Cinta Tertinggal
Terbuang
"Terima fakta, dong! Dasar miskin!" seru seseorang, sambil menyenggol bahuku yang berdiri di sisi gerbang.
Bruk!
Tatapan mencibir dan lirikan hina dilayangkan teman-temanku. Hanya cengkeraman kuat di stang sepeda dan geraman kesal yang bisa kulakukan saat ini.
Ingin membalas makian mereka pun rasanya percuma. Ujungnya aku yang bakal disalahkan. Apalah daya si miskin, pikirku menegarkan hati.
Aku mengayuh sepeda mini warna merah menuju arah pulang. Sepanjang jalan, pikiranku kusut memikirkan bagaimana caranya mengambil ijazah itu.
Setidaknya jika ada ijazah, aku bisa melamar kerja sebagai buruh di pabrik jelly atau menjadi penjaga minimarket.
"Apa aku pinjam dari semua majikan ibu, ya?" gumamku sambil terus mengayuh. "Tapi, nggak mungkin mereka mau ngasih utang ... gajiku saja masih abu-abu."
Meskipun isi otakku bermacam-macam tapi ajaibnya aku sampai ke rumah dengan selamat tanpa nyasar.
Kusandarkan sepeda butut di samping rumah lalu masuk lewat pintu belakang.
"Assalamualaikum." Tidak ada sahutan membuatku mengintip ke kamar ibu, ternyata beliau masih tidur.
Aku langsung menuju kamar dan ganti baju. Tugas menyetrika hari ini menumpuk, lutut dan pinggang pasti pegal sehingga aku melilit perut kuat-kuat dengan kemben, sebagai penahan lapar.
Perut ini seringkali tak sopan, bersuara kruyuk-kruyuk jika sedang bekerja. Terkadang majikanku iba dan menyodorkan sepiring nasi berisi lauk ... lalu bercampur air mataku saat mengunyahnya.
Aku berjalan keluar rumah. Meraih lagi stang sepeda dan mulai menuntun keluar pagar rumah menuju komplek di seberang sungai. Hanya 15 menit jarak tempuh ke rumah pelanggan pertamaku.
Namun, kala baru tiba di sana dan duduk menggosok satu baju, kekuatan jamu yang diminum sejak pagi rupanya mulai terkikis. Aku mulai gemetaran karena terlalu lapar sehingga buru-buru izin keluar mencari warung.
Kubeli satu roti seharga dua ribu lalu kukunyah cepat. Sambil menyodorkan uang seribu karena aku butuh minum untuk mendorong makanan ini melewati tenggorokan.
"Ahhh, alhamdulillah," kekehku setelah minum. Tatapan mata ini lalu beradu dengan wajah cemas pemilik warung.
Dia menyodorkan satu roti lapis, gratis katanya, kutolak halus dan mengucapkan terima kasih atas kepeduliannya. Aku masih enggan dikasihani.
Kakiku mulai kuat dibawa berlari kembali ke rumah tadi. Pekerjaan pun segera kuselesaikan rumah demi rumah.
Menjelang Maghrib tersisa satu rumah lagi yang harus disambangi tapi kurasakan badanku agak menggigil. Kuputuskan pulang sebab rasanya tak kuat lagi.
Kutuntun sepedaku dan berjalan pelan memutari kompleks menuju pulang.
Bau wedang jahe ketika melewati angkringan sempat menggoyahkan imanku. Aku sempat berhenti di depan gerobak itu, tapi seketika tagihan utang terpampang di pelupuk mata.
Glek!
"Mau beli?" katanya bertanya padaku.
Aku menggeleng pelan sambil menelan ludah. "Enggak."
Langkah kakiku pendek-pendek karena menahan gemetar, hingga azan Maghrib terdengar, aku belum sampai di rumah.
Beberapa menit kemudian, kudorong pelan pagar bambu reot rumahku. Aku langsung menuntun sepedaku masuk dari pintu samping.
Tapi tiba-tiba.
Prang! Serpihan beling langsung berserakan sampai menyentuh ujung jari kakiku.
Netra sipitku membelakak melihat wajah ibu yang memerah. "Bu?"
"Keluar! Pergi!" seru ibu padaku sambil menunjuk tajam.
"Dia Arina ... Arina," ucap mbak Lastri membelaku dan berusaha menenangkan ibu. "Arina nggak salah. Arina nggak tahu apa-apa," imbuhnya lagi masih terus membujuk ibuku.
Perutku kembali melilit ketika kubuka ikatan kemben. Kuabaikan rasa menggigil di badan dan berjalan berjingkat mendekati ibu.
"Aku akan cari tahu, Bu. Akan kucari tahu," ulangku dengan sorot mata menegas menatap wajah senjanya.
Ibu menggeleng, beliau menangis sambil berusaha menyerangku.
Akhirnya tetangga kembali datang dan membantu menenangkan ibu. Aku dilarang mendekat. Memilih melangkah lunglai sampai terduduk di kursi ruang tamu.
Sudah lelah, masih harus menerima penolakan ibu.
"Biasanya balik bada isya, setelah ibu minum obat. Kenapa juga aku pulang sekarang ... kan percuma jadinya," kataku lirih, sambil meremas rambut dan menunduk.
Hiks. Lantai tegel yang kupijak mulai basah oleh tetesan air mata. Apalagi ketika mendengar saran dari beberapa tetangga yang meminta ibu di titipkan di panti rehabilitasi.
Kudengarkan ucapan-ucapan mereka tanpa mengangkat kepala. Hatiku sangat sakit bila memang jalan ini yang harus ditempuh.
Malam pun berangsur kian memekat. Hanya tersisa mbak Lastri saja di rumah. Janda beranak satu ini yang paling sering kurepoti.
Dia menyodorkan pinggan ke atas meja lalu mengusap lembut bahuku. "Makan dulu. Nanti kita bicara setelah kamu tenang," ujarnya sembari melangkah pergi.
Wanita baik hati itu lalu masuk ke kamar ibu. Dia tak keluar dari sana sampai aku memanggilnya pelan dari celah gorden yang menutupi lawang pintu.
"Kalau masih susah dikendalikan, baiknya ke panti, Rin. Mbak takut nyelakain kamu atau ibu sendiri," ujarnya seraya mengajak duduk berhadapan denganku di kursi depan.
"Tapi biayanya, Mbak?" ucapku menggigit bibir bawah. "Ijazahku saja belum sempat ditebus ... gimana?" cicitku mulai serak, tak kuasa menerima tatapan sayu mbak Lastri.
"Bisa pakai kartu ijo itu, loh. Mbak nanti bantu liat ke sana," balasnya sembari menepuk lembut lututku. "Kamu bisa konsentrasi cari kerja," imbuhnya lagi.
"Kalau ibu masuk panti, mending aku merantau saja gimana, Mbak?" tanyaku ragu dengan sorot mata cemas. "Di sini gajinya yo kejar-kejaran sama biaya ibu nanti. Buat Mbak Lastri nggak ada," kataku sambil menunduk malu.
"Nggak usah dipikirin, mbak ikhlas sebab ibumu dulu suka ngasuh anakku," sahutnya masih menatap lekat.
Aku tanpa sadar tersenyum lalu mengangguk. Rasanya bagai meneguk es, sejuk. Beliau juga berjanji akan menemani konsultasi ke dokter esok pagi sampai pengurusan dokumen ibu rampung.
"Kamu cantik kalau senyum, Rin. Jangan benci Tuhan, ya. Gusti Allah percaya sama bahumu ... sanggup mikul ini semua," tuturnya mulai serak, saat membelai pipiku yang sembab.
Aku lagi-lagi mengangguk meski ingin berontak dan protes pada Tuhan, mengapa Dia memilihku. Si miskin yang susah.
Atas saran Mbak Lastri, aku tidur di rumahnya dan beliau menemani ibu. Belum berpisah saja rasanya sudah pilu. Apalagi esok hari.
***
Tepat pukul tujuh. Kurapikan beberapa baju ibu dan memasukannya ke dalam tas ransel usang.
Kata mbak Lastri lebih baik berjaga langsung membawa perlengkapan ibu daripada harus bolak balik. Sayang ongkos dan waktu.
Aku mengusap permukaan baju-baju ibu sebelum menutup resletingnya. Air mataku menetes, pasti orang-orang akan mengatakan bahwa aku anak durhaka. Membuang ibunya ke panti.
Panggilan mbak Lastri membuatku kembali sadar. Kuseka wajah dan keluar kamar ibu menyusul mereka.
Kami pergi memakai ambulance desa. Dan sesampainya di sana, aku langsung menandatangani banyak dokumen.
Aku tak punya kesempatan memeluknya karena ibu menolakku. Akhirnya aku pasrah. Hanya bisa memandangi punggung ibu yang menjauh dipapah suster.
"Ibuuu!" cicitku. Bahu ini mulai bergetar, sorot mata ibu meredup, tak ada binar cahaya di sana membuatnya lupa padaku. "Buuu ...."
Tangis yang kutahan sejak tadi pecah. Bujukan manis dokter dan mbak Lastri menulikan telingaku.
"Buuuu ...." Aku mencoba berlari menyusul beliau, tapi tubuhku langsung didekap mbak Lastri dari belakang.
"Rin! Rin! ... sabar!"
Kakiku lunglai, aku jatuh bersama dengan mbak Lastri. Tak kupedulikan tatapan pengunjung pasien lain di sana. Aku tetap mencoba memanggil ibu. Paling tidak, masih ada harapan beliau bisa menoleh ke arahku.
Masih tersedu, kutarik napas sekuat tenaga memanggil beliau kala sosoknya mulai menghilang dari pandangan. "Ibuuuuuuuuuuuuu!!!!"
Sementara di tempat lain, waktu yang sama.
Seorang pria muda sedang menunggu di dep
an sebuah rumah. Dia berjalan mondar mandir, seolah menunggu empunya muncul membukakan pintu.
"Rin, kamu dimana?"
.
.