Dua Hati Satu Cinta
Talak Satu
Mentari bersinar cerah pagi ini. Arman masih menjalankan tugasnya sesuai perjanjian meski beberapa kali melanggar karena bertemu Melly secara tak sengaja. Ia sudah rapi dengan pakaian kantornya. Sementara di meja makan sudah terhidang sarapan pagi hasil karyanya.
Anak-anak pun telah siap dengan seragam sekolahnya. Bukan Arman yang menyiapkan. Melainkan Amira yang tak tega membiarkan suaminya melakukan seluruh pekerjaan rumah sendirian.
Awalnya ia berusaha untuk acuh saat sang suami menjalankan semua tugasnya. Dia memilih untuk menyirami bunga di taman belakang atau berkutat dengan laptopnya. Melanjutkan karya terbarunya agar selesai sesuai target.
Alasannya menyibukkan diri tiada lain supaya tak merasa bersalah karena membiarkan tugasnya diambil alih sang suami. Ini demi misi yang dijalankannya. Kalau dia sampai gagal menjalankan semuanya, bisa dipastikan misinya juga tak akan tercapai.
"Sayang, kita sarapan dulu, yuk! Sarapan sudah siap tuh," ajak Arman pada Amira yang masih berada di kamar buah hatinya.
Tanpa menjawab, ia menggiring kedua malaikat kecilnya menuju ruang makan. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya. Karena setiap kali ia berbicara dengan suaminya, bayangan pria itu telah bergulat dengan wanita lain langsung menyerbu kepalanya.
Meski hatinya berusaha percaya pada suaminya, namun fakta yang dilihat tak bisa meyakinkannya. Perempuan itu terlalu cerdik untuk menjebak suaminya. Amira tahu, tujuan perempuan itu adalah untuk menghancurkan rumah tangganya.
Haruskah ia menyerah? Membiarkan Arman kembali pada cinta pertamanya dan ia sendiri bersama kedua buah hatinya? Mendadak dadanya nyeri membayangkan perpisahan itu. Meski belum genap sewindu mereka menapaki rumah tangga, perlahan cinta itu mulai bersemayam dalam hatinya.
Amira yang hanya menjadi pengantin pengganti, tak berharap banyak dari pernikahan itu. Ia tahu bahwa Arman masih menyimpan cinta lain di hatinya. Meski lelaki itu tak pernah lagi menyinggung soal Mely sebelumnya, tapi kehadirannya kembali telah membuka mata hatinya. Mengingatkan ia bahwa pemilik hati Arman yang sebenarnya telah hadir.
Meski jika dilihat secara hukum, posisi Amira lebih kuat dibanding Melly. Bahkan kehadiran dua malaikat kecilnya, cukup ampuh untuk mengingatkan Arman bahwa pernikahan mereka bukan main-main. Melly hanya seseorang yang pernah singgah sementara dalam hidunya, dan Amira lah yang menjadi pemilik sesungguhnya.
Namun entah mengapa beberapa hari ini justru Melly sangat gencar mendekati Arman kembali. Seolah lupa, bahwa dirinya pernah dengan sengaja meninggalkan Arman.
Perempuan itu lupa siapa yang memutuskan hubungan mereka hingga Amira masuk menjadi obat penyembuh luka Arman akibat perbuatannya.
"Amira, maafkan, Mas. Mas tahu kamu nggak nyaman dengan kondisi ini. Maaf, gara-gara Mas, kamu harus terluka," lirih Arman membuyarkan lamunan Amira yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk juz alpukat yang ada di hadapannya.
"Maaf juga, karena Mas tak bisa memenuhi janji. Bahkan belum ada dua minggu Mas sudah bertemu lagi dengannya. Mari, kita akhiri semua ini agar kamu tak terluka terlalu dalam," ucapnya membuat Amira terkesiap. Dadanya berdetak kencang mendengar kalimat terakhir.
Tanpa disadari, air mata telah jatuh membentuk parit di kedua pipi Amira. Meski ia sudah memperhitungkan kemungkinan ini, tapi saat Arman mengatakannya hati Amira tetap saja sakit. Juz alpukat yang menjadi favoritnya kini tak mampu menarik minatnya untuk sekadar menyeruput satu tegukan.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu, Mas? Bagaimana dengan anak-anak?"
Arman menghentikan makannya. Kedua netranya menyorot Amira dengan tatapan bersalah. Semalaman ia berpikir. Akhirnya pagi ini ia berani mengambil keputusan.
Ia tahu, Amira adalah wanita yang kuat dan tegar. Dia pasti bisa memahami keputusannya. Ia berani mengambil resiko ini karena ia yakin Amira tidak akan menuntut dirinya dengan berbuat nekat seperti Melly.
Sementara Melly adalah wanita ambisius yang bisa berbuat apa saja jika keinginannya tidak terpenuhi. Dengan mempertimbangkan berbagai resiko dan konsekuensi, Arman memilih untuk mencari aman dulu sementara.
Sembari menyelesaikan masalah, ia akan mengikuti permainan Melly. Menceraikan Amira dengan talak satu, berharap ia bisa menyelesaikan masalah sebelum masa iddahnya selesai, sehingga ia bisa rujuk kembali setelah semuanya beres.
Namun apa yang dilakukan itu, hanya dirinya yang tahu. Baik Amira atau orang tuanya tak tahu dengan rencanya.
"Anak-anak tetap dalam pengasuhanmu karena mereka belum baligh. Untuk nafkah, tetap akan Mas penuhi sesuai hukum yang berlaku. Nafkahmu juga akan tetap Mas tanggung selama masih masa iddah."
Amira menghembuskan napas perlahan sembari membuang sesak yang menghimpit dada. Berulang kali ia mengucap istighfar untuk menguatkan hatinya. Matanya terpejam merasai sakitnya hati yang tergores oleh ucapan suami. Dia kalah telak. Wanita yang menjadi cinta pertama Arman pemenangnya.
"Kalau itu memang keputusanmu, aku tak mau menjadi penghalang kebahagiaanmu, Mas. Mungkin selama ini aku hanya selingan sebelum menu utama. Terimakasih telah memperlakukan aku dengan sangat istimewa selama ini. Maaf, aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu," ucap Amira dengan bibir bergetar.
"Tidak, Sayang. Kamu sangat sempurna. Bahkan karena kesempurnaanmu, aku tak mampu memberikan yang terbaik. Aku rasa, keputusan ini yang terbaik buat semuanya. Termasuk kamu dan anak-anak," ucapnya ambigu.
Amira menatap lurus pada lelaki yang sebentar lagi tidak terikat status apapun lagi dengannya. Otaknya berputar memikirkan kalimat terakhir yang diucapkan Arman.
"Amira AlHidayah bintu Ahmad Rusydi, aku jatuhkan talak satu padamu."
Dada Amira terasa sangat nyeri. Kedua tangannya terkepal di bawah meja. Ia menggigit bibir dalamnya untuk menahan isak tangis lolos dari mulutnya. 'Kenapa rasanya sesakit ini ya Allah. Kuatkan aku menghadapi bujian ini,' do'a perempuan nerkerudung toska itu dalam hati.
Kepalanya menoleh pada dua malaikat kecil yang masih asik dengan makanannya. Seolah apa yang diperbincangkan kedua orang tuanya bukanlah hal yang penting dan berbahaya bagi kelangsungan hidupnya.
Setelah mengucapkan itu, Arman bangkit meninggalkan istri dan kedua anaknya. Bukan istri, tepatnya mantan istri. Namun ketika langkahnya mencapai pintu, ia berbalik menatap ketiga sosok beda generasi yang masih menduduki tahta di hatinya.
"Mulai malam ini, aku akan tidur di kamar tamu. Sampai masa iddahmu selesai, kamu masih tetap tinggal di sini."
Lalu pria itu benar-benar meninggalkan Amira bersama luka yang ditorehkan begitu dalam.
***
Amira mengantarkan kedua buah hatinya kembali dengan perasaan campur aduk. Ia menyetir mobil dengan pikiran tak fokus. Untungnya jalanan belum terlalu ramai, hingga ia selamat sampai sekolah anak-anak.
Biasanya ia akan menunggu kedua buah hatinya sekolah bersama ibu-ibu lainnya sambil diskusi seputar agama. Namun kali ini ia memilih pergi menemui Emil sahabatnya. Hanya dia satu-satunya orang yang dipercaya untuk mendengarkan keluh kesahnya.
Amira sengaja memilih tempat yang dekat dengan sekolah untuk bertemu Emil. Sepuluh menit ia melaju di jalanan beraspal, akhirnya nyampai juga di kafe yang dituju.
"Ada apa ngajak ketemuan mendadak begini? Apa buku barumu sudah selesai?"
Amira bergeming. Wajahnya berubah muram dengan kedua mata berkaca-kaca.
Melihat hal itu, Emil yang sudah lama berteman dengan Amira paham jika sahabat sekaligus partner kerja itu sedang ada masalah. Setelah memejamkan mata sesaat Amira buka suara.
"Mas Arman menalakku," lirihnya.