Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Campur tangan Ortu
Pintu kamar klinik tertutup pelan.
Suara langkah orang-orang makin menjauh.
Ibunya Reza keluar lebih dulu. Tidak bilang apa-apa. Hanya mengusap wajah dengan ujung kerudung.
Ayahnya masih duduk. Diam. Tangannya bertumpu di lutut. Reza menatap langit-langit.
Lampunya putih. Terlalu terang buat mata yang masih pusing.
“Sakit?” tanya ayahnya akhirnya. Reza mengangguk pelan.
“Bukan badan, Yah.” Ayahnya paham. Tidak bertanya lagi.
Beberapa menit berlalu tanpa suara. Hanya bunyi alat medis dari brangkar sebelah dan langkah perawat di lorong.
Reza menutup mata. Baru kali ini dia sadar, selama ini dia terlalu sering mengiyakan permintaan orang lain. Atas dasar perasaan tak enak jika menolak.
Ke orang tua. Ke calon mertua. Ke pekerjaan.
Selalu bilang sanggup, padahal memaksakan diri. Kalau dia terus menurut, mungkin hidupnya akan terus diputuskan orang lain.
Tak lama ibunya masuk lagi. Kali ini duduk lebih dekat ke ranjang. Tangannya memegang pinggir selimut.
“Sekarang Mama mau tanya ke kamu,” katanya pelan.
“Bukan soal orang tuanya Rini, bukan soal adat. Kamu dulu.”
Reza menoleh. “Maksudnya, Ma?”
“Kamu maunya gimana?”
Ibunya menatap lurus. “Nikahnya mau lanjut atau enggak?”
Reza terdiam.
Ibunya mengangguk kecil. “Nah. Jangan mikirin yang lain dulu. Rini maunya apa, orang tuanya kepengen apa, itu nanti. Urusan Mama sama bapak. Sekarang jawab Mama.”
Reza menarik napas. “Aku maunya lanjut, Ma.”
“Lanjut,” ulang ibunya. “Tapi?”
“Tapi ribet dari awal,” jawab Reza jujur. “Belum apa-apa udah berat.”
Ibunya menghela napas. “Makanya Mama bilang, pikirin baik-baik. Kalau Rini susah diikutin kemauannya, kamu juga harus berani mikir ulang.”
“Maa…” suara Reza lirih.
“Dengerin dulu,” potong ibunya, masih lembut. “Rumah tangga itu panjang, Za. Rezeki emang gak ada yang tau. Tapi watak sama kebiasaan orang, kelihatan dari sekarang.”
Reza diam.
“Rini itu orangnya gimana?” tanya ibunya lagi. “Suka jajan mahal? Barang kudu bermerk? Atau biasa aja?”
Reza menelan ludah. “Dia… suka yang bagus, Ma.”
Ibunya mengangguk pelan. “Suka yang bagus gak salah. Tapi kalau kamu bilang, ‘tunggu dulu, ini belum prioritas,’ dia bisa nerima apa enggak?”
Reza tidak langsung menjawab.
Ibunya menatap wajah anaknya. “Kalau gak bisa nerima, ya itu gaya hidupnya. Mama gak nyalahin. Tapi kamu sanggup ngikutin?”
Reza menunduk.
“Nah kan,” ibunya bersuara pelan. “Kamu diem, ragu?"
“Bukan gitu, Ma,” Reza akhirnya bicara. “Aku lagi nimbang-nimbang.”
“Nimbang boleh,” jawab ibunya. “Tapi jangan sampe kamu nikah sambil maksa diri. Nikah itu bukan lomba siapa paling kaya atau mampu. Bukan buat dipandang baik sama omongan orang.”
Reza memejamkan mata sebentar. Ibunya menepuk selimut pelan.
"Maa sama bapak berani belain kamu sama siapa aja soal lamaran, soal biaya. Tapi kalau kamu sendiri udah ngerasa berat dari sekarang… itu yang kami takutin.”
Reza menarik napas panjang. “Iya, Ma.”
Dan di antara kata iya itu, ada banyak hal yang belum berani ia ucapkan.
Ayah ibunya lalu pamit pulang. Besok pagi kemungkinan Reza sudah boleh pulang jika tidak ada keluhan lanjutan.
Ibunya meletakkan botol minum di dekat tangan Reza, agar mudah dijangkau jika ingin minum dan mengatur tempat tidur supaya anaknya nyaman berbaring.
Gak lama, keduanya pergi. Menyisakan ruang klinik yang sama sepi seperti hatinya.
Reza memejamkan mata. Kepalanya masih nyut-nyutan, tapi yang lebih berat justru pikirannya.
Suara ibunya barusan muter terus di kepala. Pelan, tapi nancep.
"Kamu sanggup apa enggak?"
Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya gak pernah bisa dia ucapkan.
Ia menarik napas. Dalam. Dari dulu hidupnya ya begini. Perhitungan. Bukan karena pelit, tapi karena tau rasanya kekurangan.
Nikah itu niat baik, ibadah. Tapi kenapa rasanya kayak mau naik gunung tanpa bawa bekal apapun. Alasannya, di Gunung banyak sumber makanan, dianalogikan rezeki dari mana saja.
Padahal bawa bekal juga termasuk salah satu bentuk ikhtiar. Sama seperti kerja dan ngatur keuangan.
Reza tahu Rini nggak egois apalagi jahat, memaksakan dirinya. Rini itu cuma terbiasa hidup rapi, layak, pantas dilihat orang. Sedangkan Reza terbiasa hidup cukup, asal bisa jalan.
Ia membayangkan nanti. Bulan pertama nikah. Bulan kedua. Tagihan datang. Kebutuhan nambah. Lalu ada keinginan yang harus ditunda. Apa Rini bisa nerima kata nanti? Atau nanti malah dia yang capek jelasin ke Rini, kenapa belum bisa memenuhi keinginannya? Imbasnya, wajah Rini yang kecewa membuatnya kecil hati.
Reza mengusap wajahnya pelan. Tangan lebam itu terasa ngilu, tapi masih kalah sakit sama dadanya.
Ia bukan takut kerja keras, cuma takut jerih payahnya nggak pernah cukup jika hanya buat memenuhi kepuasan orang lain.
Kalau nanti Rini kecewa, ngerasa kekurangan, dan bila Reza cuma jadi lelaki yang terus bilang sabar, apa itu adil buat Rini?
Tapi kalau dilepas sekarang, Reza juga tahu, hatinya bakal nyesel. Rini tak sepenuhnya buruk.
Ia membuka mata, menatap langit-langit klinik yang kusam. Aku capek pura-pura sanggup, pikirnya. Tapi aku juga nggak mau nyerah gitu aja.
Di luar, suara langkah perawat terdengar. Hidup bakal jalan terus, nggak nunggu orang siap.
Reza menelan ludah. Besok, cepat atau lambat, ia harus berani bilang ke orang tua, ke Rini juga.
***
Setelah dari rumah sakit. Rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Gadis itu masuk tanpa bicara. Meletakkan tas di kursi.
Ibunya menoleh dari dapur. “Reza gimana?” tanyanya singkat. “Udah ngobrol lagi?”
"Belum. Kan masih pusing, Bu," jawabnya pelan.
Ibunya mengangguk. “Kamu pikirin ya. Ibu gak mau kamu susah ke depan.”
Kalimat itu Tidka diucapkan dengan nada marah tapi terasa menusuk hati.
Di kamar, Rini duduk di tepi ranjang. Tangannya gemetar membuka tas. Kertas tagihan klinik masih ada di sana.
Dia menutup wajahnya. Bukan karena Reza. Tapi karena hidup terasa sempit dari segala arah.
“Aku juga capek di tekan sana sini, Zaa” gumamnya pelan. “Tapi aku juga masih mau lanjutin sama kamu.”
Air matanya jatuh satu-satu.
Tidak ada yang dia kirimi pesan malam itu. Baik Rini atau Reza, keduanya sama berkutat masing-masing.
***
Keesokan pagi.
Reza sudah boleh pulang. Kepalanya masih nyut-nyutan. Spion motornya sudah diganti sementara oleh ayahnya tapi bekas retaknya masih kelihatan.
Dia tetap berangkat kerja. Diantar sang ayah. Di jalan, angin terasa lebih dingin dari biasanya.
Setiap getaran motor terasa sampai ke tangan yang lebam. Sampai di tempat kerja, bosnya melirik.
“Kok pucat? Jangan masuk dulu harusnya,” ucap sang atasan.
“Gak apa, Pak,” jawab Reza singkat. "Kalau nggak kuat, izin setengah hari," pungkasnya.
Bosnya mengangguk. “Kalau belum kuat, pulang aja lagi.”
Reza terdiam sebentar. Biasanya dia akan bilangb: gak apa-apa. Hari ini, dia menarik napas.
“Iya, Pak. Saya izin pulang.”
Atasannya meminta Reza ke admin dulu, menyerahkan surat keterangan dari klinik kemarin lalu pulang.
Sesampainya di rumah, ponsel Reza bergetar. Ada pesan dari Rini.
"Za, orang tuaku minta jawaban. Minggu ini." Reza membaca pelan.
Layar ponselnya masih retak. Huruf-huruf terlihat pecah. Dia mengetik. Berhenti. Menghapus. Mengetik lagi. Belum dikirim.
Di ruang tengah, ibunya melihat Reza murung. Dia menegur, “Za… serius amat. Ibu gak mau kamu maksa diri.”
Reza menatap ponsel. Lalu menatap lantai. Huft..
"Kenapa lagi?"
.
.