Dua Hati Satu Cinta
Melupakan Anak-anaknya
"Aaaa ...."
"Amira! Kamu nggak papa, Sayang?" tanya Arman dengan raut khawatir. Ia langsung berlari ketika melihat belahan jiwanya ditarik secara sengaja oleh Melly. Ia tahu, perempuan itu akan melakukan berbagai macam cara untuk membuat Amira kesal padanya.
"Aku nggak papa, Mas. Dia yang sepertinya kenapa-napa."
Meski sudah disakiti sedemikian rupa, namun Amira tak tega membiarkan perempuan itu kesakitan akibat terkilir. Itulah sebabnya ia mencoba membantunya dengan mengabaikan rasa sakit di hati yang membuat dadanya nyeri. Namun kenyataannya, justru inilah yang dia dapat.
Tanpa aba-aba Mama Endah dan Papa Edo juga ikut keluar dan mendekati menantu kesayangannya. Lalu beralih pada Melly dengan tatapan tajam.
"Kamu nggak papa kan, Sayang? Apa ada yang sakit?" tanya Mama Endah perhatian.
Melihat bagaimana semua orang mengasihi Amira, dada Melly makin terbakar. Kebenciannya kepada Amira sudah mencapai ubun-ubun. Jelas-jelas di sini dia yang sakit akibat terkilir. Namun ketiga orang itu justru lebih memerhatikan Amira dengan segudang drama yang menyekitkan bagi Melly.
Wanita itu mendengus kesal melihat pemandangan di hadapannya. Lalu berteriak untuk mencari perhatian. "Arman! Kakiku terkilir dan sakit banget, kenapa kamu tidak menolongku? Dia itu hanya akting saja. Jangan percaya dengan kepura-puraannya!"
Mama Endah hanya bisa geleng-geleng kepala. Di depan kedua orang tua Arman saja perempuan itu berani membentak putranya, bagaimana kalau mereka hanya berdua? Membayangkan hal itu, wanita setengah baya tapi masih cantik itu bergidik ngeri. Bisa jadi nanti putranya akan diperbudak olehnya.
"Sudahlah, Mel. Jangan membuat masalah lagi. Pulanglah, tunggu tiga minggu lagi untuk keputusan selanjutnya." Setelah mengatakan itu, Arman langsung membantunya dan membawa perempuan itu ke mobilnya.
Meski masih tak terima, perempuan yang masih menggerutu itu tetap pasrah dengan apapun keputusan Arman sekarang. Ia sadar, melawan Keluarga ini sama saja mengantarkan dirinya sendiri dikuliti. Semua membela Amira termasuk Arman. Seseorang yang diharapkan mampu melundungi dan menolongnya di saat seperti ini, justru lebih memilih menolong istrinya.
Setelah kepergian Melly, keempat orang itu kembali masuk. Tidak membicarakan masalah itu lagi. Namun karena kondisi Amira yang terlihat masih shock dan menghawatirkan, Mama dan Papa Arman meminta putra bungsunya untuk membawa menantu kesayangan untuk istirahat dulu.
Dan kali ini Amira harus menurut pada suaminya. Fisik dan psikisnya butuh direlaksasi. Ia nggak boleh terus terusan berpikir keras hingga membuatnya sedih. Karena respon tubuhnya sangat sensitif terhadap perasaan seperti ini. Bagaimanapun ia harus tetap kuat untuk menghadapi kehidupan selanjutnya. Ia tak tahu kenyataan ke depan akan seperti apa.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 12.30. semua penghuni masih terlelap dalam tidur siangnya. Akibat perang batin yang dilalui tadi pagi, tubuh dan pikiran mereka terasa sangat lelah. Hingga Amira melupakan sesuatu. Harusnya ia ke sekolah untuk menjemput kedua putrinya.
Di sisi lain, kedua anak kecil terlihat sangat gelisah. Keduanya sudah hampir menangis karena jemputan tak segera datang. Sementara nomor papa dan mamanya seperti kompak dimatikan. Padahal semua anak sudah pulang setengah jam yang lalu. Bahkan mungkin sudah sampai rumah masing-masing.
"Gimana, Sayang? Belum ada yang jemput?" tanya Bu Guru yang masih setia di sekolah. Peraturan sekolah, jika ada anak didiknya yang belum dijemput, beberapa guru tidak boleh pulang. Mereka yang mendapat jadwal piket harus datang lebih awal dan pulang belakangan sampai semua peserta didiknya pulang.
Kedua anak manis itu menggelang kompak. Wajahnya sudah hampir menangis karena ketakutan.
"Ada nomor lain yang bisa dihubungi? Tempat kerja Papa misalnya?" tanya Bu Guru lagi.
Keduanya langsung berbinar. Ya, mereka tidak terpikirkan untuk menghubungi kantor papanya. Mungkin saat ini papanya masih di kantor dan sedang meeting. Makanya tidak bisa dihubungi. Sedangkan mamanya, akhir-akhir ini kesehatannya terganggu. Sehingga tugas mengantar jemputnya dialihkan ke sang papa.
Keira mengeluarkan kartu nama papanya dari dalam tas dan menyerahkan pada Bu Guru. Lalu dengan cekatan, perempuan yang sangat penyayang seperti Mamanya itu langsung menghubungi nomor yang tertera pada kartu nama tersebut.
Dalam hitungan detik, panggilan tersambung. Seorang perempuan yang menjawab. Tentu itu adalah sekretaris Arman. Setelah mengucapkan beberapa patah kata dan maksudnya menelpon, Bu Guru mematikan sambungan.
Senyumnya mengembang. Lalu mengulurkan kembali kartu nama yang tadi dipegangnya. Tangannya terulur pada puncak kepala kedua gadis kecil itu.
Sambil tersenyum ia berkata, "sabar ya, Sayang. Bentar lagi papamu akan jemput."
Kedua gadis itu tak lagi muram. Lalu menghambur pada pelukan Bu Guru secara tiba-tiba.
"Makasih, Bu Guru!" ucap mereka serempak.
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di pelataran sekolah. Keira dan Kiara langsung berdiri menyambut mobil itu. Namun tatapannya sendu kala mengenali mobil itu bukan milik papanya. Apalagi setelah melihat seseorang keluar dari sana dan berjalana mendekati mereka.
"Om Bagas! Kok Om yang jemput? Papa mana, Om?"
Si sulung sudah nggak sabar bertanya di mana papanya. Bahkan ketika Bagas masih berjarak sekitar 7 meter darinya.
Setelah sampai di hadapan kedua bocah itu, Bagas berjongkok menyejajarkan tubuhnya. Mengelus kedua puncak kepalanya dan memasang senyum terbaik.
"Yuk, pulang sama Om. Papa lagi ada urusan penting!"
Dengan ringan, Bagas mengangkat kedua bocah itu bersamaan. Kiara di tangan kanannya dan Keira di tangan kiri. Setelah mengucapkan terimakasih pada Bu Guru, pria itu langsung meninggalkan sekolah.
Seperti biasa, dalam mobil kedua bocah itu langsung tertidur. Bagas langsung meluncur menuju rumah Arman. Namun setelah sampai di tempat, ternyata rumahnya kosong. Tanpa pikir panjang, Bagas langsung menuju rumah orang tua Arman. Kalau seandainya Arman dan Amira tak ada di sana, kedua orang tua Arman pasti ada di rumah.
"Nak Bagas, mencari Arman ya? Dia sedang tidur di dalam. Ayo masuk!" ucap Mama Endah ketika melihat Bagas turun dari mobil. Kebetulan Mama Endah sedang duduk-duduk di teras.
"Oh, berarti Arman ada di sini ya, Tan? Pantesan rumahnya kosong."
"Iya, Amira juga ada di sini dari pagi. Apa ada hal penting? Biar Tante bangunkan."
"Oh, iya Tan. Ini Bagas mau nganterin Kiara sama Keira. Tadi anak-anak nungguin jemputan nggak datang-datang. Akhirnya pihak sekolah telepon kantor."
"Astaga, kami semua sampai lupa dengan anak-anak," ucap Mama Endah sambil menepuk jidatnya. "Gara-gara perempuan sundal itu, kami semua jadi gagal fokus. Sekarang mana cucu Tante?"
"Ada di mobil, Tan. Mereka sedang tidur."
Bagas membuka pintu belakang. Lalu menyilahkan Mama Endah untuk membopong salah satu cucunya. Kemudian dia sendiri membopong satu lainnya. Keduanya beriringan masuk rumah menuju kamar tamu. Kedua anak yang masih pulas itu ditidurkan di sana.
"Makasih ya, Nak Bagas. Untung ada kamu. Kami semua benar-benar lupa kalau anak-anak masih di sekolah."
Mama Endah merasa tak enak karena telah merepotkan Bagas. Sementara Arman, papa anak-anak malah tidur di kamarnya.
"Sebenarnya ada apa, Tan? Semalam Amira telepon saya menanyakan Arman. Apa semalam Arman menginap di sini?"
Mama Endah menarik napas dalam-dalam. Lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Baginya Bagas sudah dianggap seperti putranya juga. Tidak ada rahasia diantara mereka.
Mendengar penjelasan Mama Endah, dada Arman terasa panas. Tak sadar sampai kedua tangannya terkepal di atas pahanya. Rahangnya mengeras karena menahan amarah.
Tanpa diketahui Mama Endah, dalam hati ia berjanji jika Arman benar-benar menikahi perempuan itu, maka dia tak segan-segan untuk merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya.
"Loh, Gas, kok kamu ada di sini? Emang kerjaan kantor sudah selesai?" Arman tiba-tiba datang dengan rambut acak-acakan.
Tanpa aba-aba, Bagas langsung berdiri dan memukul wajah Arman.
"Dasar, pria kurang ajar! Nggak bertanggung jawab!" teriaknya.