Cincin Bulan Persahabatan
Wanda Hamidah
Aku kembali melipat dua pucuk surat itu, menyimpannya dalam bagian tas kecil. Pikiranku kembali menerawang, menikmati perjalanan. Perjalanan memenuhi keyakinan ini membuatku sedikit ragu gelisah, karena apa? Aku sendiri tidak tahu.
Di kapal, aku tidak membayar biaya ongkos, karena aku berada di dalam mobil tanki, karena perhitungannya adalah muatan angkutan, yang berupa minyak mentah yang akan dikirim ke Pulo Gadung. Mobil terparkir ketika malam gelap menyapa, mungkin sampai terang nanti baru aku sampai di Depok. Aku menyelinap hingga di dek tertinggi, gelap mempermudahku tidak terlihat penjaga kapal, seperti waktu aku ke Yogya dulu. Mobil besar dengan muatan berat memang berjalan sangat lambat.
Tepat di bawah tiang, aku duduk menekuri kehidupanku yang telah berjalan. Langkahku seolah semakin gontai hendak meneruskan perjalanan, mengingat semua kejadian. Langit berhiaskan sedikit bintang walau bulan 15, mendung terlihat sedikit tebal. Laut luas, gemerlap lampu di ujung perjalanan, angin membelai kerinduan. Aku mengeluarkan surat dari Mawar yang kusimpan di lipatan dalam dompet, melihat tulisan itu, keyakinan pudarku mulai kubangun kembali.
Aku mendekati pagar di ujung atas kapal, kulihat air yang membelah dilewati kapal. Aku menatap langit, aku menatap ombak yang samar terlihat, “Wahai ombak! gulunglah semua yang ada di hadapanmu, gulunglah angin dan debu bersamamu, gulunglah semua buih-buih jika kau mampu. Tapi demi Allah! engkau tidak akan bisa menggulung keyakinanku! engkau tidak akan menggulung kesetiaanku! menggulung penyesalanku, tidak akan pernah! kecuali Allah memanggilku dalam kesenyapan penantianku!” Gerimis menyapa, aku sama sekali tak bergeming. Aku mencoba menahan, menantang kegelisahan, keraguan, kucoba luruhkan terkena guyuran air gerimis malam ini.
Aku turun dari kapal, sekaligus pamitan pada temanku. Kuberikan padanya dua bungkus rokok sebagai tanda terima kasih. Uang bagi mereka tiadalah terlalu berarti. Aku shalat subuh di mushola pelabuhan Merak, aku langsung naik bus menuju Kampung Rambutan, seperti rute yang diberikan temanku. Jantungku berdetak lebih keras, penantianku akan berakhir, tetapi kini ada segumpal keraguan yang menyertai. Aku berusaha menghilangkan keraguan sejauh-jauhnya. Bus telah penuh, kecuali tempat duduk di sampingku masih tersisa, entah kenapa Allah membiarkanku kesepian.
Seseorang penumpang terakhir masuk. Mencari tempat kosong, seorang wanita berjilbab. Aku menatap pemandangan luar, melalui kaca jendela tak menghiraukan.
“Permisi, bolehkah aku duduk disini?”
Aku hanya menganggukkan kepalaku, hari mulai cerah. Di perjalanan, Aku menoleh sejenak, wanita itu menunduk sambil menekuri bacaannya. Aku kembali mengarahkan pandangan ke gedung-gedung bertingkat yang menjulang, mencoba menusuk langit namun tak sampai.
“Boleh saya tahu kemana tujuan anda?” suaranya anggun, seperti milik Sinta.
“Aku hendak ke Depok. Mbak sendiri?” aku mencoba menciptakan feed back.
“Kebetulan sama, aku hari ini mengurus registrasi kuliah di UI,” terlihat dia begitu menjaga jarak, seperti anak-anak Rohis. Aku sudah paham.
Ternyata gadis itu dari Aceh, dia juga mendapat PPKB dari sekolahnya. Dia mengambil Fakultas Ilmu Budaya, prodi Sastra Inggris. Tuturnya lembut dan terlihat bersahabat. Sesekali dia mendesah lirih, kupastikan dia berdzikir. Sesekali keluar nada humornya, kadang bibirku tersungging senyum juga, entah dia belajar dari mana menemukan kata-kata yang lucu. Kebetulan sekali dia akan satu almamater denganku, tapi aku tidak mengatakan kalau aku juga akan kuliah disana, hanya mengatakan kalau aku mencari sahabatku di Depok.
Perjalanan ini lumayan panjang. Lama aku tidak membaca Al-Quran, apalagi Quran tertinggal di rumah karena ukurannya yang besar. Aku teringat Quran pemberian Sinta, aku sempatkan membacanya lirih walau sedikit, mencoba mencari keteduhan. Aku sempat grogi ketika baru tiga ayat membaca Al-Fatihah, sepasang mata menatapku seolah heran, ah! Mungkin dia heran, begitu kontras denganku. Aku tersenyum dan meneruskan bacaanku, walau kutahu aku belum fasih membaca. Tentu saja, celana jeans balel sobek di lutut pasti aneh kalau membaca al-Quran, padahal kupikir orang Jawa orangnya keras, makanya penampilan harus berubah, biar tidak disebut desa. Ini juga satu-satunya celana jeansku.
Perjalanan baru sampai di Terminal Serang, masih agak lama bagiku untuk menemui sahabatku. Beberapa pedagang kerupuk, aneka minuman, tahu sumedang dan muli hilir mudik, bergilir keluar masuk Bus. Beberapa penumpang turun. Seorang pedagang air minum sedikit memaksa kepada gadis berjilbab di sebelahku, kulihat si gadis sedikit terganggu. Wajahnya memang khas Aceh, manis dan berhidung bangir.
“Maaf Mas, dia tidak mau beli.”
Penjual air minum itu seketika kehilangan senyumnya. Biar saja, terlalu banyak aku telah menemui segala tipe pria, dari yang baik sampai yang amburadul ketika aku bekerja sebagai kuli, yang kebanyakan mempunyai hobi menenggak minuman keras.
“Terima kasih,” lirih gadis itu kudengar, setelah bus mulai melaju kembali.
Aku menganggukkan kepalaku pelan, hembusan ac mobil membelai rambutku yang terasa tergerai, rambutku mulai panjang sedikit menutupi telinga. Kudengar dari gadis itu, Terminal Kampung Rambutan sebentar lagi. Aku bersiap-siap, rute yang kutahu dari teman kenekku, naik angkot nomor 112.
“Boleh kutahu nama Mas? Siapa tahu suatu saat kita bertemu kembali.”
“Ali,” entah kenapa aku ingin mengganti nama panggilanku, sama dengan nama Bapak. Aku juga akan memberi kejutan pada Mawar. Semua orang tidak akan mengetahui siapa itu Ihsan. Gadis itu memberikan kartu nama padaku, dan mengucapkan salam, memasuki angkot nomor 19. Mungkin dia hendak main dulu ke rumah saudaranya, bukankah Depok harus melalui terminal dulu dengan nomor 112. Aku menyusuri jalan, dan menuju jalur yang dilewati angkot, yup! Nomor 112.
Di dalam mobil, aku sempatkan membaca kartu nama yang masih aku pegang, “WANDA Hamidah,” disertai alamat rumah dan nomor telepon. Angkot terus melaju, menciptakan perasaan berdebar-debar dalam hatiku, mendesir-desir seolah merasakan getaran kenangan di masa kecil. Sampai di Terminal Depok, aku mencari mobil menuju UI, seorang calo mengisyaratkan padaku menaiki angkot ke arah yang kutuju. Sopan. Sebentar lagi Mawar! Aku datang, datang hanya untukmu.