HIJRAH CINTA SANG PRIMADONA
8. BERLIBUR BERSAMA RIPIN
Tante Lisa menghentikan tawanya dan menatap Numayra dengan geregetan. Tangannya terulur menunjuk ke arah gadis itu.
“Lelaki VIP itu cerdik. Kenapa kamu tidak cek isi tas itu sebelum pergi? Jadi bukan salah dia, tetapi salah kamu sendiri karena kamu juga pergi diam-diam. Siapa tahu dia akan memberitahu kamu penawaran itu jika saja kamu menunggunya bangun,” jelasnya.
Numayra pun tersentak. Dia merutuki dirinya sendiri dalam hati. Wajahnya menatap Tante Lisa dengan nelangsa.
“Trus aku harus gimana untuk mengembalikan uang itu, Tante?” tanyanya bingung.
“Memangnya kamu nggak butuh duit, Num? Jarang-jarang ada penawaran gede seperti ini lho,” rayu Tante Lisa. Numayra menggeleng dengan tegas.
“Tidak. Cukup sekali itu saja aku melakukannya. Aku nggak akan mau lagi menerima tamu VIP,” batin Numayra dengan tegas.
“Tidak, Tante. Aku lebih baik begini saja,” tolaknya. Tante Lisa hanya bisa menghela napas dalam. Seulas senyum tipis terlihat di bibirnya.
“Tante bisa bantu saya untuk bicara dengan tamu itu, ‘kan?” tanyaya lagi.
“Entahlah. Aku coba bicara dulu dengannya. Semoga saja dia mau ganti lady. Sindi sudah lama mengincar tamu itu,” jawab Tante Lisa. Numayra menghela napas lega. Dia mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu.
Benar saja, Sindi yang dipanggil terlihat tampak tersenyum puas ketika keluar dari ruangan Tante Lisa. Dia menatap Numayra dengan pandangan mencela, tetapi Numayra tidak mau menanggapinya. Entah apa yang telah dikatakan Tante Lisa. Numayra tidak peduli, yang penting dirinya tidak lagi ditugasi untuk melayani tamu VIP itu.
Hingga dini hari tiba dan Ripin menjemputnya. Numayra pun menceritakan apa yang tadi dia alami kepada lelaki muda itu.
“Alhamdulillah kalau kamu mau menolaknya, Num,” komentar Ripin.
“Iya Cak. Kemarin itu aku seperti dibuat mabuk, Cak. Jadi aku sendiri nggak tahu apa yang terjadi,” kata Numayra. Ripin hanya bisa tersenyum miris mendengarnya.
Seperti biasa, jalanan sepanjang jalan raya di jam sekitar itu memang sangat lengang hingga mereka berbelok ke arah jalan menuju tempat tinggal mereka. Beberapa minimarket yang buka selama 24 jam terlihat sepi pengunjung. Masih terlihat beberapa pedagang nasi bungkus dan nasi lalapan di kiri kanan jalan raya.
Ripin dan Numayra melewati semua itu tanpa bicara lagi. Badan Numayra terlalu lelah. Dia memeluk erat pinggang Ripin. Badan yang terbiasa angkat beban di proyek bangunan itu terasa keras berbentuk di perutnya. Numayra tersenyum. Dia tidak peduli meskipun Ripin beberapa kali memukul ringan tangannya sebagai tanda untuk melepaskan pelukannya.
Aroma khas jaket denim belel milik Ripin seolah membius Numayra. Sekumal apapun jaket itu tidak pernah Numayra membaui aroma tak sedap. Numayra sangat menyukai aroma tubuh lelaki muda itu. Aroma asli tanpa parfum atau pengharum pakaian. Hanya aroma tubuhnya saja. Numayra pun mempererat pelukannya.
“Aku ngantuk, Cak. Kalau nggak pegangan gini nanti jatuh,” bisik Numayra. Ripin pun akhirnya hanya bisa pasrah dipeluk gadis cantik itu. Bukan karena sok alim juga, tetapi deburan di dadanya tiba-tiba bertalu kencang saat tubuh Numayra merapat ke tubuhnya.
“Ya Allah, ampunilah hambamu ini, ya Allah,” bisiknya dalam hati sambil berusaha untuk segera sampai di kos-kosan mereka.
Hingga akhirnya mereka tiba di kos-kosan. Numayra pun segera turun dan mengucapkan terima kasihnya. Tanpa rasa bersalah Numayra melangkah ke kamar kosnya, meninggalkan Ripin yang masih menunggu debaran di dadanya kembali normal.
“Num!” panggil Ripin setengah pelan. Numayra menoleh dan berbisik menjawab panggilan itu.
“Apa Cak,” jawab Numayra sambil membalikkan badannya. Dahinya mengernyit heran.
“Kamu kapan libur?” tanya Ripin.
“Besok aku libur. Kenapa, Cak?” tanya Numayra heran. Ripin mengangguk senang. Dia juga sebenarnya sudah tahu kalau besok Numayra jatahnya libur. Ripin ‘kan sudah mencatatnya.
“Kebetulan aku besok juga libur. Kita mantai yuk,” ajak Ripin.
“Beneran? Ayok,” jawab Numayra sumringah. Sudah cukup lama mereka tidak jalan-jalan melepas penat kerja. Ripin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Ya wis. Sekarang istirahatlah dulu. Besok kita bahas lagi,” kata Ripin kemudian. Numayra menganggukkan kepalanya dan segera masuk ke dalam kamar.
Benar saja, keesokan harinya Numayra melihat Ripin sedang asyik merokok sambil mengobrol dengan beberapa tetangga di bangku depan. Melalui jendelanya dia memberikan tanda kepada lelaki itu bahwa dirinya akan segera bersiap. Ripin mengangguk dan tersenyum tipis kemudian segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
Tentu saja hal itu dilakukan karena melihat singlet tipis yang dikenakan Numayra. Meski tidak separo badan gadis itu terlihat, hanya bagian bahunya saja tetapi bagi Ripin hal itu sudah cukup membuat pikirannya berkelana ke mana-mana. Karena itu dia memilih untuk tidak melihatnya.
“Dasar laki-laki katrok,” batin Numayra sambil tertawa geli melihat tingkah Ripin itu. Dia pun segera bersiap. Mengenakan kaos oblong berwarna kuning cerah dipadu celana denim midi membuat Numayra terlihat segar.
“Sedikit olesan liptint. Dan perfect,” gumam Numayra senang.
Dia pun segera keluar. Rupanya Ripin pun telah siap. Mengenakan denim biru dongker dipadu kaos putih slim membuat tubuh atletisnya terlihat mempesona. Wajah tampan yang selalu tertutup rambut gondrongnya itu tumben dikuncir. Sejenak Numayra terpana dengan lelaki itu.
“Num. Ayo!” panggil Ripin.
“E-eh iya. Iya, Cak. Ayo,” jawab Numayra sambil berlari ke arah lelaki itu.
“Tumben kelihatan gantengnya, Cak,” puji Numayra sambil tersenyum.
“Bisa aja kamu, Num,” kilah Ripin malu. Dia segera mengenakan jaket kesayangannya dan menstater motornya.
“Kita kemana?” tanya Numayra sesaat setelah mereka keluar dari motor.
“Pengen ke daerah yang dingin. Ke puncak aja, yuk,” ajak Ripin.
“Wah, asyik. Ke danau yang ada di lereng gunung ya, Cak,” kata Numayra. Ripin hanya mengangguk mengiyakan.
Rupanya meskipun tengah minggu banyak wisatawan yang berkunjung ke sana. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya mobil berplat luar kota Bahari yang menuju ke arahnya. Hawa dingin mulai menerpa saat mereka memasuki daerah yang mulai menanjak.
Setelah sempat berhenti untuk membeli minuman dingin, mereka pun akhirnya tiba di danau yang cukup terkenal itu. Semilir angin dan hawa dingin sangat terasa menyegarkan. Numayra pun berpose dan meminta Ripin mengabadikan momen indah mereka di sana.
“Kamu pengen naik boat itu, Num?” tanya Ripin sambil menunjuk ke arah speed boat yang terparkir rapi di depan sana. Banyak wisatawan yang antre ingin menaikinya.
“Pengen sih, Cak. Tapi mahal, Cak. Eman duitnya,” jawab Numayra.
“Lho katanya baru dapat tamu VIP, masak nggak ada duitnya,” goda Ripin. Numayra mencebik mendengar hal itu.
“Kalau ada duitnya, udah dari tadi aku ajakin kamu naik boat itu, Cak,” gumam Numayra lirih sambil tersenyum tipis.
Ripin menatap gadis itu dengan bingung.
“Kok bisa nggak ada duitnya, Num? Kalau nggak ada duitnya ngapain juga kamu mau?” Ripin mulai penasaran dan bertanya lagi.
“Duit yang tempo hari kuambil sudah ku kembalikan, Cak. Trus mereka bilang aku harus bertanggung jawab, karena tamu itu sudah bayar dan bla bla dan bla bla. Duh, banyak alasannya, Cak,” jawab Numayra.
“Dengan kata lain, sampai sekarang kamu belum mendapatkan bayaran kamu itu, Num?” tanya Ripin perlahan. Numayra hanya menghela napas dalam.
“Makanya Num, mbok ya wis. Kerja yang pasti-pasti saja. Meski hasilnya kecil, tapi pasti dapat dan berkah. Iya to?” nasihat Ripin. Numayra menolehkan wajahnya ke arah lelaki yang pandangannya lurus menatap ke arah danau itu.
Setengah kesal, Numayra pun mengatakan sesuatu yang memaksa lelaki tampan di sebelahnya menolehkan wajahnya ke arah gadis itu.