Cinta Tertinggal

Tengah malam

"Biarkan dia pergi. Cukup tanya dan awasi, nggak perlu ekstrim meskipun penampilan Mbaknya sederhana," kata satpam berkulit sawo matang sambil tersenyum ke arahku.

 

Aku pun mengangguk setuju. Berkatnya, aku diizinkan memasuki kawasan ruko elite itu sekaligus ditunjukkan arah. 

 

"Makasih, Pak, makasih." Aku menganggukkan kepala beberapa kali padanya sebelum pamit pergi.

 

Beberapa menit berjalan kaki, aku akhirnya tiba di muka restoran cepat saji yang lumayan besar. 

 

Meski tidak dikasari satpam seperti tadi, tapi aku diminta menunggu duduk di kursi sebelah petugas keamanan ini.

 

Beberapa kali kutanya kapan bisa menemui HRD, jawaban satpam berbelit-belit. Sampai akhirnya aku bolak balik izin salat dan makan, tak jua dipertemukan dengan si pemberi kartu nama.

 

Perut melilit, ngantuk, jenuh, pegal karena duduk terlalu lama membuatku kesal. Aku mengunyah roti sebagai makan siang sambil menggerutu.

 

"Masih lama, Pak?" tanyaku berulang entah yang keberapa. 

 

"Nggak tahu. Tunggu saja ... sabar itu juga bagian dari latihan ngadepin customer," katanya sambil melirik padaku.

 

"Saya biasa ngadepin customer, Pak. Jangan kuatir, apalagi yang modelan ngerjain," sambarku tak ragu seraya menatap datar wajahnya.

 

Apakah mencari kerja di kota besar seperti ini? Dipersulit dari level bawah sekalipun? Pikirku kala mendapati hari mulai berangsur gelap.

 

Setelah salat Maghrib kepalaku terasa pusing, perutku melilit lagi karena belum makan. Ternyata aku menunggu sampai resto ini nyaris tutup.

 

Ingin pulang ke tempat Diah, tapi menunggu badanku kuat untuk berjalan ke depan ruko sana. Namun, rupanya perjuanganku dari pagi tak sia-sia.

 

Akhirnya aku melihat sosok pria kemarin malam berjalan masuk ke resto. Senyumku terbit, dengan sekuat tenaga aku berseru memanggilnya.

 

"P-paak!" 

 

Lelaki itupun menoleh. "Loh, kamu?" katanya sambil menunjuk dan menghampiriku.

 

Aku gegas berdiri meski pandangan mulai berkunang-kunang. "Harusnya Bapak bilang kemarin ... datang malam saja. Jadi saya nggak ...."

 

Tiba-tiba semua menjadi gelap. Bruk! 

 

Sekilas teriakan terkejut terdengar. Tapi aku tak lagi sanggup membuka mata. Entahlah, aku pasrah.

 

Entah sudah berapa lama aku pingsan. Mungkin juga tubuhku lelah sehingga momen tadi sekaligus menjadi ajang istirahat bagi seluruh organ vitalku.

 

Iris mataku memicing saat mencoba membuka netra, beberapa kali mengerjap kala bertabrakan dengan cahaya sorot lampu di atasku. 

 

"Sudah mendingan?" tanya seseorang, terdengar dari sampingku. 

 

Aku mengangguk meski belum menoleh padanya. "Mendingan, makasih." 

 

"Ini kantorku. Kukira kamu nggak jadi datang atau nyasar," katanya lagi. Terdengar pelan tapi lembut, seolah jaraknya sangat dekat denganku. 

 

"Saya datang sejak pagi, dicurigai pencuri kartu nama di gate depan. Disuruh menunggu dengan sabar oleh satpam. Harusnya kalau niat ngundang orang 'kan diperhatikan ... ini kok malah dikerjai." Aku mulai berani mengoceh, mengeluarkan unek-unek.

 

"Ya emang saya butuh kerja. Mungkin saat itu saya terlihat mengemis pada Anda. Tapi, apapun alasannya ... jangan begini," cecarku meluapkan emosi dan kembali memejam.

 

Rasa kesal, lapar, kecewa dan diremehkan akhirnya menciptakan butiran bening di ekor mata. Terasa panas ketika luruh di pipi kiriku.

 

Hening!

 

Samar terdengar bisik-bisik yang tidak bisa kutangkap jelas. Tak lama kemudian, seseorang menyentuh lenganku. 

 

"Bukan mahram!" Tepisku enggan disentuh tiba-tiba.

 

"Saya dokter Amaya, Nona?" 

 

Aku yang masih terpejam, mendadak membuka mata sedikit. Tampak wanita ayu dalam balutan jas putih tersenyum padaku. 

 

"Cek kesehatan dulu, ya," katanya ramah saat kuangguki ucapannya.

 

Beberapa menit, sunyi.

 

"Dia dehidrasi dan belum makan, Ri. Kelelahan juga sebab otot leher dan bahunya menegang," beber dokter Amaya melirik padaku lalu beralih pandang ke seseorang.

 

"Kamu bisa duduk?" tanyanya dan kujawab dengan anggukan.

 

"Makan dulu lalu kita bicara lagi," sambung pria itu sebelum pergi membiarkanku di ruangannya. 

 

Dokter Amaya membantuku bangun dan duduk. Ternyata aku berbaring di sofa. Dia lalu menunjuk ke arah meja sebelum ikut keluar ruangan.

 

Satu porsi ayam krispi dengan wangi menggoda, dilengkapi air mineral dingin serta krim sup yang masih mengepul, membuatku berbinar. 

 

Kupaksakan tangan menjangkau makanan ini. Kusuapkan perlahan dengan jemari bergetar. 

 

'Ibu, akhirnya aku bisa makan di restoran ayam.' Air mataku menetes sambil mengunyah perlahan. "Tapi aku terlihat payah, seolah mengemis sampai makanan ini Tuhan hadirkan ... apa memang harus seperti ini, orang miskin macam kita menikmati mewahnya rezeki?" 

 

Aku termenung memandang hidangan dan membiarkan tetesan air mata jatuh ke lantai. Akan kujadikan ini sebagai tangisan terakhirku. 

 

"Arina harus kuat! Demi ibu ... Tuhan, lihat aku. Masih sanggupkah bahuku memikul ujianmu?"

 

"Akan kucari jawaban mengapa Engkau membuat ibuku gila ... kata-Mu takkan membebani seseorang melebihi kapasitasnya ... tapi kenapa? Kenapa Kau timpakan ujian tak berkesudahan pada kami?" gumamku sambil menyeka ingus. 

 

Kutelan paksa makanan meski terasa mengganjal di tenggorokan. Aku menenangkan diri, bahwa ini rezeki yang Tuhan datangkan. 

 

'Aku tidak mengemis. Aku bukan meminta belas kasihan,' batinku terus berkecamuk.

 

Kutenangkan diri setelah separuh makanan itu masuk ke lambung. Dan bangkit keluar ruangan mencari toilet untuk membersihkan diri.

 

Aku memilih berdiri bersandar di dinding luar kantor, menunggu mereka masuk. Tak lama, pria berkacamata itu kembali mengajakku ke dalam.

 

"Siapa namamu?" tanyanya saat membuka pintu dan memintaku duduk.

 

"Arina Hazkia Maisy, Pak," kataku pelan sambil duduk. 

 

"Kamu bawa CV-nya?" sambungnya sambil menyodorkan tangan meminga berkasku.

 

Aku mengeluarkan semua dokumen yang kubawa dari kampung lalu menyerahkan ke mejanya.

 

Dahi pria ini mengerut saat memilah kertas-kertas itu. Dia lalu bertanya padaku, "Ijazahnya nggak ada?" 

 

Aku menunduk lalu menjawab pelan. "Saya banyak tunggakan, Pak, sehingga ijazah ditahan ... hanya diberikan surat keterangan lulus sementara," cicitku. 

 

Kujeda beberapa saat, kuatir dia akan menyanggah ucapanku. Tapi ternyata dia tampak menungguku melanjutkan cerita.

 

"Makanya saya nekat cari kerja ... tadinya gantiin ibu jadi buruh cuci, tapi biaya pengobatan beliau butuh banyak uang," jelasku masih menunduk.

 

"Ibumu sakit?" 

 

"Iya."

 

"Sakit apa, dimana?" ujarnya lagi masih menatapku.

 

"Di Bandung. Saya titipkan beliau ke tetangga, Pak. Sakit ... ehm, maaf Pak saya--" tuturku makin pelan sambil memainkan jemari sebab bingung harus jujur atau menahan diri.

 

"Oke oke ... nggak apa kalau itu terlalu privasi. Jadi, kamu ingin kerjaan yang seperti apa?" 

 

Aku memberanikan diri mengangkat wajah menatap pria ini. "Apa saja, jadi tukang cuci atau office girl ... saya mau," ucapku mantap dengan sorot mata berbinar.

 

Pria itu menurunkan pandangan sambil merapikan semua berkasku dan menyimpannya. Dia lalu bangun memanggil seseorang.

 

Rupanya toko telah lama tutup. Hanya tersisa satpam dan seorang pria yang tengah lembur, mereka lalu masuk ke ruangan.

 

"Ini Arina, staff cleaning service yang baru ... malam ini saya izinkan dia tidur di floor bawah," ujarnya melihat ke arah dua pria itu lalu melirikku. 

 

Aku mengangguk pada mereka sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. 

 

"Oke, Bos!" kata mereka serempak lalu tersenyum ke arahku.

 

"Arina, pulang kerja esok kamu bisa cari kos di sekitar sini. Saya harap kamu tidak menyiakan kesempatan ini," pungkasnya melihat ke arahku. 

 

Mataku mengilat cerah, aku diterima kerja di sini. "Siap, Pak. Alhamdulillah ... terima kasih, Pak. Terima kasih," jawabku penuh semangat. 

 

Dia hanya tersenyum, lalu melenggang pergi setelah pamit padaku dan stafnya.

 

Aku lalu diantar ke lantai bawah dan diminta memilih tempat tidur di bangku resto yang memiliki bantalan empuk.

 

"Tidur sebisanya. Hati-hati," kata staf pria itu sambil menunjuk ke pakaianku. 

 

'Oh, iya. Pakai jaket dan semua harus tertutup.' Aku pun mengangguk dan mengacungkan jempol padanya. "Oke."

 

Kupilih kursi di bagian sudut agar aman dan mulai bersiap tidur. "Pukul 00.00 aku diterima kerja," gumamku sembari menulis dicatatan ponsel. 

 

Tiba-tiba, satu pesan kembali masuk. Kalimat awalnya membuat penasaran tapi mataku mulai terasa perih saat akan membacanya.

 

.

 

 

.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!