Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Nyari Sambilan
“Pak!”
"Pak Slamet!"
Slamet mengerem pelan. Motor Astrea merahnya berhenti di pinggir jalan. Ia menoleh, matanya menyipit sebentar karena silau matahari siang.
Seorang pria berdiri di seberang jalan, jaket ojek online terbuka, helm ditenteng di tangan kiri. Wajahnya agak keringatan, senyumnya canggung tapi tulus.
“Ujang?” tanya Slamet, memastikan. Dia sering melihatnya di warung Hartati, dan ingat wanita itu pernah memanggilnya ~Ujang.
“Iya, Pak," jawabnya sambil menyebrang jalan. "Alhamdulillah, bener. Kirain salah orang.” Ujang tersenyum lega.
Slamet menurunkan standar motor. “Kenapa, Jang?”
Ujang menggaruk tengkuk. “Mau nanya sebentar, Pak. Ganggu nggak?”
Slamet menggeleng. “Nggak. Ada apa?”
Ujang melirik rak belakang motor, tempat bungkusan kue tersisa terikat rapi. Ia seperti menimbang-nimbang kata.
“Kue istrinya Bapak itu… yang sering dititip di warung-warung… masih bikin, kan?”
Slamet mengangguk. “Masih.”
“Enak soalnya,” kata Ujang cepat, seolah takut kalimat itu terdengar berlebihan. “Bukan saya aja yang bilang.”
Slamet tidak menjawab. Ia hanya menunggu.
Ujang menarik napas. “Gini, Pak. Saya ditanya-tanya sama ibu komplek, soal snack box. Bukan order besar banget, tapi lumayan. Buat rapat kecil, katanya.”
“Berapa kotak?” tanya Slamet.
“Sekitar empat puluh. Bisa nambah, bisa juga segitu aja.”
Angka itu terngiang di kepala Slamet. Empat puluh bukan sedikit. Bukan juga jumlah yang bisa disepelekan. Ia membayangkan dapur rumahnya, loyang yang terbatas, istrinya yang biasa kerja pelan tapi rapi.
“Istrinya Bapak sanggup bikin segitu?” tanya Ujang, jujur.
Slamet terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Ia tahu kemampuan istrinya. Tapi ia juga tahu modalnya terbatas.
“Saya tanya dulu,” katanya akhirnya.
Ujang mengangguk cepat. “Iya, Pak. Jangan dipaksa. Saya juga nggak enak kalau bikin repot.”
Angin lewat sebentar. Suara kendaraan melintas, panas aspal naik ke udara.
“Orderan lagi sepi?” tanya Slamet.
Ujang tersenyum miring. “Sepi banget, Pak. Kadang dari pagi sampai siang cuma dapet dua. Itu pun jaraknya jauh-jauh.”
Slamet mengangguk. Ia paham rasanya.
“Makanya saya nyari sambilan,” lanjut Ujang. “Siapa tahu bisa muter duit sedikit. Daripada bengong nunggu order.”
"Iya ya," balas Slamet manggut-manggut.
"Sekarang mah, dapet order itu rasanya kayak rezeki nomplok, Pak,” sambung Ujang masih berdiri di sisi motor Slamet.
Slamet teringat obrolan di dapur tadi pagi. Tentang uang Mya yang masih kurang. Tentang waktu yang makin sempit. Ia menatap jalan di depannya, lalu kembali ke wajah Ujang. “Nanti saya kabarin,” katanya pelan.
“Iya, Pak. Saya tunggu.” Ujang tersenyum lagi. “Kalau bisa, besok pagi.”
Slamet mengangguk.
Setelah bertukar nomer telpon, mereka berpisah di persimpangan. Ujang kembali mengenakan helm, motor maticnya melaju pergi. Slamet menyalakan Astrea merahnya.
Di perjalanan pulang, pikirannya penuh. Ia tidak ingin memberi harapan berlebihan. Tapi ia juga tidak ingin melewatkan kesempatan kecil yang mungkin berarti.
Sesampainya di rumah, istrinya sedang menyusun loyang bekas pakai. Dapur masih hangat, bau kue belum sepenuhnya hilang.
“Ada apa, Pak?” tanya istrinya saat melihat wajah Slamet yang terlihat berpikir.
“Ada yang nawarin snack box,” kata Slamet.
Istrinya berhenti bergerak. “Berapa?”
“Empat puluh.”
Ia terdiam. Menghitung modal dalam kepala. Menimbang tenaga. Lalu menghela napas. “Bisa sih,” katanya pelan. “Capek, tapi bisa.”
Slamet menatapnya. “Jangan dipaksa.”
Istrinya tersenyum kecil. “Kalau nggak dicoba, kita nggak pernah tahu, Pak.”
Slamet mengangguk. Ia tahu istrinya tidak sedang memaksakan diri. Ia hanya sedang berusaha, seperti dirinya.
***
Ujang menepi di pos ronda kecil di pinggir jalan. Bangunannya sudah kusam, cat hijaunya mengelupas di beberapa bagian. Di depannya ada bangku kayu panjang, biasanya dipakai warga ronda malam. Siang ini kosong.
Ia mematikan mesin motor, tapi tidak turun. Tetap duduk, satu kaki menapak aspal, satu lagi menggantung. Helm diletakkan di spion. Jaket ojek online masih melekat di badan, meski panas sudah mulai menyengat.
Ponselnya ada di tangan. Layar menyala. Tidak ada bunyi apa pun. Belum ada order.
Ujang menatap aplikasi itu lama. Bukan berharap besar, hanya menunggu. Seperti orang yang sudah terbiasa menunggu tanpa tahu sampai kapan.
Di seberang jalan, dua ojol lain duduk di warung kecil. Mereka tertawa pelan, ngobrol soal order fiktif, soal bonus yang makin susah. Ujang tidak bergabung. Bukan karena tidak mau, hanya sedang tidak ingin bicara.
Ia menggeser duduknya sedikit. Tangannya menggenggam ponsel, tapi pikirannya melayang ke rumah.
Ibunya pasti sedang duduk di kursi bambu depan rumah. Kalau Ujang pulang sore nanti, ibunya biasanya bertanya pelan, “Dapet apa hari ini?”
Bukan menuntut, hanya kebiasaan beliau. Kadang Ujang sengaja membelikan gorengan tiga ribu. Bukan karena ibunya minta, tapi karena wajah ibunya selalu berubah sedikit saat diberi sesuatu, sekecil apa pun. Itu sudah cukup.
Adiknya juga terlintas di kepala. Mau PKL. Katanya perlu sepatu hitam, celana bahan, sama ongkos jalan. Tidak mahal kalau dilihat orang lain. Tapi buat Ujang, semua perlu dihitung.
Ia membuka catatan di ponsel. Ada angka-angka kecil yang ia tulis sendiri. Uangnya dibagi-bagi, dan itu caranya bertahan.
Sedikit buat ibu.
Sedikit buat adik.
Sedikit ditabung.
Tentang menikah, ia jarang cerita ke siapa pun. Tapi di dompetnya ada foto kecil. Sudah agak pudar di pinggir. Ia belum berani melamar. Bukan karena tidak yakin, tapi karena takut belum siap.
“Pelan-pelan,” katanya sering pada diri sendiri.
Ponselnya masih sunyi.
Ujang tertunduk lesu. Ia sadar, hidupnya belakangan seperti aplikasi itu—banyak menunggu. Maka tawaran snack box tadi terasa seperti celah kecil. Tidak besar, tapi cukup untuk bernapas sebentar.
Ia teringat wajah Pak Slamet. Cara bicaranya yang singkat. Tidak berjanji macam-macam. Tapi tidak juga mematahkan harapan.
Ujang memejamkan mata sebentar. Angin lewat, membawa debu dan suara kendaraan. Ia membuka mata lagi, menatap jalan.
Notifikasi akhirnya muncul. Tapi ... bukan orderan. Hanya promo.
Ujang tersenyum tipis, lalu mematikan layar. Ia tidak kesal, sudah terbiasa. Ia menyalakan motor. Tidak tahu mau ke mana. Mungkin muter sebentar. Mungkin balik ngetem di tempat lain.
Selama mesinnya masih hidup, ia merasa masih punya alasan untuk terus jalan.
Di balik jaket lusuh dan ponsel yang sering sunyi itu, Ujang menyimpan hal yang tidak pernah ia pamerkan, keinginan sederhana untuk cukup.
Cukup hari ini.
Cukup buat orang rumah.
Cukup buat melangkah besok.
Motor melaju pelan. Ujang kembali menyatu dengan jalanan.
Ia percaya, rezeki bukan cuma soal uang yang masuk ke dompet. Kadang berupa kuatnya badan, sabarnya hati, dan tangan yang masih mau bekerja.
Dan selama itu masih ada, Tuhan belum benar-benar menutup pintu apapun untuknya.
***
Malam itu, Slamet sulit tidur. Ia memikirkan kue, memikirkan Mya, memikirkan Ujang yang mungkin juga sedang berharap dari sambilan kecil ini.
Pagi belum tiba, tapi doa khasnya kembali ia panjatkan. “Kalau ini jalan, mudahkan. Kalau bukan, kuatkan.”
Keesokan paginya, ponsel Slamet bergetar. Nama Ujang muncul di layar. Ia menatapnya sebentar, lalu mengangkat telepon.
“Pak… gimana?” Slamet menarik napas.
“Bisa,” katanya singkat.
Di seberang sana, Ujang terdiam sebentar. Lalu suaranya terdengar lebih ringan. “Siap, Pak. Terima kasih.”
Telepon ditutup.
Slamet menatap dapur rumahnya. Ia tahu ini bukan akhir masalah. Tapi setidaknya, hari ini, ada satu pintu kecil yang terbuka. Dan itu cukup, untuk sementara.
.
.