Halal tapi Asing
Bicara Berdua
"Ehm..." Aku buru-buru menyela. “Wita cuma mampir bentar kok, Mas.”
Namun lelaki itu malah menatapku beberapa detik, dengan sorot mata yang sulit kubaca. Jengah, curiga, atau… merasa tersinggung karena ada orang lain yang melihat retaknya rumah kami?
“Aku ganggu ya?” tanya Wita sambil bangkit pelan.
“Bukan gitu,” jawabku cepat.
Tapi Nivean justru berjalan melewati kami menuju meja makan sambil membuka kancing mansetnya satu per satu. “Ya terserah kalian aja,” ucapnya pendek.
Nyaliku menciut karena hafal sekali intonasi itu. Aksen saat Nivean sedang kesal tapi memilih tidak menampakkannya.
Suasana ruang tamu langsung berubah canggung. Aku berdiri kikuk di dekat sofa sambil menggenggam cangkir kopi yang mulai mendingin. Sementara Wita menatap punggung Nivean yang menjauh ke meja makan dengan satu alis terangkat tipis.
“Buset,” bisiknya pelan ke arahku. “Auranya kayak HRD habis nemu pegawai nyolong cuti.”
“Wit…” desisku cepat, takut terdengar.
Temanku ini malah kian mendekat sambil berbisik di telingaku, “Laki lu territorial banget pagi-pagi.”
Aku spontan menyikut lengannya pelan supaya berhenti bicara aneh-aneh.
Di sana, Nivean membuka kulkas agak keras lalu mengambil botol air dingin. Rahangnya masih terlihat menegas.
Biasanya jika marah, Nivean akan bicara. Sedangkan bila yang diam begini… berarti dia menahan sesuatu.
Aku mengembuskan napas kecil lalu memberanikan diri mendekat. “Mas…”
“Hm?” jawabnya tanpa menoleh.
“Kenapa pulang lagi?”
Baru kali ini Nivean menatapku, binar matanya lesu sekali.
“Aku izin setengah hari.”
Aku sedikit tertegun. Selama beberapa bulan terakhir, jangankan pulang setengah hari, balik sebelum Isya saja sudah langka.
“Kenapa?” tanyaku pelan.
Tatapan Nivean bergeser sekilas ke arah Wita yang pura-pura sibuk melihat isi vas bunga di meja tamu.
“Aku mau ngobrol sama kamu.”
Aku tengah berdebar-debar, memilah kata ingin membalas ucapan suamiku, tapi Wita buru-buru mengangkat tangan, mengibaskan ke arah kami.
“Oke sip, gue tau kode alam semesta.”
“Wita…” aku langsung salah tingkah.
“Tenang.” Dia mengambil tasnya sambil terkekeh, “Gue masih punya harga diri buat gak jadi obat nyamuk rumah tangga orang.”
Aku refleks menarik lengannya. “Jangan gitu lah.”
Wita menoleh lalu mengusap pelan tanganku. Kali ini sorot matanya serius. “Nanti kabarin gue ya,” pintanya.
Aku terdiam beberapa detik sebelum mengangguk kecil.
Perempuan itu lalu melangkah ke arah pintu. Tapi baru dua langkah, dia mendadak berhenti lalu menoleh ke arah Nivean.
“Bang.”
Nivean mengangkat wajah.
“Azarin tuh overload," ucapnya, menunjukku dengan dagunya. “Dia gak pernah bilang ... Banyak menahan diri.”
Aku langsung membelalak. “WITA!” pekiiku meraup wajah.
Perempuan itu malah nyengir tipis. “Udah ah. Cabut.”
Ceklek. Pintu tertutup.
Rumah terasa jauh lebih hampa setelah kepergian satu-satunya orang yang tadi membawa suara tawa ke dalam rumah ini.
Kini tinggal aku dan Nivean, yang sama-sama berdiri di dapur rumah sendiri… tapi terasa canggung seperti orang asing.
Nivean menunduk sebentar sambil memutar tutup botol minumnya perlahan. “Aku sejahat itu ya sekarang?” tanyanya lirih tanpa menatapku.
Aku memandanginya cukup lama. Lelaki itu masih berdiri di dekat meja makan dengan kemeja kerja yang lengannya tergulung setengah. Rambutnya sedikit berantakan, wajah kuyu, dan binar matanya seolah berkata bahwa ~aku pulang.
Aku buru-buru menggeleng kecil. “Aku gak pernah bilang Mas jahat.”
Nivean tertawa hambar sambil menunduk. “Tapi semua orang sekarang ngelihat aku kayak gitu.”
“Mas…”
“Aku didiemin anak sendiri.” Suaranya rendah, seakan menyesali peristiwa semalam. “Ibu nyindir aku. Sekarang teman kamu juga ngomong seolah aku gak becus jadi suami,” keluhnya.
Aku menggigit bibir pelan. Ada bagian dari diriku yang ingin membela diri habis-habisan. Tapi melihat bahunya yang tampak turun lesu seperti itu… marahku mendadak kehilangan tenaga.
“Aku cuma…” Nivean mengusap wajah kasar. “Aku cuma lagi capek banget, Rin.”
Lama-lama aku muak dengan kalimat ini, karena terlalu akrab dijadikan alasan untuk menghindariku. Meski kali ini intonasinya berbeda, logikaku tumpul sudah.
Namun, aku perlahan mendekat satu langkah. “Kerjaan?”
Nivean diam beberapa detik sebelum mengangguk kecil.
“Ada masalah besar di kantor.” Pandangannya jatuh ke lantai. “Aku lagi ngejar proyek yang kalau gagal… bisa bikin posisi aku jatuh.”
Hah?
Selama ini aku sibuk menebak-nebak kemungkinan terburuk. Perselingkuhan, jenuh, cinta memudar dan sebagainya.
Aku lupa satu hal, lelaki kadang tidak pandai menunjukkan ketakutannya.
“Maksud Mas?”
Nivean menarik kursi lalu duduk pelan seakan bobot tubuhnya mendadak bertambah. Jemarinya saling bertaut di atas meja.
“Beberapa bulan ini kantor lagi kacau.” Dia tertawa kecil seraya sekilas melihatku. “Dan aku terlalu gengsi cerita.”
Aku ikut duduk di depannya perlahan.
“Kenapa harus dipikul sendiri, Mas?” tanyaku lirih.
“Karena aku laki-laki," jawabnya lugas seakan kata-kata itu sudah tertanam di kepalanya.
“Dari dulu aku diajarin kalau laki-laki gak boleh keliatan lemah.” Rahangnya mengeras sedikit. “Jadi aku pikir… ya udah, aku tanggung sendiri.”
Aku menunduk pelan.
Dan di situlah aku sadar… mungkin kami sama-sama sedang terombang-ambing dengan cara berbeda. Aku merasa kehilangan tempat bersandar. Sementara dia merasa harus jadi sandaran terus tanpa boleh roboh.
“Tapi Mas jadi nyuekin kami,” ucapku akhirnya. Suaraku pecah pelan. “Aku ngerti Mas capek. Tapi aku juga sendirian di rumah.”
Nivean memejamkan mata sebentar. “Aku tahu.”
“Enggak.” Aku menggeleng cepat sebelum air mataku jatuh lagi. “Kalau Mas tahu, Mas gak bakal selama ini bikin aku ngerasa sendirian bahkan waktu Mas ada di rumah.”
Sunyi.
“Aku sampai takut ngobrol sama suami sendiri,” lanjutku lirih sambil meremas jemari sendiri. “Takut dianggap nambah beban.”
Tatapan Nivean perlahan naik ke wajahku. Dan sialnya, malah membuat air mataku kian deras membasahi pipi.
“Aku tuh cuma pengen ditemenin, Mas.” Aku tersenyum getir. “Sesimpel itu.”
Rahang Nivean bergerak samar. Lelaki itu tampak ingin bicara, tapi gagal menemukan kata.
“Aku baca voice note kamu berkali-kali tadi di mobil,” akunya pelan.
Aku langsung tercekat, kutahan isakan sebisaku demi agar telinga mendengarkan jelas penuturannya.
“Yang soal Tisya… soal Saff…” napasnya terdengar berat. “Yang kamu bilang kalau ini cara komunikasi yang aku mau, jadi kamu bakal nyesuaiin diri.”
Mataku mulai panas lagi, satu tetes mengalir jatuh di pipi. “Aku ngetik itu sambil nangis di dapur,” bisikku jujur.
Nivean menunduk cepat. Jemarinya mengusap kening perlahan. “Aku denger semuanya.”
Suasana mendadak terasa sesak.
“Aku bahkan malu sendiri waktu kamu bilang malaikat Rakib Atid jadi saksi kalau kamu udah berusaha.” Suaranya melemah di ujung kalimat.
Air mataku menetes satu-satu di atas meja. Selama ini aku pikir suamiku tidak peduli lagi. Ternyata… dia mendengar. Hanya saja entah kenapa tetap memilih diam.
“Kenapa gak ngomong dari awal kalau lagi seberat itu?” tanyaku lirih.
Nivean tertawa pahit. “Karena aku takut kalau aku lemah… rumah ini makin rusak.”
Aku menatapnya tanpa berkedip, dia yang juga kelelahan mempertahankan gengsi dirinya sendiri.
“Aku gak butuh Mas sempurna,” bisikku sambil mengusap air mata cepat-cepat. “Aku cuma butuh diajak jalan bareng.”
Ucapanku membuat Nivean diam cukup lama.
Pandangan sendunya perlahan terarah ke wajahku yang terlihat kusut, sembab dan berantakan pagi ini.
Perempuan yang disuruh berdandan supaya suaminya bergairah lagi. Padahal yang sebenarnya kami rindukan bukan wajah cantik. Melainkan hati yang saling memahami.
Tiba-tiba, jemari Nivean sudah menyentuh pelan punggung tanganku di atas meja, membuat dadaku bergetar hebat.
.
.