Dinikahi Calon Ipar
Tak Kan Termaafkan
"Apa yang kalian lakukan?"
Desta membeku. Mendengar suara kekasihnya yang muncul dari arah belakang. Tatapan sayunya jatuh pada gadis yang berada di bawahnya. Lamat-lamat ia mengumpulkan kekuatan untuk melawan gejolak yang sudah sampai di ubun-ubun. Lalu meneliti dengan saksama gadis yang dinodainya.
Matanya membelalak mendapati bukan Meta yang sedang di bawahnya. Dengan kecepatan kilat, ia mencoba bangkit dari posisinya. Namun gerakannya yang tiba-tiba membuat kepalanya berdenyut nyeri. Lalu tiba-tiba semuanya gelap. Pemuda itu ambruk menimpa Diana.
Pengaruh alkohol yang dicampur obat perangsang membuat pria yang mau menikah beberapa hari lagi ini tak mampu mengendalikan diri. Tubuhnya panas seperti terbakar. Pandangannya kabur dan menciptakan halusinasi yang akhirnya menyeretnya pada masalah yang tidak ia tahu ke depannya akan semakin panjang.
Akibat pengaruh minuman haram itu, Diana disangka Meta. Ia mengira perempuan yang dari tadi bersamanya adalah Meta, sang calon istri.
"Nggak usah pura-pura pingsan, Breng**k! Apa yang kamu lakukan sudah terekam jelas dalam otakku!" teriak Meta sambil menendang punggung pria yang telah merenggut rasa cintanya.
Tatapannya beralih pada sang kakak yang terlihat sangat kacau. Baju basah yang sudah robek sana-sini, kerudung yang selalu menutup auratnya sudah terlepas dari kepala, dan beberapa bekas cakaran yang tampak di kulit putihnya yang sudah tak tertutup sempurna oleh bajunya.
Dadanya bergemuruh hebat menyaksikan hal itu. Ia melangkah dan berjongkok di hadapan gadis yang masih tergolek lemah di lantai itu. Tangannya hendak terulur untuk menutup bagian tubuh yang terbuka dengan kerudung yang tergeletak di sembarang tempat. Namun mengingat Penghianatan yang dilakukan sang kekasih membuat hatinya mengeras. Rasa iba yang semula menyergap dada terhadap sang kakak berubah menjadi kebencian yang mendalam.
Gadis itu mencoba menutupi rasa kasihannya pada sosok yang selalu mengalah itu dengan rasa kecewa akibat ulah Desta. Entah siapa yang memulai lebih dulu. Namun melihat baju sang kakak yang basah kuyup membuat pikirannya berkelana.
"Nggak usah pura-pura pingsan, aku tahu kamu tidak pingsan, Kak. Bangun!" teriak Meta seperti kesetanan. Ia menyiramkan air minum yang ada di teko sebelahnya berdiri tadi kepada Diana yang pingsan sejak tadi.
Diana gelagapan. Perlahan ia membuka kedua matanya hingga lamat-lamat terlihat wajah sang adik yang dipenuhi kebencian. Lalu memindai seluruh ruangan dan didapati kedua orang tuanya telah berdiri di depan pintu dengan tatapan murka.
Mencoba untuk menggali ingatan kejadian sebelum pingsan, Diana merasa kepalanya berdenyut nyeri. Tubuhnya menggigil kedinginan serta ketakutan mengingat apa yang telah diperbuat oleh calon iparnya.
Saat menoleh ke samping, pria itu tergeletak tak sadarkan diri. Dengan sekuat tenaga, ia mencoba bangkit.
"Me--meta, kamu sudah pulang? Dia--dia mencoba untuk menodai--"
"Hentikan omong kosongmu, Kak! Kekasihku nggak mungkin berbuat sekeji itu! Pasti kamu yang menggodanya, kan?"
"Tidak, Meta. Tidak! Dia mabuk dan mengira aku adalah kamu. Kamu bisa lihat ini!" tunjuk Diana pada bajunya yang sudah robek. "Dia yang memaksaku untuk, ..."
"Cukup! Aku sudah tahu semuanya! Jangan melempar kesalahan pada orang lain. Kakak sengaja kan menjebaknya?"
Kedua mata Diana membelalak tak percaya mendengar ucapan sang adik. Air matanya tumpah bagai air bah yang menjebol tanggul pertahanannya.
Dia berlari ke kamarnya dengan mengabaikan tatapan penuh benci dari semua orang. Setelah mengunci pintu dari dalam, tubuhnya luruh di lantai. Kilasan kejadian barusan berputar bak kaset film di kepalanya. Ia tergugu, menangisi nasibnya tragis. Dia yang jadi korban tapi dia yang disalahkan.
**
"Meta sayang, beri aku kesempatan sekali ini saja. Maafkan aku, aku ... tidak tahu kalau itu bukan kamu. Aku khilaf, dia yang datang tiba-tiba lalu merayuku. Aku yang dalam pengaruh obat tak bisa membedakan kalau dia adalah kakakmu. Tolong, maafkan aku, sayang."
Saat ini semua keluarga duduk di ruang tamu. Beberapa jam setelah Desta mendapati kesadarannya, orang tua Meta menyidangnya.
"Om, Tante, saya ...,"
"Kamu telah menghancurkan rencana pernikahan kalian sendiri. Saya pikir kamu benar-benar mencintai Meta, ternyata begini kelakuanmu?!"
"Tidak, Om. Itu semua terjadi karena saya dijebak, Om. Teman-teman saya menaruh obat pada minuman saya."
Lelaki berkharisma itu hendak mengucapkan sesuatu. Namun saat netranya menatap Diana yang ditarik paksa oleh ibunya, mendadak dadanya kembang kempis. Matanya berkilat marah. Belum sempat ia berdiri, gadis itu sudah jatuh tersungkur di bawah kakinya.
"Ayah, maafkan Diana, yah. Diana dipaksa, bahkan perlawa--"
"Jangan panggil saya ayah! Mulai hari ini aku haramkan mulutmu memanggilku ayah!"
Pria yang menjadi tauladan Diana itu tampak murka. Kedua matanya memerah dengan otot-otot leher yang menonjol.
Anak sulung keluarga Hartoyo itu bersimpuh dikakinya. Menangis dengan memohon ampunan dari sang ayah. Sakitnya badan akibat perbuatan Desta tak sebanding dengan sakitnya hati yang kini menyergapnya.
Pandangan gadis itu tertuju pada pria tua di hadapannya dengan iba. Namun lelaki yang sedang diliputi amarah itu membuang muka.
Dengan gerakan cepat, Diana merangkak menuju sang ibu. Bersimpuh di kakinya dengan derai ari mata.
"Ibu, maafkan Diana, Bu. Diana tidak bermaksud melukai hati Meta. Diana dipaksa, Bu. Percayalah pada Diana, Bu," rengek gadis itu pilu.
"Cukup! Percuma kamu merengek seperti itu. Minta maaflah pada adikmu! Karena dialah yang kau hianati!"
Perempuan yang biasanya lembut itu berdiri meninggalkan Diana yang masih meraung di atas karpet. Lalu beringsut pada adiknya. Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
"Dasar tidak tahu diri! Murahan! Kakak macam apa yang menghancurkan pernikahan adiknya sendiri, hah?!"
"Meta, tidak seperti itu, aku ...,"
"Stop! Aku nggak mau dengar lagi!"
Gadis yang sedang diliputi amarah itu bangkit dan menatap Desta penuh kebencian.
"Mulai hari ini, kita putus!"