Dua Hati Satu Cinta
Muslihat Melly
Tangan Amira gemetar melihat foto-foto itu. Di sana, terlihat seorang perempuan yang dulu menjadi temannya dengan seorang yang kini menjadi imamnya. Belum jelas apa yang mereka lakukan, namun dari foto itu sudah menggambarkan seberapa dekat hubungan mereka.
Perempuan bernama Melly itu terlihat tengah memeluk Arman, suaminya. Tapi tunggu, di foto itu tangan suaminya berada di sisi tubuh. Ia sepertinya tak membalas pelukan itu. Seketika hati Amira sedikit lega. Bisa saja perempuan itu yang menggoda suaminya.
Namun melihat itu, terlepas apakah suaminya membalas atau tidak, mereka tetap bertemu. Itu artinya dia telah melanggar kesepakatan. Lagi, ia menggeser layar HP-nya. Terlihat gambar lain dengan pose berbeda. Kali ini terlihat mereka sedang makan di sebuah restoran.
Seketika dada Amira bergemuruh hebat. Sebongkah daging di dalam dadanya terasa sangat nyeri seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Sakit.
Kedua matanya telah memburam. Genangan kristal bening berusaha mendesak pertahanan kelopaknya. Dengan dada sedikit tersengal, perempuan shalehah itu meraih sebuah gelas berisi air putih dan menenggaknya dalam sekali teguk.
Selama ini dia begitu percaya dengan suaminya. Ia sangat yakin kasih sayang yang dicurahkan selama ini mampu meredam gejolak dalam diri lelaki itu. Pelayanan yang diberikannya begitu luar biasa. Apapun yang diinginkan suaminya ia jalankan selama tidak untuk bermaksiat.
Demi suaminya, ia rela tak terlihat dunia meski sebenarnya ia sangat cemerlang. Pemikiran dan kecerdasannya didedikasikan untuk keluarga kecilnya. Ketinggian ilmu yang dimiliki digunakan untuk mendidik dua buah hatinya. Dia rela mendekam di rumah dan mencurahkan segala isi otaknya melalui tulisan.
Dan kini, suami yang dijadikan pegangan memilih untuk membagi hatinya bersama wanita lain yang sudah menjadi mantan.
"Mas, kenapa kamu tega menyakitiku?" Gumam Amira dalam tangisnya. Ia meremas dadanya yang terasa seperti disayat-sayat. Dalam diam ia menangis.
***
Arman terburu-buru keluar membawa beberapa berkas bersama asistennya, Bagas. Hari ini dia ada janji temu dengan clien untuk makan siang dan membicarakan kontrak kerjasama.
Dua puluh menit perjalanan yang mereka tempuh untuk mencapai tempat tujuan. Dan di sinilah mereka sekarang. Di sebuah restoran mewah ala Jepang.
Di meja nomor 7 sudah duduk dua orang laki-laki dengan minuman di meja. Arman segera melangkah menuju meja itu.
"Selamat siang, Pak. Maaf membuat Anda menunggu," ucap Arman sopan. Ia membungkukkan badannya 45 derajat kepada kedua laki-laki itu sebagai tanda hormat. Lalu mereka saling berjabat tangan.
"Siang, Pak Arman. Tidak masalah. Kami juga baru sekitar lima menit di sini. Lagipula Pak Arman pasti sedang sibuk, makanya sedikit terlambat," balas orang itu ramah.
Negosiasi terjadi antara dua belah pihak. Kepiawaian Arman dalam menaklukkan lawan bisnisnya memang tidak diragukan lagi. Diplomasinya sangat apik sehingga siapapun akan sulit menolak bekerjasama dengannya.
Begitupun dengan Pak Andra ini. Hanya dengan sekali negosiasi, kesepakatan terjadi. Arman tampak sumringah setelah kontrak ini ditandatangani. Kedua belah pihak mengumbar senyum kepuasan.
Seorang pramusaji mengantarkan pesanan makanan mereka bertepatan dengan ditutupnya berkas-berkas itu. Mereka makan sambil ngobrol ringan. Sesekali riuh tawa berderai di antara mereka.
Di tengah keasyikan itu, gawai Bagas berbunyi. Ia berdiri agak menjauh dari tempat itu dan menerima panggilannya. Beberapa saat kemudian, ia terlihat kembali dan berbisik pada Arman jika ia harus kembali ke kantor duluan karena ada tamu dari clien lain.
Arman memercayakan urusan itu pada Bagas karena ia masih menemani makan Pak Andra. Tentu saja ia tak ingin dicap tak sopan karena meninggalkan kedua orang itu padahal ia sendiri datang terlambat.
Sepuluh menit kemudian kedua orang yang terlihat seumuran dengan Arman itu pamit. Menyisakan Arman seorang yang sudah bersiap akan pergi juga dari tempat itu. Namun belum juga melangkah, seorang perempuan tiba-tiba menghempaskan diri di kursi depan Arman.
Kedua mata Arman melotot melihat siapa yang tiba-tiba datang ke tempat ini. Belum lagi senyum menggoda wanita itu membuat Arman harus berjuang keras untuk berpaling.
"Kamu ngapain di sini, Mel? Bukankah sudah sepakat untuk tidak bertemu dulu?" ucap Arman lirih. Ia sengaja menekan suaranya supaya tidak menjadi pusat perhatian dari pengunjung lain.
"Itu kesepakatan sepihak, Mas. Aku tidak pernah menyetujuinya!" jawab Melly kesal. Bibirnya mengerucut dengan mata dibuat sedikit melotot. Ia sudah memperhitungkan banyak hal termasuk penolakan Arman nantinya.
Di kepalanya berputar berbagai ide gila untuk menjerat Arman kembali. Meski begitu nyata Arman memberikan sorot tajam agar perempuan itu merasa terintimidasi. Namun ia salah.
Perempuan itu justru tertantang untuk terus menggodanya.
"Ayolah, Sayang, jangan menghindariku lagi." Melly mengeluarkan jurus mautnya untuk merayu.
Terdengar berat sekali Arman menanggapi. Pria itu memilih untuk berdiri hendak berangkat meninggalkannya. Namun dalam sekali gerakan, Melly berdiri dan menubruk tubuhnya.
Karena tak siap, hampir saja ia oleng dan membuat mereka jatuh. Namun Arman segera berpegangan pada kursi di sebelahnya. Satu tangan Arman terkepal di samping tubuh.
"Tolong jangan seperti ini, Mel, malu dilihat orang," bisik Arman sembil berusaha melerai tubuhnya.
"Kenapa, Mas? Apa kamu mau bilang kita nggak seharusnya begini karena kita nggak ada ikatan pernikahan?"
"Ya. Itu kamu tahu."
Arman menjawab dengan datar. Pandangannya terus menelisik sekitar. Khawatir ada orang yang dikenal melihat mereka. Setelah berhasil lepas dari pelukan wanita itu, terpaksa ia kembali duduk. Mungkin ada baiknya ia bicara baik-baik pada wanita ini agar masalah yang dihadapinya segera selesai.
"Kalau gitu halalkan aku segera, Mas. Biar kita bebas melakukan apa saja. Aku ... Aku sangat merindukanmu, Mas," ucap Melly mengiba.
Tangannya berusaha meraih kedua tangan Arman yang terkepal di meja. Namun dengan gerakan cepat pria itu menyingkir. Bagaimanapun ia tahu batasan yang tak boleh dilanggar.
"Cukup, Mel! Jangan terus mendesakku. Sekarang Amira sedang sakit. Dan aku harus fokus pada keluargaku dulu."
"Jadi kamu lebih mementingkan istrimu yang penyakitan itu, Mas? Apa aku nggak ada artinya bagimu?"
Perempuan itu sudah berkaca-kaca. Tatapannya nanar. Ia pikir Arman masih menjadikan dirinya sebagai prioritas utama. Namun melihat bagaimana sikap pria itu akhir-akhir ini cukup membuktikan seberapa besar cintanya pada Amira. Dan itu membuat dendam pada mantan temannya semakin membara.
"Dia itu istriku, Mel. Ibu dari anak-anakku. Tentu saja aku harus menjaga perasaannya. Tolong mengertilah. Dia hanya minta waktu sebulan. Dan setelah itu, ..." Tiba-tiba napasnya tercekat. Suaranya seperti terhenti di tenggorokan. Lelaki itu tak jadi melanjutkan kalimatnya.
Perempuan yang mengekspos sebagian auratnya itu mendengus kasar. Bibirnya maju beberapa centi dengan kedua bola mata memutar menadakan kesal. Sementara Arman yang tiba-tiba mendapat telepon dari Bagas, tak memedulikan perempuan itu lagi. Ia lebih fokus pada seseorang di seberang sana.
Dan itu dijadikan kesempatan Melly untuk melancarkan aksinya.