia memang mengakui kebenaran setiap kata-kata lelaki yang mendadak sok menjadi ustad itu. Tetapi kenyataan hidup tidak seindah quote yang sering dibacanya di laman media sosial.
“Kamu itu lama-lama bisa jadi ustad, Cak,” gumam Numayra kesal. Ripin tertawa mendengarnya.
“Aku hanya nggak ingin kamu terjerumus terlalu dalam, Num,” kata Ripin serius.
“Wis ta lah, Cak. Nggak usah bahas masalah kerjaanku lagi. Aku masih bisa membatasi diri untuk selektif melakukan hal-hal yang kamu takutkan itu,” sergah Numayra.
Gadis itu berdiri dan bergerak lima langkah ke depan. Bibirnya tersenyum melihat keriangan orang-orang yang baru saja turun dari speedboat di depan sana.
“Cak, ayo naik itu. Kita bayar separo-separo, ya,” ajaknya. Ripin tersenyum dan bangkit dari duduknya, menyusul Numayra yang telah berlari kecil ke arah deretan speedboat itu.
“Mau naik, Mbak?” tanya beberapa orang penjaga speedboat. Numayra tersenyum dan mengangguk.
“Ni, yang ini masih ada kosong dua. Sini Mbak,” panggil salah satu di antara mereka yang menunjuk sebuah boat di depannya.
“Mau yang itu, Num? Atau naik berdua saja?” tawar Ripin. Numayra menganggukkan kepalanya.
“Berdua saja, Pak. Yang kosong itu, ya,” pinta Numayra. Penjaga speedboat pun mengangguk dan mempersilakan mereka berdua untuk naik.
Untuk sesaat Numayra bisa berteriak lepas saat speedboat menyibakkan air danau dengan kecepatannya. Ripin pun tersenyum melihat gadis yang perlahan-lahan mendapatkan tempat di hatinya itu. Deru suara speedboat yang cukup keras ditambah teriakan Numayra membuat suara dering ponsel di dalam tasnya tidak terdengar.
Hingga akhirnya speeboat itu merapat kembali, Numayra baru bisa mendengar dering ponselnya. Dia bergegas meraih ponselnya. Wajahnya terlihat kaget saat membaca nama penelepon. Iman, adik lelaki satu-satunya. Raut khawatir pun menyergap Numayra. Tanpa mempedulikan tatapan heran Ripin, Numayra segera berlari menjauh untuk menerima panggilan itu.
“Assalamu’alaikum, Man. Ada apa?” sapa Numayra. Dadanya tiba-tiba saja berdetak lebih kencang. Panggilan dari Iman berarti sesuatu yang serius terjadi pada ibunya. Karena Numayra telah berpesan kalau dialah yang akan menghubungi mereka untuk berbincang. Bukan tanpa sebab, ini karena Numayra khawatir adiknya akan menghubungi pada waktu yang tidak tepat. Karena itulah, Iman hanya akan menghubunginya jika ada sesuatu yang darurat.
[“Wa’alaikumussalam, Mbak. Anu Mbak,”] jawab Iman tergagap bingung.
“Anu, anu apa sih, Man? Ngomong yang bener, pelan-pelan. Ada apa?” tanya Numayra lagi. Terdengar Iman menghela napas dalam.
[“Ibu, Mbak. Ibu panas semalam, bekas oprasinya juga membengkak. Jadi kuantar ke rumah sakit,”] jawab Iman.
[“Terus kata dokter, ibu mengalami infeksi. Katanya masih diusahakan diobati tapi kemungkinannya ibu bisa oprasi ulang,”] pungkas Iman.
Numayra terdiam mendengarnya. Operasi lagi. Itu artinya uang lagi. Ibunya tidak terdaftar sebagai peserta BPJS. Itu karena dulu tunjangan kesehatan mereka ditanggung oleh perusahaan bapaknya. Setelah bapaknya meninggal, jangankan untuk mengurusi biaya BPJS, untuk hidup sehari-hari saja mereka kesusahan. Belum lagi akibat kecelakaan yang menimpa bapak dan ibunya itu, sang ibu harus menjalani serangkaian operasi yang menghabiskan tabungan kedua orangtuanya.
[“Mbak. Mbak Numayra,”] panggil Iman.
“Ya, Man. Trus Ibu gimana sekarang? Sudah ditangani sama dokter?” tanya Numayra lirih.
[“Sudah, Mbak. Tapi aku ditagih biaya administrasi awal. Uang tabungan dari Mbak Numayra sudah aku pakai sebagian, tapi ya nggak cukup,”] jawab Iman.
“Sudah, jangan ikut mikir cari uang. Kamu pakai saja dulu uang yang ada, Man. Sisakan sedikit untuk beli makan. Nanti Mbak akan kirim lagi,” kata Numayra dengan nada biasa. Dia berusaha untuk tidak terlihat sedih ataupun lemah dihadapan adiknya. Pembicaraan itupun berakhir.
Numayra melangkah lemas dan terduduk lunglai di salah satu bangku yang ada di sana. Ripin yang memperhatikan gadis itu tampak berjalan menghampirinya. Perlahan dia duduk di sampingnya.
“Ada apa, Num?” tanya Ripin dengan hati-hati. Numayra menunduk. Kepalanya dia topang dengan kedua telapak tangan. Numayra meremas rambut yang ada di atas kepalanya kemudian menariknya kencang dan pelan ke bawah. Beberapa rambut ikut tertarik dan putus.
“Ibu di rumah sakit, Cak. Perlu dioperasi ulang karena terjadi infeksi di bekas operasinya,” jawab Numayra dengan suara bergetar.
“Operasi lagi, Cak. Tahu ‘kan artinya? Uang lagi. Uang, Cak,” keluhnya kesal.
Ripin hanya diam mendengarkan. Tiba-tiba saja Numayra menatap marah ke arah Ripin. Kedua manik mata indahnya itu terlihat memerah karena menahan marah sekaligus tangis.
“Jika dalam keadaan begini, pekerjaan apa yang bisa Tuhan berikan kepadaku untuk mendapatkan sejumlah uang dengan cara yang halal, Cak?” tanya Numayra dengan tatapan sinisnya.
Ripin tercekat diam tak bisa berbicara. Bibirnya yang sudah membuka itu perlahan menutup kembali saat melihat Numayra yang bergerak mendekat ke arahnya dengan cepat.
Gadis itu tiba-tiba saja sudah bergeser duduknya tepat di depan Ripin. Tangannya terjulur ke dada lelaki itu dan sebelum sempat Ripin melakukan apa-apa, tangan Numayra telah menarik kerah kaosnya seraya mengatakan kalimat yang kembali membuat Ripin tak bisa berkelit lagi.