Cinta Tertinggal

Another Ari

Flashback.

 

Pria itu berdiri di depan pintu rumah kecil kami di pinggiran kota ini. Tampak menahan napas, mungkin hatinya berdebar-debar, seakan-akan bersiap untuk menghadapi sesuatu yang telah lama dia tunggu.

 

Aku berdiri menyandari kusen pintu, cemas, takut beliau menolak sambutan ibu. Seorang wanita desa dengan kerutan di wajah yang menunjukkan beratnya kehidupan.

 

"Bu…,” ucapnya dengan suara bergetar, nyaris berbisik, "Putramu datang."

 

Mungkin ini pertama kalinya mereka bertemu. Ibuku terdiam, menatapnya dengan tatapan tak percaya. Sosok ini—pria tinggi dengan setelan casual, nampak begitu akrab dalam ingatannya.

 

Air mata mulai membasahi pipi ibu saat perlahan menyadari, meskipun dalam keterkejutan yang mendalam. Ibu telah merasakan kehadiran sosok yang tak terlihat selama ini, sosok yang diam-diam selalu memberinya semangat.

 

Aku terhenyak mendengar kalimat putramu dari bibirnya. Apalagi mbak Lastri, dia malah melirikku dengan ekor matanya.

 

Ibu masih memeluk, seakan takut kehilangan. Bahkan ketika dekapan itu terurai, tangan keriput ibu menelusuri wajah pria di hadapannya.

 

"Ari," ucapnya berbinar. 

 

"Iya, Bu. Panggil aku Ari," balas pria dengan setelan casual itu, ketika mencium kening ibuku.

 

“Jadi, Bapak yang selama ini diam-diam mengirimi ibu surat?” kataku dengan suara bergetar penuh emosi.

 

Syaban mengangguk pelan, berusaha menahan emosiku yang hampir meluap. “Iya, Rin. Aku sengaja tidak ingin kalian tahu dulu, karena … ingin memberikan kejutan ini langsung, saat ibu siap. Dan sekarang, aku ingin Ibu pindah ke Jakarta, tinggal dengan nyaman di sana bersamamu,” beber sang COO panjang.

 

Ibu tertegun, matanya tak lepas dari wajah lelaki yang kini menjelma di hadapan. Beliau belum tahu bahwa Syaban adalah atasanku.

 

"Bapak nggak berhak masuk begitu saja ke keluargaku." Aku menatap tajam Syaban, rasanya seperti ditikung, karena ibu tampak sangat sayang padanya.

 

"Aku tahu kesalahanku ... untuk itulah aku datang hari ini, jelasin semua ke kamu, Rin!" balasnya masih dengan nada pelan.

 

Aku masih sengit dengannya. "Seenak-enaknya saja. Mentang-mentang punya uang!" sindirku sinis dan hanya ditanggapi helaan napas Syaban.

 

"Maaf. Maaf. Maafin aku, Rin."

 

Melihat ketulusan dan pengharapan di mata Syaban, ibuku tiba-tiba mengangguk. Dengan pelukan hangat, mereka menyegel kesepakatan tak terucap.

 

Mbak Lastri lantas menyilakan Syaban masuk, sekaligus memulai obrolan tentang perjalanan ke ibu kota.

 

***

 

Beberapa minggu kemudian, di kosan mewahku di Jakarta, suasana mulai berubah.

 

Kehadiran ibu ternyata membuat perhatianku pecah. Seringkali kudapati ibu tidur di sofa, ruangan berantakan, bahkan terkadang sisa makanan tercecer.

 

Aku tak mengeluh, hanya saja jika sedang lelah, kesabaranku setipis tisu. Mungkin ibu kesepian sehingga emosinya mudah meletup-letup. Rasa rindu pada kampung halaman dan kehangatan masa di panti semakin menekannya, membuat ibu dan aku mudah tersulut oleh hal-hal kecil. Suara tangis dan keluhan yang beliau lontarkan, tanpa sadar mulai mengganggu penghuni lain.

 

“Mbak Arin,” tegur pemilik kos suatu pagi, menghampiriku yang baru saja turun dari tangga.

 

"Ya?" jawabku singkat.

 

“Ibunya kenapa sih? ... kok sering ribut sendiri. Kadang teriak di lorong dan loteng nyari kamu. Tolong, ya, ini sudah mulai mengganggu penghuni lain!" ucapnya dengan wajah tegas.

 

Aku menelan ludah, tertunduk sejenak mendengar teguran itu. Hatiku bergolak antara tanggung jawab dan ketidakberdayaan.

 

Ibu memang kesepian dan rapuh di lingkungan baru ini. Meskipun sesekali Eka dan Diah datang menemani, tapi ibu belum merasa nyaman dengan keduanya.

 

Malamnya, Aku bercerita kepada Eka dan Diah tentang masalah ini, berharap mereka bisa membantu mencarikan solusi. Akhirnya, aku memutuskan akan menyewa suster untuk teman ibu, meski otakku berpikir dari mana membayar jasanya sebab gajiku sudah nyaris pas-pasan.

 

Esok paginya, tiba-tiba Sila datang dengan seorang suster. 

 

"Loh, Kak?" kataku terkejut, langsung berpikir mungkin kedua temanku mengadu pada Syaban. Tapi, mereka tidak punya kontaknya.

 

"Kak, aku mampu mengatasi ini sendiri!" cecarku tak ingin malu di hadapan Syaban nanti.

 

Sila diam saja. Dia sibuk mewanti suster agar merawat dan menghibur ibu. Tak sampai di situ, seorang wanita berpakaian juru masak datang ke unit ku. 

 

"Ibu, nanti belajar masak dengan chef Mya, ya. Bebas request menu apa yang ibu mau," kata Sila pada ibu. 

 

"Oke oke!" jawab ibu semringah.

 

Asisten nyonya Atin itu sama sekali tidak menggubris ku. Dia malah memintaku untuk segera ke kantor.

 

Kehadiran suster dan guru les masak ini memberi perubahan besar, mengembalikan ketenangan di lingkungan kosku.

 

Aku lega. Kupaksakan memanggil guru ngaji agar hafalan ibu tidak hilang, meski gajiku bakal tak bersisa lagi.

 

Suatu sore, saat mentari mulai terbenam dan sinarnya menyentuh lembut jendela kaca gedung kantor. Syaban mengajakku bicara di ruangannya.

 

Dia duduk menatapku dalam-dalam, seakan ingin menyampaikan sesuatu yang telah lama dipendam. Aku balas memandang dengan penuh tanda tanya, menunggu apa yang akan dikatakan pria di depanku.

 

Huft! Syaban menghela napas sambil melonggarkan dasinya. 

 

“Rin … aku ...."

 

"Kenapa, Pak?" 

 

Lelaki itu tersenyum lalu menunduk sejenak sebelum kembali melihatku. "Aku ingin kamu terus berada di sisiku, tidak hanya sebagai staf ... tapi nyonya Fiansyah,” kata Syaban, suaranya lembut tapi penuh ketegasan.

 

Glek!

 

Aku tertegun, mata ini membelalak sejenak, sebelum akhirnya tertunduk.

 

"Mana pantas, Pak."

 

"Lebih dari pantas," lirih Syaban. 

 

Kulirik dari ekor mataku, lelaki itu masih memandangku lekat. 

 

"Aku masih sayang dia ... Maaf!" cicitku, tak tahu harus berkata apa. Hanya kalimat itu yang melintas di otak. 

 

Syaban membuang napas, dia lalu berdiri dan melangkah menuju jendela. "Aku sabar, kok."

 

Aku kian bingung, kuputuskan keluar ruangan beliau sembari berujar, "Maaf, jangan menungguku."

 

Kupikir Syaban hanya kasihan padaku. Kebersamaan yang selama ini tumbuh di antara ketulusan dan pengertian, tak mungkin bila itu cinta.

 

Malamnya. Di kamar, aku duduk diam menatap jendela, mendengar gemuruh kendaraan di luar kosan. Pikiran melayang jauh, kembali ke momen lamaran Syaban yang masih menghantui benak.

 

Lamaran seperti itu adalah bukti ketulusan yang lama kurindukan. Namun, bukan darinya. Entah mengapa, aku tidak bisa langsung menerima. Hati ini dipenuhi pertanyaan, bimbang apakah ketertarikanku pada Syaban dinamakan cinta atau bayang-bayang masa laluku bersama Elvan.

 

*

 

Suatu sore yang berangin, saat aku kembali dari tempat kerja, langkah ini terhenti di depan ruang tamu kosan.

 

Di sana, telah berdiri seorang wanita paruh baya dengan raut wajah penuh kebingungan. Itu adalah ibu Elvan, seseorang yang tidak pernah kusangka akan muncul di tempat ini.

 

Di depannya, ibu menatap tajam, berusaha menjaga jarak dari wanita itu. Kualihkan pandangan ke sisi kanan, tampak Afni sudah berkaca-kaca, penuh permohonan yang tampak meluap-luap.

 

Mereka lalu menoleh melihatku yang termangu di depan gerbang kos.

 

“Arina! Aku mohon…” Afni meraih tanganku, suaranya serak, hampir berbisik. "Kamu tahu betapa Elvan mencintaimu, kan?"

 

Aku menepis cekalannya. Semua kenangan bersama Elvan kembali terputar dalam benak—saat-saat bahagia kami, hingga akhirnya harus berpisah karena ketidaksetujuan kedua keluarga. Aku masih merasa bertanggung jawab, atas luka yang mungkin kutinggalkan pada Elvan.

 

Afni menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosi. "Elvan ... Elvan tidak bisa menjalani hidupnya dengan baik, Rin."

 

Aku terpaksa melihat wajah istri Elvan ini. "Bukan urusanku, pulanglah!" Kuhampiri ibu lalu meminta suster mengajaknya naik ke kamar.

 

"Ririn!" sebut Afni, membuatku urung melangkah. "Dia … dia tidak bisa... menjadi pria sejati, kecuali jika memikirkanmu. Kami sudah berusaha segalanya—berobat, mencoba terapi, tapi tidak ada yang berhasil. Kamu satu-satunya yang bisa menyelamatkan dia."

 

Kalimat itu seperti petir yang menyambar hatiku. Ingatan di hotel kembali muncul. Mungkinkah saat itu mereka? Memanfaatkanku?

 

Tak kusangka, luka yang tertinggal pada Elvan sedalam itu. Sejenak aku merasakan iba yang mendalam, disertai perasaan bersalah.

 

“Apa maksud kamu?” tanyaku.

 

Afni menunduk, suaranya bergetar. “Aku mohon … jadilah istri kedua Elvan. Tolong selamatkan dia, Rin. Bantu dia untuk bangkit kembali.”

 

Seketika, ibu berbalik arah dan menyela, melangkah maju dengan tatapan tajam, penuh amarah yang sudah lama terpendam. “Tidak! Cukup sudah anakku menderita karena ini! Kalian tidak boleh menyeret dia lagi dalam masalah kalian!” seru ibu.

 

"Kamu minta berapa, Rin? Dukun mana, jahat sekali kamu guna-guna Elvan!" pekik wanita bersanggul ini padaku.

 

"Pergi!" sentak ibu sambil dipegang suster. "Musyrik main dukun! Pergi!" Usir ibu dengan suara lantang membuat satpam meminta Afni dan ibu Elvan keluar dari area kosan.

 

Aku terdiam, antara rasa iba dan cinta yang entah kenapa masih ada untuk Elvan, meskipun hanya sebagai bayangan masa lalu yang tersimpan rapi.

 

Semua yang disampaikan Afni membuat hatiku kalut. Aku menyadari, di balik permintaan itu, ada kasih sayang seorang ibu yang ingin menyelamatkan putranya dari kehancuran. Namun, aku juga tahu bahwa keputusan ini akan mempengaruhi lebih dari sekadar diriku sendiri.

 

Malam ini, Aku menarik selimut sampai kepala. Memejamkan mata dengan pikiran yang berputar-putar. Hati kecilku masih ingin menolong Elvan, meski tahu itu akan menyakiti orang-orang di sekitarku.

 

Bayangan Syaban pun kembali muncul dalam benak, dengan senyum hangat yang selalu membuatku merasa aman. Aku lantas bertanya dalam hati, apakah diri ini bisa mencintai pria lain dengan tulus, saat masih ada luka yang tertinggal.

 

Huft!

 

 

.

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!