Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Kendala Kecil

Ciri khas warung Hartati adalah jam dinding yang menunjukkan waktu sedikit lebih cepat dari seharusnya. 

Pagi itu berjalan seperti biasa. Pintu lipat terbuka penuh. Udara pagi sudah lebih hangat. Gorengan di etalase tinggal separuh, kopi sudah beberapa kali diseduh. Orang datang dan pergi dengan keperluan masing-masing, sebagian duduk sebentar, sebagian hanya mampir lewat.

Hartati mengelap meja, menggeser kursi yang tidak rapi, lalu kembali ke belakang etalase. Tangannya bergerak otomatis, tapi matanya melihat lebih banyak dari apa yang orang lain lihat.

Pak Slamet datang agak siang hari itu. Tidak seperti biasanya yang pagi-pagi. Seragamnya sudah dilepas, hanya kaos tipis dan celana bahan. Ia duduk di kursi ujung, kursi yang sama.

“Kopi, Bu,” katanya singkat.

Hartati menyeduh tanpa bertanya lagi, sudah hafal kebiasaannya. Pahit, seperti biasa.

Pak Slamet meminum kopinya pelan. Tapi, hari ini tangannya memegang gelas lebih lama dari biasanya.

Tak lama kemudian, Ujang muncul. Jaket ojek online terbuka, helm di tangan. Ia berdiri sebentar di depan warung, seperti ragu mau duduk atau tidak.

“Kopi juga?” tanya Hartati.

“Iya, Bu,” jawab Ujang. “Yang biasa.”

Ujang duduk di dekat Pak Slamet. Masih ada jarak di antara mereka, tapi cukup dekat untuk ngobrol ringan.

Hartati mendengar potongan-potongan kalimat tanpa sengaja. Ia tidak berniat menguping, hanya telinganya sudah terbiasa menangkap obrolan pelanggan di warungnya.

“Soalnya bukan buat di sini, Pak,” kata Ujang pelan.

“Iya,” jawab Slamet singkat. “Saya ngerti.”

Hartati meletakkan gelas kopi milik Ujang di meja mereka. Tangannya berhenti sepersekian detik saat melihat wajah Slamet yang tampak berpikir. Bukan wajah seperti biasanya yang santai menikmati kopi.

“Kuenya…” suara Ujang hampir tenggelam oleh suara motor lewat.

Hartati melirik sekilas. Bukan karena ingin tahu, tapi karena satu kata itu cukup menarik perhatian. Kue.

Ujang mengangguk kecil, seperti meyakinkan. Slamet lalu mengacungkan jempolnya.

Percakapan mereka berhenti di situ. Tidak ada penjelasan lanjutan. Kopi kembali diminum dalam diam.

Hartati kembali ke belakang etalase. Tapi pikirannya berputar pada obrolan dua pria di depannya.

Beberapa menit kemudian, Ujang berdiri lebih dulu. “Saya jalan dulu, Pak."

“Iya,” kata Slamet. “Nanti saya kabarin, kalau sudah jadi.”

Ujang tersenyum kecil. Seolah yakin bahwa harapan soal laba pesanan, yang diletakkan di Slamet akan terwujud.

Ujang pamit pada Hartati, lalu pergi. Sementara Pak Slamet masih duduk.

Hartati menuang air panas ke ketel kosong, lalu berkata pelan, seolah sambil lalu, “Ada kerjaan baru, Pak?”

Slamet mengangkat wajah. Terkejut sedikit, lalu tersenyum tipis. “Nggak, sambilan kecil aja, Bu.”

Hartati mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu batas. Tidak semua hal perlu dibuka di warung ini.

“Istri Bapak masih bikin kue?” tanyanya kemudian, sambil menutup ketel dan meletakkan kembali di tempatnya.

“Masih,” jawab Slamet. “Lumayan buat tambahan.”

“Alhamdulillah kalau gitu,” kata Hartati singkat. “Enak soalnya.”

Slamet tidak menjawab. Ada binar bahagia kecil di matanya. Setelah kopinya habis, ia berdiri. “Saya duluan, Bu.”

“Hati-hati,” kata Hartati.

Slamet pergi. Warung kembali diisi suara pelanggan lain, dengan cerita yang berbeda.

Hartati menyeka meja bekas duduk mereka. Tangannya berhenti sebentar di bekas lingkaran gelas. Ia menghapusnya perlahan. Ia tidak tahu pasti urusan apa yang sedang mereka jalani. Tidak juga ingin ikut campur. Tapi dari caranya Slamet duduk lebih lama, dan dari cara Ujang bicara pelan, Hartati tahu satu hal.

Ada orang-orang yang sedang berusaha, dengan caranya masing-masing.

Warung ini hanya persinggahan. Tempat orang berhenti sebentar, sebelum kembali menghadapi dunia yang menuntut mereka memenuhi banyak hal, katanya agar bisa hidup seperti kebanyakan orang.

Hartati menuang kopi untuk dirinya sendiri. Kali ini tidak terlalu panas. Ia duduk sebentar. Menghela napas. Mendengarkan suara jam dinding yang berdetak sedikit lebih cepat.

***

Slamet pulang, rumah masih sunyi. Istrinya ada di dapur, menata toples-toples kosong di atas meja.

Istrinya berhenti sejenak. Lalu melanjutkan lagi pekerjaannya. “Nanti siang kudu belanja bahan, Pak,” ucapnya pelan.

Slamet mengangguk. Ia mengambil kertas kecil dari saku celana. Duduk lebih dekat ke meja dapur.

Mereka mulai mencatat, dan menghitung modal.

Tepung. Telur. Gula. Margarin. Cokelat. Minyak. Beras. Plastik. Dus.

Nama-nama bahan itu ditulis urut satu per satu, menghitung seberapa banyak uang yang akan dikeluarkan. 

Istrinya menggeser kertas itu ke tengah. “Modalnya kurang,” katanya jujur. Wajahnya sedikit cemas.

Slamet mengangguk lagi, sudah menduga. Ia mengambil ponsel, menelpon Ujang. Begitu tersambung, Slamet langsung bicara.

“Jang,” katanya pelan. “Soal pesanan kemarin… ada DP nggak?”

Di seberang sana, Ujang terdiam sebentar. “Saya tanya dulu ya, Pak.”

Telepon ditutup.

Slamet dan istrinya saling diam. Bukan karena tak ada yang mau dibicarakan, tapi karena sama-sama sedang mencari alternatif cara agar semua bisa dibeli.

Tak lama, ponsel Slamet bergetar.

“Ada, Pak,” kata Ujang saat ditelepon balik. “Tapi nggak banyak. Nggak sampai separuh.”

Slamet menarik napas lega, melirik istrinya. “Nggak apa-apa. Makasih ya.”

Setelah telepon ditutup, istrinya menatap lagi kertas di atas meja lalu beralih ke suaminya. “Masih kurang jauh.”

“Iya,” jawab Slamet.

Istrinya berdiri, berjalan ke dapur belakang. Membuka lemari kecil. Melihat isinya. Dia diam, sedang menimbang dalam kepala.

“Sebagian bisa ngutang di warung Bu Sari,” katanya. “Tepung sama gula.”

“Telur harus beli,” imbuh istrinya lagi. “Kalau ngutang kebanyakan, kita susah bayarnya.”

Slamet mengangguk. Ia sudah tahu itu. Punggungnya bersandar di kursi. Senyum tipis melengkung di bibirnya, seperti orang yang pasrah tapi belum mau menyerah.

“Beginilah,” katanya pelan. “Ada orderan banyak, kendalanya banyak juga. Modalnya kurang ... nggak bisa ngandelin dari DP dari yang pesan juga."

Istrinya tersenyum kecil. “Namanya juga merintis.”

“Iya,” sambung Slamet. “Yang penting jalan dulu. Ada kue yang kejual saban hari. Ada laba, walau dikit."

Ia terdiam sebentar, lalu bergumam, seperti bicara pada dirinya sendiri. “Manjang, jadi ada aja jalannya.”

Istrinya tidak langsung menjawab. Ia melipat plastik, menyusunnya rapi. Lalu berkata pelan, “Anting Mya masih ada.”

Slamet menoleh.

“Kalau nanti ada pesanan banyak lagi,” lanjut istrinya hati-hati. “Buat muter modal aja dulu.”

Slamet tidak menjawab.

Anting kecil itu terlintas di kepalanya. Emas dengan kadar tak seberapa. Hadiah waktu Mya lahir. Nggak mahal, tapi barang itu punya cerita.

Ia tahu, anting itu bisa dijual. Ia juga tahu betul, membelinya lagi nanti belum tentu mudah.

Slamet menatap lantai. Tangannya saling menggenggam. Diam lebih lama dari biasanya.

“Nanti kita pikirkan lagi,” katanya akhirnya.

Ia tidak ingin mengambil keputusan saat hatinya ragu dihimpit oleh situasi mendesak. Ada hal-hal yang lebih berat dari sekadar hitungan uang.

Malam turun pelan. Di dapur kecil itu, mereka melanjutkan menyusun rencana untuk esok pagi. Mana yang dikerjakan awal dan akhir, agar pesanan siap antar tidak mepet waktu.

Ini pesanan di luar siklus warung. Penting menjaga nama baik dan kualitas kue agar bisa dipercaya pelanggan baru. Bukan muluk, dan Slamet paham bahwa membangun pondasi itu tidak mudah.

Di luar, suara motor masih berseliweran lewat. Slamet menatap langit dari balik jendela dapur. Dalam diam, ia kembali berdoa, dengan nada yang sama. Hidupnya tidak berubah drastis besok. Tapi selama Tuhan masih beri jalan, dia akan tetap melangkah.

"Assalamualaikum!"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!