Andai Tiada Mertua
Arman dijauhkan dari Iwana
"Ma, kan ada Mas Afnan dan aku," kata Ziya lembut, sambil meremat hangat tangan Iwana di pangkuannya. "Penting Mama sehat dulu, biar bisa ke toko lagi, liatin pekerja ... nanti Ziya temenin kalau nggak kuliah." Ziya tersenyum manis memandangi wajah mertuanya.
Dalam hati Ziya, perubahan ekspresi signifikan terlukis di wajah Iwana. Padahal hati sang mertua hanya gundah, dan takut kesepian. Tapi malah mengubah segalanya. Tutur kata, kebiasaan, juga ekspresi wajah.
Rasanya tak percaya melihat Iwana yang biasanya arogan, powerful, percaya diri dan judes maksimal kini terlihat lemah tak berdaya, seakan memohon agar jangan ditinggalkan. Ziya menunduk, menyembunyikan senyumnya.
"Kalian 'kan pasti pulang ke rumah itu," balas Iwana berusaha tak menaruh harap.
Ziya menepuk tautan tangan mereka. "Nanti Ziya bicarakan dengan Mas ya, Ma." Ziya lagi-lagi tersenyum manis, menampilkan sedikit lesung pipinya.
Salamah bergabung dengan mereka saat Aisyah minta izin ke Iwana membawa Arman pulang bersamanya ke rumah kontrakan.
"Mau dibawa ke mana cucuku?" suara Iwana tajam, masih bernada ketus seperti biasanya pada Aisyah.
Aisyah tampak hati-hati saat akan menjawab. Dia tersenyum tipis, lalu berkata pelan, "Rumah Mas Arif akan dilelang pekan ini, semoga hasilnya cukup buat nutup hutang lama. Aku nggak mau repotin ibu ayah, jadi sekarang tinggal di kosan ... Aku izin bawa Arman ke kosan aku, boleh ya, Ma." Nada bicaranya turun di akhir kalimat.
"Ngapain? Di sini Arman aman dan layak," sentak Iwana. Matanya mulai berkabut, tapi tetap tajam menatap Aisyah.
Ziya mengusap pelan bahu Iwana, mencoba menenangkan. Namun tak ikut campur. Ia tahu betul rasanya ingin sedikit lepas dari genggaman kuat Iwana, tapi tetap ingin menghormati.
Salamah hanya diam, belum sepenuhnya mengerti dinamika rumah ini. Ia duduk di sisi Arman dan mengelus lembut kepala anak itu yang tersenyum lucu padanya.
"Insya Allah di sana juga nyaman, Ma. Layak untuk Arman. Aku nggak ada maksud jauhin Arman ... Cuma kalau weekend saja, Arman ikut aku karena aku libur kerja," jelas Aisyah. Suaranya gemetar, tapi ia berusaha tegar sambil menggenggam erat tangan putranya.
"Kamu mau rebut Arman dari aku?" tuduh Iwana tiba-tiba, suaranya meninggi. Wajahnya merah, emosi berbaur dengan rasa takut ditinggalkan.
Aisyah tersentak, nyaris menangis. Namun Salamah buru-buru bicara.
"Ibu Iwana, nggak begitu maksud Aisyah. Saya percaya, Aisyah sangat menghormati ibu. Tapi mungkin sekarang waktunya Ibu juga jaga kesehatan. Biar tenang, yuk kita atur saja waktunya. Saya bantu jagain kalau perlu," ucap Salamah tenang tapi tegas.
Iwana terdiam, lalu menghela napas panjang. Ia menunduk. Dalam hati kecilnya, ia tahu Aisyah tak berniat buruk.
"Ya sudah. Tapi cuma weekend," ucap Iwana pelan, matanya menerawang. Meski dalam hati kecilnya enggan tapi dia berusaha menerima.
Afnan sedari tadi hanya diam, menyimak dari kejauhan. Kepalanya penuh pertimbangan. Ia tahu, dirinya dan Ziya tak mungkin tinggal di rumah ini. Ziya sedang hamil, mood swing-nya tak bisa ditebak. Sedangkan Iwana bisa sangat membutuhkan bantuan jika tiba-tiba drop. Itu bukan kombinasi yang sehat.
Dia memandangi ibunya lekat-lekat. Ada rasa iba. Tapi juga tanggung jawab lain yang harus ia pikul. Afnan berpikir keras. Mungkin perlu tambah satu orang asisten rumah tangga. Bukan sekadar pembantu, tapi sosok nyaris seusia Iwana agar bisa jadi teman dan penyeimbang.
Nanti, ia akan bicara dengan Aisyah baik-baik. Mungkin ajak Ziya juga. Sampaikan harapannya : Arman tetap tinggal dengan Iwana Senin sampai Jumat. Saat weekend, baru bersama Aisyah. Dan Afnan serta Ziya akan ikut menemani ibunya setiap akhir pekan.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Nak Afnan, maaf mengganggu. Yasmin sekarang sudah bisa bicara dan jalan pelan-pelan. Mungkin suatu hari nanti, kalau Mas berkenan, mampirlah. Dia punya banyak hal yang ingin disampaikan, meski saya tak tahu apa."
Afnan membacanya sambil diam. Lalu menghapus notifikasi itu tanpa membalas.
"Maaf, Bu. Sekarang bukan waktunya. Ziya prioritas."
Matanya berpindah pada Ziya. Ia tak ingin Ziya tahu soal kabar dari ibu Yasmin. Sudah beberapa kali ibunda Yasmin mengabarinya, tentang kondisi Yasmin yang mulai membaik. Tapi itu bukan urusannya lagi. Ia punya hati yang harus ia jaga. Ziya sedang hamil. Kalau sampai tahu dan tantrum, bisa runyam.
"Sudah cukup sampai sini, Af," batin Afnan. Ia menghela napas, menatap langit-langit ruang tamu. "Yasmin itu masa lalu. Aku nggak akan biarkan Ziya merasa terganggu."
Dia lalu mengekori Ziya yang bangkit menuju kamar mereka, membiarkan Salamah dan Iwana berbicara dari hati ke hati di ruang tengah.
***
Sementara itu, di kamar perawatan rumah sakit.
Yasmin menatap kosong langit-langit kamarnya. Di sampingnya, ibunya tengah melipat selimut. Ia baru selesai terapi fisik hari ini. Masih terasa pegal, tapi tubuhnya mulai terbiasa.
Namun hatinya? Tidak. Sejak Naufal perlahan menjauh, ada ruang kosong yang tak bisa dijelaskan.
"Naufal nggak datang lagi hari ini, ya?" tanyanya lirih.
Ibunya menoleh. Tersenyum, walau matanya menyimpan iba.
"Naufal sibuk, Sayang. Mungkin dia juga butuh waktu buat dirinya."
Yasmin diam. Mulutnya bergerak, tapi tak ada kata yang keluar. Ia paham betul. Naufal mulai menjauh sejak dirinya mulai terlihat lebih kuat. Mungkin ... memang sudah selesai.
"Aku tahu, Ma ... Naufal nggak bisa nemenin terus. Tapi, aku ... aku kecewa, meski aku ngerti...." ucap Yasmin akhirnya. Suaranya serak, tapi matanya mengering.
Sang ibu duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Yasmin.
"Kamu hebat, Yas. Kamu nggak butuh siapa-siapa buat bangkit. Naufal itu cuma batu loncatan. Sekarang kamu udah bisa jalan pelan-pelan lagi. Lihat ke depan, ya. Bukan ke belakang." Ibu Yasmin mengangguk, tersenyum dengan sorot mata haru.
Yasmin mengangguk pelan. Sakit, tapi benar. Ia menatap keluar jendela. Sinar sore menembus kaca, hangat dan tipis.
"Aku mau lanjut terapi lagi besok pagi, Ma. Kayaknya aku mau mulai nyari kerjaan ringan juga, buat latihan."
Sang ibu mengusap pipinya. "Itu anak Mama. Hebat."
Sementara di luar, Naufal memandangi layar ponselnya. Foto terakhir Yasmin masih ada di galeri. Tapi ia tahu batas.
"Maaf, Yasmin. Ini yang terbaik. Kamu harus kuat sendiri. Aku bukan bagian dari hidupmu lagi," bisiknya pelan.
Ia masukkan ponsel ke saku, lalu melangkah pergi.
Di saat yang sama, Yasmin meminta ponselnya.
"Ma, aku mau nyari kontak Mas Afnan."
Sang ibu terdiam sejenak. "Kamu yakin, Yas? Mau ngapain?"
Yasmin mengangguk. Tatapannya lurus. "Aku cuma mau ucapkan satu hal. Terima kasih ... dan maaf. Aku nggak mau dia terus dihantui rasa bersalah."
Tangannya bergetar saat mengetik. Tapi pesan itu berhasil terkirim.
***
Afnan baru saja menyimpan ponselnya di laci nakas, saat Ziya datang membawa gelas berisi susu hangat. Wajahnya cerah, seperti biasa, tapi matanya sempat melirik layar ponsel yang tadi berkedip.
"Ada pesan ya tadi?" tanyanya sambil duduk di pinggir ranjang.
Afnan mengangguk samar.
"Siapa?" tanya Ziya sembari meletakkan susu di nakas.
"…Ibunya Yasmin."
Ziya terdiam. Tak langsung merespons, tapi tangannya mengecup gelas susu erat-erat lalu menyesap isinya sedikit. "Yasmin yang itu?" suaranya pelan, berusaha tenang.
Afnan mengangguk lagi. “Tadi bilang Yasmin sudah bisa jalan pelan. Terus … dia kirim pesan.”
Dahi Ziya mengernyit, gimmick apa lagi yang dikeluarkan wanita itu, pikirnya. Dia menatap lurus ke arah jendela. Sejenak tak ada suara. Lalu ia membalikkan badan, menatap Afnan tajam tapi tak marah.
Mas ... boleh aku baca?"
Glek! Afnan menelan ludah susah payah. Harusnya dia langsung menghapus pesan itu tadi. "Ehmm...."
.
.