Halal tapi Asing
Reaksi Tisya
“Ya Allah…” Kalimat itu lolos pelan dari bibirku.
Rumah kembali sunyi setelah bantingan pintu kamar Tisya menggelegar di lantai atas. Bahkan suara televisi yang tadi menyala kini ikut senyap.
Saff duduk diam di kursinya sambil menunduk. Sendok di tangannya tak lagi bergerak menyendok sup. Anak itu melirik kami bergantian dengan wajah takut.
Aku menarik napas panjang pelan-pelan, mencoba mengeluarkan udara yang terhimpit dalam dada.
Sementara Nivean masih berdiri di dekat meja makan dengan rahang mengeras. Surat remedial Tisya masih ada di tangannya, sedikit kusut karena diremas tanpa sadar tadi.
“Emang aku salah ngomong?” gumamnya melihat ke arah tangga.
Mataku membola, dada pun terasa panas kembali. Pertanyaan macam apa itu, apakah kelembutan hatinya ikut luntur, ya Tuhan?
“Kamu serius nanya begitu, Mas?” ulangku dengan tatapan menegas.
Pandangan Nivean langsung berpindah padaku. “Maksud kamu?”
Aku tertawa getir, tenggorokanku sakit, kering kerontang karena dialiri hawa panas terus menerus dari dada.
“Tisya cuma pengen ditemenin,” tegasku seraya menunjuk ke lantai atas dengan dagu.
“Aku kerja buat mereka," bantah Nivean masih menyalak.
“Iya.” Aku mengangguk cepat sebelum air mataku benar-benar jatuh. “Tapi anak-anak gak melulu butuh uangmu itu, Mas,” cecarku kesal.
Suasana langsung kembali hening. Ucapanku melayang di ruangan luas ini. Siap beradu dengan egonya yang merasa bahwa perannya sudah cukup terwakili dengan memberikan fasilitas itu.
Nivean mengembuskan napas kasar lalu mengusap wajahnya frustrasi. “Kamu pikir kerjaanku ringan di kantor?” elaknya masih menatapku.
“Aku gak pernah bilang gampang," sanggahku cepat, paham akan kemana alur percakapan ini.
“Semua yang aku lakuin buat rumah ini.”
“Terus kami dapat apa selain capek nungguin kamu melihat kami?”
Deg.
Sorot mata Nivean langsung berubah tajam dan dingin. Aku sendiri terkejut kalimat itu bisa keluar seberani ini. Tapi mungkin memang sudah terlalu lama semuanya kutelan sendirian sampai akhirnya meluap juga.
“Papa…” suara kecil Saff terdengar lirih.
Kami sama-sama menoleh. Anak itu buru-buru turun dari kursi sambil memegang mangkuk supnya. “Saff udah kenyang,” gumamnya pelan sebelum berjalan cepat ke dapur.
Dadaku langsung mencelos melihat punggung kecilnya.
Ya Allah.
Bahkan anak-anak sekarang memilih kabur setiap kami mulai bicara. Aku memejamkan mata sebentar sambil mengusap pelipis yang berdenyut lagi.
Rumah ini benar-benar berubah. Dulu suara tawa anak-anak selalu memenuhi malam. Nivean sering rebutan remot televisi dengan Tisya, sementara Saff menempel terus di punggung papanya seperti bayi koala.
Sekarang semuanya tampak menahan diri. Seolah rumah kami dipenuhi pecahan kaca tak kasat mata, salah ucap sedikit maka akan terluka.
“Aku capek, Rin,” ucap Nivean tiba-tiba.
Aku mengangkat wajah perlahan. Binar matanya terlihat lelah sekali malam ini.
“Aku pulang ke rumah bukan buat dihakimi terus," keluhnya, mengendurkan bahu.
Kata-kata barusan membuat tenggorokanku tercekat, karena lucunya… aku juga ingin mengatakan hal yang sama.
“Aku juga capek, Mas,” jawabku lirih.
Nivean terdiam.
“Capek pura-pura kalau semua baik-baik aja di depan anak-anak.” Suaraku mulai bergetar lagi. “Capek nebak-nebak apa yang sebenarnya berubah dari kita," jujurku memandang sendu suamiku.
Tatapan Nivean perlahan berpaling dariku. Dan itu lebih menyakitkan dibanding bila dia marah. Lelaki ini selalu menghindariku sekarang.
“Aku mau salat dulu,” ucapnya pendek sebelum berbalik menuju kamar.
Aku berdiri mematung melihat punggungnya menjauh. Dulu aku selalu tenang melihat suamiku berjalan menuju sajadah. Rasanya seperti melihat seseorang pulang kepada Tuhan. Namun, malam ini… bahkan punggungnya terasa asing.
Aku mengembuskan napas panjang lalu membereskan meja makan perlahan. Jemariku bergerak luwes mengangkat gelas, melipat serbet dan membawa piring ke dapur.
Rutinitas kecil yang kulakukan bahkan ketika hati rasanya sedang runtuh.
Air keran mengalir pelan membasahi jemariku. Dan tepat saat itulah, ponselku kembali bergetar kecil di saku cardigan.
Ting.
Aku membeku beberapa detik. Rasanya takut membuka layar sendiri. Namun jari-jariku tetap bergerak mengambil ponsel itu perlahan.
[“Maaf kalau saya terlalu banyak chat hari ini.”]
Dadaku langsung berdegup pelan. Aku membaca lanjutannya dengan napas tertahan.
[“Saya cuma takut Mbak kepikiran terus.”]
Deg.
Mataku mengerjap, setelah seharian merasa disalahkan, diabaikan dan dianggap kurang… ada seseorang yang justru takut aku terlalu banyak pikiran.
Astaghfirullah.
Aku buru-buru mematikan layar lalu menempelkan ponsel itu ke dada sebentar.
Ya Allah… jangan sampai aku mencari tenang di tempat yang salah.
Aku membuang napas panjang sambil memejamkan mata, merasakan hawa rumah yang perlahan kehilangan kehangatan dan perhatian sederhana dari lelaki lain yang mulai terasa berbahaya.
Air keran masih mengalir, aku buru-buru mematikan lalu menyandarkan kedua tangan di tepi sink. Pantulan wajahku samar terlihat di kaca jendela dapur yang gelap. Pucat, dengan mata panda sehingga wajahku tampak kusam. Pantas saja ibu tadi bilang aku Kumal.
Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan lalu menarik napas panjang sekali sebelum melangkah keluar dapur.
Tidak boleh begini terus, Rin. Rumah ini sedang kacau, tapi aku tidak bisa ikut terpuruk di depan anak-anak.
Langkah kakiku pelan menaiki tangga. Lampu lorong lantai atas menyala redup kekuningan.
Aku berhenti di depan kamar Tisya beberapa detik sebelum mengetuk perlahan. Tok. Tok.
“Tisya?”
Tidak ada jawaban. Aku menelan ludah pelan lalu membuka pintunya perlahan. Ceklek.
Putriku duduk di lantai dekat kasur sambil memeluk lutut. Lampu kamar sengaja dimatikan, hanya ada cahaya dari meja belajarnya.
“Tisya…”
Anak itu tidak menoleh. Aku mengalah, melangkah mendekat lalu duduk di sebelahnya, ikut memeluk lutut sepertinya.
“Masih marah?”
Tisya diam.
Dadaku kembali sesak. Anak ini dulu paling cerewet di rumah. Sedikit-sedikit cerita tentang teman sekolah, drama kelas, sampai hal random yang kadang membuatku tertawa sendiri. Sekarang diamnya seperti Benteng Takeshi yang susah disentuh.
“Papa sama bunda mungkin lagi banyak salah sama kalian akhir-akhir ini,” ucapku pelan sambil meliriknya. “Tetap sopan sama orang tua ya, Sayang.”
Bahu Tisya bergerak kecil.
Aku melanjutkan lirih, “Bagaimanapun sikap Papa sekarang… tetap gak boleh ngomong kasar.”
“Aku gak kasar,” jawabnya pelan dengan suara serak.
“Iya.” Aku mengangguk kecil. “Tapi marahnya jangan sampai jadi dosa buat Tisya.”
Tisya menunduk makin dalam. Aku mengembuskan napas panjang sebelum mengusap rambut putriku perlahan.
“Kalau Papa berubah… jangan dibenci.” Suaraku mulai mengecil sendiri. “Malah harus lebih banyak doain,” imbuhku berusaha tak menghakiminya.
“Kita usaha sama-sama narik Papa balik kayak dulu… bukan cuma badannya aja, tapi hatinya juga.”
Sunyi.
Tisya masih diam memeluk lututnya. Aku tersenyum meski rasanya getir. “Dulu Papa paling takut kalau kamu ngambek,” kenangku.
Sudut bibir Tisya bergerak tipis, nyaris tidak terlihat.
“Masih inget?” tanyaku pelan. “Kalau kamu ngambek, Papa sampai bawain martabak tengah malam.”
Kali ini matanya mulai berkaca. Dadaku langsung mencelos melihat perubahan Tisya yang sangat pendiam.
Aku lantas memberanikan diri bertanya pelan, “Tisya pengen apa dari Bunda sekarang?”
Anak itu akhirnya menoleh. Sorot matanya membuat tenggorokanku langsung tercekat. Ada kekecewaan dan kebingungan di sana.
“Apa yang kurang dari Bunda?” tanyaku lagi lirih. “Kasih tahu. Jangan dipendem sendiri.”
Tisya membuka mulut sedikit, seperti ingin bicara sesuatu. Aku menunggu sambil menahan napas, tapi tidak jadi.
Namun, detik berikutnya. “Aku kasian lihat Bunda nangis terus,” bisiknya samar.
Deg.
.
.