Warna Pelangi Cinta

Mencari Azizah

Petualangan baginya adalah rumus kehidupan yang mesti dipecahkan dan ditaklukkannya. Itulah prinsip bagi Salwa Salsabila. Dibacanya kembali sms tadi malam, dia iseng kebetulan saja pas bangun tidur ingin meng-sms nomor misterius.

”Wa’alaikumsalam wr. jika kau ingin tahu tentang diriku carilah seorang wanita bernama Azizah Sabaah An-Nasyath, dia kuliah di STAIN semester dua prodi Ekonomi Syariah. Dan aku akan menitipkan uang pulsa yang anda kirim pada Azizah. Jangan ganggu lagi, ingatlah Allah.”

Dibacanya lagi. Salwa sangat penasaran, seperti apa kekasih nomor misterius yang katanya bisa melihat nomor misterius dari cara pandangannya saja atau dari hatinya yang mendua? Yang benar saja!

Hari ini hanya satu mata kuliah di UM Metro, setelah itu dia langsung menuju ke STAIN. Sejujurnya Salwa baru pertama kali masuk ke STAIN, wajah-wajah disana sedikit heran menatapnya. Salwa cuek saja, keheranan mereka pastilah karena dirinya yang tidak memakai jilbab sedangkan di STAIN diwajibkan memakai kerudung waktu kuliah.

Salwa bertanya kepada seorang wanita yang tengah duduk di gazebo di sebelah perpustakaan. Ruang Ekonomi Syariah di ruang N4 dekat kantin dan fotocopy STAIN. Salwa buru-buru ke kelas N4, kelas sedang masuk. Salwa menunggu di luar sambil mengamati satu-persatu mahasiswa di dalamnya yang tengah mendengarkan kuliah. Yang mana ya wanita yang katanya dari pandangannya saja bisa mengetahui kalau si misterius berkhianat, atau jika hatinya mendua? Kekuatan apa yang dimiliki gadis bernama Azizah itu? Salwa semakin penasaran.

Kelas itu bubar, mata kuliah pertama selesai. Mahasiswa – mahasiswa itu berhamburan keluar seperti lebah yang keluar mencari madu. Ada yang langsung ke kantin pusat dan ada yang hanya mengobrol di depan kelas. Beberapa orang memperhatikannya sedari tadi. Ya. Tentu saja, dia serasa asing karena dia sendiri yang tidak mengenakan penutup kepala. Jilbab.

Bertanya pada siapa? Salwa melongok ke dalam kelas. Tinggal seorang wanita yang masih bertahan disana, duduk di kursi tengah paling depan. Orang yang tepat untuk ditanyai. Salwa langsung ngeloyor masuk ke kelas N4 itu.

“Asw...Assalamu’alaikum,” nadanya tercekat, jarang dia menggunakan salam yang kata Ustadz Ali waktu TPA-nya dulu sebagai salam keberkahan dan doa.

“Wa’alaikumsalam warahmatullah,” wanita itu mendongakkan kepalanya, wajah itu bagai rembulan yang bersinar, senyumnya tulus, dan matanya yang terlihat kuyu tetap tajam bersahabat, “Ada yang bisa saya bantu Mbak?”

Jujur, Salwa terpana melihat wajah itu, sebentuk wajah yang amat menentramkan. Tiba-tiba Salwa telah merasa mengenal wanita itu sejak lama, “Ee..gak, saya hanya ingin tanya. Saya mencari seorang yang bernama Azizah, bisa tunjukkan yang mana orangnya?”

Salwa menangkap kekagetan dari raut wajah manis di hadapannya.

“Saya Azizah, disini tidak ada lagi nama Azizah yang lain. Kenapa Mbak mencari saya?”

Matilah aku, ternyata si misterius itu pintar banget memilih kekasih. Tapi..., wajahku sebenarnya tak kalah dengannya. Lihat saja, aku akan melakukan petualangan besar ini.

Salwa berpikir sejenak, “Seseorang memintaku untuk memberikan ini,” Salwa mengambil sesuatu di dalam tasnya. Kebetulan kemarin baru belanja di Shoping.

“Anda tidak salah alamat Mbak?”

“Jangan panggil aku Mbak, aku masih semester 4 kok,” senyumnya terukir, “Aku tidak salah orang kok, bukankah katamu tadi hanya ada satu nama Azizah di kelas Ekonomi Islam ini? Dan hanya kamu?”

Azizah mengangguk.

“Perkenalkan, namaku Salwa Salsabila,” Salwa mengulurkan tangannya yang tak tertutupi kecuali blus panjangnya.

Azizah menyambut tangan itu agak ragu, “Saya Azizah Sabaah An-Nasyath, nama Mbak bagus, artinya juga bagus,” senyumnya kembali tersungging.

“Kau pintar menyanjung, tapi..., benarkah kau tahu arti namaku?”

“Ya,” Azizah menatapnya yakin.

“Beritahu aku,” Salwa penasaran.

“Madu dari sumber mata air di surga, bukankah itu penuh dengan keindahan?”

Aku sendiri hingga kini tidak mengetahui apa arti namaku, dia tahu walau baru bertemu sekali. Dan dia adalah seorang yang ingin kutahu rasa yang begitu hebat dari si misterius, apakah aku terjebak takdir? Takdir yang aneh. Aku terjepit dalam petualangan yang lebih aneh lagi, miracle, ada apa di ujung petualangaku nanti?

“Azizah masih ada mata kuliah?”

“Tidak,” Azizah memerhatikan pemberian yang katanya titipan tadi. Sebuah pin bergambar kupu-kupu, sungguh indah.

“Ayo jalan-jalan bersamaku, kau tidak merasa malu kan?”

Azizah menggelengkan kepalanya.

Hari itu Salwa berjalan-jalan keluar bersama Azizah, mereka mengobrol di gazebo STAIN, lalu ke perpustakaan sebentar karena Azizah ingin mengembalikan buku yang dipinjamnya kemarin dan hari ini akan dikembalikan lagi. Salwa sempat kaget melihatnya, Azizah bercerita bahwa dirinya biasa meminjam dua buku setiap hari dan besok sudah dikembalikan untuk meminjam kembali karena perpustakaan STAIN hanya membolehkan meminjam dua buku saja.

“Di rumah kamu membacanya atau hanya buat bantal Azizah? Masak satu hari dua buku seperti itu selesai, lagipula lumayan tebel tuh,” Salwa bertanya penasaran.

“Bukankah itu tidak penting. Yang jelas ini kulakukan dengan maksud mengoptimalkan kemampuan yang diberikan Allah Azza wa Jalla dan aku..., tak ingin mengecewakan seseorang yang teramat mencintaiku,” Salwa menatap langit-langit perpustakaan itu. Ada bening berkaca di kedua sudut matanya.

Mungkinkah yang dimaksud Azizah adalah si misterius itu? Hubungan seperti apa yang sebenarnya terjalin di antara mereka? Jika memang hubungan mereka seperti itu, maka aku akan belajar dari mereka. Kenapa dengan hidupku yang tidak bisa menemukan apa yang mereka rasakan.

“Apakah yang kamu maksud orangtuamu Azizah?”

“Bukan, aku sudah tidak punya orangtua. Aku yatim piatu,” matanya kembali menatap teman yang baru dikenalnya itu.

“Maafkan aku, aku...”

“Tidak apa-apa,” Azizah memotong cepat sambil tersenyum indah.

“Lalu..., siapa yang kau maksud tidak ingin mengecewakannya? Aku boleh tahu dia laki-laki atau perempuan? Hayo,” Salwa sedikit menggoda.

“Dia laki-laki, dia sangat tegar dan kuat menghadapi hidupnya. Dia seolah langit yang tak pernah lelah memayungi manusia dan orang-orang yang dicintainya. Dia mengorbankan kebahagiaannya sendiri untuk siapapun yang mengharapkan bantuannya. Ah! Sudahlah, dia juga tidak ingin kebaikannya disebut-sebut orang lain, dia teramat tulus,” Azizah menghapus titik di sudut matanya yang bening.

Salwa menganggukkan kepalanya dan mereka meneruskan perjalanan itu hingga menuju kost Azizah, Azizah seperti teman lamanya sendiri. Dan Salwa berjanji hari minggu hendak ke rumah kost Azizah lagi untuk mengenal lebih dekat. Ingin menjadi sahabatnya, ada yang istimewa dari Azizah.

Petualangan ini semakin menarik, aku semakin penasaran dengan si misterius itu. Azizah memiliki hati yang indah dan kemampuannya membaca sungguh luar biasa. Dia bilang ,’Itu tidak penting,’ ketika kutanya benarkah dia membaca setiap hari dua buku? Apakah aku tega merusak hubungannya dengan si misterius jika mereka berdua telah seperti satu tubuh? Dan aku, seolah menemukan persahabatan yang indah dengan Azizah.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!