Halal tapi Asing
Lu Stresss
Sunyi.
Aku sampai bisa mendengar suara detik jam digital di atas nakas, berdetak pelan di sela dengung AC.
Kupikir Nivean tidak akan menjawab karena sudah terlalu sering memilih diam akhir-akhir ini.
Namun beberapa detik kemudian, suara beratnya terdengar lirih dari balik punggung.
“Belum.”
Dadaku langsung mengencang pelan. Sudah lama sekali kami tidak bicara setenang ini di kamar tanpa saling meninggikan suara atau menghindar.
Aku menatap punggungnya dalam gelap. Jemariku meremas ujung selimut sendiri di bawah dada.
“Mas…” suaraku nyaris seperti bisikan. “Aku salah apa ya?”
Tubuh Nivean terlihat sedikit menegang. Aku buru-buru menahan napas sendiri. Berani jujur pada sesuatu yang sudah mengendap lama, ternyata seberat ini.
“Aku ngerasa…” tenggorokanku tercekat, “kamu makin jauh.”
Hening lama.
Nivean mengembuskan napas berat sebelum membalik badan perlahan menghadap langit-langit kamar. Tatapannya kosong memindai plafon.
“Aku cuma capek.”
Aku memejamkan mata sebentar. Ironis ya… satu kata itu sekarang bak tembok tinggi yang selalu menghentikan semua percakapan kami.
“Aku tahu," kataku pelan. “Tapi aku juga capek, Mas.”
Nivean diam.
“Capek nebak-nebak isi kepalamu.” Air mataku kembali menghangat di pelupuk. “Capek overthinking waktu Mas makin sibuk sama duniamu sendiri.”
Aku mendengar lelaki itu menelan ludah samar.
“Dan yang paling bikin aku takut…” aku menggigit bibir kuat-kuat sebelum lanjut bicara, “aku mulai gak tahu cara bikin Mas nyaman lagi.”
Ucapanku membuat suasana kembali hening panjang.
Nivean mengusap wajahnya kasar. Dadanya naik turun perlahan, “Jangan mulai begini malam-malam, Rin.”
Deg.
Dadaku langsung nyeri, lagi-lagi aku merasa sedang mengetuk pintu rumah yang tak lagi dibuka untukku.
“Aku gak ngajak ribut.” Suaraku melemah. “Aku cuma pengen didengerin,” cicitku putus asa.
Nivean memejamkan mata. “Semua tuntutan di kantor udah bikin kepala aku penuh.”
“Aku bukan tuntutan, Mas… Aku istrimu.”
Sunyi lagi.
Aku membalik badan perlahan membelakanginya lagi. Bahuku mulai bergetar kecil menahan isak yang sejak tadi kupaksa reda.
“Maaf kalau aku terlalu banyak nuntut ditemenin,” lirihku sambil menatap gelap kamar. “Padahal cuma pengen diajak ngobrol sebentar aja.”
Di belakangku, Nivean membuka mata perlahan.
Tatapannya jatuh pada punggungku yang terlihat menyembul di bawah selimut.
Mungkinkah dia masih ingat Azarin yang dulu selalu menyambutnya di depan pintu sambil tersenyum. Yang tertidur di sofa demi menunggu dia pulang lembur. Yang hafal kopi favoritnya bahkan saat dirinya sendiri lupa makan?
Dan sekarang perempuan itu menangis diam-diam di sebelahnya… sampai harus bertanya di mana letak salahnya.
Nivean mengembuskan napas panjang lalu menutup mata lagi. Namun tetap tidak mendekatiku.
Karena kadang ego laki-laki memang aneh. Hatinya bisa luluh, tapi gengsinya setinggi langit ke tujuh.
Sementara aku… perlahan memejamkan mata dengan sisa sesak. Kami tidur di ranjang yang sama tapi merasa kehilangan satu sama lain.
***
Pagi ini aku bangun sedikit malas. Badanku lemas, entahlah ... Aku bahkan tak yakin semalam benar-benar tidur atau cuma memejam karena kelelahan menangis.
Saat membuka mata, sisi ranjangku sudah kosong. Nivean pasti berangkat lebih pagi hari ini.
Mataku terasa cekung. Kupaksa duduk perlahan sambil mengecek ponsel, meski dalam hati yakin, takkan ada pesan apapun di sana.
Aku mengusap wajah kasar lalu meraih gelas minum di atas nakas, meneguknya tandas membasahi kerongkongan.
Jemariku menggantung cukup lama di kolom chat kami. Percakapan kami sekarang bahkan terlihat menyedihkan. Isinya cuma, “Jangan lupa beli galon.” “Aku lembur.” “Tisya dijemput jam tiga.” “Oke.” Seperti dua rekan kerja yang kebetulan tinggal serumah.
Aku menggigit bibir pelan sebelum akhirnya menekan ikon voice note. Tangan kiriku mencengkeram ujung selimut erat-erat, seolah sedang menahan gempa berskala rendah di dada sendiri.
Beberapa detik aku hanya diam. Mendengar napasku sendiri di rekaman.
“Aku cuma mau kasih tahu…” suaraku serak karena baru bangun dan terlalu banyak menangis semalam. “Kemarin aku dipanggil sekolah karena Saff berantem.”
Aku menunduk, merasakan kelopak mataku menghangat.
“Tisya juga nilainya turun. Dia beberapa kali ketauan tidur di kelas dan main game saat jam pelajaran.”
Tenggorokanku tercekat beberapa detik sebelum lanjut bicara, “Aku gak bilang ini buat nyalahin Mas.”
Jeda.
“Aku cuma… gak bisa nanggung semuanya sendiri terus," beberku dengan nada kian parau. “Kalau memang ini cara yang Mas mau supaya kita bisa komunikasi…” aku menarik napas panjang gemetar, “ya sudah. Aku yang menyesuaikan diri.”
Tanganku makin erat meremas selimut, seolah di sanalah letak keberanianku pagi ini.
“Aku tetap berusaha bikin Mas balik lagi ke rumah ini… ke aku dan anak-anak.”
Air mata yang sedari tadi kuseka, jatuh setetes ke layar ponsel. “Tapi kalau suatu hari nanti aku tetap dipersalahkan…” bibirku bergetar hebat, “setidaknya malaikat Rakib dan Atid jadi saksi kalau aku pernah berusaha sekuat ini.”
Setelah itu aku mematikan voice note yang berdurasi hampir tiga menit, sebelum mengirimnya dengan tangan gemetar.
Centang satu, lalu dua abu-abu.
Aku tertawa sambil menyeka air mata, merasa lucu, VN tadi bagai curhat ke orang asing.
Kuturunkan kaki perlahan menapak lantai lalu keluar melihat kondisi rumah. Anak-anak sudah menungguku di meja makan. Kubuatkan sarapan kilat lalu gegas mengantar mereka sekolah.
Tidak ada percakapan di antara kami, semua sibuk dengan isi pikiran masing-masing. Setelahnya, aku kembali ke rumah.
Tok tok.
Baru sepuluh menit aku masuk. Suara pintu depan membuatku buru-buru mengusap wajah lalu menuju ke sana.
Dan di menit berikutnya, aku langsung dipeluk seseorang sampai hampir oleng.
“YA ALLAH AZARIN KUCEL BANGET MUKA LU!”
Aku memekik, sudut bibirku melengkung sempurna. “Wita!”
Hanasuwita langsung melepas pelukannya lalu menangkup wajahku, memiringkan ke kanan-kiri beberapa kali.
Rambut pendek perempuan itu masih tertutup helm, sementara kacamata hitamnya nangkring miring di hidung seperti artis sinetron gagal audisi.
“Kok mata lu sembab? Nangis lagi?” tanyanya cepat.
Aku langsung menggeleng sambil tertawa hambar. “Biasa.”
“Najis banget jawaban ‘biasa’ tuh.” Wita mencibir sambil masuk tanpa permisi seperti rumah sendiri. “Kalau udah kayak zombie gini berarti gak biasa.”
Aku mengembuskan napas pelan lalu menutup pintu.
Berbeda dengan orang lain yang selalu memberiku nasihat supaya jadi istri lebih sabar, Wita justru tipe sebaliknya. Dia pemuja self love dan bicara blak-blakan. Dan mungkin itulah alasan aku nyaman berteman dengannya sejak kuliah.
Wita menjatuhkan tubuh ke sofa lalu membuka totebag besarnya. Aroma bunga segar langsung menyeruak samar dari sana.
“Apa tuh?” tanyaku sambil duduk di sebelahnya.
Perempuan itu mengeluarkan beberapa tangkai baby breath dan mawar peach kecil yang masih dibungkus kertas.
“Aku habis dari butik bunga temenku,” jawabnya santai. “Terus kepikiran lu.”
Aku mengernyit bingung.
“Kamu masih suka rangkai bunga, kan?”
Deg.
.
.