Andai Tiada Mertua
Terapi
"Aku akan pikiran cara lain. Sepertinya seseorang bisa membantuku," ujar Yasmin. Tak lama, dia menutup panggilan.
Mantan istri Afnan itu lantas melanjutkan rencananya. Dia mengajak ketemuan dengan seseorang yang dirasa mampu memuluskan niat.
***
Sementara di luar Jakarta. Pasangan Chairi telah menikmati keintiman selama tiga hari. Afnan betul-betul memanfaatkan momen ini untuk memanjakan Ziya.
Siang nanti, keduanya akan kembali ke Jakarta dengan rombongan tour. Sambil menunggu waktu, Afnan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang kondisi mereka.
"Zie, kayaknya kita perlu konsul ke ahli gizi dan sewa coach, deh," kata Afnan duduk di ujung ranjang sambil memegang ponselnya.
Ziya yang sedang mengeringkan rambut panjangnya, menatap pantulan sang suami dari kaca meja rias.
"Harus, ya?"
Afnan mengangguk. Dia berujar agar pengobatan nanti berjalan seimbang. Selain obat-obatan medis, kebugaran tubuh juga perlu dijaga agar asupan nutrisi terserap optimal.
Lelaki itu lalu meraih sisir dan pengering rambut dari tangan Ziya. Melakukan ini adalah kegemarannya. Afnan selalu saja semringah saat melihat mahkota hitam istrinya menjuntai rapi setelah keramas.
"Makasih supportnya ya, Sayang," tutur Afnan ketika rambut Ziya telah berhasil dia keringkan.
"Kok?" Ziya mengernyit heran sembari memutar duduknya.
Afnan mengecup pucuk kepala Ziya. "Aku ikutan pede," kekehnya lagi, dibalas senyuman manis sang nyonya.
Keduanya lalu sibuk berkemas dan keluar kamar menuju titik kumpul akhir.
Menjelang Maghrib, pasangan Chairi tiba di kediaman baru mereka. Bu Agus yang Afnan pekerjakan untuk mengurus kebersihan rumah ini menyambut majikannya di teras.
Asisten paruh baya itu mengatakan bahwa sore tadi Iwana datang mencarinya. Wanita itu berpesan agar Afnan harus segera menelpon dirinya begitu tiba.
Afnan mengangguk, setelah bebersih diri dan memeluk istrinya di atas ranjang. Dia mulai mengaktifkan gawai yang sejak sore tadi sengaja di matikan.
Tuut. Nada sambung terdengar sebab dia menekan tombol pengeras suara.
"Assalamualaikum, Ma. Tadi ke rumah? Ada apa?"
"Wa alaikumussalaam. Kemana saja kamu? Sengaja ngehindarin mama?" cecar Iwana dengan nada ketus.
Afnan memilih diam, tubuhnya sudah mulai memasuki jam rileks. Dia tak ingin terpancing emosi.
"Mama ketemu wanita lenjelitha itu. Dia kayaknya mau balikan sama kamu. Awas aj--"
"Ma ... Ma, maaf. Aku tahu kemana maksud Mama. Tenang saja, oke?" sambar Afnan langsung memotong ucapan ibunya. Dia juga membubuhkan kecupan di kening Ziya agar tidak terpantik cemburu.
"Inget ya, Afnan!"
Pet. Tuuut. Sambungan terputus.
Ziya menarik selimut sampai ke dadanya lalu beringsut membelakangi Afnan. "Ciye, tersandung masa lalu."
Afnan tertawa gemas. Dia langsung menempeli punggung istrinya sambil berbisik, "Biarkan dia jatuh sendirian. Aku sudah punya pegangan."
Senyum Ziya muncul, dia menarik lengan Afnan agar mendekapnya erat. Musuh utamanya bukan Yasmin atau Shakira, melainkan sang mama mertua.
Keesokan siang, setelah Ziya selesai dari Bimbel. Mereka langsung menuju rumah sakit.
Keduanya membuat janji temu dengan dokter obgyn juga ahli gizi di sana. Tepat saat azan isya, pasangan Chairi berjalan di lobby menuju parkiran depan.
Ketika akan mencapai pintu, mereka berpapasan dengan seseorang yang membuat Ziya kian yakin bahwa wanita ini adalah Yasmin.
"Mas!" sapa Yasmin, semringah.
Kala akan mencegah Afnan pergi, panggilan seseorang membuat konsentrasinya pecah. Dia meloloskan Afnan kali ini.
Afnan menarik Ziya tanpa memedulikan sapaan wanita itu. Dia berjalan dengan langkah lebar hingga Ziya sedikit terseret.
Dia sekilas melihat sosok yang dikenalnya berbincang dengan Yasmin. Dahi Ziya mengernyit heran, mungkinkah mereka saling mengenal? Pikirnya
Putri Salamah menyimpan rasa penasarannya akan dua hal, sampai Afnan melajukan mobil keluar dari pelataran Rumkit.
"Tadi Yasmin, 'kan?" cicit Ziya ragu.
"He em." Afnan hanya berdehem, enggan menjawab tapi tak ingin Ziya kepikiran. "Sayang, please," sambungnya.
Ziya tertawa kecil. "Pantesan dia liatin aku terus pas cek ke obgyn waktu itu. Cantik banget ternyata, wajar kalau Aisyah dan mama bilang aku kumal ckckck," tutur Ziya mulai merasa minder.
"Kaaaaannnnn!"
"Mas, aku lihat seseorang ngobrol sama Yasmin tadi," lanjut Ziya.
"Siapa?"
"Ehm ... tapi kali salah, nanti jadi fitnah. Lupain aja, deh."
Afnan menggeleng pelan. Dia lalu meraih jemari Ziya dan membubuhkan kecupan di punggung tangannya.
Saat mobil Afnan masuk ke halaman, tak di nyana, Iwana sudah menunggu mereka di teras. Keduanya gegas turun dan menyalami sang mama.
"Kemana saja? kamu umpetin Ziya di apartemen?" sergah Iwana dengan wajah menyelidik.
"Nginep di resort, Ma," balas Afnan masih dengan nada lembut. Dia lalu mengajak ibunya masuk ke dalam.
Iwana ternyata tak mempermasalahkan hal itu. Dia justru memindai penampilan Ziya yang bagai pekerja kantoran.
"Kamu kerja? Uang dari Afnan kurang? harusnya kalau mau cari kesibukan itu bantuin mama jaga toko ... daripada kerja dengan orang lain, capek," omel Iwana seraya duduk di hadapan Afnan. Dia menyodorkan satu goodie bag berisi cemilan kesukaan Afnan.
Ziya hanya duduk diam disamping suaminya, tak berani berkomentar apapun.
"Lah, emang ikut ke toko bukan kerja? sama aja. Apalagi nggak leluasa sebab istriku merasa canggung," elak Afnan. Dia tersenyum menggelengkan kepala tak habis pikir dengan sifat ibunya.
"Makanya biar nggak canggung, dia harusnya lebih ngoyo deketin mama, dong. Bukan malah menjauh," sergah Iwana lagi.
Bila Afnan menjawab lagi maka tak akan ada habisnya. Dia memilih diam, menikmati apa yang Iwana bawa untuknya.
Wanita paruh baya itu lantas mencecar Afnan tentang hasil tes medis Ziya. Sang pemilik konveksi tidak ingin Iwana kepikiran sehingga dia mengatakan bahwa mereka baik-baik saja.
Keesokan harinya. Pasangan Chairi mulai beraktivitas normal.
Ziya dikerubuti oleh anak-anak didiknya di bimbel. Kelembutan juga keramahan Ziya membuatnya menjadi guru idola.
Pemandangan ini tak luput dari perhatian seseorang yang berdiri di sisi ruang kepala sekolah. Dia lantas menghampirinya.
"Assalamualaikum." Suara seorang pria mendekat.
Ziya menoleh ke sumber suara, tampak olehnya kini lelaki muda dalam balutan jas hitam tengah berdiri menatapnya.
"Wa 'alaikumsalam," jawab Ziya seraya meladeni ocehan anak-anak. "Loh, di sini juga?" ucapnya heran.
"Pak Fawwaz!" seru anak-anak girang, kini gerombolan fans bertubuh mungil itu terbagi dua. Satu mengerubungi Ziya sedangkan sebagian beralih pada Fawwaz.
"Staff atau pendidik," tanya Fawwaz masih berdiri tak jauh dari Ziya. Dia pun mulai ikut meladeni celotehan para anak didiknya.
"Guru pendamping kelas dua dan tiga," jawab Ziya.
"Tahsin atau bahasa asing ... sama bu Zaylin atau ning Fathia?" selidik Fawwaz lagi. Dia penasaran, dua kali di pertemukan dengan Ziya dalam kesempatan berbeda.
Apakah ini artinya pertanda? Bagai istilah dalam film oppa-oppa Korea, pikirnya.
Sangat sulit mendapatkan partner kedua pengajar yang terkenal disiplin. Namun, tak di pungkiri semua anak didiknya mempunyai kualitas suara juga ketegasan lafadz yang baik.
Ziya kian heran, mengapa lelaki di hadapan mengenal para staf di sini. Dia pun bertanya, "Kak Fawwaz sebagai?"
.
.