Dua Hati Satu Cinta

Berbelit-belit

"Apa-apaan sih, Gas? Kenapa kamu memukulku? Salahku apa?" 

Arman tak terima tiba-tiba mendapatkan pukulan dari asistennya. Meski tak sampai berdarah, pukulan itu cukup membuatnya ngilu. Rahangnya terasa sangat nyeri akibat tonjokan yang dilayangkan Bagas. 

"Masih tanya kenapa? Kamu nggak sasar telah melakukan kesalahan besar? Barusan gurunya Keira telpon ke kantor. Katanya anak-anak pasa nangis karena lama nggak dijemput. Sementara nomormu dan nomor Amira nggak bisa dihubungi!" 

Arman menatap Bagas dengan raut bersalah. Ia akui, bahwa masalah yang barusan membelit membuatnya lupa kalau ada dua buah hati yang harus dijemput. Dan nomornya sengaja dimatikan karena ia tak mau Melly kembali mengganggunya. Tap masa iya gara-gara ini Bagas sampai memukulnya? Biasanya lelaki ini selalu sabar dalam menghadapi apa pun. 

"Dan semalam ... Amira nelpon aku menanyakan keberadaanmu! Kamu tahu betapa khawatirnya dia mencarimu? Kemana saja kamu semalam? Kenapa kemarin nggak balik ke kantor setelah meeting?"

Arman menghembuskan napas lelah. Ia tak menyangka kalau istrinya sampai mencarinya. Memang tidak sampai keluar rumah mengingat sudah sangat larut. Tapi dia sampai menelpon Bagas. Padahal selama ini perempuan yang telah mendampingi selama delapan tahun ini tak pernah menelpon pria lain. 

Dan semalam ia sampai berani menelpon Bagas. Ditambah lagi panggilan tak terjawab pada nomornya juga sudah cukup membuktikan betapa khawatirnya perempuan itu. 

Arman menatap sahabat sekaligus asistennya dengan tatapan sendu. Ada penyesalan mendalam yang bisa tertangkap jelas dari kedua matanya. Bagas tahu, pasti telah terjadi sesuatu hingga penampilan bosnya jadi berantakan begini. 

Mata cekung, rambut awut-awutan, dan baju yang sudah kucel. Entah pria itu sudah mandi atau belum. 

"Kemarin ... aku ketemu Melly, dan dia ... menjebakku dengan menaruh obat tidur dalam minumanku dan ..." 

"Dan kamu baru sadar saat pagi hari telah tertidur disampingnya gitu?" ucap Bagas memotong kalimat Arman yang belum selesai. Ia sudah menebak apa yang terjadi ketika bosnya itu menyebut nama perempuan itu. 

Dadanya bergemuruh membayangkan betapa sakitnya Amira. Perempuan yang selalu disebut namanya dalam do'a-do'anya. 

"Ya. Tapi saat aku bangun, aku sendirian. Tak ada siapapun di sana."

Sekali lagi sebuah pukulan mendarat di wajah ganteng Arman. 

"Itu untuk Amira yang selalu tersakiti oleh kelakuanmu. Laki-laki pengecut! Plin-plan!"

Arman terkesiap. Tak menyangka Bagas begitu marah padanya. Padahal ini adalah urusan rumah tangganya. Tapi entah kenapa seperti ada yang disembunyikan dari pria ini. Ia merasa ada yang aneh dengannya. 

"Ini urusan rumah tanggaku, Gas. Kamu nggak usah ikut campur!"

Bagas tertawa sumbang. Sudut bibirnya tertarik membentuk garis senyum. Bukan senyum tulus seperti biasanya. Namun senyum sinis yang cenderung mengejek. 

"Bukan urusanku kamu bilang? Kalau sudah menyangkut Amira, akan menjadi urusanku!"

Lagi-lagi Arman terkesiap. Kenapa Bagas begitu marah padanya? Dan kenapa pula ia begitu membela Amira? 

"Jangan sampai aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal selamanya!" ucap Bagas lalu berbalik hendak meninggalkan Arman yang tampak kebingungan. 

Lelaki itu melangkah keluar dengan kakinya yang panjang-panjang. 

"Tunggu, Gas! Apa maksud ucapanmu itu?" teriak Arman menghentikan langkah Bagas. Pria itu berhenti tanpa menoleh ke belakang. Namun, tanpa diketahui siapapun, bibirnya tersungging senyum. Baru saja hendak kembali melangkah, ia mendengar suara perempuan yang semalam membuat jantungnya berdetak kembali. 

"Ada apa ribut-ribut, Mas?" tanya Amira yang masih setengah sadar. Karena terjaga semalaman, kini matanya sangat berat. Ditambah lelah fisik dan psikis membuatnya ingin terus sepanjang hari. Namun suara ribut-ribut membuatnya terpaksa bangun dan melihat keadaan di luar. Ia pikir perempuan itu kembali lagi membuat masalah. Ternyata kali ini salah. 

Bagas langsung berbalik mendengar suara merdu Amira. Tatapannya langsung jatuh pada wanita itu. Sesaat darahnya seperti berhenti mengalir, menyebabakan jantungnya memompa lebih cepat. Perempuan itu, terlihat begitu cantik di matanya. Sudah lama sejak dia menikah dengan Arman, Bagas tak lagi bertemu dengannya. Meski Bagas bekerja dengan Arman, tapi sebisa mungkin ia menghindar untuk tak bertemu dengan istri bosnya. Kebetulan perempuan ini juga tak pernah datang ke kantor suaminya. 

"Nggak ada apa-apa, Sayang. Maaf mengganggu tidurmu," ucap Arman lembut. Ia mencoba meraih bahu Amira untuk diajaknya kembali ke kamar. Namun tak disangka, wanita itu mundur sehingga tangan Arman berhenti di udara. 

"Jangan sentuh aku, Mas, maaf!" lirih Amira yang masih bisa di dengar Bagas. 

Melihat sikap Amira terhadap suaminya, membuat Bagas tahu seperti apa hubungan sahabatnya itu kini. Amira Sepertinya sedang memendam kemarahan terhadap Arman. 

Tak ingin memperkeruh suasana, Bagas kembali melangkah. Meninggalkan keluarga itu dengan dada membara. Namun lagi-lagi langkahnya dicegah oleh Arman. Pria itu sepertinya penasaran dengan ucapan Bagas yang terkesan ambigu. 

"Bagas, kamu tidak hanya asistenku. Tapi juga sahabatku. Katakan apa maksudmu?"

Bagas menghembuskan napas perlahan. Lalu menatap Arman dengan tatapan yang sulit diartikan. 

"Tanyakan pada dirimu sendiri. Kamu telah menyia-nyiakan pengorbanan kami, Ar. Karena kamu sahabatku, aku rela melepaskan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku. Tapi apa? Kamu malah menyia-nyiakannya!"

"Jangan berbelit-belit. Katakan apa yang kamu maksud?"

Bagas melirik Amira yang masih berdiri di tempatnya. Kepalanya menggeleng memberi kode pada Bagas untuk tidak mengatakannya. Namun Bagas sudah tak tahan melihat sikap Arman yang tidak tegas terhadap Melly. 

"Katakan padaku, sejauh mana hubunganmu dengan Melly? Apa kamu benar-benar akan menikahi perempuan itu?" 

"Kenapa jadi membahas dia?"

"Karena ini sangat berhubungan erat dengannya!" 

"Gas, tolong!" mohon Arman. Ia sudah tak tahan dengan sahabtnya yang bicara muter-muter. Kepalanya serasa ingin pecah. Belum selesai urusan tadi pagi, kini ditambah lagi dengan Bagas yang membuatnya bingung. 

Amira terus menatap Bagas dengan tatapan memohon. Berhatap pria itu tak melakukan sesuatu yang mempersulit dirinya. Masalah yang dihadapi dalam rumah tangganya cukup membuatnya pusing tujuh keliling. Kalau sampai Bagas menambah masalah lagi, maka dia akan semakin tertekan. 

"Sudahlah, Ar. Aku harus kembali ke kantor karena ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Tolong, ambil keputusan yang bijak. Jangan terpengaruh pada perempuan tak berakhlak itu. Atau kalau kau tetap mau menikahinya, ... " Sekali lagi Arman melirik Amira. "Lepaskan Amira!"

"Tidak! Aku tak akan melepaskan Amira. Dia istriku. Belahan jiwaku. Ibu dari anak-anakku. Nggak mungkin aku melepaskannya. Apapun yang terjadi Amira tetap di sisiku." 

"Sekalipun akhirnya kamu menikahi perempuan itu?" 

Arman terkesiap. Ia tampak salah tingkah. Tak tahu harus menjawab apa. Dia sendiri masih bingung untuk memutuskan. Di satu sisi ia ingin rumah tangganya tetap utuh seperti semula. Namun di sisi lain, ia juga nggak mau Melly melakukan aksinya. 

"Kenapa diam? Kamu nggak tahu apa yang akan kamu lakukan?" 

"Sudah, pergilah!" 

Pada akhirnya, Arman mengizinkan Bagas pergi dengan meninggalkan sejuta tanya di benaknya. Tanpa disadari oleh siapapun, Amira meneteskan air matanya. Tatapannya nanar pada punggung yang kian menjauh.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!