Dua Hati Satu Cinta

Pengkhianatan yang Nyata

Raut wajah Arman berubah-ubah. Melly terus memerhatikan pria di hadapannya setelah melakukan apa yang direncanakan otaknya. Seorang pelayan datang membawa dua buah minuman. Bibir perempuan itu menyeringai. Lalu pura-pura minum setelah pria yang dicintainya menutup teleponnya. 

"Kenapa, Mas? Kok sepertinya ada yang penting?" tanya perempuan berbaju ketat itu sok peduli. Namun pria yang ditanya hanya melihatnya sekilas, lalu memasukkan map yang masih di meja ke dalam tas jinjingnya. 

"Sudahlah, Mel, tolong sementara jangan ganggu aku dulu. Kalau sudah waktunya, aku yang akan menemuimu!" 

"Kenapa begitu? Aku hanya ingin menagih janjimu, Mas. Jangan sampai aku melakukan sesuatu yang nggak pernah kau bayangkan sebelumnya kalau kamu mengingkari janjimu!" 

Suara Melly naik satu oktaf. Ia sudah tak tahan harus berpura-pura sabar di depan laki-laki ini. Ia harus segera mendapatkan apa yang diinginkan dari pria ini sebelum semuanya hancur. 

Arman semakin gusar dengan keinginan Melly. Wanita ini sangat tidak kooperatif menurutnya. Saking kesalnya, ia tak sadar meminum jus jeruk di hadapannya hingga tandas. Padahal ia sudah menghabiskan hidangannya sebelum wanita ini datang. 

Tanpa menoleh lagi, Arman bangkit dan berjalan meninggalkan wanita itu. Dalam hati Melly menghitung mundur. Ia menantikan adegan yang ditunggu-tunggu dengan dada berdebar. Targetnya telah menghabiskan umpan yang dibuat. Ya, dalam juz jeruk itu terdapat obat tidur yang sengaja diberikan Melly untuk membuat pria ini takluk padanya. 

Melly masih sangat hafal dengan kelakuan pria yang dicintainya. Jika sedang jengkel, maka pria itu akan meminum apa saja yang ada di hadapannya hingga habis. Itulah sebabnya ia meminta pelayan untuk membawakan minuman saat Arman sedang sibuk menerima panggilan. 

Karena pria itu tak fokus padanya, ia tak tahu kalau Melly sudah mencampur obat tidur dalam gelas minuman itu. 

"Tiga ... dua ... sat," Melly langsung berdiri. Karena tak jauh dari tempatnya duduk, pria itu sudah mulai oleng. Tanpa menyiakan kesempatan, wanita itu segera berlari menangkap tubuh tegap pria yang membuatnya gila akhir-akhir ini. 

Seorang pria yang selalu mengawasi dari jauh, datang membantu Melly membawa Arman ke suatu tempat. 

 

***

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Amira gelisah dalam pembaringannya. Sesekali ia mengecek gawainya, barangkali ada kabar dari suami tercinta. 

Tak biasanya Arman belum pulang sampai selarut ini. Kalaupun pulang larut, ia akan memberi kabar padanya terlebih duhulu. Namun kali ini perasaan wanita ini sangat tak enak. Seperti ada yang mengganjal dalam hatinya. 

Ia menimbang-nimbang, apakah menghubunginya atau tidak. Semenjak hubungan keduanya agak renggang, Amira berusaha untuk tidak mengganggu suaminya. 

Seketika bayangan foto-foto yang dikirim detektifnya tadi siang terus berputar-putar di kepala. 'Apa mungkin dia sedang bersama wanita itu sekarang?' batin Amira bersenandika. 

Setengah jam ia menunggu, namun belum ada kabar juga dari suaminya. Kali ini ia sudah tak tahan. Dengan tangan gemetar, ia mencoba menghubungi suaminya. Tidak aktif. Hanya suara merdu operator yang menjawab panggilannya. Sekali lagi ia mencoba, hasilnya tetap sama. 

Perasaannya semakin berkecamuk sekarang. Ia tak lagi peduli dengan hubungannya yang mulai renggang. Dengan gusar ia menghubungi temannya yang menjadi polisi lalu lintas. Bertanya apa hari ini ada kecelakaan di jalan yang dilalui suaminya. Namun jawabnya tidak ada. 

Amira membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Lalu keluar menuju balkon itu. Seketika udara dingin menyergap tubuhnya. Dengan mengetatkan pakaiannya, ia kembali memainkan gawainya. Sekali lagi ia menghubungi nomor suaminya. Nihil. Lalu ia mendapat ide untuk menghubungi Bagas, asisten serta sahabat suaminya. 

"Assalamu'alaikum, Mas. Maaf mengganggu malam-malam," ucap Amira saat Bagas sudah menerima panggilannya. Sepertinya pria itu baru saja teebangun karena mendengar panggilannya. Terdengar dari suaranya yang serak khas bangun tidur. 

[Wa'alaikumsalam. Ada apa, Ra? Kok malam-malam menelepon?]

"Mas, apa sekarang sedang lembur? Mas Arman nggak bisa dihubungi. Kalau sedang bersamanya, tolong beri tahu dia, kalau ... kalau ak ... anak-anak mencarinya," ucap Amira terbata. Hampir saja ia keceplosan untuk menyebut dirinyalah yang sedang menghawatirkan suaminya. Untung ia segera punya ide untuk menjadikan anak-anak sebagai alasan. Ia tak mau Bagas mengira yang tidak-tidak padanya. 

Mendengar ucapan Amira, seketika Bagas menegakkan tubuhnya. Kantuk yang semula merajai, kini hilang entah kemana. Ia melihat jam di dinding kamarnya. Sudah jam 11.30 dan Arman belum pulang? Padahal tadi setelah ketemu clien juga nggak kembali ke kantor. Dia pikir Arman langsung pulang. Lalu kemana dia? 

[Apa dari siang tadi dia nggak pulang, Ra?] tanya Bagas hati-hati. 

"Nggak, Mas. Kupikir di kantor sedang banyak kerjaan. Jadi apa sekarang tidak sedang lembur?" todong Amira. Perasaannya mengatakan bahwa Bagas sedang tak di kantor sekarang. 

Sebelum menjawab, Bagas menghembuskan napas panjang. Sebenarnya ia tak ingin membuat Amira khawatir. Tapi ia harus jujur padanya. Dan besok, ia memastikan akan memberi pelajaran pada sahabatnya itu jika sampai Amira sedih. Ia akan pastikan perempuan yang saat ini sedang meneleponnya tidak akan sesih gara-gara suaminya. 

[Tidak, Ra. Tidak ada lembur. Mungkin suamimu ketiduran di kantor. Tadi aku pulang duluan soalnya. Ya, bisa saja ia ketiduran dan nggak ada yang bangunin.] 

Bagas berusaha mencari alasan yang tepat agar istri sahabatnya tak kepikiran. Meski ia sendiri tak yakin dengan jawaban itu. 

"Tapi HP-nya nggak aktif,"

[Mungkin habis baterai?]

"Ah, iya. Mungkin saja. Ya sudah, maaf ya, Mas, malam-malam mengganggumu," ucap Amira sungkan. 

[Nggak papa, Ra. Sudah nggak usah dipikirkan. Arman pasti bisa jaga diri. Sekarang kembalilah istirahat. Assalamu'alaikum.]

Arman mengakhiri panggilan. Dadanya selalu berdetak kencang tiap kali mendengar suara perempuan itu. Sudah delapan tahun ia mencoba melupakannya. Namun nama perempuan itu masih tersemat rapi di sana. Tanpa sepengetahuan Amira, laki-laki yang baru diteleponnya, memendam rasa sejak mereka masih duduk di bangku kuliah. Hingga kini dan mungkin nanti. 

Amira kembali ke kamar. Merebahkan tubuhnya yang mulai letih. Meski ia sedang sakit hati dengan suaminya yang mau menikah lagi, tapi tetap saja hatinya diliputi was-was. Bagaimanapun Arman masih suami sahnya. 

Ia mencoba memejamkan matanya meski sulit. Namun tiba-tiba gawainya berbunyi. Notifikasi beruntun menyerbu benda pipih itu. Dengan semangat ia segera membukanya berharap sang suami yang menghubungi. 

Namun tiba-tiba dadanya bergemuruh. Jantungnya bagai ditikam sembilu. Beberapa foto suaminya nampak pulas dengan seorang wanita yang akhir-akhir ini mengusik rumah tangganya. 

Seketika air matanya luruh membasahi pipi mulusnya. Ia terus menatap layar berukuran 5,6 inchi itu dengan nanar. Tak hanya satu. Ada puluhan foto dengan pose berbeda. Foto saat suaminya sedang dipapah Melly di sebuah restoran, dan yang terbanyak adalah foto di sebuah ranjang yang menampilkan suaminya tertidur pulas di samping wanita itu. 

'Kenapa kamu tega, Mas? Apa kamu sudah tak takut dosa hingga berani melakukan hal sekeji ini?' batin Amira terus meracau. Ia terus saja meremas-remas dada kirinya yang terasa sangat nyeri. 

Ia tak tahu, pada siapa harus mengadu. Ia tak mungkin menelepon mertuanya tengah malam. Tapi hanya mereka tempatnya berbagi cerita. Hanya mereka tempatnya berkeluh kesah. Karena mertuanya itu sangat sayang pada dirinya. Sikapnya yang bijak, membuat Amira tak takut untuk meminta pendapat padanya. 

Dalam keremangan malam, ia memeluk sepi di kamar ini. Hatinya hancur sehancur-hancurnya. Kalau hanya bertemu saja, mungkin Amira masih bisa mentolelirnya, tapi tidur bersama, tak ada lagi kata toleransi. Karena ini bukan hanya masalah hati yang tersakiti. Melainkan sudah berhubungan dengan maksiat dan dosa. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan prinsip hidupnya. 

"Hanya sebulan, Mas. Ternyata kamu tak tahan menunggu waktu sebulan. Apa kamu akan mempercepat perpisahan kita, Mas?" 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!