Andai Tiada Mertua

Ziya jenguk Yasmin

Afnan masih ragu, tapi tatapan Ziya penuh keyakinan. Ia menyentuh lembut perutnya yang mulai membuncit.

“Aku cuma pengin adek tahu ... kalau ada yang harus dikenal, meski bukan bagian dari kita lagi,” ujar Ziya pelan. “Kita nggak bawa luka, cuma niat baik.”

Afnan menghela napas. “Tapi aku tahu kamu gampang kepikiran. Aku cuma takut—”

“Mas pikir aku lemah?” Ziya memotong dengan senyum tipis.

“Bukan lemah. Sayang ... kamu penyayang. Dan kadang terlalu banyak mikir sampai sakit sendiri,” terang Afnan dengan nada lembut, senyum tipis terukir di wajah tampannya.

Ziya kembali menyodorkan tangannya, meminta izin melihat pesan tadi. Afnan diam sejenak, lalu menarik laci dan menyerahkan ponselnya.

Ziya membuka pesan itu. Ternyata ibunya Yasmin yang berkirim pesan. Sorot matanya bergeser dari satu kalimat ke kalimat lain. Urat di lehernya menegang, tetapi ia berusaha tenang.

"Nak Afnan, maaf mengganggu. Yasmin sekarang sudah bisa bicara dan jalan pelan-pelan. Mungkin suatu hari nanti, kalau berkenan, mampirlah. Dia banyak hal yang ingin disampaikan, meski saya tak tahu apa."

"Nak Afnan, Yasmin sekarang sudah jauh lebih tenang. Dia tidak lagi marah-marah, sudah bisa senyum sedikit. Saya tahu ini bukan waktunya minta apa-apa, tapi kalau ada sedikit ruang di hati kalian untuk bicara baik-baik, tolong kabari. Biar Yasmin tahu, ia tidak sepenuhnya dibuang."

Ziya kemudian melanjutkan ke pesan berikutnya. Dahinya sedikit mengerut manakala membaca pesan terakhir. Ini dari Yasmin.

“Mas Afnan ... aku cuma ingin bilang makasih. Dan maaf. Maaf sudah bikin Mas benci sama masa lalu kita. Aku tahu Mas bahagia sekarang. Tapi aku nggak mau mati tanpa minta maaf.”

Wanita cantik ini masih menatap layar, membaca pelan-pelan. Jemarinya sempat berhenti, matanya berkaca-kaca.

Ziya terdiam. Tangannya menggenggam ponsel itu erat, lalu perlahan mengembalikannya pada Afnan.

"Yasmin … sakit parah?" gumamnya.

Afnan mengangguk pelan. "Operasi pembekuan darah di otak karena jatuh di eskalator rumah sakit. Dan ini operasi kista yang kedua."

Ziya memejamkan mata. Ia menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan.

"Aku bingung harus marah, sedih, atau … kasihan," katanya nyaris seperti bisikan. “Mas tahu aku orangnya cemburuan, kan?”

Afnan mengangguk pelan.

“Tapi kali ini … aku juga manusia. Aku tahu rasanya takut nggak sempat minta maaf. Kalau aku jadi Yasmin, mungkin aku juga akan lakukan hal yang sama.” Ziya melirik ke arah suaminya.

Afnan mendekat, meraih tangan Ziya. “Terima kasih,” katanya tulus. “Karena sudah lebih dewasa dari yang kupikir ... Dia cuma masa lalu, Sayang.”

Ziya tersenyum tipis. “Iya dong. Tapi kalau Mas sampai balas pesan itu, aku lempar ponsel Mas ke mesin cuci.”

Afnan tertawa. “Untung aku nggak balas apapun. Pesan terakhir juga kamu yang baca.”

Ziya menghela napas, lalu menyandarkan kepala di bahunya. “Tapi Mas ... bagaimana kalau kita sesekali jenguk dia?”

Afnan menoleh, keningnya berkerut. “Sayang…”

“Ini soal empati, Mas. Bukan soal cinta lama. Bukan juga drama. Cuma ... kunjungan kemanusiaan,” ujarnya lembut tapi tegas.

“Tapi kamu nanti kepikiran sendiri. Bad mood. Cemburu. Nangis. Aku hafal pola kamu, Sayang,” beber Afnan sembari meraup wajah ayu Ziya.

Ziya menggeleng. “Kalau aku hamil, bukan berarti hatiku makin sempit. Justru aku ingin punya ruang lebih besar untuk memaafkan dan ... menerima.”

Afnan hanya diam, membuat Ziya kembali bertanya. "Jadi gimana?"

Saat itulah Salamah mengetuk pintu kamar mereka, membawa susu hangat. Di sempat mendengar tadi.

“Maaf, ibu denger sedikit tadi ... Ibu bisa temani,” ujarnya tenang. “Ziya masuk ditemani ibu. Nak Afnan ikut, tapi cuma antar. Sekedar nyapa boleh nggak perlu lama-lama dan tunggu di luar saja,” terang Salamah.

Ziya menoleh dengan sorot terharu, kepalanya mengangguk cepat. “Terima kasih, Bu.”

Afnan pun ikut mengangguk pelan. Tatapannya bertemu Salamah yang kemudian bicara lirih padanya, cukup hanya untuk didengar Afnan.

[“Nggak usah khawatir. Nak Afnan tetap bisa jaga hati istrimu ... tanpa menutup pintu empati.”]

Afnan nyengir lega. [“Deal, Bu.”]

***

Yasmin tampak lemah, tubuhnya lebih kurus dari terakhir kali dilihat Afnan saat jenguk Iwana sebelum insiden itu. Tapi senyumnya merekah saat melihat Afnan masuk, dan mulai meredup ketika lelaki itu tak sedikitpun melihatnya. Malah menyilakan dua wanita lain masuk.

"Silakan," kata Ibu Yasmin menyilakan Salamah dan Ziya mendekati sisi brangkar.

“Kamu ... Zi?” tanyanya, nyaris berbisik.

Ziya hanya mengangguk. “Iya. Aku Ziya.”

Yasmin menatapnya lama, lalu berkata lirih, “Kamu cantik. Kayak salihah.”

Ziya duduk pelan di kursi samping ranjang. “Kamu juga. Kuat. Bisa sampai sejauh ini.”

“Aku ... cuma pengin bicara pada Mas," ucapnya ketus. "Kadang aku masih ingat ... waktu Mas Afnan rawat aku dulu. Dia selalu tahu harus ngapain.”

"Mas Afnan memang lembut ... Aku--" kalimat Yasmin menggantung.

Ziya diam. Ia tersenyum pelan.

Salamah maju, membetulkan selimut Yasmin. “Nak Yasmin ... masa lalu itu hadiah. Tapi yang penting sekarang adalah bagaimana kamu tetap bisa senyum ... walau hadiah itu udah nggak bisa dibuka lagi.”

Yasmin menunduk. “Aku masih sayang...”

“Sayang itu nggak harus memiliki,” sela Salamah dengan nada lembut. "Semua kenangan indah akan tetap jadi kenangan. Tapi hidup kita sekarang bukan tentang mengulang masa lalu, tapi menghargai yang ada di depan mata. Ziya datang bukan untuk dengar cerita lama, tapi untuk bawa semangat baru. Jangan sampai kebaikannya dibalas dengan luka lama yang kamu buka sendiri.”

Ziya menatap Yasmin, lalu menggenggam tangannya hangat. “Aku percaya kamu bisa sembuh. Bukan buat siapa-siapa. Tapi buat dirimu sendiri.”

Yasmin berkaca-kaca. “Kalian terlalu baik ... Maaf."

Salamah tersenyum bijak. “Maaf diterima. Menghormati orang yang datang menemuimu, itu juga bagian dari kesembuhan.”

“Kalau begitu,” ucap Ziya sambil berdiri, “Jadi ada alasan buat terus hidup, kan?”

Yasmin menahan air matanya. Ia mengangguk pelan. Mereka pun langsung pamit pulang. Tujuannya memang hanya untuk melihat kondisi Yasmin saja.

Baru keluar dari kamar Yasmin, Ziya berhenti mendadak. Tangannya memegang perut.

“Bu ... perutku ... kram banget,” gumamnya tertahan.

Salamah langsung panik. “Astaghfirullah. Sini duduk. Kita ke IGD aja ya, Nak.” Dia lantas meminta tolong pada suster yang kebetulan sedang mendorong kursi roda kosong.

Mereka pun gegas menuju IGD. Dan Salamah langsung menghubungi Afnan yang menunggu mereka di lobby rumah sakit.

Afnan datang tergesa. Wajahnya tegang. “Gimana Ziya, Bu? Kenapa tiba-tiba begini?”

“Dokter bilang stres dan capek pikiran,” jawab Salamah pelan. “Tapi tenang, kandungan masih aman.”

Afnan menggeram, menatap Ziya yang terbaring diam di ranjang IGD.

“Aku tahu pasti ada kalimat dari Yasmin yang bikin kamu mikir lagi! Makanya aku melarang dari awal!” Afnan langsung ngomel tapi Ziya malah diam. Matanya menatap kosong ke lantai.

“Sayang! Kenapa diam aja? Kamu tuh hamil, kenapa maksa ke sana segala!”

Salamah menyentuh bahu Afnan. “Nak, ini bukan waktunya menyalahkan. Ziya bukan lemah ... dia cuma terlalu empati.”

Ziya mengangkat wajahnya. Suaranya pelan. “Aku ... cuma pengin jadi orang yang nggak mengabaikan ... siapapun. Bahkan yang pernah jadi bagian dari hidupnya Mas.”

Afnan terdiam.

Salamah duduk di antara mereka, suaranya tenang. “Kadang perempuan memang terlalu banyak mikir. Tapi yang paling penting sekarang adalah kesehatan kalian berdua. Kalau sayang istrimu ... bawa Ziya pulang. Bawa ke tempat tenang. Jangan tambah beban.”

Afnan menarik napas, lalu memeluk Ziya dari samping.

“Maaf. Aku panik. Aku takut kalian kenapa napa.”

Ziya mengangguk pelan, tapi sorot matanya masih redup. Ada sesuatu yang belum selesai.

Di dalam mobil, Ziya akhirnya tertidur di bahu Afnan.

Afnan menatap wajah istrinya, lalu memegang tangannya erat.

Salamah hanya memandangi mereka dari kursi belakang, menggumam pelan dalam hati, Semoga mereka bisa belajar saling jaga, bukan saling menyakiti.

Tapi di balik senyumnya, satu kalimat tetap menggantung di benak Ziya. 

"Kalau Yasmin pergi … apakah kenangan Mas juga akan ikut mati?"

 

.

 

.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!