Cinta Tertinggal
Ternyata, Dia!
"Maaf," cicitku menunduk sembari mengusap dahi karena terantuk dada Syaban.
"Rin, mereka kudunya ke psikolog. Bukan mendatangimu," tutur Syaban pelan.
Aku mendongak diikuti alis yang nyaris bertaut. "Psikolog?"
Syaban mengangguk lalu pergi meninggalkanku begitu saja. "Jangan dipikirkan, cukup tinggalkan."
Huft!
"Gimana mau ninggalin kalau pas pasang story, ada notif ~menyukai cerita anda," keluhku samar sambil melenggang pergi menuju meja kerja.
Siang itu, Syaban menggelar rapat dengan para staf PR untuk membahas agenda dinas luar hingga akhir tahun nanti.
Aku sempat tidak fokus dan Arman menendang ujung sepatuku dari bawah meja, beberapa kali. Membuat diri ini tersentak dan kembali menyimak penuturan Syaban.
Dua pekan tak mengunjungi ibu, tiba-tiba aku mendapat laporan dari Mbak Lastri. Aku menerima panggilan beliau saat jam istirahat.
"Rin, ibumu sekarang belajar ngaji lagi," ujarnya dari seberang sana.
Aku semringah. Dengan semangat berkata, "Sejak kapan, Mbak?" tanyaku.
"Sehari setelah keributan itu. Mbak tanya ke suster, kok tiba-tiba ada guru ngaji," sambungnya.
"Terus?"
"Seseorang mengirimkan ustadzah khusus untuk ibumu. Ketika mbak tanya ke ibu, beliau menjawab itu atas saran temannya," beber tetanggaku itu.
Aku yang sedang duduk di kantin, langsung menegakkan punggung karena terheran dengan pernyataan tadi. "Saran teman? Teman yang mana?" cecarku.
Mbak Lastri berdecak. "Ck, itu loh ... temen yang suka ngirim surat biru langit," balasnya pelan. "Kamu masih belum tahu identitasnya?" selidik beliau padaku.
"Belum. Coba tanya suster atau ustadzahnya ... kalau nggak mau buka identitas si pengirim, aku melarang mereka berbuat semaunya pada ibuku," tegasku sampai telunjuk mengetuk di atas meja kantin.
"Tapi ini demi kebaikan ibumu, Rin. Dokter Niara bilang, justru dengan mengaji emosi beliau lebih terkontrol dan sangat tenang," jelas mbak Lastri. "Kapan ke sini? Dokter mau ketemu kamu, Rin!"
Huft!
Benar juga, sebaik-baiknya obat adalah mendekat pada Tuhan. Dan dzikir adalah penenang hati, pembasuh jiwa.
Akhirnya lagi-lagi aku mengalah, membiarkan seseorang yang misterius itu masuk ke kehidupan kami.
Merasa tak bisa mencari tahu tentangnya, aku langsung kesal. Apalagi ibu sangat bahagia bila membicarakan sosok asing itu, membuatku iri.
"Aku ke sana akhir bulan ini, sekalian dinas luar kota, Mbak," jawabku sebelum mbak Lastri mengakhiri panggilan kami.
Sesampai di kosan, entah mengapa aku langsung menghitung semua pengeluaran kami, pemasukan juga utangku pada Syaban.
Kosan luxury selama setahun, waktu di tempat yang lama, aku mencicilnya. Sementara ini? Entahlah, semoga jumlahnya masih terjangkau olehku.
Keinginanku tak banyak, berharap hidup tenang dan berkecukupan. Bisa membahagiakan orang tua satu-satunya. Aku lantas memberanikan diri mengirim pesan pada ibu kos.
"Ya Tuhan, biaya sewa kosan sebulan ternyata nyaris 50% dari gajiku," lirihku ketika membaca pesan masuk dari si pemilik kos.
Kepalaku langsung berdenyut nyeri, itu artinya bonus tahunan nanti akan habis untuk melunasi utang ke Syaban.
"Lah, padahal rencananya buat modal usaha," keluhku lemas sambil menopang kepala dengan tangan.
***
Pagi-pagi sekali aku berangkat sendirian ke Bandung, tanpa Sila karena pergi diam-diam.
Sesampainya di sana, aku berjumpa dengan ustadzah Khayumi. Beliau mengatakan bahwa ibu sangat bersemangat bila diminta hafalan surat pendek. Kini, setiap pagi dan petang ibu juga rutin dzikir sehingga kondisi jiwanya jauh lebih tenang.
Aku semringah, apalagi ketika dokter Niara menyarankan agar ibu mulai berinteraksi dengan keluarga kembali.
Dokter mengizinkan bila ibu dibawa pulang. Beliau mengatakan agar ibuku memiliki kegiatan positif selain belajar mengaji ketika kembali ke lingkungan normal.
"Baik, Dok!" ucapku semangat sampai senyumku mengembang sempurna.
Satu jam kemudian, aku baru bisa bertemu ibu. Kuhampiri beliau yang sedang duduk di kursi taman.
Wajahnya cerah, senyum ibu terbit ketika melihatku mendekat. Lengan yang mulai keriput itu pun terentang menyambutku.
"Ibuuuuu!" seruku parau, sebab haru menusuk dada.
"Maisy!" balasnya membuat netra ini langsung mengabut.
Grep! Aku memeluk ibu.
Tubuh kami melekat erat, kugoyangkan pelan saking bahagianya.
Rasa lelah, sesak, sendirian mengadu nasib di Jakarta, musnah sudah karena bisa seperti ini dengan ibu.
"Ikut aku pulang ke Jakarta ya, Bu," bisikku masih memeluknya.
Anggukan ibu terasa di bahuku, membuatku yang membungkuk masih memeluk ibu, berjingkrak senang. "Asiikk!"
"Kapan?" tanya beliau saat kuurai dekapan.
Aku duduk di sebelahnya, kurangkul bahu ibu sambil menempelkan kepala kami.
"Kalau ibu mau sekarang, ayok. Hari ini kita pindah," kataku bersemangat.
Tapi tiba-tiba, suara ibu terdengar murung. "Nggak bisa ditunda, ya?" ujarnya sendu.
Kulepas dekapan dan menangkup wajah ibu agar melihatku. "Ada apa? Ibu nunggu siapa?" selidikku.
"Pengen liat rumah, Rin. Ke makam ayah dan Ari dulu juga ibu nunggu ~dia," jelasnya padaku dengan sorot mata memohon.
Kutelisik iris mata ibu, sekedar memastikan bahwa ini adalah keinginannya yang terpendam.
Kepalaku mengangguk. "Boleh ... cuma, dia ini siapa? Ibu tahu kapan dia akan datang?" ulangku agar semakin yakin memboyong ibu pindah.
Beliau menggeleng pelan. "Nggak tahu, katanya sekarang-sekarang ini," cicitnya cemas sebab bola mata ibu bergerak ke kanan-kiri dengan cepat.
Kutenangkan beliau dengan mengatakan bahwa jika 'dia' mencari ibu, suster akan mengatakan bahwa ibu sudah bersamaku. Staf akan menghubungiku dan mempertemukan ibu dengannya.
Senyum ibu terbit lagi, anggukan tegas pun kudapat, membuat hati ini melambung bahagia. Kemudian aku menghubungi mbak Lastri agar membantu berkemas.
Tepat siang hari, aku berhasil membawa ibu pulang dan langsung menuju pemakaman umum di desa kami.
Tanah merah gersang itu kini basah oleh air mata kami. Kerinduan pada ayah dan Ari tumpah ruah di sana.
Satu jam kami habiskan melepas ikhlas terberat untuk orang terkasih. Setelah itu, aku membonceng ibu dengan sepeda ontel yang biasa kupakai sekolah dulu.
Rumah sederhana bertegel usang, kusen pintu dan jendela pun sudah keropos dimakan rayap menyambut kedatangan kami.
"Kangen." Meski bolak balik Bandung Jakarta, aku tak pernah pulang ke rumah.
Kami sama-sama menyentuh semua perabotan yang tertata rapi dan bersih. Rupanya mbak Lastri merawat rumah ini dengan baik, terbukti tak ada debu yang menempel di sana.
"Istirahat, besok pagi kalian berangkat," ucap mbak Lastri yang muncul dari dapur membawa teh panas dan singkong kukus, asapnya bahkan masih mengepul membuat perutku bergejolak.
Kami mengobrol ringan di ruang tamu kala sebuah suara terdengar dari teras.
"Assalamualaikum."
Deg!
Suara ini, suara ... Aku yang sedang duduk di lantai, buru-buru bangkit. Namun, gerakanku ternyata kalah gesit dengan ibu.
"Suara ini!" pekik ibu tergopoh keluar ruangan.
"Wa alaikumussalaam," jawabku lirih saat menyusul ibu.
Kulihat ibu terpaku, tangannya bergetar halus menutupi mulut. Terlebih ketika sosok itu menghampiri beliau.
Entah mengapa, air mataku menetes. Kudekap mbak Lastri yang tampak bingung melihat ini semua.
Ibu mendekap erat raga itu, meluapkan tangisnya di bahu tegap sosok yang juga memeluknya erat.
"Ini beneran kamu, Nak?" eja ibu tersenggal dalam dekapannya.
Dia mengangguk. "Iya, ini aku, Bu ... putramu." Tangis ibu kian kencang, akupun tertunduk haru.
.
.