Halal tapi Asing

Celetukan Hanasuwita

Deg.

Pertanyaan itu membuatku terdiam beberapa detik. Aku menatap bunga-bunga di tangannya cukup lama. Dulu aku memang suka sekali merangkai bunga. Bahkan sebelum menikah, aku pernah punya akun kecil-kecilan khusus pesanan buket wisuda.

Tapi setelah punya anak, hobi itu pelan-pelan tenggelam bersama rutinitas rumah.

“Temenku lagi butuh pegawai bantu rangkai,” lanjut Wita sambil menyandarkan tubuh. “Toko buka jam enam pagi, dan tutup sore.”

Aku langsung refleks menggeleng kecil. “Aku gak mungkin ninggalin anak-anak.”

“Anak-anak lu kan sekolah sampai sore semua.”

Aku diam, bingung. 

“Rin.” Nada suara Wita melunak sekarang. “Lu butuh keluar rumah.”

Jemariku saling bertaut di pangkuan. “Aku takut jadwal rumah berantakan kalau aku kerja," ujarku jujur.

“Rumah lu sekarang juga lagi berantakan,” celetuknya blak-blakan.

Aku langsung menatapnya, tersenyum lebar, "Ganti profesi jadi tarot readers?" 

Wita mengembuskan napas pelan lalu meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Aku tahu lu stres. Lu terlalu lama hidup cuma buat jadi ibu dan istri.” Tatapan Wita melembut. “Sampai lupa kalau Azarin juga manusia," imbuhnya tersenyum tipis.

Aku buru-buru tertawa supaya tidak menangis lagi. “Aku egois gak sih kalau mulai mikirin diri sendiri?”

“Lah?” Wita membelalakkan mata. “Lu mandi aja kadang jam sembilan pagi gara-gara ngurus semua orang.”

Aku menunduk sambil tersenyum pahit.

“Istri bukan pembantu yang hidupnya standby dua puluh empat jam buat jadi tempat pulang orang lain,” lanjutnya sambil menoyor pelan dahiku. “Dia juga manusia. Bisa capek dan kesepian.”

Dadaku langsung menghangat sekaligus nyeri. Memang, belakangan ini… aku merasa kehilangan perhatian Nivean juga mulai asing dengan diriku sendiri.

Kumajukan posisi dudukku agar bisa memainkan ujung plastik pembungkus bunga di meja. Aroma lembut mawar dan daun segar langsung mengingatkanku pada diriku di masa lalu. Versi otentik Azarin sebelum sibuk menjalani berbagai peran untuk semua orang.

“Mas Nivean pasti gak suka kalau aku kerja,” gumamku lirih.

Wita langsung mendecakkan lidah. “Lu udah ngomong?”

“Belum.”

“Nah. Belum apa-apa otak lu udah nyusun penolakan sendiri," cibir Wita, sambil bersedekap.

Aku menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuh ke sofa. Langit pagi masih berawan, rumah juga sepi karena anak-anak sekolah.

Sepi yang biasanya kunikmati… sekarang malah terasa seperti berada di lorong kosong.

“Aku tuh takut dibilang istri gak bersyukur,” ujarku melirik Wita. “Orang-orang pasti mikir Mas udah nyukupin semuanya,” cicitku.

“Emang cukup?” tanya Wita cepat.

Huft.

Rumah tanggaku terlihat lengkap. Rumah bagus dengan dua anak putra putri juga pekerjaan suami yang mapan. Tapi tidak ada yang tahu kalau belakangan ini, aku makan sambil menahan tangis di dapur.

Semua orang pasti takkan percaya jika percakapan terpanjangku dengan suami cuma soal tagihan dan jadwal jemput anak.

Wita memperhatikanku beberapa detik sebelum akhirnya bersandar lagi. “Rin,” sebutnya pelan.

“Hm?”

“Perempuan tuh bahaya kalau terlalu merasa hampa.”

Aku mengernyit kecil menatapnya.

“Karena pas ada orang yang sekadar dengerin aja…” Wita menggantung kalimatnya sambil melirikku penuh arti, “hatinya gampang goyah.”

Deg.

Aku langsung salah tingkah memalingkan wajah cepat-cepat.

Sial. Kenapa rasanya seperti ditampar tepat di titik paling rahasia dalam kepalaku?

“Apaan sih,” elakku sambil tertawa canggung.

“Jangan ngeles.” Wita menyipitkan mata curiga. “Ada yang lagi bikin lu ngerasa ditemenin?” desaknya mencondongkan badannya ke arahku.

Dadaku langsung berdegup lebih cepat. Bayangan notifikasi Kahfiel semalam tiba-tiba muncul begitu saja di kepala.

[“Saya cuma takut Mbak kepikiran terus.”]

Astaghfirullah.

Aku buru-buru berdiri, bola mataku bergerak ke sana sini, gugup ditatap intens Wita. “Aku bikinin kopi dulu.”

Wita malah ngakak melihat reaksiku. “NAH KAN BENER!”

“Bawel banget sih lu,” umpatku berjalan cepat ke dapur sambil berharap rona wajahku tidak terlalu kentara. Jemariku sibuk mengambil gelas supaya Wita tidak melihat ekspresiku yang mulai kacau sendiri.

“Rin.” Suara Wita terdengar lebih lembut sekarang dari ruang tengah. “Aku gak bilang lu salah.”

Tanganku berhenti di atas toples kopi.

“Perempuan yang terlalu lama kesepian memang rawan merasa nyaman sama perhatian kecil," imbuhnya membalikkan badan melihatku.

Aku menunduk, mengakuinya dalam hati.

Iya. Aku mulai menikmati diperhatikan.

Bahkan hanya ditanya “udah makan?” saja rasanya seperti menemukan oase di tengah Padang pasir setelah berjalan gontai terlalu lama.

“Makanya jangan tumplek-blek kan hidup lu cuma buat nungguin satu orang,” lanjut Wita. “Cari kesibukan, gali potensi lu lagi, apa yang bisa bikin lu bahagia,” bebernya bak mengisi mata kuliah khusus untukku.

Aku menuang air panas perlahan, uap tipis naik ke wajahku.

Mungkin benar... aku terlalu lama hidup hanya sebagai orbit yang mengelilingi Nivean dan anak-anak… sampai lupa punya poros sendiri.

“Kafeinnya dua sendok ya, Nyonya Sotoy?” tanyaku berusaha mengalihkan suasana.

“Empat. Hidup gue juga pahit.”

Aku langsung tertawa lepas kali ini. Tapi aneh ... Suara tawaku sendiri terdengar asing di telinga. Rasanya lama sekali aku tak terhibur oleh hal receh.

Saat membawa dua cangkir kopi kembali ke ruang tamu, ponselku yang tertinggal di meja tiba-tiba menyala.

Nama Nivean muncul di layar. Sorot mataku langsung menegang. Wita otomatis melirik.

Aku menatap layar itu beberapa detik sebelum mengangkat panggilan dengan jantung berdebar pelan.

“Halo, Mas?”

Suara Nivean terdengar berat dari seberang sana, “Aku udah denger voice note kamu.”

Deg.

Jemariku menggenggam cangkir kopi lebih erat sampai hangatnya merembes ke telapak tangan.

“I-iya…” jawabku ragu-ragu, takut dia marah besar.

Di luar terdengar suara pintu mobil ditutup lalu deru kendaraan samar berlalu. Sepertinya Nivean sedang di parkiran kantor.

“Aku di depan” ucapnya tiba-tiba.

Aku mengernyit. “Maksudnya?”

“Di rumah.”

Aku menoleh ke arah jendela depan. Dan benar saja, mobil hitam Nivean sudah terparkir di halaman.

“Mas pulang?” tanyaku spontan.

“Hm.”

Aku langsung berdiri tanpa sadar. Wita yang sejak tadi selonjoran di sofa ikut duduk.

“Kenapa?” bisiknya sambil menyipit curiga.

Aku menutup speaker ponsel. “Nivean pulang.”

“Tumben.” Wita langsung merapikan posisi duduknya.

Belum sempat aku menjawab, suara pintu depan sudah terbuka dari luar. Ceklek.

Nivean masuk dengan langkah cepat sambil melepas sepatu. Kemeja kerjanya masih rapi, hanya wajahnya terlihat lelah sekali seperti belum benar-benar tidur semalaman.

Begitu melihatku berdiri di ruang tamu, tatapannya sempat tertahan beberapa detik. Namun perubahan ekspresinya langsung kentara saat menyadari ada orang lain di sofa.

Wita.

“Oh…” gumam Nivean pendek.

Wita langsung mengangkat tangan santai. “Pagi, Bang.”

Tatapan Nivean turun sebentar ke dua cangkir kopi di meja, lalu kembali ke Wita. Rahangnya tampak mengeras tipis. “Ngapain, Wit?” tanyanya datar.

Aku melirik Nivean cepat, lalu beralih ke Wita, takut dia tersinggung. Sebab sapaan itu terlalu dingin untuk sekadar basa-basi.

Wita sendiri masih santai menyandarkan tubuh. “Silaturahmi lah. Masa mau kudeta negara,” celetuknya asal.

Aku menahan senyum mendengar jawaban Wita. Tapi suasananya gak tepat untuk melempar lelucon.

Nivean mengembuskan napas kecil lalu melonggarkan dasinya kasar. “Pagi-pagi banget.”

Wita melirikku sekilas sebelum kembali menatap Nivean. “Azarin keliatan stres. Gue cuma nemenin bentaran elaah,” ungkapnya malas.

Deg.

Sorot mata Nivean langsung berubah sinis.

"Ehm...."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!