Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Nyaris saja

“Assalamualaikum.”

Slamet yang sedang duduk di kursi dapur menoleh. Ia bangkit pelan, melangkah ke pintu. Begitu daun pintu dibuka, Ujang sudah berdiri di depan rumah. Jaket ojek onlinenya masih dikenakan. Helm ditenteng di tangan kiri. Di tangan kanan, ada amplop yang digenggam rapi.

“Waalaikumsalam,” jawab Slamet.

Ujang tersenyum, sedikit kaku. “Maaf ganggu, Pak. Saya… ini mau nganter DP.”

Slamet mempersilakan masuk. Rumah itu sederhana. Dapur menyatu dengan ruang tengah. Di meja, masih ada kertas catatan bahan kue dan beberapa toples kosong. Bau dapur belum benar-benar hilang.

Ujang berdiri saja. Tidak duduk. “Ini dari ibu yang pesan,” katanya sambil menyerahkan uang itu. “Belum banyak, Pak. Katanya segitu dulu. Sisanya nanti pas pengambilan.”

Slamet menerima. Tangannya menahan uang itu sebentar, tidak langsung melihat isinya. “Nggak apa-apa,” katanya pelan. “Makasih ya, Jang.”

Ujang mengangguk. “Saya juga sudah bilang ke beliau. Ini usaha kecil. Jadi kalau bisa, saling ngerti.”

Dari dapur, istri Slamet muncul. Tangannya masih memegang lap. Ia berhenti di ambang pintu, tersenyum kecil pada Ujang.

“Terima kasih ya, Nak,” katanya singkat.

Ujang tersenyum lebih lebar. “Sama-sama, Bu.”

Ia pamit tak lama kemudian. Slamet mengantar sampai teras. Sebelum melangkah pergi, Ujang berhenti sebentar.

“Pak,” katanya. “besar atau kecil, dapet order itu rasanya kayak dapet rezeki jatuh, ya.”

Slamet tersenyum. “Iya. Yang penting halal.”

Ujang mengangguk. Motor dinyalakan. Ia melambaikan tangan kecil, lalu pergi menyusuri jalan.

Slamet kembali masuk. Ia duduk lagi di meja. Baru kali ini uang itu dibuka. Tidak banyak. Tapi cukup membuat napasnya terasa sedikit lebih lega.

Istrinya mendekat. Mereka menghitung bersama. Pelan.

“Buat telur sama minyak bisa,” kata istrinya. “Gula sama tepung… sebagian ngutang dulu.”

“Iya,” jawab Slamet.

Ia melipat uang itu kembali, memasukkannya ke saku. Tidak ada ucapan syukur berlebihan. Hanya satu keputusan kecil yang akhirnya bisa diambil.

“Berarti siang ini belanja,” kata istrinya.

“Sekarang aja,” jawab Slamet. “Biar nggak kepikiran.”

Istrinya mengangguk. Ia mengambil tas belanja dari paku di dinding. Slamet berdiri, meraih kunci motor.

Anting Mya masih terlintas sebentar di kepalanya. Tapi kali ini, ia tidak perlu menyentuhnya. Setidaknya, belum.

Sebelum pergi, mereka melihat ke dapur. Besok, tempat ini akan mengebul lebih pagi dari biasanya. Catatan bahan lalu dilipat dan dimasukkan ke tas.

Mereka berhenti di warung Bu Sari lebih dulu. Warung kecil di ujung gang, rak kayunya penuh sembako, motif lantainya tak sama, dari keramik-keramik sisa renovasi tetangga.

“Bu, tepung sama gula ya,” kata istri Slamet.

Bu Sari membuka buku catatan kecil di tangannya. Mengecek apakah mereka masih punya utang. “Berapa banyak?”

“Seperti biasa aja, Bu,” jawab Slamet.

Bu Sari menimbang sebentar, lalu berhenti. “Pak Slamet,” katanya, nadanya bukan keras, tapi tegas. “Saya bisa ngutangin, tapi jangan banyak-banyak. Sama jangan lama bayarnya.”

Slamet mengangguk cepat. “Iya, Bu. Saya ngerti.”

“Bukan apa-apa,” lanjut Bu Sari sambil menuliskan angka. “Saya tuh males nagih. Biasanya yang ngutang malah galakan dari yang ditagih.”

Istri Slamet tersenyum kecil, sedikit sungkan. “Iya, Bu. Nanti habis pesanan beres, langsung dibayar.”

Bu Sari mengangguk. “Ya sudah. Saya percaya. Tapi jangan lupa ya.”

“Iya, Bu. Makasih,” kata Slamet.

Tidak ada basa-basi panjang. Hutang kecil tidak perlu dibungkus kata-kata manis. Semua orang di gang itu tahu rasanya merintis.

Dari situ mereka lanjut ke toko bahan kue. Telur harus beli. Margarin juga. Slamet menghitung uang di saku celana, memastikan cukup. Ia memilih telur satu per satu, pelan, seperti memilih harapan. Jangan sampai ada yang retak. Jangan sampai ada yang terbuang.

Tidak semua masalah selesai. Modal masih mepet. Pesanan belum tentu lancar. Tapi hari ini, mereka bisa mulai. Dan lebih dari cukup untuk membangun harapan baru esok pagi.

***

Pagi belum benar-benar terang saat Slamet bergegas pulang dari tugas jaga komplek. Jalanan masih basah sisa hujan semalam. Motor Astrea merahnya melaju pelan.

Slamet membunyikan klakson dua kali saat melewati warung. Hartati hanya menoleh sesaat. Dia tidak mampir ke sana pagi ini, istrinya sedang menunggu di rumah. Berpacu dengan waktu membuat kue.

Sesampainya di rumah, udara panas dapur langsung menyergap Slamet. Kompor menyala semua. Loyang berjajar di lantai. Meja penuh dengan bahan kue.

Jam dinding berdetak lebih cepat dari jam di tangan Slamet—atau mungkin perasaannya saja yang membuat waktu terasa sempit.

Istrinya sedang mengaduk adonan. Slamet gegas ganti baju. 

"Kopinya diminum dulu, Pak," ucap sang istri.

Slamet mengangguk, menyeruput kopi di meja lalu duduk membantu menuang, menyiapkan cetakan, mengangkat loyang ke oven kecil. Panas mulai terasa. Bau kue menyebar, memenuhi rumah.

Mya keluar dari kamar. Bersiap berangkat sekolah. “Bu, lapar.”

“Nanti ya, Nak,” jawab ibunya. “Ini lagi buru-buru.”

Mya mengangguk, lalu duduk di kursi dekat dapur. Ia memperhatikan orang tuanya bekerja. Tidak banyak bicara.

Waktu berjalan cepat. Satu loyang matang. Dua. Tiga. Kue mulai disusun di meja, menunggu dibungkus. Saat itulah kejadian kecil itu terjadi.

Mya berdiri, berniat mengambil air minum. Lengannya menyenggol ujung meja.

Bruk.

Dua kue jatuh ke lantai.

Hening sekejap.

Istri Slamet menoleh cepat. Slamet refleks berdiri. Mya mematung, wajahnya pucat.

“Maaf, Bu…” suaranya kecil.

Slamet menghela napas panjang. Tangannya mengepal sebentar, lalu dilepas lagi. Ia menatap dua kue yang hancur di lantai. Tidak banyak. Tapi cukup membuat jantungnya berdegup lebih kencang.

“Gak apa-apa,” katanya akhirnya, menahan nada. “Cuma dua.”

Istrinya cepat-cepat membersihkan. “Duduk di depan dulu ya, Mya. Sarapan bentar lagi siap.”

Mya mengangguk, berjalan pelan. Punggungnya sedikit menunduk.

Slamet duduk kembali. Wajahnya tegang. Bukan marah, lebih ke cemas. Ia melirik jam. Waktu makin mepet. “Lanjut aja,” katanya pelan. “Masih cukup.”

Di luar rumah, motor berhenti. Ujang turun, helm di spion. Ia melirik ke dalam, ragu mau masuk atau tidak.

“Assalamualaikum,” panggilnya.

“Waalaikumsalam,” jawab Slamet.

Ujang masuk. Matanya langsung menyapu dapur. Loyang masih penuh. Kue baru setengah jadi.

“Masih proses ya, Pak?” tanyanya hati-hati.

“Iya. Baru lima puluh persen,” jawab Slamet jujur.

Ujang mengangguk. Wajahnya tegang tapi berusaha santai. “Nggak apa-apa, Pak. Saya tunggu.”

Ia duduk di kursi ruang tamu. Ponselnya di tangan. Sesekali ia mengecek jam. Bukan karena tak sabar, tapi karena yang pesan itu pegawai kantor. 

Dalam kepalanya, Ujang membayangkan kemungkinan baik. Kalau pesanan ini lancar, mungkin ia bisa nambah uang belanja buat ibunya. Bisa sedikit bantu ongkos PKL adiknya. Bahkan, kalau ada sisa, ia ingin menyelipkan ke tabungan kecilnya—tabungan masa depannya.

Tidak besar. Tapi cukup untuk merasa hidupnya punya harapan.

Ia menatap dapur. Melihat Slamet bolak-balik, melihat istrinya tetap tenang meski peluh membasahi dahi.

“Semoga cukup waktu,” gumamnya dalam hati.

Di dapur, Slamet kembali mengangkat loyang terakhir. Tangannya sedikit gemetar karena panas dan lelah. Tapi ia bertahan.

Kue terakhir keluar oven. Mereka saling pandang. Tidak ada sorak. Hanya napas lega yang tertahan lama akhirnya dilepas.

“Alhamdulillah,” kata istrinya.

Slamet mengangguk. “Alhamdulillah.”

Masih ada yang harus dibungkus dan dihitung ulang. Tapi satu tahap terlewati.

Ujang berdiri. Wajahnya sedikit lebih cerah. “Kalau begini, saya yakin, Pak.”

Slamet tersenyum tipis. Ia tahu ini belum selesai. Tapi hari ini, mereka tidak menyerah. Sarapan Mya jadi, Slamet bersiap antar Mya ke depan.

Dan, rumahnya kedatangan seseorang. "Pak."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!