Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Ujian keduanya

Reza jatuh bukan karena ngebut, tapi karena menghindar.

Di depannya, melaju sebuah gerobak pemulung ditarik motor tua. Jalannya oleng karena sedikit ngebut saat keluar dari belokan. Lampu belakangnya mati. Di jok belakang, karung-karung penuh botol plastik bergoyang, nyaris terlepas.

Reza terkejut lalu menarik setang ke kanan. Ban depan selip karena jalanan baru di aspal dan banyak pasir di permukaannya. Tubuhnya terlempar.

Yang ia ingat terakhir sebelum gelap, suara orang berteriak dan dadanya membentur aspal, lalu terseret sebentar.

Saat setengah sadar, ia mendengar suara warga. Ada yang mengangkat kepalanya. Ada yang memanggil-manggil namanya, meski ia tidak tahu dari mana mereka tahu.

“Kenapa, Mas? Kok bisa jatuh?”

Reza membuka mata sedikit. Pandangannya berkunang. Pelipisnya terasa panas dan perih.

“Gerobak ngebut…” katanya pelan. “Kalau aku maksa jalan lurus… dia yang kena.”

“Masih mikirin orang lain,” seseorang bergumam. "Kalau gini kan jadi bonyok sendiri," imbuh mereka.

Reza tersenyum tipis, entah terlihat atau tidak. “Dia ditunggu keluarganya,” katanya lagi, napasnya pendek. “Aku… belum punya tanggungan.”

Ia dibawa ke klinik terdekat. Klinik Pratama, tak jauh dari jalan sebelum jembatan.

Saat dokter menangani lukanya, ponsel Reza yang tergeletak di saku jaket tiba-tiba bergetar. Dokter meminta Warga agar mengangkat panggilan itu.

Saat seorang bapak mengeluarkan ponselnya. Layarnya retak, respon daya sentuhnya lambat meski tetap menyala.

Seorang warga mengangkatnya. “Halo?”

“Eh… ini siapa?” suara perempuan di seberang terdengar curiga.

“Maaf, Mbak,” jawab warga itu cepat. “Yang punya HP kecelakaan.”

“Apa?” Suaranya langsung panik. “Dimana sekarang?”

“Di jalan sebelum jembatan. Sekarang sudah di Klinik Pratama.”

“Bapak siapa?”

“Saya RT. Sekalian yang punya warung. Kejadiannya pas depan warung saya.”

Di seberang sana terdengar tarikan napas pendek dan berat.

“Oke, Pak. Saya ke sana sekarang. Tolong… tolong jangan kemana-mana ya, Pak.”

Telepon ditutup.

Di rumah, orang tuanya bertanya kenapa ia tergesa-gesa pergi. Gadis itu menjawab singkat, terbata. Tangannya sudah meraih tas. Air matanya jatuh satu, tepat saat menyalakan motornya.

Hatinya berdebar. Kenapa jadi kian rumit seperti ini ujiannya?

Di klinik, Reza mulai benar-benar sadar.

Pelipisnya dijahit dua jahitan. Tangannya lebam. Jaketnya sobek di bagian siku, sedangkan celananya di lutut. Tapi motornya hanya pecah spion dan baret di sisi kanan.

“Mas, tenang ya,” kata perawat. “Lukanya gak parah. Tapi perlu observasi sebentar.”

Reza mengangguk lemah. Tubuhnya dipindahkan ke kamar rawat inap sementara. Kepalanya masih berat dan matanya berdenyut nyeri.

Tak lama kemudian, langkah tergesa terdengar di lorong.

Gadis itu masuk. Wajahnya pucat. Matanya merah. Napasnya belum teratur.

Ponsel Reza diserahkan ke tangannya. Ia menerimanya dengan kedua tangan, lalu menoleh ke Pak RT dan warga yang masih menunggu.

“Makasih banyak ya, Pak… makasih,” katanya berkali-kali. Suaranya bergetar.

Setelah mereka pamit, gadis itu mendekat ke ranjang.

Melihat Reza terbaring lemah, perban di kepala, tangannya lebam, dadanya naik turun pelan, membuat air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Reza mendengar suaranya lebih dulu sebelum benar-benar melihat wajahnya.

“Kamu kenapa sih…” katanya lirih, “Kenapa harus kayak gini…”

Reza membuka mata. Pandangannya masih buram, tapi ia tahu siapa yang berdiri di situ.

“Maaf…” katanya pelan.

Gadis itu menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya bergetar. Tangisnya pecah di samping ranjang.

Reza memejamkan mata lagi. “Maaf…” suaranya serak. Hampir tak terdengar.

Gadis itu menggenggam tangannya. Erat. Seolah menyesal telah membebani seseorang yang ia sayang dengan keinginannya.

“Kata dokter kamu jatuh lumayan keras,” katanya cepat, seperti menahan panik. “Kenapa gak hati-hati?”

Reza menelan ludah. Dadanya sesak, bukan cuma karena sakit. Tapi tak tega melihat kekasihnya menangis seperti ini.

“Ada gerobak pemulung,” katanya pelan. “Motornya oleng. Kalau aku lurus, dia yang kena.”

Matanya menatap langit-langit, bukan ke wajah gadis itu.

“Aku mikir… dia ditunggu keluarganya. Aku belum punya tanggungan.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Genggaman tangan itu mengendur sesaat.

“Kamu selalu mikir orang lain,” suara gadis itu turun, berubah lirih. “Terus kamu pikir aku apa?”

Reza menoleh. Mata mereka bertemu. “Aku juga mikirin kamu,” jawab Reza jujur. “Makanya aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut aku belum bisa jadi sandaran dan rumah yang aman.”

Gadis itu menggeleng. Air matanya jatuh satu-satu ke sprei putih. “Aku gak butuh aman versi orang-orang, Za. Aku cuma butuh kamu sehat. Pulang sama-sama ke rumah.”

Reza memejamkan mata. Dadanya naik turun. Kata-kata itu lebih pedih daripada dua jahitan di pelipisnya.

Pintu kamar diketuk pelan. Dokter masuk sebentar, memastikan kondisinya stabil. “Lukanya ringan. Tapi harus istirahat. Jangan dulu mikir berat-berat.”

Reza tersenyum tipis, bergumam, "Kalau bisa, sih maunya juga gitu, Dok."

Dokter tertawa pelan. "Ya jangan diborong sendirian semua, Mas," imbuhnya melirik ke wanita di samping Reza.

"Mbak, ada yang harus ditandatangani, ya," katanya pada si gadis yang duduk di kursi.

"Baik, Dok." Dia mengangguk, otaknya langsung berpikir soal bayar tagihan. 

Setelah dokter keluar, kamar kembali sunyi. Hanya ada bunyi alat medis dan napas mereka berdua.

Gadis itu mengambil ponsel Reza dari tasnya. Layarnya retak, responnya lambat. Ia mengusapnya pelan. “HP kamu retak,” katanya pelan.

“Iya,” jawab Reza. “Masih bisa dipakai….”

Gadis itu terdiam. Lalu berkata pelan, hampir berbisik, “Kita juga gitu ya, Za.”

Reza menoleh.

“Masih bisa jalan,” lanjutnya. “Asal menerima."

Kalimat itu menggantung di udara. Membuat keduanya berpikir masing-masing. Tidak perlu mewah, sederhana tapi berkesan.

Di luar kamar. Banyak orang berdoa dengan hal-hal sederhana, yang baru disadari ketika nyawa diambang batas. Tuntutan hidup, kesetaraan sebab penilaian sekitar, lolos begitu saja di sini.

Reza memejamkan mata lagi. Kali ini bukan karena pusing, tapi karena lelah dan nyeri yang direndam sementara oleh obat. Seperti beban hidupnya, memaksa istirahat sejenak.

Gadis itu berdiri di depan meja administrasi. Kuitansi di tangannya berisi tagihan klinik. Kamar, biaya jahit luka, obat dan observasi. 

Belum lagi bayangan memperbaiki ponsel Reza yang layarnya retak, dan motor yang meski hanya spion pecah serta baret, tetap butuh uang.

Ia menghela napas panjang. Harusnya uang segini bisa buat beli seserahan, tapi malah buat biaya lain, keluhnya dalam hati.

Harusnya cukup buat nutup satu tahap lagi. Tangannya mengepal di sisi tas. “Kok ada aja sih halangannya…” gumamnya lirih.

Dia masuk kembali ke kamar. Duduk di sisi ranjang Reza. Nada suaranya serak antara capek dan pasrah.

“Apa emang… gak boleh lanjut, ya?”

Kalimat itu keluar tanpa benar-benar ia sadari. Punggungnya bersandar lesu di kursi menatap jumlah tagihan yang baru dibayarnya.

"Kata orang tua, kalau banyak rintangan, artinya kudu mikir ulang," imbuhnya masih memegang kertas itu.

“Dek…”

Suara itu terdengar lemah. Tubuhnya langsung menegang. Ia mendongak perlahan. Reza sudah membuka mata.

Deg.

"Eh, Za."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!