Anak Tebu yang Menatap Langit

Ayah yang Mulai Terlihat Rapuh 11

Pagi itu datang seperti biasa.

Kabut tipis masih menggantung di atas kebun tebu Desa Isorejo. Ayam berkokok bersahutan. Angin pagi berembus pelan, membawa aroma tanah yang lembap.

Namun ada sesuatu yang berbeda di rumah kecil itu.

Gimin belum bangun.


Biasanya, sebelum Imam membuka mata, ayahnya sudah lebih dulu bersiap. Suara langkahnya, suara air wudhu, suara pintu yang dibuka perlahan—semua sudah menjadi bagian dari pagi.

Tapi hari ini…

sunyi.


Imam duduk di dekat pintu kamar.

“Ayah…” panggilnya pelan.

Tak ada jawaban.

Ia masuk perlahan.

Gimin masih terbaring. Napasnya terdengar lebih berat dari biasanya. Wajahnya tampak pucat, berbeda dari hari-hari sebelumnya yang meski lelah, tetap menyimpan kekuatan.

“Yah…” Imam mendekat, “Ayah tidak berangkat?”

Gimin membuka mata perlahan.

Menatap Imam.

“Imam…” suaranya pelan, “hari ini… Ayah istirahat dulu.”

Kalimat itu sederhana.

Namun terasa asing.


Di dapur, Limah terlihat lebih sering menoleh ke arah kamar.

Tangannya tetap bergerak, tapi pikirannya jelas tidak tenang.

“Ayahmu sejak semalam panas,” katanya pelan.

Imam terdiam.

“Kenapa tidak bilang?” tanyanya.

Limah tersenyum tipis.

“Kalau ayahmu bilang, berarti sudah sangat sakit.”


Ali keluar sambil membawa buku tulisnya.

“Kak, kita ke ladang hari ini?”

Imam menggeleng.

“Tidak, Li. Ayah istirahat.”

Ali mengernyit.

“Kenapa?”

Imam tidak langsung menjawab.

Ia hanya berkata pelan,
“Ayah capek.”

Ali terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya lagi.


Hari itu terasa panjang.

Gimin lebih banyak diam. Sesekali batuk. Sesekali memejamkan mata lebih lama.

Imam duduk di dekatnya.

Memperhatikan setiap gerakan kecil.

Ada rasa yang sulit dijelaskan.

Bukan takut.

Tapi… khawatir yang perlahan tumbuh.


Sore hari, matahari mulai condong.

Biasanya, saat seperti ini, Gimin masih berada di ladang.

Namun hari ini, ia masih di tempat tidur.

Dan itu terasa janggal.

Sangat janggal.


“Ayah…” Imam berkata pelan,
“besok tidak usah ke ladang dulu.”

Gimin tersenyum lemah.

“Kalau Ayah tidak ke ladang… kita makan apa?”

Imam terdiam.

Jawaban itu terlalu nyata.


Di sudut ruangan, Ali memperhatikan.

Matanya berpindah dari ayahnya… ke kakaknya.

Seolah mencoba memahami sesuatu yang belum sepenuhnya ia mengerti.

“Kak…” bisiknya pelan,
“Ayah kenapa?”

Imam menatap adiknya.

Lalu berkata pelan,
“Ayah butuh istirahat.”

Ali mengangguk.

Namun kali ini… ia tidak tersenyum.


Malam datang lebih cepat.

Lampu minyak kembali menyala.

Namun suasananya berbeda.

Tidak ada percakapan ringan.
Tidak ada tawa kecil.

Yang ada hanya diam… dan pikiran yang berjalan sendiri-sendiri.


Imam duduk di dekat ayahnya.

Memegang tangannya.

Tangan yang dulu terasa kuat.

Kini… terasa lebih lemah.

Lebih dingin.


“Ayah…” suaranya pelan,
“Imam bisa bantu lebih banyak.”

Gimin membuka mata.

Menatap anaknya.

“Ayah tahu.”

Ia berhenti sejenak.

“Kamu sudah membantu… lebih dari cukup.”

Imam menggeleng.

“Belum, Yah.”

Suaranya mulai bergetar.

“Imam harus lebih kuat.”


Gimin tersenyum tipis.

“Imam… jadi kuat itu bukan berarti tidak pernah lelah.”

Ia menarik napas pelan.

“Jadi kuat itu… tetap berjalan meski lelah.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Namun terasa dalam.


Di sudut ruangan, Limah menahan air mata.

Ia tidak ingin suasana semakin berat.

Namun hatinya tahu—

ini bukan sekadar kelelahan biasa.


Malam semakin larut.

Ali tertidur lebih cepat dari biasanya.

Mungkin karena lelah.

Mungkin karena pikirannya penuh.


Imam masih terjaga.

Duduk di bawah lampu minyak.

Namun kali ini, ia tidak membuka buku.

Ia hanya diam.

Berpikir.


Tentang ayahnya.

Tentang rumah ini.

Tentang masa depan.


Untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan muncul di hatinya—

Bagaimana kalau Ayah benar-benar tidak bisa bekerja lagi?

Dadanya terasa sesak.


Ia menunduk.

Berdoa dalam diam.

“Ya Allah… jangan ambil kekuatan kami. Jika ini ujian, kuatkan kami. Jika ini peringatan, jangan biarkan kami terlambat.”

Air matanya tidak jatuh.

Namun hatinya… bergetar.


Di luar, angin malam tetap berhembus.

Kebun tebu tetap bergoyang.

Seolah dunia tidak berubah.

Namun di dalam rumah kecil itu—

sebuah kenyataan mulai terlihat.

Bahwa kekuatan yang selama ini mereka andalkan…

perlahan mulai rapuh.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!