Cincin Bulan Persahabatan

Keyakinan Persahabatan yang Mulai Luntur

Di Ambang kelulusan, aku mencari pak Sujadi selaku Kepala Sekolah. Aku menceritakan keinginanku, yang ingin meneruskan kuliah di Universitas Indonesia dan memintanya membantuku. Dia berjanji akan berusaha membantu, itu membuatku sedikit lega. Selain itu, aku mencari informasi tentang UI; baik melalui brosur, koran, majalah, gosip, alumni dan informasi apapun untuk membantu.

Saat ujian telah berakhir. Aku mendapatkan informasi, bahwa aku tetap mendapatkan predikat tertinggi, dan disusul sebuah nama yang membuatku untuk pertama kalinya membuat surat, Sinta. Beberapa teman mengucapkan selamat padaku, termasuk Haidir, Saiful, dan Darma.

Aku tidak melihat Sinta sama sekali, mungkin sedang syukuran bersama teman-temannya. Selama pergantian waktu, setelah praktek aku seperti kehilangan, karena kami disibukkan dengan persiapan UAN. Tanpa kusadari, sebentar lagi ulang tahunku yang ke-18. Selama ini, banyak hadiah dari teman di saat ulang tahunku, tapi semua tidak begitu menarik perhatianku. Biasanya juga disertai surat cinta, jika itu dari para siswi. Ah! Dengan hadiah topi, jam tangan, baju, kaos, gelang atau kalung gaul, mereka mau mencoba memisahkan keyakinanku pada Mawar? Tidak mungkin!

Seorang lelaki bersama wanita tergesa-gesa menyibak kerumunan. Aku diberitahu Saiful yang sedikit hitam itu, bahwa mereka mencariku. Aku segera mendekati mereka, wajah mereka sepertinya aku kenal.

“Kumohon nak Ihsan, hanya sekali ini saja, bantulah kami,” pak Heri berbicara sambil meneteskan airmata pelan, dan diusap istrinya.

“Iya Nak, dia adalah anak kami satu-satunya. Harapan kami ada padanya, kami mencintai Sinta melebihi kehidupan kami sendiri. Kami tak akan kuat kehilangan dia. Kumohon bantulah dia. Aku akan melakukan apa saja asal nak Ihsan mau membantu kami. Kumohon Nak,” bu Sulis menimpali, aku semakin galau.

“Aku akan mempertimbangkannya, mohon Bapak dan Ibu juga mengerti saya,” aku mencoba sekuat tenaga tenang, kami bicara di ruang tamu sekolah. Mereka terlalu sayang kepada Sinta, segalanya akan dikorbankan untuk anaknya. Aku tak tega menolak mereka sekarang, untuk menikahi Sinta? Menikah dengan Sinta, berarti aku akan mengkhianati persahabatanku.

“Aku akan memberi jawaban minggu depan, karena aku harus membicarakan masalah ini pada keluarga saya dulu.”

“Baiklah, kami dapat mengerti. Ini bukanlah masalah sepele, dan kami mohon masalah ini jangan sampai ada yang tahu. Setidaknya, itulah permintaan kami,” pak Heri berusaha berkata tegar dalam kesedihannya.

Mereka berpamitan padaku, aku mengatakan akan segera menjenguk Sinta. Gadis itu, gadis anggun yang banyak menjadi perbincangan mulut siswa baik di Rohis maupun bukan. Gadis yang banyak menjadi rebutan, ternyata mempunyai penyakit kronis. Kanker otak, dan selama ini dia menyembunyikan penyakit itu dari orangtuanya, karena tidak mau melihat mereka bersedih. Aku teringat surat dan mimpi tentangnya.

Seorang siswi mengucapkan salam, mengagetkan lamunanku, aku menjawabnya.

“Ada apa Dar,” Darma seperti mencari sesuatu dalam tasnya.

“Ada titipan dari Sinta. Apakah kamu ada waktu sekarang, bagaimana kalau kita menjenguknya. Kamu pasti tahu kalau dia sakit.”

Aku menerima kotak kado darinya, “Jadi kamu juga tahu?” aku sedikit keheranan.

“Hanya aku dan Asih, Insyaallah yang lain belum.”

Kami bertiga menaiki angkot menuju rumah Sinta, gadis itu tersenyum di atas pembaringan. Kemarin dia baru saja dibawa pulang dari Rumah Sakit. Sorot matanya tak menyiratkan kesakitan, tapi kurasa dia menutupinya, seperti suratnya padaku. Kami hanya mengobrol seperti obrolan biasa, tentang rencana meneruskan studi, tentang agenda Rohis yang aku sendiri tidak aktif.

Aku pulang dengan perasaan tak karuan. Kudengar dari orangtua Sinta, selama tak sadarkan diri di Rumah Sakit, Sinta hanya mendesahkan namaku. Apakah ini hanya bohong? Mana mungkin gadis setegar dia menaruh hati padaku yang miskin, dan ilmu agama saja tidak becus. Banyak beberapa siswa yang aktif di Rohis, tapi memang tak dipungkiri mereka ikut aktif pengajian, namun beberapa juga kulihat masih pacaran. Aku sendiri tidak tahu alasan kenapa mereka anti pacaran, yang jelas anti pacaranku adalah untuk persahabatanku.

Seminggu berlalu begitu cepat. Aku menceritakan kisah itu pada Bapak dan Ibu ketika malam menyapa. Sinta juga punya kesempatan hidup, jika seandainya ada orang yang disayanginya selalu memberinya motivasi hidup. Ibu menyerahkan sepenuhnya keputusan di tanganku. Bapak hanya menyuruhku memikirkan dengan matang, semua keputusan pasti punya akibat, dalam sorot mata Bapak, aku membaca bahwa dia tahu aku menyembunyikan sesuatu rahasia. Rahasia tentang janji persahabatan.

Aku datang ke rumah Sinta, setidaknya aku harus memberi kepastian, walau keputusan itu baik atau buruk. Aku menetapkan untuk setia pada persahabatanku, karena itulah tujuan aku hidup di dunia. Tanpa persahabatan itu, aku pun tidak bisa hidup. Rumah Sinta begitu banyak orang berkerumun, adakah sesuatu?

“Pak, ada apa di dalam?” aku bertanya pada laki-laki separuh baya duduk di depan rumah.

“Sinta sekarat Nak…,”

Aku tidak sempat mendengarkan suara itu habis, aku masuk dengan menyibak kerumunan, “Maaf, permisi…, permisi…,” aku tak peduli dikatakan apa oleh orang-orang, walau Sinta tahu keputusanku, tapi aku tidak rela dia harus menghadap Tuhan begini cepat. Aku memasuki kamar Sinta, orangtuanya berada di sebelahnya. Wajah Sinta pucat, matanya sayu tinggal mengecil. Aku mendekatinya.

Kulihat Darma dan Asih juga disana. Sebuah desahan lirih masih kudengar dari bibir Sinta, “San.” Entah kenapa namaku yang disebutkannya kini.

“Iya, saya Ihsan. Saya telah datang,” pak Heri mempersilakan aku duduk.

“Benarkan teman kataku, aku berada…, di ujung perjalanan. Darma, Asih kalian harus meneruskan perjuangan dimana…, pun berada. Maafkan Sinta Abi, Umi.”

“Cukup Sin, jangan ngomong sembarangan,” Asih melelehkan airmatanya.

Aku tak kuat melihat keadaan ini, “Sudahlah Sin, ingatlah pada Allah. Jika memang ini yang terbaik dariNya, pergilah dengan tenang,” kulihat tatapan aneh dari Asih dan Darma yang menatapku. Entah kenapa, kata itu keluar dari bibirku.

Ucapan lirih, “Allah,” mendesah lirih dari bibir bergetar itu, mengantarkan napas senggal terakhir Sinta. Tangis pelan pecah, walau kesedihan pasti ada, tapi sebenarnya keikhlasan akan kepergian itu, sudah tertanam kuat di hati orang yang beriman. Kulihat senyum itu merekah, meninggalkan tusukan tersendiri di dadaku. Hidup yang fana, kenapa aku selalu mengharapkan persahabatan yang aku tidak mengetahui akhirnya.

Selamat tinggal sahabatku, untuk pertama kalinya, aku ragu pada keyakinanku tentang persahabatan. Apakah tujuan hidupku hanya persahabatan? Aku berterima kasih padamu sahabat, yang walau sebentar, telah mengetuk setitik kegamangan mendung kayakinanku? Aku akan selalu berdoa untukmu, semoga Allah selalu memaafkan segala kesalahan kita.

Kakiku seolah tertancap di sebelah kuburmu sahabat, aku belum mau beranjak, walau semua orang telah meninggalkan jasadmu. Bapak dan Ibumu berpamitan padaku, setelah sebelumnya beberapa teman-teman sekolah kita. Untuk ketiga kalinya aku meneteskan airmata untuk perempuan; yang pertama untuk ibuku, yang kedua untuk Mawar disaat perginya, dan yang ketiga adalah dirimu sahabatku. Untuk sejenak, izinkanlah aku menemanimu, agar kau lebih merasa tenang, ketika kedua malaikat bertanya. Hujan rintik menyapaku, terasa teduh meluluhkan kesombonganku selama ini. Tuhan, maafkankanlah semua dosa Kami.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!