Cinta Tertinggal
Dua panggilan, Maisy
'Mengapa beliau ada di sini? Jangan-jangan, inisial A.S Fian itu ....' Aku membatin.
Aku berdiri berjajar dengan para kawan di hadapan top management, saat manager HRD mengenalkan kami satu per satu.
Rasa penasaranku terjawab manakala beliau berdiri mewakili sang CEO yang tidak hadir untuk menyambut kami.
"Halo semuanya. Beberapa dari kalian sudah ada yang pernah bertemu saya, ya ... perkenalkan saya Ari Syaban Fianshah, asistennya Presdir Flanders Grup." Dua jarinya terangkat ke atas, seraya tersenyum lebar.
"Beliau sebagai Chief executive officer. Kinerja setiap divisi akan dilaporkan langsung oleh COO ke Presdir," sambung sang manager HRD, menunjuk ke bangku ujung. "Cakepan aslinya, 'kan?"
Ruangan seketika riuh akibat celotehan sang manager. Benar, C-suite Flanders rata-rata masih berusia under atau awal 40 tahunan.
'Maa sya Allah. Kenapa di profil company tampak lain?' Aku masih membatin sekaligus mendengarkan sambutan beliau.
Akhirnya aku ditempatkan di bagian PR seperti semula dan mulai rutin tugas koordinasi lapangan dua kali sepekan.
Ketika jam istirahat, aku memutuskan duduk di kantin dengan karyawan lain sebab waktuku mepet jika harus bertemu Eka dan makan di luar. Aku pun hanya mengambil puding, buah dan susu sebagai menu santap siang.
Kuselesaikan segera sajian di depan mata dan ketika hendak beranjak, sapaan seseorang menahanku.
"Sudah selesai?" tanya seseorang dari samping kananku.
Aku menoleh. "Eh, Pak, silakan," balasku bangun dan menyilakan beliau duduk di hadapan.
"Bisa bicara sebentar, Rin?"
Inginnya menolak sebab pandangan sinis sekitar padaku, tapi rasa segan padanya membuat kepala ini mengangguk.
"Makasih," kata Syaban sambil menaruh baki berisi menu makan siangnya.
Aku masih diam dan menunduk, menunggu beliau bicara.
"Lama nggak jumpa. Selamat, ya!"
"Makasih, Pak. Pasti ada andil Anda didalamnya," jawabku singkat karena kikuk.
"Andil Tuhan, sekitar hanyalah jembatan."
Aku terdiam dan memutuskan bangun setelah beliau fokus menyantap hidangannya. Namun, sebelum kaki ini melangkah, Pak Syaban berucap kembali.
"Sukses terus ya, Maisy."
Deg!
Iris mataku sedikit melebar kala mendengar beliau memanggilku Maisy. Seperti panggilan kesayangan ibu yang sudah jarang kudengar.
Lelaki ini terlihat santai dan menikmati hidangannya membuatku hanya tersenyum simpul sambil membungkuk sesaat lalu pergi dari kantin.
Gosip mengatakan bahwa Syaban baru mengampu jabatan COO belum lama ini. Meskipun dirinya adalah kemenakan dari Ryan Flanders, founder perusahaan tempat aku bernaung.
Setelah pertemuan itu, aku jarang berpapasan dengannya meski satu gedung. Tapi, sebuah kejadian tak diduga di lantai dasar, membuat aku tidak bisa mengelak kala Pak Syaban tiba-tiba menghadangku di depan lift.
"Eh!" Aku terkejut sebab sedang buru-buru. "Maaf, Pak, mau naik," kataku lagi menunjuk ke panel lift menggunakan jempol kanan.
Dia bergeming, malah semringah.
"Assalamualaikum, Nek!" Syaban menjulurkan tangan melewatiku.
Iris mataku melebar lalu berdiri menyamping dan langsung membungkukkan badan ketika tahu siapa yang Syaban sapa.
"Wa alaikumussalaam," jawab wanita sepuh ini sebelum beralih pandang padaku. "Arina yang di pom bensin?"
Aku mengangguk seraya tersenyum melihat beliau. "Iya, Bu." Pandangan teduhnya mengingatkanku pada ibu. Tangan ini pun spontan meminta salim padanya. "Apa kabar?"
"Alhamdulillah, Neng ... ya Allah, pangling. Kamu cantik sekali," ujarnya sembari membelai pipiku, menciptakan rasa haru yang menyelimuti dada.
Syaban lalu menjelaskan posisiku saat ini dan mengajak kami masuk ke dalam lift. Nenek Afni, namanya. Beliau menggamit lenganku bahkan mengantar sampai di lantai lima tempatku bekerja.
Pandangan sekeliling sontak berubah kala beliau membelai lembut bahuku sebelum masuk kembali ke lift.
Aku merasakan atmosfer berbeda setelah kepergian mereka. Tapi, niatku hanya bekerja sehingga tak ambil pusing dengan tanggapan sekitar.
"Oh, nepotism. Pantes dipromosikan terus," cibir salah satu staf saat melewatiku.
"Paling pansos, sok cantik."
"Pak Syaban ramah sama semua gadis. Kamu jangan kepedean!"
Suara-suara sumbang terus berdengung sampai jam pulang kantor. Tapi, aku malah makin fokus mengerjakan tugasku. Termasuk menyiapkan berkas untuk mendaftar ke universitas terbuka.
Keesokan siang, di sela waktu tugas lapangan, aku mampir ke sekretariat kampus. Setelah membayar uang pangkal, aku diantar Eka kembali ke kantor, kebetulan dia sedang libur hari ini.
Bulan berikutnya, tahun ajaran baru dimulai. Setiap akhir pekan, aku datang ke kampus dan pulang dari sana langsung ke Bandung menemui ibu.
Rumah Sayang Widari, menjadi tempat tinggal ibu saat ini setelah satu tahun di panti rehabilitasi. Kata suster, dua bulan ini ibu mengalami kemajuan pesat. Beliau sudah bisa tersenyum ketika orang lain menyapanya.
Berita ini menjadi kabar yang membahagiakanku. Aku mendekati ibu yang sedang duduk sendirian di taman.
"Bu?" sapaku sambil berjongkok di depannya.
Ibu menoleh dan mengulas senyum tipis. "Maisy?" jawabnya lirih sambil menatapku.
Aku mengangguk. "Maaf ya, sekarang cuma bisa sebentar nengok ibu. Aku sudah mulai kuliah," kataku pelan sembari menyelami binar mata ibu.
"Iya. Jangan capek."
Deg!
Aku terkejut dengan ucapan ibu, tapi memilih langsung memeluknya tanpa banyak prasangka. Keyakinanku pada Tuhan masih belum pulih, aku ingin menikmati momen ini sejenak sebelum dirampas keadaan lagi, pikirku.
Belaian ibu di punggung terasa menusuk dada, sesak. Buru-buru kulerai agar hati ini tak lagi goyah dan larut pada kesedihan.
Setelah Maghrib dan menyuapi ibu makan, aku pamit pulang ke Jakarta. Tak lupa, menaruh makanan untuk kucing liar di halaman luar gedung, seperti kebiasaanku selama ini.
***
Enam bulan berlalu, tanpa terasa sudah akhir tahun. Aku diajukan oleh spv lama untuk menjadi kandidat supervisi lapangan baru. Menggantikan dirinya yang bakal resign.
Karena posisi inilah, aku jadi sering bertemu dengan pak Syaban. Meski dia kadang menyapaku seperlunya, tapi tetap saja pandangan miring tersemat padaku.
Apalagi kalau asisten beliau sudah berdiri di dekatku bila dalam satu ruangan atau dinas bersama. Ada saja benda yang mampir ke saku blazer atau tasku. Tentunya tanpa kusadari.
"Dari Bapak." Secepat kilat pria itu berkata sambil lalu.
"Cobain, kata beliau," ujarnya sesekali saat memberikan suplemen.
Seperti saat ini. Aku dipersilakan oleh Syaban memberikan presentasi singkat mengenai sistem franchise pada beberapa calon buyer.
Setelah itu, Syaban mengambil alih dan aku duduk di belakangnya untuk mencatat resume meeting kali ini. Meskipun sudah ada asisten beliau tapi aku butuh data backup.
Aku tak sengaja bersin beberapa kali sebab suhu pendingin ruangan ini rasanya terlalu rendah. Cuaca polutan Jakarta kadang membuat imunku turun naik.
Pak Syaban lantas meminta izin untuk menurunkan suhu ruangan dengan alasan dirinya sedang kurang fit.
Dari kolong meja, asisten itu menyampirkan sapu tangan ke atas lenganku. Dia lalu mengirim pesan singkat. ["Jangan lupa cuci lagi, itu sapu tangan Bapak."]
Aku mencebik saat diam-diam membaca pesannya. Pada akhirnya, benda itu tak aku pakai sebab segan. Bagaimanapun Syaban adalah atasanku.
Tanpa kusadari, perputaran waktu sudah membuatku menetap di Jakarta selama satu setengah tahun.
Tugas kuliah pun makin banyak, aku mulai keteteran. Kadang sampai tidur jelang dini hari demi mengerjakan semua kewajiban.
Hari ini, badanku terasa pegal. Sebenarnya aku malas ngampus, tapi karena kabarnya ada pergantian dosen, kupaksakan masuk juga.
Aku masih menopang dagu, memainkan ujung pulpen membentuk sebuah bulatan abstrak. Tak lama, terdengar suara bisik-bisik bertepatan dengan masuknya seseorang ke kelas.
"Selamat siang," sapanya ramah.
Deg!
'Suara ini. Suara?' Aku mendongakkan kepala dan terkejut ketika melihat sosok yang sedang bicara di muka kelas. Dan dia malah tersenyum saat melihatku.
.
.
(C-Suite itu jajaran eksekutif di sebuah perusahaan yang levelnya cenderung cukup tinggi. COO, Chief Financial officer, CEO dst)