Cinta Tertinggal

Dijebak

"Maisy!" Dua kali namaku dipanggilnya. Kami pun menoleh ke sumber suara. 

 

Benar saja, Arman langsung balik badan berdiri di depanku. Sementara mata ini menatap tajam, kepalaku menggeleng pelan seolah memberi isyarat padanya agar urung mendekat dan lebih baik pergi. 

 

Arman takkan tinggal diam, apalagi kini dia menemukan sumber masalah yang menyulitkan dirinya. 

 

Namun, rupanya Elvan nekat. Dengan langkah panjang dan tegap, dia menghampiriku lalu gegas menarik lenganku. Tapi, tautan kami ditahan oleh Arman.

 

"Lepas!" kata Arman saat Elvan memaksaku menjauh. Dia tak berani menyentuhku. 

 

"Sakit!" cicitku sambil menepuk jemari Elvan yang melingkar di lenganku yang berbalut sweater.

 

"Kamu harus ikut aku, Maisy!" ujar Elvan. Dia juga menunjuk ke wajah Arman seakan meminta agar si asisten Syaban tak menghalanginya.

 

Arman hendak meraih kemeja Elvan tapi gagal sebab Elvan berhasil menghindar.

 

"Nona, jangan mau!" pinta Arman saat aku mulai ditarik perlahan menjauh. 

 

Aku hanya menatap sendu ke arah Arman, enggan pergi tapi sebagian hatiku mengatakan untuk mengikuti Elvan sebab rasa penasaran. 

 

Elvan terus menarikku hingga saat akan menyentuh gerbang, Bang Ben datang menghalangi. Pun dengan Arman. Dia langsung menyerang Elvan dengan mendorongnya hingga nyaris jatuh terjengkang.

 

"Kaaakkk!" Aku teriak, kuatir Elvan cedera dan gegas melerai Arman saat akan menyerang Elvan lagi.

 

Namun, tiba-tiba. 

 

"Eeehhh!" Tubuhku ditarik dua orang pria dari belakang. 

 

Kulihat Bang Ben hanya diam melihatku, ternyata pinggangnya ditempeli sebilah pisau oleh pria yang berdiri di sebelahnya.

 

Arman terlihat dijegal dua orang entah darimana. Dia pun terlibat baku hantam.

 

"Nonaa!" seru Arman, menoleh memanggilku dari jauh.

 

"Awaaaaaaas!" pekikku sebelum dipaksa masuk ke mobil mini Van hitam.

 

Buk! Arman terhuyung, satu pukulan mendarat di rahangnya.

 

Srak!

 

Brug! Arman membentur dinding pagar.

 

Sang asisten Syaban ternyata masih melawan, Arman sempat oleng sebab dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Mungkin pusing akibat pukulan, tapi dia ikut mengejar kala Elvan berlari menuju arahku.

 

"Nonaaa!" 

 

"Heh, blagu!" cibir salah satu preman.

 

Buk!

 

Buk!

 

Aku melihat dari dalam mobil yang mulai melaju, sontak berteriak melihat Arman dipukuli oleh dua orang.

 

Elvan berhasil membuka pintu mobil yang membawaku. Tampak di belakang sana, tiga orang pria ikut berlari ke arah kami. Kukira Elvan akan memukul preman yang menangkapku tapi ternyata....

 

"Nonaaa!" Teriakan Arman dan Bang Ben masih bisa kudengar sebelum mini Van ini menjauh.

 

Aku tercenung, melirik ke kanan kiri sebab Elvan duduk di depan. Bibir ini masih mengatup rapat, jantung ikut berdegup tak beraturan. 

 

Kutenangkan diri perlahan karena setidaknya ada Elvan di mobil ini. Berharap dia tak mencelakaiku nanti.

 

Tidak ada penjelasan apapun, kabin mobil sangat sunyi. Saat sayup azan Maghrib terdengar, aku memberanikan diri bicara. 

 

"Kak, boleh ke masjid sebentar? Maghrib," kataku pelan, mencoba membujuk Elvan untuk berhenti sejenak agar aku bisa mencari celah kabur, pikirku.

 

Satu detik.

 

Lima detik.

 

Satu menit. Elvan bungkam.

 

"Kak?" 

 

"Bentar lagi sampai," jawabnya dingin, tanpa menoleh padaku.

 

Benar saja, kendaraan ini perlahan memasuki kawasan sepi tapi terlihat banyak penjaga sejak di gerbang utama.

 

Dimana ini. Tempat apa ini? Batinku.

 

Kepala pun celingukan, tapi sejurus itu mataku mendadak dibelit sebuah kain hitam. Aku berontak tapi tenagaku kalah dengan dua pria yang duduk mengapit.

 

Tubuhku kembali ditarik turun dari mobil tepat ketika berhenti. Namun, kali ini suara Elvan membuat mereka tak berlaku kasar lagi padaku.

 

Aku dimasukkan ke dalam satu kamar. Elvan ikut masuk sesaat sebelum keluar lagi. Dia mengatakan akan menjelaskan semua setelah makan malam nanti. 

 

Elvan juga meminta maaf terpaksa melakukan ini. Lalu menyarankan agar aku membersihkan diri lebih dahulu. 

 

Kuangguki ucapannya dan mulai mengitarkan pandangan ke berbagai sudut ketika pintu kamarku terdengar dikunci dari luar.

 

"Ini penculikan bukan, sih?" gumamku sambil berjalan melihat ruangan.

 

"Mewah sekali, rumah siapa ini?" 

 

Aku berkeliling, membuka lemari di walk in closet, menyentuh beberapa benda di sana dan ketika melihat satu sudut, mata ini membelalak. 

 

"Astaghfirullah....!"

 

***

 

Karena sempat berteriak tadi, tenggorokanku jadi kering. Aku melihat sajian di atas meja dan tak lama datanglah seorang gadis yang menyilakan aku untuk menikmati suguhan ini.

 

Aku sungguh tak menduga bila akhirnya terduduk di sini. Dengan kedua tangan terikat. Yang kulihat di sudut kamar tadi sembari beristigfar, ternyata sesuai dugaan.

 

Aku dipaksa mengenakan pakaian adat. Kata seorang gadis yang melayaniku, semua sudah siap di ruang keluarga. 

Entah apa yang kutelan tadi, bibirku kelu, tak dapat bergerak sedikitpun.

 

Mataku pun samar sedangkan kepala sedikit pening. Hanya lirikan mata saja yang mampu kukendalikan.

 

Hatiku perih, air mata rasanya ingin jatuh tapi entah mengapa kali ini tak segera membasahi pipi. 

 

Apakah makanan dan minuman itu ada obatnya? Pikiranku liar membayangkan bagai adegan di film.

 

Suara wanita disampingku terus saja memintaku agar begini begitu. Aku bahkan sulit mengendalikan tubuh, bagaimana bisa mengikuti perintahnya.

 

Lagipula ini bukan keinginanku. Aku hanya meminta penjelasan tapi kenapa Elvan justru tak terlihat sejak petang tadi. 

 

"Ya Tuhan, aku gak mau! Aku nggak mau begini!" batinku berontak.

 

Badanku sudah pegal dan sakit diperlakukan seperti ini. Dan satu jam kemudian, ikatan di tanganku mulai dilepas. 

 

Meski bibir ini tetap kelu, aku berusaha menggerakkan bibir, tapi tak bisa. Kutelengkan kepala pun hanya bisa mengangguk tanpa bisa menggeleng dengan jelas. 

 

"Aku kenapa?" Perasaanku mulai diliputi ketakutan.

 

Terlebih saat pintu kamarku terbuka dan Elvan berdiri dengan gagah di ambang sana.

 

"Tampan sekali," batinku kembali memujinya. Entah kemana logika saat ini, aku terpesona.

 

Dia tersenyum ke arahku, mendekat perlahan lalu kami berdiri berhadapan. Wangi tubuhnya mulai tercium olehku. Aku memejam, menghidu dalam aroma Elvan yang baru kubaui.

 

"Cantik sekali," bisiknya mesra, menyapu hangat cuping telingaku. 

 

Sssrrr! Bulu kudukku mulai meremang, deru halus napasnya membelai tengkuk yang tak tertutup helai rambut panjangku.

 

"Mau, kan?" tanyanya lembut seraya menatap syahdu.

 

Kuselami sorot matanya, berharap menemukan dusta di sana. Aku lantas mengangguk, terhanyut dalam binar bahagia yang Elvan bagi.

 

"Ayo, bismillah."

 

Dia melirik ke gadis yang berdiri tak jauh dariku, agar membantuku berjalan keluar kamar. 

 

Deg!

 

Deg!

 

Deg!

 

Mataku kembali dimanjakan suasana indah saat melihat ruang keluarga. Semuanya sangat tertata cantik dan elegan. 

 

Tampak meja berhias bunga rose di tengah, pun telah hadir beberapa pria di sana ketika aku duduk di kursi yang berbeda dengan Elvan.

 

Aku celingukan, mencari ibu. Mana ibuku? 

 

Gadis disebelahku seakan tahu bahwa aku mencari seseorang. Dia menepuk bahuku agar tenang sebab salah seorang pria mulai bicara.

 

Hatiku dirundung cemas. Jemariku mulai berkeringat, rasanya ada yang salah. 

 

"Iya, ini salah. Salah. Aku nggak bersedia!" Aku mulai gusar, mencoba bangkit meski bahuku ditahan si gadis.

 

"Eehhmmmmm!"

 

"Eehhmmmmm!" cicitku berharap para pria itu sudi mendengar keberatanku.

 

Elvan tampak tak suka, dia melotot ke arahku dan si gadis. 

 

Tiba-tiba.

 

Braakk!!!

 

Aku sontak melihat ke arah pintu, air mataku meleleh, tapi tak dapat melihat sosoknya sebab silau oleh cahaya lampu. 

 

"Hey!" 

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!