HIJRAH CINTA SANG PRIMADONA
7. SEBUAH JEBAKAN
Sebendel uang lembaran berwarna merah ada di dalam tasnya. Tentu saja Numayra kaget. Tangannya sempat bergetar.
“Ada apa, Num?” tanya Ripin.
“Mbak, ini nasinya,” ujar penjual nasi sambil mengulurkan tangannya. Numayra menghela napas dalam. Dia segera menoleh ke arah Ripin dan menggelengkan kepalanya. Kemudian menerima plastik kresek berisi nasi jinggo dari penjual nasi. Numayra membuka dompet dan mengambil uang dua puluh ribuan yang tersisa di dompetnya.
“Terima kasih, Bu,” ujarnya dan langsung kembali menaiki motor Ripin.
“Ayo, Cak,” ajaknya. Ripin pun kembali melajukan motornya. Sepanjang sisa perjalanan Numayra terdiam memikirkan uang yang ada di dalam tasnya.
“Num, nggak mau turun kamu?” tanya Ripin saat Numayra masih saja duduk di belakangnya padahal motor sudah dalam keadaan mati.
“Num?!” panggil Ripin lagi.
“Hah?! Apa Cak?” jawab Numayra tergagap. Ripin menggelengkan kepalanya.
“Turun,” ujar Ripin.
“E-eh iya. Udah nyampe to,” gumam Numayra sambil turun dari boncengan. Dia pun bergegas ke arah kamarnya tanpa melepas helm.
“Ntar, Cak. Aku ganti dulu. Tunggu ya,” katanya perlahan sambil terus berjalan. Ripin hanya menghela napas dan menganggukkan kepala. Dia pun berjalan pelan ke arah kamar Numayra.
Hawa segar udara menjelang subuh itu terasa agak mengigit. Kota Bahari akhir-akhir ini memang panas meskipun sesekali tiba-tiba hujan. Cuaca kadang bersahabat tetapi sering pula menjadi tak bersahabat secara mendadak.
Pintu kamar Numayra terbuka. Gadis itu keluar sambil membawa dua piring dan sendok serta plastik berisi nasi bungkud. Tentu saja Numayra telah berganti pakaian. Seulas senyum terlihat di bibirnya. Dia duduk di seberang Ripin. Lelaki itu hanya diam sambil memperhatikan apa yang dilakukan Numayra.
“Nih Cak. Silakan dimakan,” kata Numayra sambil mengulurkan piring berisi dua bungkus nasi dan sendok kepada Ripin. Lelaki itu menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Tanpa banyak bicara keduanya pun makan dengan tenang.
Kumandang adzan subuh terdengar tepat ketika mereka selesai meneguk segelas air. Ripin mengucapkan hamdalah dan segera beranjak dari duduknya.
“Kemana, Cak?” tanya Numayra heran.
“Ke musholla dulu, Num. Subuhan di sana,” jawab Ripin sambil berjalan keluar dari halaman kos-kosan mereka. Numayra mengangguk dan menatap kepergian Ripin dengan sebuah tanda tanya di dadanya.
“Ada apa dengan Cak Ripin? Dia sepertinya marah. Tapi apa hak dia marah padaku?” gumam Numayra gusar.
“Ah, bodo amat deh. Lebih baik aku istirahat dulu,” batin Numayra. Dia pun segera masuk kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya yang terasa sangat letih itu di tempat tidur. Tak lama kemudian Numayra pun tertidur tanpa sempat berpikir apa-apa lagi.
Sementara itu Ripin terlihat berjalan kaki kembali dari musholla yang ada di gang sebelah kos-kosan mereka. Geliat pagi mulai terlihat di daerah itu. Embusan aroma bunga yang bermekaran terhirup di hidungnya.
Ripin menyapa beberapa orang yang dia kenal. Sambil berjalan perlahan dia kembali teringat dengan Numayra. Gadis itu membuatnya tak bisa tidur semalaman saat mengetahui kalau dia tidak ada di tempat kerjanya. Benar, Ripin memang menjemput Numayra seperti biasanya. Tetapi salah seorang lady escort memberitahu kalau Numayra dapat tugas khusus. Ripin pun paham. Karena Numayra memang sering bercerita tentang tugas khusus ini, meskipun belum pernah mendapatkannya.
“Akhirnya kamu mendapatkan tugas khusus itu, Num,” gumam Ripin. Sebagian dadanya terasa nyeri saat menyebut tugas khusus itu. Ripin sangat menyayangkan kenapa Numayra tidak mau mencari pekerjaan yang lebih baik.
“Sepertinya dia sedang istirahat,” gumam Ripin yang melihat pintu dan jendela kamar Numayra masih tertutup rapat. Hingga dirinya berangkat kerja, Numayra belum juga terlihat keluar.
Bukannya belum bangun, Numayra hanya sedang bingung menatap uang sejumlah sepuluh juta di hadapannya.
“Kalau aku bertanya kepada Tante Lisa, dia pasti akan mencoba mengambil uang ini dariku,” batin Numayra.
“Kalau aku tanya ke lelaki VIP itu, kemana mau nanya? Nomornya saja nggak tahu,” gumamnya lagi.
“Ah sudahlah. Biar aku bawa saja, siapa tahu kejadiannya seperti tempo hari. Jadi kalau sewaktu-waktu lelaki itu memintanya kembali, sudah ada di tas ini.”
Akhirnya Numayra pun mengambil keputusan itu. Dia menyimpan dengan hati-hati uang itu dalam amplop dan dimasukkan ke bagian dalam tasnya.
Malam itu semua berjalan seperti biasa. Numayra kembali melayani tamu-tamu dengan stylenya yang lama. Dia pun tak menganggap sesuatu yang istimewa atas apa yang terjadi kemarin malam. Hanya saja memang beberapa teman sesama lady escort mulai berubah sikap terhadapnya.
Gadis yang semula tak dianggap sebagai saingan dalam mendapatkan tamu, sekarang mulai diperhitungkan. Numayra bukannya tidak menyadari hal itu. Tentu saja dia paham dan sadar betul tentang perubahan mereka. Tetapi Numayra tidak ambil pusing.
“Num, dipanggil Bos,” ujar Hari yang menghampiri Numayra saat gadis itu baru saja selesai melayani seorang tamu.
“Hah, ngapain lagi dipanggil, Mas?” tanya Numayra bingung. Hari hanya mengangkat kedua bahunya.
“Cepat. Keburu marah nanti dia,” kata Hari dengan mata membelalak marah.
“Iya. Iya. Aku jalan ini,” ujar Numayra. Dia pun mengikuti langkah Hari menuju ruang kerja Tante Lisa.
Hari meninggalkan Numayra sesaat setelah mereka tiba di hadapan Tante Lisa. Wanita setengah baya itu tampak masih sibuk berbicara dengan seseorang di sana. Numayra dengan sabar menunggu hingga wanita itu selesai.
“Kerjaan kamu bagus semalam. Tamu suka,” ujar Tante Lisa sambil tersenyum menyeringai. Numayra diam mendengarkan dengan kepala tertunduk.
“Aku nggak nyangka kalau kamu menerima tawarannya,” lanjut Tante Lisa. Numayra seketika mendongak kaget.
“Tawaran? Tawaran apa, Tante?” tanya Numayra bingung. Gantian Tante Lisa yang menatapnya dengan heran.
“Lho katanya kamu menerima sejumlah uang. Bener nggak?” Tante Lisa ganti bertanya.
“Hah?! Uang? Jangan-jangan--.”
“Mati aku,” batin Numayra dalam hati.
“Sama aku nggak usah sok alim, Num. Kamu terima uangnya berarti kamu terima tawarannya. Beres ‘kan?” ujar Tante Lisa.
“Ternyata kamu lebih cerdik dari dugaanku, Num,” lanjutnya.
“Jadi kamu bisa setor lebih banyak untuk nutupi hutang kamu. Iya ‘kan?”
Kepalang basah. Ternyata lelaki VIP itu telah menjebaknya. Numayra hanya bisa mengangguk mengiyakan.
“Oke. Bersiaplah. Sebentar lagi jemputan kamu tiba,” kata Tante Lisa. Numayra kembali menatapnya bingung.
“Bersiap? Jemputan? Maksudnya apa?” tanya Numayra dalam hati.
“Hei! Kenapa masih bengong di sana? Kalau sudah ambil uangnya, kasih pelayanannya. Sana cepat bersiap,” tegur Tante Lisa.
Numayra terdiam dengan tatapan ragu sesaat. Kemudian dia menggelengkan kepalanya. Tante Lisa memandangnya dengan heran.
“Sebentar, Tante,” kata Numayra. Dia pun ijin keluar ruangan untuk mengambil tasnya. Begitu kembali dia mengeluarkan uang yang tadi disimpan di sana.
“I-ini Tante,” kata Numayra sambil meletakkan uang itu dihadapan Tante Lisa. Wanita bergincu merah itu menatap Numayra dengan heran.
“Apa ini?” tanyanya tak mengerti.
“Saya nggak pernah mendapat tawaran apa-apa dari tamu semalam, Tante. Uang itu tiba-tiba saja sudah ada di dalam tas ini. Itupun baru tahu tadi ketika sudah pergi dari hotel itu,” jawab Numayra dengan jujur.
Semula Tante Lisa menatap bingung ke arah Numayra, tetapi kemudian tertawa terbahak membuat Numayra dan Hari yang ada di depannya saling menatap bingung.