HIJRAH CINTA SANG PRIMADONA

6. MELAYANI TUAN VIP

“Kamu itu harus tahu diri, Num,” tegur Tante Lisa. Numayra yang berdiri di depannya hanya diam menunduk.

“Kamu itu siapa kok berani-beraninya ngatur juragan. Dia itu juragan kamu, Num. Juragan aku,” ujar Tante Lisa dengan kesal. Dia pun melempar sebuah map ke atas mejanya. Dengan kasar dia membuka map itu dan mengambil berkas yang ada di dalamnya.

“Baca! Baca lagi kontrak kamu ini, Num!” hardiknya keras.

“Apa perlu aku bacakan? Apa kewajiban kamu, heh?!”

“Kamu itu masih punya hutang berapa di sini? Jangan saja kamu tiba-tiba lupa dengan semua hutang kamu itu. Kamu sendiri sudah janji mau ngelakuin apapun, ‘kan?” ujar Tante Lisa dengan senyum menyeringai yang sangat tidak enak dipandang mata.

“Maaf, Tante,” kata Numayra lirih. Tentu saja dia masih ingat berapa detail jumlah hutangnya. Hutang yang terpaksa dia ajukan untuk biaya operasi ibunya kala itu.

“Jangan maaf-maaf saja,” tukas Tante Lisa dengan marah. Dia pun kembali merapikan berkas itu.

“Aku nggak suka harus mengingatkan dengan cara seperti ini kepada kalian,” lanjutnya. Wanita setengah baya berbadan gempal itu kembali menatap Numayra. Seulas senyum tipis terlihat di bibirnya.

“Nggak ada perusahaan yang mau memberikan pinjaman apalagi dalam jumlah besar kepada karyawan yang belum ada sebulan bekerja, Num. Nggak ada,” cercanya lagi.

“Iya, Tante,” desis Numayra. Di titik ini dirinya menyadari bahwa wanita di depannya telah menang telak atas tubuhnya.

“Pulanglah. Perbaiki semua kesalahan kamu besok,” tandasnya tanpa bisa ditawar lagi. Numayra hanya bisa mengangguk pasrah dan segera pergi dari hadapan Tante Lisa.

“Ingat, Num. Jangan pernah melakukan hal bodoh lagi. Camkan itu!” seru Tante Lisa tepat sebelum Numayra keluar dari ruangannya.

Semua ucapan Tante Lisa itu terus terngiang di kepalanya. Numayra hanya bisa menahan sesak di dadanya.

“Num, kamu mau tidur di atas motor?” tanya Ripin mengagetkan gadis itu.

“Hah?! Udah nyampe ya, Cak?” Numayra balas bertanya sambil menoleh ke sekitarnya. Dia pun tersenyum dan segera turun dari boncengan.

“Suwun ya, Cak. Aku langsung ke kamar,” ujar Numayra yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamar kosnya. Ripin hanya mengangguk sambil menatap heran ke arah gadis itu.

“Ada apalagi dengan kamu, Num?” tanya Ripin dalam hati.

Hingga keesokan harinya, Ripin terkejut saat melihat Numayra yang duduk melamun di teras kamar kosnya. Setelah menjemur handuknya, Ripin pun mendekati gadis itu.

“Udah sarapan, Num?” tanya Ripin. Numayra melirik ke arahnya dan menggelengkan kepala.

“Ayo nyari nasi kuning di depan,” ajak Ripin. Numayra menggeleng lemah.

“Udah ngopi?” tanya Ripin lagi. Numayra kembali menggeleng. Tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Ada apa to, Num? Dari semalam kamu sepertinya gelisah terus,” tanya Ripin sambil menyulut rokoknya.  Numayra diam saja. Dia malah menatap asap rokok yang keluar dari bibir Ripin dengan pandangan lelah.

“Masih masalah sama laki-laki itu?” tanya Ripin perlahan. Numayra mengangguk tipis.

“Lagi-lagi Tante Lisa mengingatkanku atas hutang itu, Cak,” ujar Numayra lirih. Ripin menghela napasnya. Dia pun ingat saat-saat itu. Saat ketika Numayra kebingungan mencari pinjaman uang untuk biaya operasi ibunya yang baru saja mengalami kecelakaan bersama bapaknya. Sang bapak meninggal di tempat sementara ibunya dalam keadaan terluka parah.

“Astaghfirulloh. Mereka ngungkit lagi?” tanya Ripin dengan tatapan nelangsa ke arah Numayra.

“Iya, Cak. Aku kudu piye, Cak?” jawab Numayra.

“Aku dah nggak bisa mundur. Mau nggak mau aku ya harus maju terus, Cak,” gumamnya lirih.

“Mbok ya minta keringanan to, Num. Aku akan bantu kamu,” kata Ripin dengan serius. Numayra tertawa mendengarnya.

“Sorry, Cak. Bukannya nggak tau terima kasih, tapi dengan pendapatan kamu yang tak seberapa itu bisa sampai kapan aku nunggunya?” tukas Numayra sambil tersenyum.  Senyum yang indah. Senyum yang membuat Ripin bahkan tidak bisa melupakannya sejak pertama kali dia mengenal Numayra.

“Dah yuk, kita cari sarapan saja,” ajak Numayra sambil berdiri. Ripin hanya bisa diam sambil ikut berdiri.

Sore itu, Numayra kembali diantar oleh Ripin. Numayra telah kembali seperti biasanya. Hanya saja sedikit lebih pendiam.  Di ruang tunggu telah banyak lady escort lain yang sedang bersiap-siap.  Numayra segera berganti pakaian dan ikut duduk bersama teman-temannya di deretan bangku yang ada di depan.

Beberapa tamu mulai berdatangan. Numayra pun ikut sibuk melayani mereka. Hingga waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Tiba-tiba saja terdengar kasak kusuk di kalangan para lady escort. 

“Gaes, si tampan datang lagi,” ujar seorang gadis yang baru saja datang dari depan itu.  Semua gadis cantik yang ada di sana pun menoleh ke arahnya. Sesaat mereka terdiam, tetapi sejurus kemudian ruangan itupun ramai dengan pekikan genit yang menghebohkan.

“Ih, si gantengnya akoh.”

“Duh, nggak kuat pengen ngelus jambangnya ei.”

“Perkasa tingkat berat dia itu.”

Masih banyak lagi pujian yang dilontarkan oleh mereka.  Berbeda dengan Numayra. Dia hanya mendengar saja tanpa peduli apapun dan siapapun yang mereka perbincangkan.

“Num, kamu kok nggak seneng gitu. Lumayan lho kalau bisa ndapetin dia,” kata seorang gadis yang duduk persis di sebelah Numayra.

“Nggak. Buat kalian saja deh. Aku ngalah. Ambil yang kecil-kecil saja nggak apa,” ujar Numayra disambut tawa teman-temannya.

“Noh asisten bos kemari. Siap-siap nih, siapa yang dipanggil,” kata gadis yang tadi membawa berita itu. Numayra segera berdiri dan bersiap untuk keluar.

“Selamat buat yang terpilih ya. Aku mau kembali stand by ke depan. Kasihan tamu lainnya nungguin kalian nanti,” kata Numayra sambil tertawa melihat wajah tegang teman-temannya.

“Huu!” seru para lady escort mendengar kata-kata Numayra. Mereka semua memang tahu kalau Numayra tidak pernah mau ikut bersaing mendapatkan tamu VIP.

Numayra baru saja melangkah saat terdengar suara Hari memanggilnya.

“Num! Kamu yang ikut,” serunya.  Tak hanya Numayra, semua gadis yang ada di sana pun terdiam heran.

“Hah?! A-aku, Mas?” tanya Numayra sambil menunjuk ke dadanya. 

“Ya. Kamu. Memang ada yang panggilannya Num di sini selain kamu?” jawab Hari sengit. Numayra menggelengkan kepalanya.

“Kok aku sih, Mas? Tuh yang lain ngarep,” ujar Numayra yang masih berusaha menghindar itu.

“Iya Mas Bos. Kita aja napa. Numayra nggak greget tuh,” sahut seorang gadis sambil menatap genit ke arah Hari.

“Num!” gertak Hari membuat semua yang ada di sana terdiam karena takut. Numayra pun ikut terlonjak kaget.

“E-eh, i-iya Mas. Iya,” ujar Numayra tergagap. Dengan langkah berat dia pun mengikuti Hari yang telah terlebih dahulu berjalan di depannya.

Kasak kusuk pun terdengar sepeninggal Numayra.  Semua teman-teman lady escort Numayra tahu kalau gadis itu tidak pernah mau menerima panggilan VIP. Tidak seperti yang lainnya justru berebutan untuk mendapatkan panggilan itu. Numayra lebih memilih melayani tamu yang B saja alias biasa-biasa saja. Karena itu Numayra tak pernah berhias berlebihan. Hanya sekedar bedak dan lipstik sewajarnya saja. Pembawaan Numayra yang ramah dan selalu ceria itulah yang membuatnya disenangi oleh para tamu.

“Tumben Numayra mau nerima panggilan ini. Apalagi ini tamu VIP ini ‘kan kemarin kamu yang megang, Sin,” ujar gadis yang mengenakan softlens warna kelabu itu sambil menatap lady escort bernama Sindi.

“Hm, cowok tajir semalem itu?” tanya Sindi. Seulas senyum tipis menghiasi bibirnya.

“Paling juga akan balik manggil aku. Kalian lihat sendiri ‘kan bagaimana penampilan Numayra?”

“Udik!” kecamnya lirih. Semua lady escort yang mendengarnya tersenyum mengiyakan.  Siapa yang tak kenal Numayra? Hanya dia saja lady escort yang merusak pemandangan. Meskipun sebenarnya mempunyai kecantikan di atas mereka, tetapi penampilannya nggak banget untuk seorang lady di sana.

“Ayo masuk ke dalam. Ngapain kalian semua nggrombol di sini?” bentak seorang bodyguard yang kebetulan lewat.

Mendengar bentakan itu para gadis pun berhamburan keluar. Meskipun tak ada tamu yang minta dilayani, mereka disuruh untuk stand by di sana.  DJ meracik musik yang menghentak dengan kerlap kerlip lampu yang membuat suasana ruangan disko itu menjadi panas. Lampu ruangan tiba-tiba dipadamkan. Semua orang berteriak saat sebuah sinar tiba-tiba terlihat menyorot ke seseorang.

“Good night ladies and gentleman. Kita sambut bintang tamu kita malam ini. Dia telah memilih seorang gadis di antara kalian. Siapakah yang beruntung?” Suara pembawa acara pun terdengar jelas saat musik mulai dipelankan.

Perlahan lampu sorot mengarah ke sudut lain.  Semua orang terpaku melihat gadis yang ada di sana.  Bahkan para lady escort yang tadi saling berbincang pun tak ada yang mengenalinya. Kemana Numayra?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!