Anak Tebu yang Menatap Langit
Air Mata yang Disembunyikan 10
Malam turun perlahan di Desa Isorejo.
Langit gelap tanpa banyak bintang. Angin berembus pelan melewati kebun tebu, membawa suara yang panjang—seperti sesuatu yang ingin diucapkan, tapi tertahan.
Di dalam rumah kecil itu, lampu minyak kembali menyala.
Cahayanya redup.
Seperti hati Imam malam ini.
Ia duduk di sudut ruangan dengan buku terbuka di depannya.
Namun matanya tidak benar-benar membaca.
Huruf-huruf itu hanya lewat, tanpa makna.
Pikirannya masih tertahan di satu tempat—
di papan pengumuman pagi tadi.
Namanya yang tidak ada.
Imam menarik napas panjang.
Pelan.
Berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Di sudut lain, Limah masih menjahit. Jarumnya bergerak perlahan, teratur, seolah tidak pernah lelah.
Gimin berbaring, tubuhnya terlihat lebih letih dari biasanya.
Dan Ali…
Ali tertidur di dekat Imam.
Tangannya masih menggenggam buku tulis kecilnya.
Imam menatap adiknya lama.
Wajah itu begitu tenang.
Begitu polos.
Seolah dunia tidak pernah menyimpan kesulitan.
Imam tersenyum kecil.
Namun senyum itu tidak bertahan lama.
Perlahan, ia menunduk.
Tangannya mengepal di atas buku.
Dadanya terasa penuh.
Terlalu penuh.
Dan akhirnya…
air mata itu jatuh.
Satu tetes.
Lalu satu lagi.
Tanpa suara.
Ia tidak menangis keras.
Tidak terisak.
Ia hanya… membiarkannya keluar.
Diam-diam.
Seperti seseorang yang sudah terlalu terbiasa menyimpan semuanya sendiri.
“Kenapa…?” bisiknya pelan.
Bukan menyalahkan.
Hanya bertanya.
Kenapa rasanya sesakit ini?
Kenapa usaha belum cukup?
Namun tak ada jawaban.
Hanya suara angin dari luar.
Imam mengusap wajahnya cepat.
Ia tidak ingin ada yang melihat.
Ia tidak ingin ibu khawatir.
Ia tidak ingin ayah merasa bersalah.
Ia tidak ingin Ali kehilangan semangat.
Ia harus kuat.
Ia harus terlihat kuat.
Ia berdiri perlahan.
Keluar dari rumah.
Malam terasa dingin.
Langit gelap terbentang luas di atasnya.
Ia berjalan beberapa langkah ke depan rumah, lalu duduk di tanah.
Menatap ke atas.
“Ya Allah…” suaranya sangat pelan,
“aku tidak menangis karena kalah… aku hanya takut tidak cukup baik.”
Angin berhembus lebih kencang.
Daun tebu bergesekan panjang.
Seolah mendengar.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Air mata itu kembali jatuh.
Namun kali ini lebih jujur.
Lebih dalam.
Beberapa saat kemudian…
ia mendengar langkah kecil.
“Kak…”
Suara itu lirih.
Imam menoleh cepat.
Ali berdiri di belakangnya.
Matanya masih setengah mengantuk.
“Kakak kenapa di luar?”
Imam buru-buru mengusap wajahnya.
“Tidak apa-apa, Li. Kakak cuma… lihat langit.”
Ali mendekat.
Duduk di sampingnya.
Lalu berkata pelan,
“Kakak bohong ya?”
Imam terdiam.
Ali tidak bertanya banyak.
Ia hanya menyandarkan kepalanya ke bahu kakaknya.
Seperti biasa.
Sederhana.
Tapi hangat.
“Kak…” katanya pelan,
“kalau Kakak sedih… enggak apa-apa.”
Kalimat itu membuat Imam menoleh.
“Kata Bu Guru… kalau sedih boleh nangis… tapi jangan berhenti.”
Imam menatap adiknya.
Matanya kembali basah.
Namun kali ini… bukan karena kecewa.
Ia tersenyum.
Pelan.
Lalu merangkul Ali.
“Iya, Li… Kakak tidak akan berhenti.”
Ali mengangguk.
Seolah percaya sepenuhnya.
Mereka duduk berdua di bawah langit malam.
Tanpa banyak kata.
Namun cukup.
Beberapa saat kemudian, Imam berdiri.
Mengajak Ali masuk kembali ke rumah.
Lampu minyak masih menyala.
Semua masih seperti biasa.
Namun di dalam dirinya—
ada sesuatu yang berubah.
Ia membuka kembali bukunya.
Menulis dengan lebih tenang:
“Hari ini aku menangis. Tapi aku tidak akan menyerah. Karena mungkin, Allah sedang melatihku untuk menjadi lebih kuat dari yang aku bayangkan.”
Ia menutup buku itu.
Menatap Ali yang sudah kembali tertidur.
Lalu berbisik pelan,
“Kakak akan tetap jalan… untuk kita.”
Di luar, angin malam terus berhembus.
Kebun tebu tetap bergoyang.
Langit tetap luas.
Dan di dalam rumah kecil itu—
seorang anak baru saja belajar bahwa…
air mata bukan tanda kelemahan.
Tapi bagian dari perjalanan menuju kekuatan.