Cincin Bulan Persahabatan
Selamat Tinggal Semuanya
Ketika langit mendung menyapa, ketika angin pagi menyambutku tidak seperti biasanya. Langkah ini mengayun ke suatu arah, mengalun laksana putaran nada yang dinyanyikan, dengan syair sendu, patah hati atau lagu penuh penderitaan, atau penuh semangat dan kebahagiaan.
Semakin larut, semua lamunanku tercecer di setiap terjal jalan yang kulewati, membiarkanku pergi, seolah tak pernah mengharap kehadiranku lagi. Mendung yang bertelekan di atas kepalaku, seolah menambah pekatnya kidung duka. Angin sepoi pagi ini menamparku tak bersahabat, pohon yang berderet tak beraturan di sepanjang jalan, tak terlihat melambaikan isyarat menghiraukan keberadaanku. Kupandangi lagi arah pusaran desaku, hanya sisa kenangan yang tertinggal.
Aku tidak tahu, sadar atau tidak sadar. mengambang atau tenggelam, yang kurasakan, kakiku melangkah dan harus terus melangkah, walau langkah ini semakin lama semakin berat terasa. Bapak yang kini kutinggalkan mungkin sedang membuka pintu kamarku, untuk mengenangku kala rindunya menyentak kalbu, pagi senja tidak seperti biasanya. Kali ini, aku yakin Bapak akan kesepian, dan mungkin lelehan embun itu akan terlihat mengalir lagi, atau mungkin dia akan pergi ke belakang, dimana setiap pagi aku selalu memberi makan ayam-ayam peliharaanku, kala itu senyumnya pasti mengembang, melihatku bermain bersama si Jalu dan jali.
Ibu mungkin sedang meneteskan airmatanya, di kala menggoreng pisang dan tahu bunting. Mungkin dia akan sejenak keluar rumah, mencoba mencari bayanganku. Ya Allah, kenapa aku selalu menjadikan orang lain menangis? Masih ingatanku tajam, saat aku mencium punggung tangan Ibu, dia berkata, “Pergilah San, sumur dan gudang ilmu menunggu jemputanmu. Jangan berpikir hidupmu hanya untuk kami, tapi hidupmu adalah untuk semua orang,” lelehan ketegaran masih kulihat dari wajah ibu, hingga aku meninggalkannya.
Begitupun dengan ketegaran Bapak. Sedang apakah engkau sekarang? Seperti pesanmu, aku kini membawa semangat. Aku ingat ketika aku mencium punggung tanganmu, dan engkau berkata padaku, “Pergilah, di rembang petang kehidupan, engkaulah fajar penerang hari, penerang hati Bapak. Jangan mengkhawatirkan keadaan Bapak disini, janganlah berpikir telah merenggut wajahmu dari tatapan mata kami yang merindu. Walau engkau nanti jauh disana, hati kita mempunyai ikatan yang membuat kita bermesraan tanpa ada jarak. Jadilah cahaya bagi kegelapan, gapailah bintangmu, yang menunggu sinarmu,” dan senyum terakhir yang kulihat itu, telah memburaikan airmataku, hingga menjadi tetesan yang berjatuhan di bumi.
Masih segar ingatan ini pesan paling dalam mereka, “San, jangan pernah melupakan shalat,” Shalat. Insyaallah, aku tidak akan pernah meninggalkannya.
Kukecup kening Fajar, umurnya kini 15 tahun. Yasmin menangis saat aku memeluknya, “Jangan pernah sombong pada kemenanganmu, tapi semakinlah merunduk, jika engkau semakin bertambah ilmu. Jadilah selalu yang terbaik.” Yasmin melambaikan tangannya dalam ingatanku. Keluargaku, harapan itu telah menguatkan kita di kala sepi mendera..
Kokok ayam sudah mulai terdengar satu-satu, kicauan burung bersahutan memamerkan suaranya riang, sambil menyambut mentari pagi ini tersenyum, dan menyapa kehidupan yang baru. Aku mendaki lereng bukit, langkahku kini yang memandu, bukan pikiranku lagi. Meneruskan perjalanan pengasinganku.
Dari atas lereng, aku melepaskan pandang penuh perhatian, yang muncul dari balik kegelapan kabut. Nampak jelas sebuah rel kereta api membentang sepanjang mata memandang, yang masih samar tertutup sisa percikan embun. Sepi bukan hanya mendera panorama, tapi hatiku lebih sepi kurasakan, tak bisa dibandingkan, dengan senyapnya pagi di perjalananku kali ini.
Dadaku merasa lapang, meluap ingin segera melupakan kehidupan, menuju tempat yang belum pernah aku jamah. Tapi dimanakah itu? tempat dimana aku bisa menggali dan menimba bekal. Ya, bekal untuk perjalanan yang panjang.
Namun, ketika aku mulai melangkah menuruni lereng, ada perasaan sedih yang amat mencekam. Aku berpikir kembali dalam hati, mencoba menyelami, bagaimana bisa aku meninggalkan tempat lahirku dengan hati yang mencari ketenangan tanpa kesedihan? bukan, bukan tanpa membawa luka dalam jiwa, kutinggalkan keluarga demi malam-malam kesepian, untuk menetapi persahabatan.
Terlalu banyak kepingan jiwaku, berserakan di sepanjang jalan-jalan kenanganku selama ini, dan terlalu banyak buah kerinduanku berlarian di antara bukit-bukit yang berjajaran, seperti bocah-bocah yang masih murni. Tak kurasa, aku berpisah dengan mereka, dan kenanganku tanpa hati berat dan tersayat. Embun di mataku mulai mengerling bercahaya. Perasaanku benar-benar terjepit. Di satu sisi, aku harus menghamparkan tikar sutra kecilku, untuk menampung harapan yang kupendam, dan di satu sisi, aku harus menghempaskan kenangan yang merenda rindu, mengulas dan menenun senyum dalam sebuah buhul kebersamaan.
Namun tak mungkin pula aku menunggu lebih lama lagi! Laut tempat kembali semua benda, telah menyeru memanggilku, dan aku harus segera pergi mengakhiri semua ini. Diam termangu, meski mentari mulai naik pada waktu dhuha, panasnya mulai terlihat dan terasai, hanya tinggal menunggu siang menyengat, menghanguskan. Sama dengan tenggelam dalam kebekuan.
Getar sebuah suara tak mungkin menyandang lidah dan bibir yang melahirkannya. Sendiri aku harus membubung, menyatu dengan suasana. Seorang diri juga, tanpa mengajak sisa kenangan yang bagian manapun. Seekor burung perkutut terbang meninggalkan sarang, mengangkasa melintasi mentari.
Sampai di kaki lereng, sekali lagi aku menengok ke arah pusaran tempat kelahiranku, aku meneruskan langkahku, menuju tempat pengasinganku, dan inilah mimpiku yang paling nyata. Aku sudah siap berangkat, gairahku mekar terkembang bagai layar terpasang, membentang menadah angin. tapi biarlah, sekali lagi kuhirup napas dari udara lengang ini, dan sekilas lagi biarkan kulepas pandang mesraku, membelai keindahan panorama.
Stasiun kereta mulai terlihat oleh sapuan mata, aku sudah siap berangkat. Wahai para penunggang gelombang! Betapa sering aku saksikan kalian berlayar dalam mimpiku, dan kini, kalian memjemputku di kala jaga. Hanya satu kelok di antara kaki lereng lagi di jalanan ini, dan satu denting gemericik aliran sungai terakhir, melewati jembatan bambu reot itu, aku akan berada di pangkuan impian. Sepercik air pelepas dahaga, di tengan kehidupan maha luas tak terbatas.
Aku melanjutkan langkahku, kulihat dari jauh perempuan dan laki – laki penduduk asli daerah sekitar stasiun, sedang bercanda ria sambil memetik lada dari kuncup pohonnya yang menjalar pada tiap – tiap penyangga yang telah disediakan. Teringat lagi akan Ibu yang melepasku dengan derai airmata semangatnya, mungkin untuk melupakanku, dia akan pergi berdagang berkeliling desa menjajakan kue.
Aku berkata dalam hati ;
Akankah perpisahan ini juga merupakan pula saat bertemu? benarkah ujung akhir hariku, akan merupakan fajar baru?
Lalu apa yang akan kuberikan kepada Bapak, Ibu, mereka yang meninggalkan keletihan hanya untuk mengusap keringat di keningku, dengan penuh cinta dan keikhlasan. Apa yang akan kuberikan kepada mereka? Lalu apa yang akan kuberikan pada persahabatan yang menantiku? Apa yang akan kuberikan pada keluarga, jika nanti aku sempat kembali ke pangkuannya setelah masa pengasinganku? Apakah cukup untuk membayar semua duka, yang membuat kerut di keningnya semakin menggurat.
Jika hari ini adalah saatnya mengetam, di ladang manakah telah kusebarkan benih-benihku, dan musim apa saja yang telah berlalu?
Banyak sudah yang telah aku utarakan di dalam hatiku, yang kuucapkan dalam kata-kata. Tapi masih lebih banyak lagi yang terkunci di dalam hati, karena aku sendiri pun tak mampu mengungkap rahasia-Nya.
Aku melewati kereta api itu, dengan perbendaharaan seadanya. Aku tidak naik kereta api, melainkan naik mobil tebengan bus tanki, milik salah satu temanku yang bekerja sebagai kenek ayahnya. Aku naik di kepala mobil, di belakang sofa supir, sempit. Aku harus mengirit untuk keperluanku di Depok kelak, uang tabunganku tak seberapa, namun disana aku akan mencari pekerjaan apa saja. Kubuka kertas pemberian pak Sarono yang menolongku mencarikan program, yang seharusnya hanya boleh untuk Sekolah Menengah Umum, Program Pemerataan Kesempatan Belajar. Alhamdulillah, aku masuk kriteria karena aku termasuk berprestasi. Terima kasih pak Sarono, engkau perantara dari Allah untuk membantuku, dia selalu menesehatiku untuk tepat waktu ketika shalat. Guru bahasa Indonesia, yang sebenarnya paling tidak aku sukai pelajarannya.
Pandanganku mulai kabur. Kuakhiri semesta pandangku pada lelahnya terik, walau lelehan rindu itu seolah mengiringi kepergianku. Sebuah harapan memang membutuhkan pengorbanan, pengorbanan yang tidak kecil, di dalamnya ada begitu banyak duka. Yang terkecil adalah kesepian yang pasti kujalani, tanpa orang yang setiap hari bermesraan dalam penggalan kenangan, yang pasti akan selalu kukenang sampai semesta tak bersuara lagi.
Aku teringat sesuatu, surat dari Sinta belum aku buka. Aku benar-benar lupa. Aku membuka tas, membuka kotak yang terbungkus kertas bergambar bulan itu. Sebuah Al-Quran plus terjemahan. Dua lembar surat kubaca, sambil melupakan bisingnya mobil dan motor yang lalu lalang di perjalanan.
Assalamu’alikum Warahmatullah Wabarakatuh
Wahai teman yang baik
Ba’da Tahmid wa Shalawat
Aku memberanikan menulis ungkapan hatiku lagi wahai sahabatku, dan mungkin ini adalah penghabisanku yang terakhir. Kutulis ketika hatiku tenang setelah tilawah quran dan shalat malam.
Tubuhku terasa payah, sakitku makin menjadi. Aku menyembunyikannya dari pandangan Abi dan Umi, aku benar-benar tidak ingin melihat mereka menangis, walau hanya sedetik sekalipun. Entah kenapa, aku ingin menulis untukmu, yang sebenarnya engkau bukanlah mahramku. Engkau teman yang baik, ketika aku akan berbicara padamu, tiba-tiba bibirku kelu dan beku. Aku merasa kita ada persamaan.
Mungkin orang lain bisa mengatakan ini cinta?
Tapi aku mengatakan ini lebih dari itu, aku merasakan sesuatu yang sama denganmu, teman. Aku kesepian dan aku merasakan bahwa kamu juga kesepian, walau kutahu mungkin engkau jarang mengikuti kajian islam atau apapun, tapi hatimu kulihat jujur dan tulus. Aku merasa hidupku tak akan lama, setidaknya itulah firasatku. Kesepianku, menjadikanku peka terhadap perasaan orang lain.
Teman
Hidup ini takkan lama
Ajal datang nyawa tiada
Sekarat pasti menimpa
Itu adalah penggalan lagu nasheed yang aku sukai, selalu mengingatkanku pada kematian yang pasti. Mungkin ketika kamu membacanya aku sudah tiada di dunia.
Tahukah kamu teman?
Aku mengidap penyakit kanker otak, aku memeriksakannya sendiri, tapi aku selalu menyembunyikannya dari orangtuaku. Aku berusaha menutupinya, hingga dokter memvonisku tak akan bertahan lama, karena kanker itu telah kronis pada stadium 3, aku sempat sedih dan sempat pula tersenyum.
Mungkin ini wasiat dariku teman, hidupmu sangat berharga, sangat berharga. Jangan kau kotori oleh pikiran-pikiran sempit keduniaan. Seseorang yang pergi jauh, pasti suatu saat akan pulang ke tempatnya kembali. Lengangnya masa, kita hanyalah mampir, hidup ada kesejatian kekekalan dan keindahan penantian. Sahabatku, jangan pernah takut untuk menetapi keyakinan dan keteguhan, perjuangkanlah dengan keikhlasan, kejujuran, dan kesabaran.
Teman, terimalah ini sebagai pertanda kasih persahabatanku padamu, selamat ulang tahun yang ke-18. Semoga dengan semakin berkurangnya umurmu, akan menjadikanmu dekat kepada Allah Azza Wa Jalla. Bacalah ketika hatimu gundah gulana, bacalah ketika engkau membutuhkan jawaban dari kehidupan, jadikan dia resensi dasar pijakan. Sahabatku, saat menulis ini airmataku menetes membasahi sajadahku, mungkin pertemuan kitapun akan mengakhir, setidaknya itulah firasatku.
Maafkan aku Teman, bukan aku sok memberi nasehat, ini adalah kutujukan seutamanya untukku sendiri. Namun, karena aku merasa kita memiliki banyak persamaan, aku ingin kamu juga merasakan cinta itu. Cinta dari Rabb yang menciptakan kita. Jujur kukatakan, kalau aku memang mencintaimu, mencintaimu karena Allah, semoga Allah memaafkan semua dosa-dosa kita.
Selamat tinggal teman, ini mungkin penghabisanku
Duhai Rabbku, Engkau paling mengerti akan kami daripada kami sendiri, takdir-Mulah yang menciptakan kami penuh cinta. Engkau yang Maha Luas ilmu dan Maha Menentukan takdir setiap hamba-Mu, berilah kesempatan kepada kami untuk menjadi penerang bagi kelamnya masa. Menjadi pembawa lampu dalam kesejatian cahaya. Izinkanlah kami untuk kembali menghirup lengang udara terindah, berilah kesempatan padaku untuk menjadi cahaya yang menyinari penuh cinta.
Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh
Sinta Khoiriyah