Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Terancam Gagal
“Eh, Za…” suaranya terdengar kaget.
Reza memaksa kelopak matanya terbuka lebih lebar. Wajahnya masih pucat, tapi sudah sadar.
“Kamu habis dari depan?” tanyanya pelan.
Gadis itu mengangguk. Tangannya cepat-cepat masukin kertas itu ke tas. “Iya.”
Reza melirik tasnya. “Tagihannya?”
Gadis itu menghela napas. Duduk lagi di kursi. “Lumayan.”
Reza diam. “Maaf ya,” katanya pelan. “Jadi nambahin beban.”
“Bukan salah kamu,” jawabnya cepat. “Cuma… kok semuanya kebetulan bruk di satu waktu.”
Ia menyenderkan punggung. Tatapannya kosong. “Harusnya uang segitu bisa buat hal lain.”
Reza menelan ludah. “Buat seserahan?”
Gadis itu menoleh. Kaget. Kepalanya langsung menunduk, ada rasa tak enak hati menyergap. “Kamu denger?”
Reza mengangguk pelan. “Maaf.” Cuma kata ini yang keluar dari bibirnya. Merasa dirinya cuma beban.
Sunyi sebentar.
“Aku tuh kadang mikir,” kata gadis itu pelan, “kenapa setiap mau maju, pasti ada aja yang bikin mundur.”
Reza tersenyum tipis. “Iya.”
“Apa emang tandanya kita jangan lanjut, ya?” lanjutnya, nadanya lirih.
Reza menatap langit-langit. “Aku juga sering mikir gitu.”
Gadis itu menoleh. “Terus?”
Reza menarik napas. “Aku takut kamu capek karena aku.”
Gadis itu terdiam. Matanya berkaca, tapi suaranya tetap ditahan.
“Aku capek sama keadaan, Za. Bukan sama kamu.”
Reza mengangguk pelan. “Tapi keadaannya datang barengan sama aku.”
Kalimat itu bikin gadisnya menunduk.
“Kalau kamu mau mikir ulang,” lanjut Reza pelan, “aku ngerti.”
Gadis itu langsung menggeleng. “Jangan ngomong gitu.”
“Bukan nyuruh pergi,” kata Reza cepat. “Cuma… aku gak mau kamu maksa.”
Sunyi lagi.
Gadis itu berdiri. Meraih tas. “Aku beli air dulu,” katanya pendek.
Reza mengangguk.
Di depan pintu, gadis itu berhenti. Tidak menoleh. “Za…”
“Iya?"
“Kalau nanti orang tuaku nanya,” suaranya pelan, “kita jawab apa?”
Reza terdiam. Lalu berkata pelan, "Kita ngobrol lagi ya.”
Gadis itu mengangguk. Tangannya memegang tali tas lebih erat.
"Ngobrol apa?”
“Semua,” jawabnya jujur. “Uang. Rencana. Nikah kita.” Reza menelan ludah.
“Iya,” katanya akhirnya. “Kita ngobrol.”
Reza ingin bilang maaf, ingin bilang aku lagi berusaha, tapi kata-kata itu seperti macet di tenggorokan.
Gadis itu melangkah ke pintu, lalu berhenti.
Menoleh sekali lagi. "Dipikirin sama-sama ya, Za," ujarnya pelan. "Kalau aku langsung pulang dulu, kamu gak apa?"
Reza menoleh, mengangguk samar. Senyum tipis terlukis di bibirnya. Mengiringi langkah calon istrinya pergi.
Pintu tertutup pelan. Kamar kembali sepi. Hanya ada bunyi alat medis dan napas Reza yang masih berat.
Reza menatap tangan kanannya yang lebam.
Tangan yang tiap hari dipakai kerja, ngitung uang, dan nahan banyak keinginan.
Kepalanya berdenyut hebat. Pusing memikirkan cari tambalan buat uang yang baru aja kepotong buat biaya klinik. Uang yang harusnya bisa dipakai buat seserahan.
Ia memejamkan mata. Besok, pikirnya.
Kalau nanti orang tuanya nanya, kalau nanti mertuanya minta kepastian, kalau nanti ditanya sanggup atau tidak—
Reza menarik napas panjang. Besok, keputusan gak bisa ditunda lagi.
Reza gak tahu jawabannya bakal diterima atau tidak. Yang dia tahu, dia sudah capek pura-pura sanggup.
*
Lorong klinik kembali ramai sore itu. Orang tua Reza datang lebih dulu.
Ibunya hampir berlari kecil, mukanya tegang sejak dari pintu. Ayahnya menyusul, lebih tenang tapi sorot matanya penuh khawatir.
“Reza…” suara ibunya pecah saat melihat anaknya terbaring dengan perban di kepala. “Kok bisa begini, Nak…”
Reza tersenyum tipis. “Gak apa-apa, Bu. Cuma jatuh.”
“Cuma jatuh katanya,” ibunya langsung nyerocos. “Ini kepala dijahit dua jahitan dibilang cuma jatuh.”
Ibunya menoleh ke sekeliling. Tidak ada yang menemani putranya. Dia bertanya kemana pacarnya itu? Reza bilang tadi beli minum tapi kayaknya langsung pulang.
Belum sempat lanjut bicara, suara langkah terdengar lagi.
Orang tua si gadis datang. Ibunya langsung masuk lebih dulu, wajahnya tegang. Ayahnya menyusul, berdiri agak jauh.
“Za, udah enakan?” tanya ibunya calon istri, nadanya datar.
“Iya, Bu,” jawab Reza pelan.
Sunyi sebentar.
Udara di kamar itu mendadak berat. Ibunya Reza yang tidak tahan diam, langsung buka suara.
“Saya mau ngomong ya, Bu,” katanya sambil duduk di kursi dekat ranjang. “Dari kemarin anak saya kepikiran. Dari sebelum jatuh juga.”
Ibunya calon istri mengangguk singkat. “Kami juga kepikiran.”
“Nah,” potong ibunya Reza cepat. “Kepikiran boleh. Tapi jangan sampai anaknya yang jadi korban.”
Ayah Reza ikut menimpali, suaranya lebih pelan. “Reza ini kerja tiap hari, Bu. Cari nafkah itu juga ibadah.”
Ibunya Reza mengangguk keras. “Betul. Ini lihat jadinya. Stres, gak fokus di jalan. Padahal kalau kenapa-kenapa, siapa yang rugi?”
Ibunya calon istri mulai menyilangkan tangan. “Kami cuma minta sesuai adat.”
Ibunya Reza menarik napas panjang. “Adat itu niatnya baik, Bu. Tapi jangan sampai jadi beban.”
Ia menoleh ke Reza sebentar, lalu lanjut lagi, suaranya makin tegas. “Anak saya mau nikah, mau ibadah. Masa malah dihalangin sama gengsi?”
“Resepsi itu sunah,” sambung ayah Reza. “Nikah murah biar gak zina."
Ibunya Reza langsung nyamber, “Yang mahal itu gengsinya, Bu. Omongan orang mah gak ada habisnya.”
Ibunya calon istri menghela napas. “Kami cuma gak mau anak kami diremehin orang.”
“Diremehin gimana?” suara ibunya Reza meninggi. “Anaknya dinikahin baik-baik, tanggung jawab, itu udah mulia.”
Ia menepuk paha sendiri. “Kalau anak-anak ini dipaksa begini terus, stres, jatuh, kenapa-kenapa, siapa yang salah?”
Sunyi.
Gadis itu menunduk, matanya berkaca-kaca. Dia masuk tepat setelah terjadi ketegangan di antara orang tua mereka.
Reza hanya diam, memijit lembut pelipisnya dengan ujung jari.
Ibunya Reza belum selesai. “Jangan sampai kita jadi orang tua yang malah ngehalangin anak. Nanti kalau anak situ kenapa-kenapa, stres, depresi—yang disalahin siapa? Reza lagi. Anak saya lagi.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Ibunya calon istri akhirnya bicara, lebih tegas dari sebelumnya. “Kan itu kewajiban pihak lelaki.”
"Apa nggak malu, Bapak sama Ibu, anaknya ngelamar kok seadanya," imbuh ayahnya calon istri.
“Kita semua serba pas-pasan,” jawab ayah Reza tenang. “Makanya dicari jalan tengah. Bukan ditekan salah satunya.”
Ibunya Reza mengangguk. “Restuin aja dulu, Bu. Sisanya bisa nyusul. Hidup itu panjang."
Reza yang sejak tadi diam, akhirnya buka suara. “Saya gak mau nyusahin siapa-siapa,” katanya lirih. “Saya cuma mau sehat, kerja tenang, dan nikah baik-baik.”
Semua terdiam.
Di ranjang klinik kecil itu, bukan cuma luka Reza yang dibahas tapi juga ego, gengsi, dan ketakutan orang-orang dewasa yang selama ini lupa—mereka juga manusia.
Ibunya calon istri berdiri. Mengambil tasnya, merapikan kerudung seperti sedang menata ulang ego dan perasaannya sendiri.
“Kita pulang dulu,” katanya singkat. “Biar semua dingin. Besok atau lusa kita ngomong lagi.”
Ayahnya mengangguk. Gadis itu menoleh ke Reza. Tatapan mereka bertemu sebenta, tersenyum tipis, lalu ikut melangkah keluar.
Ibunya Reza diam, menatap sinis calon besannya itu. Dia lalu menepuk kaki Reza pelan.
"Za,” katanya tanpa menoleh.
“Nanti kalau kamu benar-benar gak sanggup… bilang dari sekarang.”
Reza terdiam, ini yang paling dia takutkan. Desakan orang tuanya. "Maa...."
.
.