Dua Hati Satu Cinta

Tak Termaafkan

Seorang pria yang terbaring di sebuah kamar hotel merasakan pusing di kepala saat matanya terbuka. Matanya memicing kala sapuan sinar mentari menyeruak masuk menyilaukannya. Untuk menyesuaikan diri, kedua mata itu mengerjap-ngerjap, lalu terbuka sempurna. 

Ia memindai seluruh ruangan. Asing. Ini bukan di kamarnya. 'Lalu dimana? Siapa yang membawaku kemari?' Batinnya bertanya-tanya. 

Lelaki yang bernama Arman itu mencoba bangkit dari pembaringannya. Meski kepalanya masih terasa pening. Namun ia terus mencoba membongkar memory kepalanya. Apa yang terjadi sebelum ini. Matanya membola saat kepingan ingatan kemarin siang melintas di otaknya. 

Bahkan ia baru sadar kalau audah tertidur selama 12 jam lebih. Ia mencoba menyibak selimut yang menutup tubuhnya. Hembusan napas lega terdengar nyaring di telinganya sendiri. 

'Alhamdulillah bajuku masih lengkap. Itu artinya tidak terjadi apa-apa semalam,' gumannya. 

Dengan secepat kilat, ia segera bangkit dan menuju kamar mandi. Ia tak ingin istrinya berpikir yang tidak-tidak karena ia tak pulang ke rumah. Setelah mencuci muka, ia mengambil tasnya. Memeriksa isinya dan masih lengkap. 

Saat hendak keluar, ia melihat gawainya yang tergeletak di nakas. Dengan cekatan, ia mencoba menghidupkannya. Namun rupanya benda pipih itu mati. Padahal seingatnya ia tidak mematikannya. Kalau kehabisan daya, itu juga tidak mungkin. Kemarin pagi baru diisi dan gawainya itu memiliki kapasitas baterai yang cukup besar. Biasanya dua-tiga hari baru isi lagi. 

Tanpa curiga sedikitpun, ia menghidupkan benda itu. Beberapa detik kemudian menampilkan puluhan notifikasi dari istrinya dan Bagas. Dibukanya dulu chat dari istrinya. Dadanya bergemuruh membaca puluhan chat dari sang istri yang menanyakan keberadaannya semalam. 

Lalu jemarinya bergerak lincah menggeser layar berukuran 6 inchi itu. Dari Bagas yang juga menanyakan hal yang sama. Dengan seksama ia melihat waktu terkirim pesan itu. Sama dengan istrinya. Apa mungkin istrinya juga bertanya pada asistennya itu. 

Dengan perasaan kesal entah pada siapa, pria itu menyugar rambutnya kasar. Merutuki kebodohannya yang kurang waspada. Ia yakin kemarin ada yang menaruh sesuatu dalam minumannya hingga membuatnya begitu pusing dan ngantuk tak tertahan. 

Ingatannya kembali menjelajah ke pertemuannya dengan Melly. Dugaan terkuatnya mengarah pada perempuan itu. Apalagi ketika lagi-lagi ia menemukan bukti. Sebuah catatan kecil tergeletak di atas nakas. 

"Terimakasih atas malam indahnya, Mas."

                       ~calon istrimu~

 

***

Setelah mengantar kedua buah hatinya ke sekolah, Amira memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya. Ia ingin meminta pendapat pada kedua orang tua itu. Saat ini, ia tak mampu berpikir jernih. Ia tak mau gegabah dalam mengambil keputusan. 

Dua puluh menit ia membelah jalanan bersama Brio merahnya. Ia tetap berusaha fokus pada padatnya lalu lintas meski hatinya sudah tak berbentuk akibat Penghianatan suaminya. 

Seorang satpam membukakan gerbang untuk Amira. Sebelum turun, perempuan cantik bergamis tosca itu mencoba untuk menata hatinya terlebih dahulu. Menghirup udara sebanyak-banyaknya sebagi stok nanti di dalam sana. 

Dengan memantapkan hati, ia melangkah perlahan menuju pintu utama. Tak perlu menunggu lama, karena dalam sekali ketuka, pintu sudah dibuka oleh bik Ijah. Perempuan yang sudah mengabdi pada mertuanya sejak Arman masih balita. 

"Eh, Mbak Amira. Masuk, Mbak. Ayuk ikut sarapan bareng," ajak perempuan setengah baya itu ramah.

Amira tetap mengekornya. Lalu duduk di hadapan Mama Endah yang sedang makan dalam diam. Kedatangannya sepagi ini tentu membuat pasangan suami istri itu terheran-heran. 

"Amira sayang, pagi-pagi kamu sudah kemari, dari mana? Apa kamu sudah benar-benar sehat, Nak?" tanya Mama Endah dengan raut khawatir. 

Kepala wanita itu celingak-celinguk seperti mencari seseorang. Namun ternyata menantu kesayangannya ini datang sendirian. 

"Kamu ke sini sendiri? Mana Arman?" cecar mertuanya. 

Amira menunduk. Menyembunyikan rinai air mata yang mulai menganak sungai membentuk parit di kedua pipinya mulusnya. Meski tujuannya untuk menceritakan masalahnya, tapi ia masih enggan berbicara. Bukan tanpa alasan. Amira hanya mengulur waktu sampai kedua mertuanya selesai menikmati sarapan paginya. Supaya nanti bisa kuat menghadapi kenyataan tentang putra tercintanya.

"Amira, sendirian, Ma. Mas Arman sudah berangkat kerja," ucap Amira neyakinkan. Meski ia sendiri tak yakin apakah Arman sudah masuk kerja atau masih bergulat dengan perempuan itu. 

Membayangkan apa yang terjadi di antara mereka semalam, hatinya seperti disayat selapis demi selapis. Menyisakan perih tiada tata. 

Amira menyesap jus lemon yang dibuatkan bik Ijah dengan perlahan. Menikmati sensasi asam di lidah yang lama-lama berubah manis. Lemon memang sangat bagus untuk menetralkan asam lambung. Sangat cocok ia minum saat ini karena masalah yang dihadapi menyebakan asam lambungnya naik. 

Selesai sarapan, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati buah potong yang dibuat bik Ijah. 

Mama Endah merasa kalau menantunya datang karena ada maksud tertentu. Terlihat dari sikapnya yang begitu gelisah seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi tertahan. 

Sebagai orang tua, ia mencoba mengawali. Siapa tahu Amira sungkan untuk mengungkapkan maksudnya. 

"Kamu baik-baik saja, Sayang? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Mama Endah lembut. Tangannya menggenggam tangan Amira yang dingin.

"Ma," suara Amira mulai bergetar. "Mas Arman sudah menghianati Amira, Ma. Dia ... dia sudah tidur bersama perempuan itu," ucap Amira dengan bibir bergetar. 

Mama Endah dan suaminya menatap Amira ragu. Ia tahu, seburuk-buruknya Arman tidak mungkin tidur dengan perempuan tanpa ikatan pernikahan. Namun Amira juga tak mungkin bohong. 

Wanita muda yang audah menjadi bagian dari keluarganya sejak delapan tahun lalu ini adalah wanita istimewa. Ia memiliki akhlak yang terpuji. Tidak mungkin ia memfitnah suaminya sendiri tanpa bukti. 

"Kamu tahu dari mana suamimu sudah tidur sama perempuan tak ada akhlak itu?"

Amira menceritakan bahwa semalam Arman tidak pulang dan nomornya tidak bisa dihubungi. Ia sudah menanyakan pada asistennya dan ternyata tidak lembur. 

Ia juga menceritakan tentang foto-foto itu dan menunjukkannya pada Mama Endah. Kedua mata perempuan itu langsung membola seperti akan melompat dari sarangnya. Begitupun dengan lelaki yang mirim suaminya itu. Keduanya saling pandang, lalu menatap menantunya iba. 

"Apa sampai sekarang suamimu belum pulang?" 

"Belum, Pa. Nomornya juga belum aktif." Amira menghembuskan napas berat. Beban di dadanya seolah bertambah dua kali lipatnya.

"Kita tidak boleh langsung percaya pada foto-foto itu. Bisa jadi sudah dimanipulasi," Papa menimpali.

'Benar juga kata Papa, Melly itu licik dan ambisius. Apapun akan dia lakukan untuk meraih tujuannya.' gumamnya yang masih bimbang. 

Meski logikanya menyangkal kebenaran itu, hatinya tetap saja terluka. Foto itu, memang diambil dalam keadaan Mas Arman tertidur. Namun bagaimana dengan foto pelukan saat di restoran itu? Apa iya dimanipulasi juga? 

Dalam kekacauan pikirannya, notif HP kembali menyerbu. Kali ini dari Arman. 

From Arman:

[Amira, kamu dimana? Maaf baru mengabarimu]

Amira hanya membaca. Tak ada niatan untuk membalasnya. Lalu kembali mengantongi benda pipih itu. 

Matanya membulat saat melihat kembali foto-foto yang barusan dikirim.

Kali ini menampilkan foto suaminya yang sangat ... ah, Amira tak sanggup melihatnya. Dengan tangan bergetar, ia memberikan gawainya kepada Mama Endah yang disambut dengan pelotototan juga. 

Dua wanita beda generasi itu saling berpelukan sambil menangis. Tak habis pikir dengan apa yang dilakukan pria yang mereka cintai itu. Cukup lama mereka menumpahkan segala perasaan masing-masing, hingga sebuah suara mengagetkan mereka.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!