Cinta Tertinggal
Kunjungan Nenek Atin
“By?” Elvan mengulang panggilan itu pelan, sorot matanya berpindah dari aku ke Syaban.
Aku melangkah mundur, jantungku berdebar. Syaban berdiri tegap, tenang tapi berwibawa.
“Pak Elvan,” ujarnya, suaranya datar tapi tegas, “ada hal yang perlu kita bicarakan. Empat mata.”
Elvan menatapku sekali lagi, seolah mencari petunjuk. Tapi aku hanya mengangguk, memberi isyarat agar mereka bicara dan aku ingin situasi ini selesai.
Syaban meminta izin menggunakan ruangan kecil di sudut sekretariat. Aku duduk di kursi panjang di luar, berusaha menenangkan diri.
Dari luar ruangan, samar-samar aku masih bisa mendengar pembicaraan mereka.
Elvan lebih dulu bersuara, “Saya cuma ingin minta maaf pada Arina.”
“Permintaan maaf diterima,” jawab Syaban singkat. “Tapi kehadiran Anda sekarang justru membuatnya tidak tenang. Kalau benar peduli, beri dia ruang untuk melanjutkan hidup.”
“Tapi saya masih mencintainya,” suara Elvan nyaris tak terdengar.
“Cinta bukan alasan untuk menahan seseorang,” balas Syaban, tetap lembut tapi tegas. “Kita harus tahu kapan berhenti.”
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Elvan keluar dengan wajah lesu, menatapku sekilas sebelum pergi tanpa sepatah kata.
Syaban muncul beberapa detik kemudian. “Sudah selesai,” katanya singkat.
“Apa yang Bapak bilang ke dia?” tanyaku penasaran.
“Hanya yang perlu didengar,” ujarnya, menatapku dalam. “Sekarang kamu bisa tenang.”
Aku mengangguk, merasakan lega sekaligus haru. “Terima kasih,” bisikku.
Dia tersenyum tipis. “Aku di sini, By. Selalu.”
Kata-katanya membuat dadaku bergetar, seperti beban berat yang perlahan terangkat.
Setelah kejadian itu, hubungan kami semakin dekat. Aku mulai merasa yakin bahwa Syaban adalah pria yang tepat untukku. Dia tidak hanya melindungi, tetapi juga selalu memastikan aku merasa dihargai.
***
Sore itu, Nenek Atin datang berkunjung ke rumah kami. Sendirian tanpa Syaban. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah dan udara dingin yang menenangkan.
Seperti yang telah direncanakan, keluarga kami bertemu. Ibuku terlihat sangat bahagia, bahkan tak henti-hentinya memuji Syaban di hadapan nenek Atin.
Aku menyiapkan teh hangat dan kue, lalu duduk berhadapan dengan Nenek Atin di ruang tamu sederhana.
“Maisy kelihatan makin kalem sekarang,” ujar Nenek Atin membuka percakapan, matanya teduh menatap uap teh.
Ibuku mengangguk. “Mungkin karena ada Ari. Dia itu sabar banget ngadepin Maisy,” ujarnya pelan melirik putrinya yang menunduk malu.
Nenek Atin tersenyum. “Memang harusnya begitu. Waktu datang ke kamar, dia bilang niatnya bukan main-main. Dia mau melamar Maisy dengan cara yang baik.”
Ibuku terdiam sejenak, lalu menatap foto lama keluarga kami di dinding. “Maisy belum cerita banyak, tapi saya bisa melihat bahwa hatinya mulai condong pada Ari.”
“Semoga mereka cocok,” kata Nenek Atin lembut. “Dan bisa saling belajar memahami.”
Ibuku menghela napas. “Kalau memang Ari yang bisa membuatnya senang, saya tidak akan menghalangi. Asal ia bisa menjaga Maisy, bukan sekadar mencintai.”
Nenek Atin tersenyum lega. “InsyaAllah. Cucuku itu tahu tanggung jawab. Dan saya percaya, restu dari seorang ibu akan membuat langkah mereka lebih mudah.”
Keduanya terdiam, membiarkan suara hujan kecil di luar menjadi musik penutup pembicaraan mereka.
Dalam diam, keduanya sama-sama tahu, cinta yang lahir dari ketulusan tak butuh banyak janji, hanya keberanian untuk maju.
Sejak hari itu, hubungan kami semakin dekat. Ia bukan hanya melindungi, tapi juga selalu tahu cara membuatku merasa aman.
Beberapa hari kemudian, aku menghadiri acara komunitas pecinta kucing yang dulu ia kenalkan. Saat sedang duduk di taman kecil, seseorang menyapaku.
“Arina?”
Aku menoleh. “Andi?”
Dia tersenyum. “Masih nggak nyangka ketemu kamu. Kayaknya lagi bahagia, ya?”
Aku tersenyum kecil. “Alhamdulillah.”
Tatapannya sempat turun ke cincin di jariku. “Pinangan?”
Aku hanya mengangguk malu.
“Selamat, Rin,” katanya tulus, meski aku menangkap sorot lain di matanya.
Tak lama, suara familiar memanggil namaku. Aku menoleh, melihat Syaban berjalan ke arah kami.
“Pak?” panggilku kaget, setengah lega.
Andi menyapa sopan, tapi Syaban hanya membalas dengan anggukan singkat.
“Kalau begitu, kita lanjut jalan-jalan ya, By,” katanya lembut, meski nadanya terdengar sedikit kaku.
Begitu Azka berlalu, aku terkekeh pelan. “Pak, itu cuma teman lama.”
“Aku tahu,” jawabnya cepat. “Tapi tetap saja.”
Aku menatapnya geli. “Cemburu, ya?”
Dia pura-pura sibuk membetulkan kemejanya. “Nggak. Cuma ... memastikan.”
Aku menahan senyum. “Pak Syaban, nggak semua pria yang nyapa aku punya niat tersembunyi, tahu.”
Dia mendengus pelan, lalu akhirnya ikut tersenyum. “Ya sudah. Tapi tetap, aku pengen kamu hati-hati.”
Sore itu berakhir dengan tawa ringan. Di antara godaan kecil dan keheningan singkat, aku sadar, bahwa benar-benar mulai nyaman dengannya.
Dalam perjalanan pulang, ia menatap jalan, tapi sesekali melirikku dari sudut mata.
“Apa sih?” tanyaku geli.
“Harus banget ya manggil aku ‘Pak’ terus?” gumamnya pelan.
Aku tertawa kecil. “Emang mau dipanggil apa?”
“Terserah kamu,” ujarnya, menahan senyum.
Aku berpura-pura berpikir. “Kalau gitu ... A Fian?”
Syaban spontan menoleh. “Apa?”
Aku tertawa, sambil berucap, “Lucu.”
Dari depan, Arman ikut terkekeh. “Wah, cocok tuh, Bos. Kedengerannya manis meski seperti merk cat.”
Syaban melotot. “Kamu ikut-ikutan, Man?”
Aku menatap Syaban yang berusaha menyembunyikan wajah memerahnya. Aku tak dapat menahan tawa saat melihatnya malu.
“Ya sudah, panggil gitu kalau cuma berdua aja.” Dia mendesah pasrah. “Terserah kamu, By.”
Dia balik menatapku intens, dengan senyum tipisnya. Bulu matanya yang sedikit lentik, membuatku gemas, tapi pandangan mengunci Syaban sukses membuatku kikuk.
Aku menunduk, menggigit bibir bawah. Dia malah tertawa, sambil mengacak rambutku. Syaban merasa menang karena aku tersipu.
Malam itu, sebelum tidur, aku masih tersenyum kecil mengingat tingkahnya. Siapa sangka pria setegas itu bisa terlihat begitu lucu?
Tapi senyumku perlahan hilang ketika satu pesan masuk ke ponsel.
["Arina, aku butuh bicara. Kumohon, jangan pergi dulu."]
Aku terdiam. Nama pengirimnya membuat dadaku menegang.
Elvan.
Tanganku gemetar memegang layar. Tapi sebelum sempat berpikir lebih jauh, terdengar ketukan pelan di pintu.
“Rin?”
.
.