Halal tapi Asing
Reaksi Saff
Deg.
Kalimat itu menghantamku telak. Aku buru-buru memalingkan wajah sebentar karena mataku langsung panas. Jadi selama ini ... dia benar-benar melihat semuanya.
“Tisya…” suaraku bergetar pelan.
“Aku takut keluarga kita hancur, Bun."
Air mataku akhirnya jatuh juga, cepat-cepat kuseka sebelum membuat anakku makin takut bicara jujur.
“Maafin Bunda,” lirihku sambil menggenggam jemarinya pelan. “Bunda lagi berusaha kuat.”
Tisya menunduk lagi.
“Tapi jangan hukum Bunda dengan diam ya, Kak.” Aku mengusap tangannya lembut. “Silent treatment itu sakit, Sayang," pintaku masih memandangnya.
Anak itu tidak menjawab.
“Kalau ada yang kurang dari Bunda, bilang,” ujarku makin lirih. “Evaluasi Bunda. Marah boleh tapi jangan dipendem sendiri.”
Sunyi lagi.
Perlahan Tisya menarik tangannya dari genggamanku.
“Aku pengen sendiri dulu, Bun.”
Dadaku kembali nyeri, anak ini menolakku halus. Tapi, hatiku masih menyimpan harap, semoga ucapan tadi ada yang merasuk ke hatinya.
Aku mengangguk pelan sambil berdiri perlahan. “Iya.” Sebelum keluar, aku sempat menoleh sekali lagi.
“Tisya…”
Anak itu enggan mengangkat wajah. Aku membiarkannya, seusia Tisya memang rawan, sedang gencar mencari makna jati dirinya. Salah memahami bisa-bisa aku kehilangan dia.
“Bunda sayang kamu. Banyak.”
Tisya menengadah melihatku, bibir putriku bergerak kecil, tapi tidak ada suara yang keluar.
Aku akhirnya menutup pintu perlahan lalu berjalan menuju kamar Saff.
Berbeda dengan kamar kakaknya, pintu kamar Saff terbuka sedikit. Lampunya terang dan suara murattal kecil terdengar dari speaker meja belajarnya.
Dadaku menghangat saat mengintip dari celah pintu. Saff sedang tengkurap sambil menggambar sesuatu di buku tulisnya. Begitu melihatku, anak itu gegas bangkit menyongsongku.
“Bunda.”
Aku tersenyum tipis lalu mengajaknya duduk di samping ranjang. “Belum tidur?”
Saff menggeleng. Matanya tertuju ke wajahku beberapa detik. “Bunda habis nangis lagi ya?”
Ya Allah.
Aku tertawa kecil sambil mencubit pipinya pelan. “Hatimu lembut banget sih.”
Saff langsung memelukku erat tanpa aba-aba.
Bahasa cinta Saff adalah pelukan. Seolah dirinya butuh sandaran kekuatan guna menahan semua kekecewaan di rumah ini dengan tubuh kecilnya.
Aku mengusap rambutnya perlahan sambil memejamkan mata. “Dengerin Bunda ya.”
“Hm.”
“Papa lagi capek,” ucapku, sama seperti ke Tisya barusan.
“Tapi Papa berubah cuek," cicitnya di pelukanku.
Dadaku langsung sesak lagi. Aku menelan ludah sebelum menjawab pelan, “Manusia bisa berubah suasana hatinya. Tapi bukan berarti kita berhenti sayangi Papa.”
Saff diam.
“Kita harus sopan sama orang tua.” Aku mengusap punggungnya lembut. “Mau sesedih apa pun, tetap harus hormat.”
“Iya…”
“Dan jangan benci Papa.”
Pelukan Saff malah makin erat. “Aku cuma kangen.”
Permintaan polosnya hampir membuatku meneteskan air mata lagi. Aku memejam kuat-kuat sambil mencium pucuk kepalanya.
“Aku juga, masih sayang Papa.”
Rasanya semua bahasa di dunia musnah. Aku kehabisan kata-kata. Hanya pelukan erat kuhadiahkan buat Saff, sebagai simbol apresiasi sudah berani jujur malam ini. Juga penegasan bahwa aku masih ada untuknya, tempat pulang ketika hatinya gelisah.
Suara murattal kecil masih mengalun lirih di kamar Saff. Aku menemaninya sampai wajah putraku kembali tenang lalu memintanya tidur.
Antara Tisya yang memilih diam dan Saff yang lebih terbuka, aku baru sadar satu hal.
Rumah kami mungkin sedang guncang, tapi anak-anakku masih sama-sama berusaha mempertahankannya.
Aku pun turun, mematikan beberapa sumber cahaya sebelum masuk kamar.
Ceklek.
Cahaya temaram berpendar dari lampu tidur di sudut meja. Warna kuning redupnya jatuh lembut di punggung Nivean yang membelakangiku di atas ranjang.
Ia sudah berbaring sejak tadi, masih mengenakan kaus rumah abu gelap dengan satu tangan terlipat di bawah kepala. Punggungnya naik turun pelan, entah benar tidur atau hanya sedang menghindariku karena lelah bicara.
Sementara aku ... berdiri cukup lama di dekat lemari sambil menatap sajadah yang belum tergelar.
Rumah ini rasanya sedang karam perlahan. Dan aku bahkan tidak tahu harus menambal bagian yang mana lebih dulu.
Aku menarik napas panjang lalu mengambil wudhu. Jemariku terasa dingin saat mulai merapikan mukena di kepala.
Suara murattal dari kamar Saff tadi masih samar terngiang di telinga. Entah kenapa malam ini hatiku kian mengambang, terombang-ambing kebingungan.
Aku mulai salat Isya perlahan. Takbir pertama saja sudah membuat dadaku sesak.
Saat keningku menyentuh sajadah, air mata langsung jatuh tanpa aba-aba. Hangatnya merembes di kain mukena dan aku buru-buru menarik napas supaya tangisku tidak terdengar terlalu jelas.
Ya Allah… Aku capek, tapi aku enggan menyerah.
Bibirku bergetar kala mulai berdoa. Jemariku terangkat pelan, sementara pundakku sesekali ikut terguncang kecil menahan isak.
“Ya Allah…” lirihku parau. “Kalau memang rumah tanggaku sedang diuji… tolong jangan lepaskan tangan kami.”
Air mataku menetes lagi.
“Jaga Mas Nivean buat aku.”
Sosok di ranjang itu tetap diam membelakangiku.
“Jaga dia dari segala bala… dari segala keburukan yang gak aku tahu,” lanjutku makin lirih. “Kalau hatinya menjauh… tolong tuntun dia pulang lagi.”
Dadaku sesak sekali sampai napasku tersenggal beberapa kali.
“Kembalikan dia ke kami ya Allah…” suaraku kian serak dan bergetar hebat. “Ke an-ak-an-aknya.”
Aku menunduk dalam. Air mata terus menetes membasahi jemariku sendiri.
“Kalau dia lagi tersesat… tuntun dia.”
Sunyi.
Hanya suara isakku yang tertahan pelan bercampur dengung pendingin ruangan.
“Jika aku yang kurang…” aku menggigit bibir kuat-kuat, “tolong perbaiki langkahku.”
Di atas ranjang, tubuh Nivean terdengar samar bergerak. Meski matanya terpejam, tapi ritme napas lelaki itu gelisah.
“Aku bingung harus jadi apa lagi buat dia…” lirihku sambil memukul pelan dada sendiri yang terasa pengap. “Aku takut… kalau aku bukan lagi tempat pulangnya.”
Kalimat itu keluar begitu saja dan langsung membuat tangisku tergugu pelan. Aku buru-buru menutup mulut sendiri agar tidak isakanku tidak terdengar terlalu keras.
Ya Allah…
Bahkan baru mengucapkannya saja, rasanya bagai sedang merobek sesuatu di dalam dada.
“Tapi…” suaraku melemah, kuseka ingus dengan ujung mukena, “kalau kehendak-Mu memang lain…”
Aku terdiam cukup lama sebelum lanjut berucap dengan suara gemetar, “Titip suamiku beserta keberkahannya ya Allah.”
Air mataku jatuh makin deras. “Engkau sebaik-baik penjaga.”
Di atas ranjang, Nivean beberapa kali bergeser. Mungkin sesuatu sempat mengetuk dadanya saat mendengar doa itu.
Rasa bersalahnya muncul meski buru-buru ditampiknya lagi. Bisa jadi karena dia terlalu lelah. Mungkin gengsi. Atau mungkin… karena ia sendiri juga tidak tahu bagaimana cara memperbaiki semuanya.
Aku mengusap wajah berkali-kali sebelum perlahan melepas mukena. Kepalaku terasa berat sekali.
Saat naik ke atas ranjang, jarak di antara kami bahkan lebih dingin dari suhu pendingin ruangan. Aku berbaring membelakanginya sekarang. Menarik selimut sampai dada sambil mencoba mengatur napas guna meredam sisa isakan.
Beberapa menit berlalu dalam sunyi. Aku menoleh dari sisi bahuku, bertanya lirih ke Nivean, “Kamu udah tidur, Mas?”
.
.