Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Sumpek
Hima mendongak, tersenyum canggung pada Reza. “Sumpek mah… ya pasti,” katanya pelan. “Kerjaan numpuk, rumah juga nggak selalu adem.”
Hartati terkekeh dari balik etalase. “Namanya juga rumah tangga, Mas."
"Istri perfeksionis, saya kalau pulang telat dikit langsung disambut daftar," keluh Hima kemudian.
Hartati ikut nimbrung sambil mengaduk kopi. “Daftar belanja?”
“Daftar kesalahan, Bu,” jawab Hima cepat.
Hartati menggeleng-geleng, tapi senyumnya muncul.
Reza ikut senyum tipis. “Istri Mas Hima teliti berarti.”
“Iya, teliti,” Hima mengangguk. “Cuma kadang… capek juga memenuhi aturanya.” Ia menyeruput kopi, lalu melirik Reza. “Makanya aku kemarin nanya. Kalau sebelum nikah aja sudah berat, jangan dipendam sendiri.”
Reza mengangguk pelan. “Sekarang lagi belajar nerima kalau nggak semua harus sempurna.”
Hima menatap Reza sebentar. “Itu pelajaran mahal.”
Hartati menaruh cangkir kosong. “Dulu almarhum suami saya juga gitu,” katanya santai. “Nggak neko-neko. Yang penting pulang, makan bareng, sholat bareng.”
Hima mengangguk. “Sekarang kayaknya standar bahagia makin tinggi, ya Bu.”
Hartati tersenyum. “Yang tinggi itu maunya manusia. Hidupnya tetap segitu-gitu aja.”
Hima menoleh ke Reza lagi. “Jadi sekarang fokus apa?”
Reza menjawab jujur, suaranya rendah. “Fokus yang penting aja dulu, biar tenang setelah resepsi.”
Hima mengangguk pelan. “Nah. Itu.” Ia tersenyum kecil. “Nikah itu bukan pamer. Yang bahagia itu bukan yang paling mesra di depan orang, tapi yang tahan pas tinggal berdua.”
Keduanya menghela napas panjang. Suara gelas yang ditaruh di rak, dan lagu dari radio kecil di pojok, masih menemani mereka.
Reza menatap jalan depan warung. Di kepalanya masih banyak rencana. Ia menyeruput kopi terakhirnya.
Hima belum langsung berdiri. Ia duduk lagi, menatap cangkir kopinya yang tinggal setengah.
“Mas Reza,” katanya pelan. “Kadang aku iri sama orang yang jalan pikirannya sederhana.”
Reza menoleh. “Kenapa, Mas?”
Hima tersenyum, tapi sorot matanya meredup. “Istri saya… orangnya perfeksionis. Apa-apa harus rapi, harus sesuai rencana. Dan…” ia menghela napas, “cemburuan.”
Hartati melirik sekilas, tapi memilih diam.
“Kalau capek kerja, biasanya emosi kebawa ke rumah,” lanjut Hima. “Sedikit-sedikit marah. Sedikit-sedikit nyuruh. Aku ngerti sih, dia juga sama capeknya. Tapi lama-lama… sumpek.”
Reza mengangguk pelan. Ia tidak menyela.
“Belum punya anak,” kata Hima lagi. “Itu yang bikin semuanya makin sensitif.”
Hartati berdiri di dekat pintu warung menoleh. “Udah berapa lama nikahnya, Mas?”
“Masuk tahun keempat,” jawab Hima. “Setiap pulang kampung, pertanyaannya itu lagi, itu lagi.”
Hartati berdehem kecil. “Orang suka lupa, anak itu rezeki, bukan pesanan.”
Hima tersenyum getir. “Iya, Bu. Tapi istri saya pengin banget. Sampai minta bayi tabung.”
Reza refleks menoleh. “Bayi tabung?”
Hima mengangguk. “Masalahnya… dan ini baru kami tahu belakangan.” Ia tertawa sebentar. “Jadi bukan salah satu, tapi dua-duanya.”
Warung mendadak hening.
“Istri saya pengin nekat,” lanjut Hima. “Gadai SK. Katanya ini ikhtiar. Tapi orang tua kami dua-duanya nggak setuju.”
Reza menghela napas. “Gadai SK itu berat, Mas.”
“Iya,” jawab Hima cepat. “Makanya aku pusing. Aku juga pengin punya anak. Tapi bayangin… nyicil utang, biaya hidup, biaya rumah tangga. Kalau gagal? Ngulang lagi butuh biaya lagi?”
Reza menunduk. Ia mengaduk kopinya pelan.
“Kadang aku mikir,” lanjut Hima lirih, “apa jadi suami itu artinya harus nurut semua? Atau justru jaga supaya kami nggak hancur bareng-bareng?”
Hartati menatap Hima lama. “Mas,” katanya pelan, “ikhtiar itu penting. Tapi jangan sampai ikhtiarnya bikin rumah tangga jadi ladang pertengkaran.”
Hima mengangguk, matanya berkaca tipis tapi cepat dialihkan. “Aku takut salah ambil keputusan.”
Reza akhirnya bicara. Suaranya rendah, nggak sok bijak. “Mas… aku belum nikah. Tapi satu hal yang lagi aku pelajari sekarang—utang itu bukan cuma jumlah cicilan. Tapi pikiran.”
Hima menoleh.
“Kalau tiap hari bangun dengan rasa takut nggak sanggup bayar,” lanjut Reza, “itu beratnya bisa kemana-mana.”
Hima mengangguk pelan. “Itu juga yang aku takutin.”
Sophia pamit lebih dulu. Warung kembali sepi, tinggal mereka bertiga.
Hima berdiri, merapikan tasnya. “Makasih udah dengerin. Kadang cuma butuh ngomong tanpa dihakimi.”
Reza ikut berdiri. “Sama-sama, Mas.”
Hima tersenyum kecil. “Doain aja ya.”
“Iya,” jawab Reza singkat tapi tulus.
Hima pergi. Suara motornya menjauh.
Hartati menatap Reza. “Hidup itu isinya cuma bertahan aja.”
Reza mengangguk pelan, menghabiskan kopinya. Dan pagi itu, warung Hartati kembali jadi saksi—bahwa setiap orang punya ujiannya masing-masing, dan mereka masih berjuang dengan segala cara yang dirasa mampu.
***
Motor Hima melaju pelan meninggalkan warung Hartati. Jalanan lurus, tapi pikirannya muter ke mana-mana.
Helm masih nempel di kepala. Sementara otaknya riuh berkata bahwa utang itu bukan cuma jumlah, katanya dalam hati.
Tapi rasa takut tiap bangun tidur. Menghitung hari dan menyisihkan jumlah, itu berarti harus ada kebutuhan lain yang ditahan.
Lampu merah. Hima berhenti. Ia membayangkan wajah istrinya. Cantik full make up. Selalu rapi. Rumah ditata, hidup juga penginnya dijalani sesuai rencana.
Termasuk soal anak. Empat tahun nikah. Pertanyaan itu datang dari mana-mana. Dari keluarga, dari tetangga, dari teman kantor—bahkan dari dalam isi kepalanya sendiri.
“Kapan?”
Padahal tiap malam mereka berusaha. Menahan lelah dan kantuk.
Hima menarik napas panjang. Bayi tabung.
Kata itu terdengar keramat. Bukan karena nggak mau ikhtiar. Tapi karena ikhtiar itu datang bersama utang, tekanan, dan risiko gagal.
Gadai SK. Pekerjaan yang selama ini jadi pegangan hidup, mau dijadikan jaminan. Kalau gagal gimana? Kalau berhasil tapi kami makin jauh dari hidup nyaman, gimana?
Lampu hijau. Motor jalan lagi. Hima sadar, masalah mereka bukan cuma soal rahim atau sperma. Tapi soal dua orang yang sama-sama capek dan ingin keluarga sempurna.
Di rumah nanti, istrinya pasti nanya lagi. Entah dengan nada tinggi atau datar—sama saja, intinya tetap satu : “Kamu serius nggak?”
Hima memejamkan mata sebentar di balik helm.
Serius pengin punya anak? Iya.
Serius pengin rumah tangga ini aman? Juga iya.
Tapi kenapa harus milih salah satu?
Ia teringat omongan Reza di warung. Utang itu pikiran. Hima tersenyum pahit.
Motor berhenti di depan rumah. Lampu teras sudah menyala. Hima duduk sebentar di atas motor, belum turun.
“Ya Allah,” gumamnya lirih. “Kalau anak itu memang rezeki… ajarin kami sabar nunggu.”
“Kalau ini ujian… jangan sampai kami saling menyakiti.”
Ia melepas helm, menatap pintu rumah. Di balik pintu itu ada istri yang ingin jadi ibu. Dan seorang suami yang ingin tetap jadi sandaran, bukan cuma penurut.
Hima berdiri. Memasukkan kunci ke saku baju dan masuk. Meski kepalanya penuh, tapi niatnya masih ingin bertahan—tanpa saling menjatuhkan.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikumussalaam. Mas, aku sudah dapat dokternya yang bagus, loh."
Hima tak menanggapi, wajah Anggun sore ini terlihat ceria. Rupanya dia sudah sangat mantap dengan keputusan ini.
Anggun lantas menarik Hima duduk di sofa, bersisian, dan menunjukkan sebuah profil rumah sakit di ponselnya.
"Gimana?" tanyanya dengan sorot berbinar.
Deg.
.
.