Cinta Tertinggal

Harapan

Tanganku terulur seakan ingin menepuk bahu ibu agar sudi melihatku. Namun, harapan itu sia-sia. 

 

Air mata membanjiri pipi, aku tergugu sampai bahuku terguncang hebat. 

 

"Buu ... ibbuuuu!" sebutku pilu. Tanganku mengepal di depan dada diikuti kepala yang menunduk. 

 

Usapan lembut mbak Lastri di bahuku tak jua meredakan tangis. Aku lalu dipapahnya bangkit dan duduk di bangku panjang tak jauh dari sana. Wanita ini membiarkan aku menuntaskan kesedihan.

 

Setelah beberapa menit dan air mataku tak lagi mengalir, pandangan kami sama-sama tertuju pada rumput taman di depan sana. Terinjak-injak, diterpa panas, bahkan kadang menjadi keset bagi kaki manusia. 

 

"Rumput yang sudah ditakdirkan begitu pun, dia tetap berusaha tumbuh subur dan hijau." Mbak Lastri tiba-tiba berkata lirih.

 

Aku menoleh padanya sekilas lalu mengangguk. "Allah menciptakannya bermanfaat bagaimanapun wujudnya," balasku tak kalah pelan.

 

Mbak Lastri lalu melihatku sambil berkata, "Iya, makanya kalau bisa tetap husnudzon, sebab semua urusan orang mukmin itu ujungnya baik. Meskipun penuh duka. Kita diciptakan karena ada manfaatnya buat orang lain."

 

Tangannya terulur mengusap pucuk kepala. Lagi-lagi hatiku lemah. Tapi, perasaan ini segera kutepis sebelum butir bening itu muncul lagi.

 

Tekadku sudah bulat. Bada subuh tadi aku nekat ke beberapa rumah majikan ibu. Meminta upah kerja terakhir.

 

Berbekal hape jadul, sebelum tidur semalam, aku juga mengirim pesan pada temanku yang sudah ada di Jakarta.

 

Diah mengatakan akan ikut bibinya bekerja menjadi buruh migran ke negeri Upin Ipin. Awalnya aku ragu sebab ijazahku belum ditebus, tapi Diah meyakinkanku agar datang saja dulu ke kost mereka. Siapa tahu bibinya bisa bantu.

 

Aku pamit pada Mbak Lastri. Kukepalkan uang ke tangannya. Awalnya dia menolak, tapi kubilang bahwa itu hanya sedikit. Sekadar ganti ongkos kala menjenguk ibu.

 

"Rin," sebutnya ikut sendu.

 

Aku menatap wajahnya, tersenyum getir. "Titip ibu ya, Mbak. Doakan aku lekas dapat kerja jadi bisa ngirim uang untuk biaya beliau dan ongkos Mbak," tuturku pelan.

 

Mbak Lastri mengangguk meski terlihat berat melepasku. "Hati-hati. Kabari mbak kalau sudah ketemu Diah," pesannya, lalu memelukku erat beberapa saat.

 

Aku mengangguk dan menarik napas panjang saat dekapan kami terurai. Seulas senyum tipis kuhadiahkan terakhir kali sebelum melangkah meninggalkan koridor panti rehabilitasi.

 

Dadaku sesak bergemuruh, aku tak mau menoleh ke belakang karena ketegaranku akan runtuh. Kupercepat langkah kaki sampai ke halaman gedung ini.

 

Beberapa tukang ojek yang mangkal, kudekati dan memintanya mengantar ke Terminal Cileunyi.

 

Sepanjang jalan aku diam, mencoba membingkai kenangan hari ini hingga tanpa sadar telah tiba di Terminal dan langsung memilih bus ke Jakarta.

 

Aku menutupi kepala dengan hoodie jaket dan duduk di bangku belakang. Harapannya agar tidak diganggu oleh penumpang lain. 

 

Inginnya tidur sejenak, tapi obrolan dua orang ibu-ibu di bangku depan membuat rasa kantukku hilang.

 

Mereka rupanya mantan buruh migran yang sedang membagi pengalaman pahit. Seketika otakku berpikir. Dokumenku kurang, apa jadinya bila aku bernasib seperti mereka? 

 

Tiba-tiba diriku bergidik ngeri membayangkan seperti kejadian di TV. Ternyata menjadi pahlawan devisa tak seindah yang dipandang mata.

 

Ingin turun dari bus tapi terlanjur separuh jalan. Kuputuskan tetap pergi merantau ke Jakarta. Jika uangku habis dan belum menemukan pekerjaan, aku akan mencari alamat Diah. Toh, ini masih sekitaran Pasar Rebo.

 

Setelah beberapa jam perjalanan yang didominasi berbagai macam kecemasan, aku tiba di kota sejuta mimpi.

 

"Alhamdulillah. Welcome Jakarta," kupandangi tempatku turun dengan hati bergetar, mampukah aku bertahan di sini? 

 

Huft!

 

"Tidak ada waktu untuk bersedih, Rin. Ayo, semangat Maisy-nya ibu!" tegasku sambil melangkah ke Masjid di seberang jalan.

 

Bekal dua buah roti 2000an dan sebotol air mineral, kumakan setelah salat dhuhur. Sekadar mengganjal perut saat menyusuri banyaknya ruko dan warung makan di sepanjang jalan ini.

 

Kutepis rasa malu untuk bertanya pada toko-toko yang berjajar. Cacian, tuduhan bahkan diusir karena dikira penipu pun kuterima hari ini.

 

"Ke karaokean aja mau, nggak?" kata seorang pria berkumis yang sedang merokok di sebuah warung makan. "Bayaran kamu bisa tinggi, loh!" katanya sambil melihatku dari atas ke bawah.

 

"Maaf, bukan pekerjaan itu yang kumau," jawabku sambil menjauh.

 

"Cari kerja susah! Sombong amat!" 

 

"Jadi LC kan sama aja, kerja! Anak sekarang emang blagu." 

 

Umpatan itu masih terdengar jelas tapi tak kugubris. Aku terus berjalan hingga tanpa sadar, waktu asar hampir habis.

 

Setelah menemukan mushala kecil dan salat. Kukabari mbak Lastri agar dia tak kuatir.

 

"Alhamdulillah, Rin. Tadi Elvan nyariin kamu cuma mbak nggak bilang tujuanmu yang sebenarnya," ucapnya dari seberang.

 

Deg!

 

'Elvan! Kemana saja kamu?' Hatiku seketika geram dan kesal. Aku tak langsung menjawab informasi dari mbak Lastri. Ingin tahu apa yang dia lakukan.

 

"Elvan lalu balik lagi ke sini, katanya bus ke Jakarta dah berangkat. Syukur deh, kalau kamu sudah sampai ... gimana, ketemu dengan Diah?" cecar mbak Lastri kemudian.

 

"Mau apa dia? Kemana saja selama ini?" tanyaku kesal mengalihkan pembicaraan.

 

"Loh, mbak nggak nanya. Tapi dia bilang kamu salah paham ... dia lagi keluar kota dan baru pulang langsung dapat berita tentang ini semua." Mbak Lastri menjelaskan detil dengan suara jelas. "Beri kesempatan bicara kalau ketemu nanti," imbuhnya.

 

"Entahlah, lihat saja nanti ... aku nggak jadi ke tempat Diah. Doakan dapat kerja malam ini, ya. Nanti kukabari lagi, assalamualaikum." Nadaku terdengar ketus.

 

"Jaga diri baik-baik, Rin!" 

 

Masih kudengar suara mbak Lastri sebelum menutup sambungan. 

 

Huft! Kupandangi angkasa sebelum beranjak dari sana dan kembali mencari pekerjaan. Berjalan pelan di sisi jalan besar.

 

Bayangan senyum Elvan, keluwesan juga kecerdasan pria itu membayang di pelupuk mata.

 

Aku adalah salah satu muridnya di sebuah bimbingan belajar bahasa asing yang didirikan oleh Elvan. Kami bertemu di sekolah saat dia mempromosikan usahanya.

 

Dia tiba-tiba menunjukku untuk menjawab pertanyaan darinya yang berbahasa Inggris. Kujawab pelan-pelan saat itu sebab takut grammarku salah. Tapi, dia malah terus mengajakku berdialog.

 

Kami sempat saling melempar tawa dan candaan ringan.

 

Dari situlah, murid lain tertarik karena cara mengajar Elvan yang asik. Aku kemudian di beri hadiah, boleh belajar bahasa asing di tempatnya secara gratis sebab banyak teman-temanku mendaftar ke bimbelnya.

 

Tiba-tiba. 

 

"Awas!" Seseorang menarikku sampai aku jatuh terjengkang. 

 

"Jangan ngelamun!" sentaknya sambil lalu dan menunjuk ke arah jalan raya.

 

Aku bengong, rupanya tadi nyaris terserempet truk besar karena aku terlalu berjalan ke tengah bahu jalan.

 

"Maaf!" cicitku takut karena tatapan tajamnya. 

 

Aku bangkit sambil menepis debu dari celana jeans dan jaket. Sudah mau maghrib dan aku belum juga mendapatkan pekerjaan.

 

Perutku mulai perih. Aku celingukan, baru kusadari ruas jalan ini sepi sekali. Beberapa meter di depan, ada segerombolan orang berjalan kearahku. 

 

Rasa hati sudah tak enak. Kuputuskan berbalik arah dan lari saat melihat seringai di salah satu wajah seorang pria tadi.

 

"Hey, manis! Mau kemana?" serunya sambil membuang puntung rokok dan berlari mengejarku.

 

Aku lari sekuat tenaga, kulihat ada gang kecil di sebelah kiri. Nekat masuk gang yang tak kutahu arahnya kemana. Jantungku pun memompa darah dengan cepat.

 

"Tuhan, tolong!" gumamku sambil berlari. Tapi sial, ujung gang ini adalah semak-semak berduri.

 

"Hey! Itu jalan buntu! Hahaha."

 

Terdengar tawa mereka saat aku berbalik badan dan terjepit. 

 

"Ikut kami sebentar. Makan dan minum di warung depan sana. Kita ni bukan orang jahat," kata mereka.

 

Aku menggeleng sambil mencari celah untuk kabur meski pilihannya adalah melukai diri sendiri. 

 

"Pergi!" sentakku. "TOLOOONG!" Aku lalu berteriak, berharap ada orang lain yang melintas dan menolongku.

 

"Haha ... percuma!" kata salah satu pria itu. Mereka beringsut dan mulai memegang lenganku. "Ayo, Sayang!"

 

Aku menepis kasar tapi tenagaku kalah. Aku berhasil ditariknya mendekati mereka. 'Ibuuuuu, ya Robb, toloooong!' 

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!