Dinikahi Calon Ipar
Dikucilkan
"Mulai hari ini, kita putus! Tak ada pernikahan! Dasar penghianat!"
Meta benar-benar pergi meninggalkan ruangan yang diliputi aura ketegangan itu. Desta menatap punggung kekasihnya dengan tatapan penuh penyesalan. Kedua tangannya menjambak rambut frustasi. Lalu beralih menatap Diana dengan sorot tajam.
"Kalau sampai Meta membenciku, kamulah orang yang harus bertanggung jawab!" ucapnya sinis.
Tak ada lagi keinginan untuk menjawab tuduhan yang dialamatkan padanya. Diana lebih memilih untuk berdiam diri di tengah-tengah mereka seperti terdakwa yang sedang disidang.
Andai dia tahu akan begini akhirnya, lebih baik ia menerima tawaran sahabatnya untuk menginap di rumahnya. Sekarang, ia dianggap sepertinya wanita murahan yang merebut calon suami adiknya.
Satu per satu orang yang ada di ruangan itu pergi meninggalkan Diana sendirian dalam nestapa yang berkepanjangan. Kepalanya disembunyikan diantara siku dan lutut. Tubuhnya menggigil akibat kehujanan ditambah perbuatan Desta yang memperparahnya. Ia sakit. Namun hatinya lebih sakit.
***
Diana bergelung di bawah selimut tebal yang tak memberi kehangatan sama sekali. Tubuhnya demam. Bibirnya bergetar dengan gigi gemelutuk akibat menggigil kedinginan. Kedua matanya sembab menandakan semalam banyak menangis. Kepalanya sangat berat dan pandangannya berputar-putar.
Ia pejamkan mata kembali saat tiba-tiba rasa pening menyergapnya. Namun panggilan adzan membuatnya tak bisa terpejam lagi. Perlahan ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi dengan berpegangan pada dinding.
Pukul setengah tujuh pagi ia sudah siap dengan pakaian dinasnya. Sebenarnya ia sangat ingin di rumah mengistirahatkan otak dan tubuhnya. Namun jadwal mengajar hari ini sangatlah padat. Tak mungkin ia izin secara dadakan.
Satu persatu anak tangga ia lewati dengan tubuh sesikit bergetar. Di ruang makan tampak keluarganya sedang menikmati sarapan dalam diam. Dengan menguatkan tekat, gadis yang berprofesi sebagai guru SMP ini mendekat dan menarik kursi di samping ibunya.
Tak ada seorang pun yang menghiraukannya. Semua fokus pada makanannya masing-masing.
"Wah, sarapannya special pagi ini. Pasti ibu yang masak, kan?" tanya Diana mencoba mencairkan suasana. Namun sayang, ibunya tak menanggapi.
Ia meraih piring dan mengisinya dengan secentong nasi. Kedua matanya meminda seluruh meja. Lalu tatapannya jatuh pada semur tahu di dekat adiknya. Ide di kepalanya muncul. Untuk menyapa sang adik, ia mencoba untuk meminta tolong padanya untuk menggeser semur itu.
Tiba-tiba Meta membanting sendok dan garpu di atas piring menimbulkan bunyi nyaring. Iabu dan ayah berhenti makan dan menatap Diana tajam. Lalu ketiganya kompak berdiri meninggalkan Diana sendiri dengan hati yang tercabik-cabik.
Air matanya luruh membasahi pipi mulusnya yang alami tanpa polesan apa pun. Satu suapan masuk ke dalam mulut. Terasa asin di lidah karena bercampur air mata. Dadanya sakit melihat keluarganya tak lagi peduli padanya. Ia seperti angin yang tak terlihat.
Susah payah ia menelan makanan yang masuk ke mulut. Ia sudah tak sanggup lagi menghabiskannya. Lalu bangkit dan keluar menuju garasi. Menyalakan mesin motornya dan berebut jalan bersama pengendara lain yang hendak pergi bekerja seperti dirinya.
Sepanjang jalan rinai air mata tak berhenti turun dari kedua sudut matanya. Sesekali ia mengusap kasar dengan tangan kiri, hingga tak terasa ia sudah sampai di depan sekolah.
Sebelum masuk kantor, Diana mencoba menutupi bekas tangisnya dengan mengoleskan bedak tipis-tipis. Mencoba menarik kedua sudut bibirnya agar tak terlihat sedang sedih. Apapun masalah yang dihadapi di rumah, tak boleh dibawa sampai ke sekolah. Itulah yang diajarkan oleh para seniornya.
Sepanjang waktu ia mengajar seperti biasa seolah tidak sedang terjadi apapun padanya. Para rekan sejawatnya pun tak ada yang bertanya ataupun curiga. Bahkan dengan pandainya ia menutupi luka mengnga dalam hatinya dengan candaan seperti biasa.
"Bu Diana, jangan lupa besok ada acara lo ya. Ibu harus datang. Ada yang special soalnya," ucap Bu Dessi sambil membetulkan kerudungnya.
Diana hanya menanggapi dengan senyuman dan kembali berkutat pada hasil kerjaan siswa. Sebagai guru matematika, ia memang menjadi idola para siswa. Cara penyampaiannya yang gamblang dan santai membuat para siswa enjoy belajar matematika. Padahal biasanya mapel itu adalah momok yang menakutkan. Dan di tangan Dianalah, belajar matematika semudah belajar membaca.
Pukul setengah empat sore, Diana pulang dengan perasaan gamang. Hatinya kembali berdenyut mengingat kejadian kemarin. Semua orang mengucilkannya di rumah. Ah, mungkin ini takdir yang harus diterimanya.
Rumah terlihat sangat sepi. Perlahan ia membuka pintu dengan kunci cadangan. Namun belum juga ia memasukkan kunci dengan sempurna, pintu sudah terbuka sendiri karena tersenggol tangannya. Itu berarti tidak dikunci yang menandakan di rumah ada orang.
Saat kaki melangkah masuk, Diana memindai seluruh ruangan. Sepi. Semua kamar juga tertutup. Sepertinya semua orang sengaja menghindarinya. Lagi-lagi hatinya koyak menyadari ia sendirian di rumah ini. Tak ada satu pun yang percaya pada pengakuannya. Mereka hanya percaya pada apa yang dilihat tanpa mau mencari tahu kebenarannya.
Menyadari tak akan ada yang peduli padanya, ia naik ke lantai dua menuju kamarnya. Namun baru dua anak tangga yang dilewati, kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri. Pandangannya memburam, lalu semuanya gelap.