Andai Tiada Mertua
Afnan Cemburu
"Wakil kepala sekolah Al Ghifari," ujar Zaylin menjawab pertanyaan Ziya. Dia baru saja tiba. "Mbak Ziya ini pendampingku loh, Kang," jelasnya pada Fawwaz sambil mengacungkan jempol untuk sang partner.
Fawwaz sedikit terkejut. Dia memang menerima kabar bahwa guru pendamping di bimbel adalah gadis belia yang mumpuni. Saat pertemuan staf, dia tidak bergabung dengan mereka sehingga tak bersua dengan Ziya.
Namun, Fawwaz tak menduga bila sosok tersebut adalah alumni almamaternya dulu. Dia manggut-manggut sembari tersenyum. Wajar saja jika Ziya langsung mendapat tempat di hati para staf bimbel.
"Wah keren, Maa sya Allah. Semoga betah. Beliau sangat tegas demi kualitas alumni," kekeh Fawwaz melirik Zaylin. "Banyak lulusan dari sini yang dipinang dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Mesir."
Zaylin adalah guru teramah sekaligus paling tegas yang Ziya kenal di bimbel. Meski pekerjaan utamanya bukan di sini tapi sangat terlihat dedikasi beliau dalam mengoreksi bacaan anak didiknya.
Ziya hanya tersenyum sambil mengangguk. Dia lalu izin undur diri sebab merasa belum nyaman bicara panjang lebar dengan selain mahram.
Putri Salamah tidak akan pernah menduga, hal apa yang akan terjadi setelah ini.
Saat jam kerjanya usai, Afnan telah menunggu sang istri di parkiran. Dari dalam mobil, dia melihat pria yang sama di kampus Ziya beberapa waktu silam.
Keduanya terlihat saling tegur sapa. Cara pandang dan senyum lelaki itu pada Ziya, tampak berbeda di mata Afnan. Dia mulai diliputi curiga.
Afnan langsung turun menyambangi sang istri yang sedang melambaikan tangan ke salah satu anak didiknya.
"Sayang!" sebut Afnan berjalan cepat menghampiri.
Mereka menoleh bersamaan. "Mas!" Ziya semringah menyongsong suaminya membuat Fawwaz menduga sesuatu.
"Pulang, yuk. Latihan di rumah aja," kata Afnan berbisik manja pada Ziya saat sudah di depan si pria muda.
Ziya mengangguk lalu pamit begitu saja tanpa melihat ke arah Fawwaz.
"Pacar Ziya, kah? ... tampangnya dewasa amat," gumamnya melihat kemesraan mereka yang berlalu dari hadapan.
Sesampainya di rumah, Afnan langsung latihan fisik dengan menggunakan dumble. Sedangkan Ziya menyiapkan makan malam untuk mereka.
Dua jam sesudah itu. Keduanya baru saja usai makan dan sedang bercengkrama di ruang keluarga. Namun, ketukan di pintu membuat Afnan beranjak dari sana.
Iwana datang dengan wajah muram. Dia mengeluh kesepian di sana dan meminta mereka kembali.
"Tumben," kekeh Afnan.
"Harusnya kita yang ke Mama, bukan sebaliknya. Maafin ya, Ma," ucap Ziya saat menyalami sang mertua.
"Mama lempeng, kamu bilang tumben." Iwana mendengus sebal. "Nungguin kalian datang kek ngarep Fir'aun antri beras. Mustahil," sindirnya tetap pedas.
Di cibir demikian, Ziya malah tertawa kecil. Ketawa sang menantu ternyata menular pada Iwana. Dia terkekeh untuk pertama kalinya di depan Ziya. Memang salah mereka, wajar jika Iwana kesal.
Satu jam mengobrol dengan Afnan tentang kondisi toko yang dia kelola, akhirnya membuat Iwana lelah dan pulang.
Selama di sana, dia melihat Ziya wara wiri menyediakan apa yang Afnan minta. Gadis itu bahkan selalu membuat putranya tersenyum dengan sikap manja yang baru Iwana tahu.
"Mama pulang. Semoga kamu lekas hamil ya, Ziya. Pulanglah ... pekan depan mama balik ke rumah sendiri," tutur Iwana saat akan naik ke mobil.
Afnan terkejut, dia buru-buru bertanya tentang Aisyah. "Arman bagaimana?"
Iwana mendesah panjang sembari memandang wajah putranya. "Mama bawa tanpa Aisyah."
"Loh?" Ziya ikut menimpali.
"Entah mau apalagi dia itu. Mama capek dan rencananya mau mama kembalikan pada orang tuanya," sambung Iwana seraya menutup pintu mobilnya.
Afnan hanya diam, dia menimbang situasi terbaik. Memang seharusnya setelah iddah, Aisyah diberi pilihan untuk tinggal dengan Iwana atau orang tuanya.
Akan tetapi, Iwana langsung memutuskan sepihak dan memaksa membawa Aisyah ikut tinggal dengan Afnan. Padahal kurang pantas.
Tak lama, Kijang Innova hitam itu meninggalkan pelataran hunian sementara Afnan.
Kondisi tenang ini berlangsung hanya satu bulan ke depan. Mereka masih berjibaku dengan aktivitas masing-masing, dan tetap tinggal di rumah sementara.
Suatu siang, Zaylin mengabarkan pada Ziya bahwa dirinya kemungkinan akan ditarik ke sekolah Al-Ghifari sebagai guru bantu.
Awalnya Ziya menolak karena banyak staf lain yang mumpuni. Tapi, Zaylin mengatakan hanya dirinya yang memiliki kemampuan setara dengan guru inti di sana.
Afnan kembali curiga ketika melihat seragam Ziya persis dengan yang dikenakan oleh pria muda itu. Apalagi ketika Afnan mengecek wag staf di sana, terdapat banyak foto kebersamaan pria tersebut dengan para bawahannya.
Dia pun menduga ini hanyalah modus sebab jam kerja Ziya sampai sore. Itu artinya, sang istri hampir 12 jam beraktivitas di luar. Jangan-jangan kepindahan Ziya pun disponsori olehnya.
Mereka sedang program kehamilan, kondisi psikis dan fisik dilarang terlalu stres. Afnan berniat melayangkan protes ke pihak sekolah jika Ziya terlihat kelelahan.
"Kamu nggak peka, Zie. Dia suka sama kamu," jujur Afnan. "Lagian kita sedang program, Sayang," imbuhnya sebal saat menjemput Ziya sore itu.
"Siapa, sih? ... baru juga trial, Mas. Masa langsung ditolak? Kan aku nggak apa-apa," elak Ziya.
Memiliki pekerjaan sebagai pengajar bagai sang ayah adalah cita-citanya. Dia menikmati ini dan ketika Afnan keberatan, terbersit rasa tak suka di hati Ziya.
Kebetulan, sosok yang Afnan maksud muncul. Saat dia pamit ke Ziya, Afnan meminta istrinya itu mengenalkan mereka.
Ziya sedikit terheran tapi mengikuti kemauan sang suami. "Kak!" sebut Ziya membuat Afnan mengerutkan alisnya.
Fawwaz menoleh sembari mengulas senyum manis. "Ya?"
"Kenalin," kata sang guru wanita, semringah menunjuk ke arah Afnan.
Fawwaz pun menjulurkan tangan ke arah Afnan. "Fawwaz, Wakasek di sini," ujarnya percaya diri.
Afnan menyambut uluran tangan sang pria dengan gagah. "Afnan, suami Hanani Ghaziyah," balasnya tegas mengguncang tautan tangan mereka tanpa berkedip.
Ziya menunduk menyembunyikan senyum, sebelum akhirnya menjelaskan bahwa Fawwaz adalah adik kelas Afnan. Mereka tak saling kenal karena rentang masa didik.
Manik mata sang Wakasek sedikit melebar saat Afnan menyebutkan statusnya. Sikap beliau ini membuat Afnan kian yakin bila Fawwaz memang menaruh hati pada istrinya.
"Su-suami?" ulang Fawwaz.
Afnan melepas pertalian jemari, dia mengangguk tegas. "Iya."
Lelaki itu terpaksa tersenyum. Fawwaz pun izin pamit lebih dulu. Sikapnya langsung terasa canggung.
Sang pemilik konveksi tersenyum lebar penuh kemenangan melihat gurat kecewa di wajah Fawwaz tadi. Afnan pun berjalan bangga menggandeng tangan wanitanya menuju mobil.
"Mas, Mas." Ziya masih terkekeh saat telah di dalam mobil.
Ketika Afnan akan melajukan kendaraan keluar parkiran sekolah, ponselnya berdering. Tampak sebuah nama yang sontak membuat wajahnya berubah masam.
"Kenapa lagi?" lanjut Ziya yang merasa terhibur atas sikap suaminya.
Afnan menunjukkan identitas di layar ponsel pada Ziya. Seketika membuat putri Salamah tertawa lebar.
"Sudah kuduga." Ziya tak henti tertawa renyah. "Ya udah, sana Mas yang jawab."
Afnan menggeleng karena memiliki rencana. Sambil menyeringai lebar, dia meminta Ziya yang menjawabnya. "Kamu yang ngomong, Zie."
Ziya pun mengangguk sambil menyatukan telunjuk dan jempol membentuk huruf O. Afnan lalu menggeser tombol hijau kesamping.
"Assalamualaikum."
.
.