Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Rezeki vs Kebutuhan

Ibunya menatap mereka bergantian. Nada suaranya datar, tapi jelas menunggu jawaban Reza. “Sepakat apa?” ulangnya.

Rini menarik napas lebih dulu. “Kami sepakat datang baik-baik, Ma. Lamaran sederhana. Nggak berlebihan, tapi jelas maksudnya.”

Ibunya mengangkat alis sedikit. “Sederhana itu ukurannya apa?”

Reza melangkah mendekati teras. Suaranya tenang, meski dadanya berdebar. “Ukuran kami berdua. Sederhana tapi pantas, Bu. Sesuai kemampuan saya sekarang.”

Ibunya memandang mereka bergantian menyilangkan tangan. “Terus biayanya?”

Reza tidak mengelak.

“Kami sudah hitung bersama. Ada jumlah yang sanggup saya tanggung tanpa utang.”

Ibunya menoleh ke Rini. “Kamu yakin?”

Rini mengangguk. Kali ini lebih mantap. “Iya, Ma. Ini kesepakatan bersama.”

Hening sebentar.

Suara adzan magrib terdengar dari kejauhan, memecah ketegangan. Ibunya menghela napas panjang.

“Rini itu anak perempuan saya satu-satunya,” katanya pelan. “Wajar kalau pengin yang terbaik. Orang-orang nanti ngomong,” katanya. “Anak perempuan satu-satunya. Masa pestanya biasa aja?”

Rini menghela napas. “Biar orang ngomong, ?Ma,” ucapnya lirih. “Yang jalanin hidup kami, kan kami.”

Reza mengangguk. “Saya paham, Bu.”

“Tapi,” lanjut ibunya, “yang terbaik menurut orang tua kadang beda sama yang ada di pikiran anaknya.”

Rini menatap ibunya. “Kami nggak mau mulai rumah tangga dengan pura-pura mampu, Maa.”

Ibunya menatap wajah putrinya lama lalu pandangannya jatuh ke Reza. “Kapan rencananya lamaran?” tanyanya akhirnya.

Reza terdiam sesaat, salah menjelaskan bisa berabe. “Kami rencanakan bulan depan, Bu. Tanggalnya bisa kami bicarakan lagi, menyesuaikan keluarga.”

Ibunya Rini mengangguk kecil. “Kalian pikirkan baik-baik. Jangan sampai nanti menyesal.”

“Kami siap bertanggung jawab,” jawab Reza pelan.

Ibunya menarik napas panjang. “Masuk dulu, Rin,” katanya singkat. “Bapakmu belum pulang. Kita ngobrol lagi lain waktu.”

Rini menoleh ke Reza. Pandangan mereka bertemu sebentar—campuran lega dan tegang yang belum benar-benar usai.

Reza mengangguk cepat. “Siap, Bu.”

Ibunya Rini melangkah masuk. “Terima kasih,” katanya.

Magrib benar-benar turun. Reza pamit. Motor menyala, lalu meninggalkan pelataran kediaman Rini. 

Reza tiba di rumah menjelang isya. Lampu rumahnya sudah terang. Ibunya sedang melipat mukena di ruang tengah, ayahnya duduk di kursi kayu sambil memijat lutut—kebiasaan lama setelah seharian bekerja.

“Pak… Ma…” Reza duduk berhadapan. Nada suaranya tenang, tapi ada getar halus di setiap kalimatnya.

Ibunya menoleh. “Gimana?” tanyanya singkat.

Reza menarik napas, lalu menyampaikan semuanya pelan dan runtut. Tentang pertemuan tadi. Tentang tanggal lamaran yang sudah dibicarakan. Tentang kesepakatan berdua—nikah sederhana, fokus ke yang wajib dan tidak memaksakan.

“Nanti maharnya,” lanjut Reza, “Rini maunya gelang sama cincin. Sudah aku siapin.”

Ibunya terdiam sejenak, lalu mengusap dada. “Alhamdulillah,” ucapnya lirih.

Ayahnya mengangguk pelan. “Yang penting jelas. Kamu datang sebagai laki-laki, bawa niat dan tanggung jawab.”

Reza lalu melanjutkan ke bagian yang sejak tadi mengganjal di dada. “Soal resepsi… kami sepakat berdua. Aku sanggupnya ngasih empat puluh juta. Aku takut kalau dipaksakan, malah berat setelah resepsi harus bayar utang sana sini."

Ibunya menatap Reza lama. Bukan menilai kurang, tapi memastikan. “Kamu yakin dengan keputusanmu?” tanyanya.

“Iya, Ma. Kami sepakat.”

Ayahnya menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis. “Bapak sama Mama ikut keputusan kalian. Yang penting jangan utang. Jangan nyusahin orang.”

Reza menunduk, dadanya menghangat. “Makasih, Pak… Ma.”

Malam itu, ayah dan ibunya tak banyak bertanya lagi. Mereka langsung mengambil ponsel, satu per satu menghubungi saudara dekat. Suara mereka sopan, rendah hati saat menyampaikan niatan Reza.

Beberapa hari kemudian, kabar baik datang satu-satu.

Ada tante yang bantu mengisi 3 kotak hantaran. Ada om yang bilang bisa nyumbang kue-kue nampan seserahan. Sepupu menawarkan dekorasi box seserahan.

Reza menatap daftar kecil di tangannya. Banyak yang tadinya ia coret, kini perlahan kembali tertulis karena Allah bukakan jalan dari arah yang tak ia duga.

Ia tersenyum sendiri. “Ternyata kalau niatnya benar-benar dijalankan,” gumamnya pelan, “jalannya memang nggak selalu lewat yang kita rencanakan.”

Di kamarnya, Reza menata ulang catatan itu. Masih penuh coretan sederhana. Ia mengirim pesan singkat pada Rini.

“Tanggal sudah disampaikan. Orang tua ridho. Ada bantuan dari saudara. Pelan-pelan, akhirnya keinginan kita terpenuhi ya, Rin.”

Tak lama, balasan masuk. [“Alhamdulillah. Berdoa sama-sama, ya.”]

Reza memejamkan mata sejenak, bukan pesta besar yang ia bayangkan, tapi kelancaran acaranya nanti dan paling penting adalah sesudah resepsinya itu sendiri.

*

Paginya Reza kembali mampir ke warung kecil Hartati.

Masih setengah sembilan. Matahari belum terik, tapi hawa sudah mulai hangat. Bangku kayu panjang di depan warung masih sama, catnya mengelupas di beberapa bagian. Termos air panas berdiri di pojok, tutupnya entah kemana.

Hartati sedang menuang kopi hitam ke cangkir kaca. Tangannya cekatan, wajahnya lebih segar dibanding malam-malam sebelumnya.

“Lho, Mas Reza,” sapa Hartati sambil menoleh. “Ngopi lagi?”

“Iya, Bu,” jawab Reza singkat. Ia duduk di bangku paling ujung, tas selempang diletakkan di samping kaki. Kemejanya rapi, celana kain hitam. Bekas plester di dahinya sudah memudar.

Belum sempat kopi disajikan, Sophia muncul dari belakang. Rambutnya diikat asal, memakai kaus lengan panjang dan celana kulot.

“Bu, ada gula?” tanyanya sambil membuka kaleng.

“Ada,” jawab Hartati.

Sophia duduk di bangku seberang Reza, menaruh dompet kecilnya. “Aduh, Bu… pusing aku.”

Hartati melirik. “Kenapa lagi?”

Sophia menghela napas panjang. “Anak-anak makin gede, kebutuhannya juga ikut gede. Les ini, les itu. Belum dapur. Minyak naik, telur naik. Gaji segitu-gitu aja.”

Hartati menuang kopi lalu mendorong cangkir ke arah Reza. “Minum dulu, Mas.”

Reza mengangguk. “Makasih, Bu.” Ia menyeruput pelan kopinya.

Sophia melanjutkan, nadanya lebih lembut. “Kadang mikir, nikah tuh katanya rezeki nambah. Tapi kok rasanya malah makin banyak yang dipikir.”

Hartati terkekeh kecil. “Rezekinya nambah, bebannya juga.”

Sophia ikut senyum. “Les bola anak pertama aja sebulan udah segini. Katanya biar ada bakat. Tapi aku mikir, emang kepake?"

Hartati mengangguk pelan. “Iya. Dulu aku juga mikir begitu. Pengin semuanya cukup, pengin anak-anak nggak kekurangan. Tapi ternyata… nggak semua bisa kita wujudkan.”

Reza diam. Pandangannya jatuh ke meja kayu yang sudah penuh goresan. Obrolan itu masuk begitu saja ke kepalanya, ternyata yang dia pikirkan tergambar lewat cerita Sophia.

Sophia menatap Hartati. “Kadang aku kangen waktu masih berdua aja, Bu. Hidup sederhana. Sekarang bukan nggak bersyukur, ya… cuma capek.”

Hartati menepuk tangan Sophia pelan. “Capek itu wajar. Yang nggak boleh itu berhenti bersyukur.”

Reza menghela napas pelan. Ia tidak ikut bicara. Cukup mendengar. Seperti sedang diingatkan.

Tak lama kemudian, suara motor berhenti di depan warung.

Himawan turun, kemejanya rapi, celana bahan disetrika licin. Sepatunya bersih, khas pegawai kantor.

“Assalamualaikum,” sapanya.

“Waalaikumsalam,” jawab Hartati dan Sophia hampir bersamaan.

Himawan melirik ke arah Reza. “Eh, Mas Reza.”

Reza berdiri sedikit dari duduknya. “Mas Hima.”

Himawan duduk di bangku dekat Reza. “Ngopi juga?”

“Iya.”

Himawan mengangguk, lalu menoleh ke Hartati. “Bu, kopi satu.”

Setelah suasana agak hening, Himawan melirik Reza. “Gimana? Yang kemarin-kemarin itu… sudah agak ringan?”

Reza tersenyum tipis. “Alhamdulillah.”

“Udah ketemu titiknya?” tanya Himawan lagi, nadanya datar, bukan kepo.

Reza mengangguk. “Lumayan sedikit terang benderang,” kekehnya.

Himawan mengangguk balik. “Syukur kalau gitu.” Ia lalu bersandar, menyeruput kopi. “Soalnya, kadang yang bikin berat itu bukan masalahnya. Tapi pikiran kita sendiri.”

Reza menatap cangkirnya. “Iya, Mas.”

Himawan tersenyum kecil. “Kalau udah jalan, ya jalanin. Nggak usah kebanyakan nengok kanan-kiri.”

"Mas Hima, kayaknya sekarang lagi sumpek?"

Hima mendongak, tersenyum canggung pada Reza.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!