Cinta Tertinggal

Digagalkan Dia

Bahuku berguncang halus, tubuh yang semula tegang kini terasa lemas bagai tanpa tulang, saat seorang gadis berlari ke arahku dan menopangnya.

 

"Kamu lagi!" seru pria yang menyerang Arman di kosan tadi sore. 

 

"Hentikan! Atau Anda akan kami laporkan telah melakukan tindak kejahatan!" ancam Arman dengan wajah sangar.

 

"Halah, bacot!" 

 

Kyaaa! 

 

Sraattt! Gerakan cepat para pria memecah keheningan ruang.

 

Buk!

 

Adu otot pun kembali terjadi. Elvan menggiring kami berpindah tempat. Sila yang menopang tubuhku pun ditodong pisau lipat oleh satu preman sehingga manut perintah mereka.

 

"Lanjutkan, Pak!" titah Elvan kembali menyilakan pada pria sepuh tadi, agar melanjutkan acara. 

 

Beberapa pria tersebut tampak saling pandang sesaat sebelum mereka duduk kembali. 

 

Namun, ketika Elvan mulai menjabat tangan salah satu lelaki berjas itu lagi, suara seseorang yang kukenal terdengar.

 

"Stop! Ini paksaan dan penculikan!" 

 

Suara sumbang dan bisik-bisik yang berasal dari para pria yang tengah duduk, menjadi sedikit gaduh setelah mendengar ucapan seseorang tadi.

 

Mereka pun saling pandang dan meminta penjelasan Elvan. Namun, tak digubrisnya.

 

Syaban muncul di ambang pintu diikuti beberapa pria yang mengenakan pakaian serba hitam berlogo mata.

 

Sang COO dikawal berjalan mendekat ke arah kami. Dia lalu memerintahkan Sila membawaku. 

 

Orang-orang Elvan dipukul mundur. Mereka lantas berjajar di depan sang dosen. Seakan siap melindunginya.

 

"Silakan pergi, Gent. Tidak akan terjadi acara apapun di sini," imbuh Syaban pada barisan lelaki berjas di belakang Elvan.

 

"Berani bubar, akan kulaporkan kalian!" ancam Elvan pada orang-orang sipil tadi.

 

Mereka pun jadi bingung, dan akhirnya memilih berdiri bergerombol di sudut ruangan.

 

"Jangan biarkan gadisku keluar dari sini!" seru Elvan pada anak buahnya. "Rin! Kamu sudah janji mau menemaniku!" katanya lagi, lantang kala melihatku.

 

Aku tak berkutik, hanya lelehan air mata serta gelengan pelan yang bisa kuberikan sebagai jawaban.

 

Syaban menatap sendu sementara aku hanya mampu memberinya sorot mata berkaca-kaca.

 

"Ada aku ... Maisy ... ada aku," lirihnya saat aku membaca gerakan bibir Syaban.

 

Atasanku itu lalu memberi isyarat agar Sila segera memapahku keluar dari sana. Orang-orang Elvan berniat menyerang tapi barisan pria di depan Syaban lebih unggul karena persenjataan lengkap mereka.

 

"Riiin!"

 

"Arina Hazkia Maisy!" seru Elvan, suaranya menggelar memenuhi ruangan saat aku berjalan menuju pintu keluar.

 

"Aku takkan tinggal diam. Kau sudah membuat Maisyku terluka!" Masih kudengar sayup-sayup suara Syaban yang tak kalah lantang. 

 

Diri ini tak lagi memikirkan kondisi Elvan di sana. Dan Syaban, aku yakin dia akan baik saja. Orang-orang yang dia bawa nampak bukan pengawal biasa.

 

Aku terduduk lemas ketika masuk ke mobil. Sila langsung memacu kendaraan ini keluar dari komplek asing entah menuju kemana, aku tak tahu.

 

***

 

Kelopak mata ini terasa sangat berat ketika kucoba gerakkan. Netraku sedikit terbuka tapi langsung memejam kembali sebab sinar lampu membuatku silau.

 

Dimana aku? Apakah di bangsal? Karena sekilas kulihat ujung tirai khas rumah sakit menempel di atas plafon. 

 

"Rin?" tegur seseorang, dari sebelah kananku. 

 

Aku lalu mencoba membuka mata lagi. Perlahan, agar retinaku bisa menyesuaikan arah cahaya.

 

"Alhamdulillah." Suaranya bernada lega. "Minum dulu, ya?" sambungnya lagi. Terdengar suara derit kursi, tanda dia bangun dari duduknya.

 

"Dimana aku?" lirihku masih berusaha membuka mata lebar. 

 

Deg!

 

Eh, aku sudah bisa bicara? Netraku sontak terbuka lebar. 

 

"Silakan minum perlahan, Rin," ujarnya lembut, nyaris mirip suara ayah.

 

Ayah! Tiba-tiba aku kangen beliau. Samar terlontar di pelupuk mata, bayangan senyum ayah terakhir kali. Aku lalu melempar pandang ke atas plafon agar genangan di sudut netra tak luruh.

 

"Maisy!" bisiknya lagi.

 

Kuberanikan melirik ke arah kanan, Syaban mengulas senyum manis meski penampilannya sedikit berantakan.

 

Sedotan putih menempel di ujung mulut, aku mulai menghisap cairan dalam gelas bening dengan bantuan Syaban. Dua tarikan panjang berhasil membasahi kerongkongan yang kering bagai gurun Sahara.

 

"Sekarang jam tiga pagi. Sepertinya kamu hanya sedikit menelan makanan di sana sehingga efek samping obatnya tidak berlangsung lama ... didukung kondisi tubuhmu yang fit, alhamdulilah," beber Syaban panjang sembari duduk lagi di kursi samping brangkarku.

 

Dahiku mengernyit. "Aku kenapa?" tanyaku pelan, meliriknya sekilas.

 

"Kamu mengalami Distonia, gejala ekstrapiramidal akibat mengkonsumsi obat antipsikotik ... otot leher, wajah jadi kaku, gugup dan sebagainya. Mungkin dia ingin agar kamu tidak berontak dan protes saat akan dilangsungkan ...," tutur Syaban menjelaskan kondisiku meski dia tak melanjutkan kalimatnya.

 

"Obat apa?"

 

"Antipsikotik, punya efek kuat. Biasanya untuk pengidap bipolar atau skizofrenia ... sekarang sudah mulai mereda, 'kan?" tanyanya masih dengan nada lembut. Binar mata Syaban pun terlihat cemas.

 

Ingatanku kembali ke beberapa jam lalu. Memang aku hanya sedikit meneguk minum juga mencicipi makanan di kamar itu. 

 

Tak kuduga, dia setega itu. 

 

Dia tahu aku menginginkannya. Tapi tak kukira menggunakan cara rendahan dengan menculikku. 

 

Benar kata Diah, pada akhirnya aku yang akan jadi tertuduh sebagai perebut. Untung Syaban yang datang, bagaimana bila keluarga Elvan? Aku tak bisa membela diri karena efek obat itu.

 

Mataku kembali memanas, dadaku naik turun cepat karena emosi. Kukepalkan tangan tapi terasa nyeri, mungkin karena bekas ikatan itu.

 

"Aku sudah buat laporan. Hasil visumnya akan keluar besok siang," kata Syaban lagi.

 

"Nggak usah. Aku cuma mau denger penjelasan dia saja," cicitku menahan isak.

 

Raut wajah Syaban mungkin berubah, nada bicaranya terdengar dingin. 

 

"Aku yang nggak terima. Kamu terluka. Boleh saja meminta penjelasan tapi proses hukum tetap berjalan," ucapnya sambil bangkit berdiri.

 

"Dia anak petinggi aparat," balasku sambil menghela napas.

 

"Memang kenapa? Sama-sama makan nasi, masih nginjek bumi dan bernapas ... kecuali dia mahluk invertebrata, tak bertulang belakang ... aku jadikan squishy lalu buang," sungut Syaban seraya melangkah menuju pintu.

 

Aku menyunggingkan senyum tipis melihat kekesalannya. 

 

"Sila!" Terdengar seruan Syaban memanggil gadis itu, seiring pintu kamar yang menutup.

 

Tak lama, Sila masuk dan mengatur tinggi ranjang. Aku lalu meminta bantuannya untuk memapah ke kamar mandi sebab ingat belum menunaikan salat isya.

 

Darinya, aku makin tahu apa yang terjadi saat aku diculik petang tadi. Sila mengatakan Syaban sulit dihubungi sebab dia sedang mengurung diri di kamar.

 

Saat kutanya kenapa, Sila hanya tersenyum malu-malu. 

 

"Pak bos kesal pada saya dan Arman sebab Anda tidak memakan kirimannya, menghindari beliau juga merasa tak bisa menjadi teman Anda untuk berbagi cerita," beber Sila.

 

"Loh?" 

 

"Maaf Nona. Seisi rumah kena imbas. Pak bos jarang komplain tapi sepekan ini selalu bilang makanan rumah tak enak ... seprei rasanya gatal sampai maid bolak balik ganti. Bahkan, memarahi kran penyiram rumput otomatis, gegara membasahi kakinya saat beliau melintas," ujar Sila panjang sembari cengengesan.

 

Aku terkekeh geli mendengar penuturan Sila. Ada apa dengan pria itu. 

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!