Andai Tiada Mertua

Membujuk Iwana

"Wa alaikumussalaam." Wanita senja itu menengadah ke sumber suara. Manik matanya melebar mengetahui sosok yang menyapanya.

 

Yasmin tersenyum manis, dia meraih tangan Iwana untuk salim tapi wanita tua itu menolaknya. Iwana lantas melirik tajam ke arah sang menantu.

 

"Jadi kamu bawa mama ke sini buat ketemuan sama dia, Ais?" cecar Iwana sedikit mengetatkan giginya.

 

Aisyah buru-buru menggeleng. "Enggak, emang mau traktir mama, kok. Kebetulan aja kita ketemu di sini," elaknya sambil kembali duduk dan menyesap lemon tea dingin yang baru saja tiba.

 

Yasmin lantas ikut duduk meski Iwana belum mengizinkannya. Dia menanyakan kabar sang mantan mertua sebelum menyampaikan maksud.

 

Iwana tak menjawab, inginnya pergi tapi dia tidak tahu jalan pulang. Dirinya hanya pasrah menunggu urusan Aisyah selesai.

 

"Gimana kabar mas Afnan, Ma?" sambung Yasmin setelah diabaikan oleh Iwana.

 

"Mau ngapain?" tebaknya tanpa basa basi.

 

Wanita cantik itu kembali tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. Yasmin lalu memanggil waiter dan memesan minuman sebelum menjawab sindiran Iwana.

 

Dia mengatakan bahwa sempat melihat Afnan di rumah sakit beberapa waktu lalu. Sebagai orang yang pernah hidup bersamanya, Yasmin berkilah bahwa terbersit sedikit kekuatiran tentang kesehatan sang mantan.

 

"Afnan baik saja. Dia sudah menemukan pengganti kamu," ucap Iwana masih dengan nada dingin.

 

"Oh, jadi wanita yang bersamanya itu istri mas, ya? ... aku liat mas pas sama-sama nunggu di poli obgyn. Istrinya sakit, Ma?" pancing Yasmin dengan memasang wajah kuatir.

 

Iwana tak menjawab. Tempo hari dia juga menunggu Afnan di rumahnya tapi malah diminta pulang sebab mereka sedang di luar.

 

Dia juga penasaran dengan hasil pemeriksaan itu. Satu tahun menikah dengan Yasmin, Iwana tak merongrong masalah anak sebab tahu seperti apa tabiat sang wanita.

 

Namun, entah mengapa ketika datang di acara arisan ibu-ibu komplek beberapa bulan belakangan, dirinya seketika ingin lekas menimang cucu. Iwana iri melihat para kawan sebaya rata-rata sudah menyandang status Oma.

 

Karena Iwana tak menjawab, maka Aisyah yang membuka suara.

 

"Palingan medical mandulita atau enggak," sambar Aisyah sembari melukis senyum miring. "Lah, kamu ngapain di situ?" sambungnya lagi.

 

Yasmin menjeda kalimatnya, dia meneguk minuman soda yang baru saja tiba. "Aku ... sama, cek kesehatan juga. Alhamdulillah hasilnya baik. Rahimku sehat dan siap jadi calon mama," beber sang wanita ayu tersenyum malu-malu.

 

Aisyah ikut semringah. "Buat apaan cek gituan? Niat nikah lagi?" 

 

"Iya. Maunya sih rujuk," jawab Yasmin Khan, sembari menatap lurus mantan mertuanya.

 

Uhuk. Uhuk. Iwana terbatuk-batuk.

 

Yasmin segera bangkit, dia menepuk tengkuk Iwana meski kepeduliannya ditampik sang mertua. 

 

Aisyah tak kalah penasaran. Jika Yasmin menginginkan anak, kenapa dulu saat masih dengan Afnan dia tidak kunjung hamil. Ibu kandung Arman ini pun menanyakan hal tersebut.

 

Iwana terlihat mulai mendengarkan seksama saat pertanyaan Aisyah terlontar. Yasmin menangkap gelagat itu darinya.

 

"Gimana mau hamil, mas lebih sering tidur di ruang kerja dibanding denganku. Kalau gituan juga aku yang mulai," beber Yasmin tanpa malu-malu mengumbar aibnya.

 

"Kan bisa kamu atur harusnya pas masa subur?" kilah Aisyah merasa janggal dengan jawaban Yasmin.

 

Yasmin lantas berbisik pada Aisyah. Sahabat sekaligus mantan iparnya itu terkekeh kecil saat mendengar jawaban Yasmin.

 

Ingin rasanya Aisyah tertawa mendapat pengakuan jujur Yasmin, akan tetapi mulutnya masih dapat dia kendalikan. 

 

Iwana jadi penasaran. Namun, dia gengsi bertanya. Lagipula niatan Yasmin sudah terbaca olehnya. Wanita itu seolah mengatakan bahwa dirinya siap memberikan seorang cucu yang diidamkan.

 

"Istri mas cantik juga ya, masih muda pula. Jangan-jangan mereka periksa kehamilan saat itu," lanjut Yasmin masih berusaha memancing reaksi Iwana.

 

"Nggak mungkin, wong Ziya belum hamil sampe sekarang, kok. Palingan ya tadi, cek mandulita," sambar Aisyah lagi. 

 

Aisyah juga pernah mengatakan bahwa Ziya dekil, kusam juga tak setara dengan Afnan. Padahal kulitnya mulus dan cantik. Tapi, melihat reaksi Iwana yang tak membantah membuat Yasmin heran. 

 

Yasmin mulai kehabisan akal untuk membuat Iwana membuka suara. Dia sejenak merenung sambil berpura menggulir aplikasi di ponselnya. Sang wanita tengah menimbang berbagai macam kemungkinan baik dan buruk bila tetap ingin maju.

 

Aisyah adalah peluang dan bantuan terbaik yang dia miliki saat ini. Tidak ada yang dia kenal selain Aisyah di rumah itu. Belum lagi, saat menghadapi Iwana nanti, dia betul-betul membutuhkan info akurat.

 

Iwana bangun ketika dia melihat Aisyah asik sendiri. Dia melangkah pergi membuat menantunya kelabakan. 

 

Aisyah pun terburu-buru meninggalkan Yasmin. "Ma, mau kemana?"

 

"Ke klinik Shakira. Muka mama mendadak kisut ketemu masa lalu," sindirnya ringan sambil terus berjalan keluar resto.

 

Yasmin menyilakan Aisyah pergi dengan melambaikan tangannya. Dia butuh strategi baru dalam mendekati Iwana setelah upaya pertama terancam gagal.

 

Di dalam mobil, Iwana mengomeli Aisyah. Dia menuduh menantunya itu sengaja mempertemukan mereka berdua.

 

"Ais, jangan sekali-kali lagi begitu. Sampai kapanpun mama nggak sudi dia balik jadi mantu!" tegasnya berapi-api. Dia bahkan memukul lengan Aisyah yang sedang menyetir.

 

"Bukan sengaja, emang kebetulan aja, kok," kilah Aisyah, meringis saat melihat mertuanya masih menatap dingin.

 

"Mama ingat, dia memanfaatkan Afnan demi menolong suamimu. Jaminan uang untuk operasi Arif saat itu ...." Iwana terkenang masa lalunya dengan Yasmin.

 

Aisyah ikut tertegun. Saat itu dia pun buntu dan hanya Yasmin yang peduli. Timbal balik transaksi pun terjadi.

 

Ibu kandung Arman mencengkeram stir kuat-kuat. Dia juga ikut andil, tapi melihat iparnya memilih Ziya, ada rasa tak rela. Dia kuatir gadis cilik itu perlahan menguasai Afnan. Masa depan putranya bakal terancam. 

 

Dia kira, Yasmin tulus membantunya tapi tetap saja harus ada jasa yang m inienjadi alat tukar, seperti dulu. Sebenarnya Aisyah kuatir bila sokongan diam-diamnya untuk Yasmin, diketahui Afnan. Dirinya bahkan rela menanggung malu akibat ketahuan menguping.

 

"Kamu nggak akan kekurangan, Ais. Jangan merusak kepercayaan Afnan," ucap Iwana tiba-tiba. Nada suaranya menyiratkan sebuah kekuatiran. "Jauhi Yasmin. Berjuanglah dengan benar untuk anakmu." 

 

Iwana menoleh ke samping kanan, paham kekuatiran Aisyah. Dia pun memikirkan masa depan cucunya. Tapi, Iwana ingin sang menantu ini lebih bersungguh-sungguh agar menjadi ibu hebat bagi Arman.

 

Aisyah mengangguk. Dia menjadi tak enak hati, rencananya diketahui lebih dini oleh Iwana. Tapi, dia ingin tahu pemikiran sang mertua terhadap satu hal tadi.

 

"Ma, kalau hasil medical Ziya sulit untuk punya keturunan, bagaimana?" tanya Aisyah takut-takut.

 

Iwana mengalihkan perhatian ke jalanan. Dia menarik napas panjang. "Bukan urusanmu!" 

 

Dhuar!

 

Tak lama, bunyi notifikasi muncul. Aisyah sempat membaca sekilas dari pop-up saat berhenti di lampu merah. 

 

["Aku sudah melambung tinggi bahwa kesempatan untuk kembali bisa terbuka lebar. Namun, setelah melihat ini aku setengah hati."] Tulis Yasmin sadar usahanya akan lebih berat kali ini. Dia menduga, Afnan sangat mencintai Ziya. 

 

"Jadi mau menyerah? belum juga di coba semua rencana, masa sudah kalah." Aisyah memanasi lagi kobaran api yang hampir padam. "Namanya juga usaha. Serah kamu sih." Aisyah membalas pesan dengan memancing kegundahan Yasmin. 

 

 

 

.

 

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!